Pasar Cihapit

Hari ke 5

8 Agustus 2019

Masa kecil ku setidaknya banyak dihabiskan di daerah Cihapit dan sekitarnya (taman pramuka, jalan citarum) disebabkan dahulu tempat ayahku bekerja di jalan citarum. Hampir setiap minggu pagi pukul 6 aku sudah duduk di bonceng ayahku naik sepeda motor menuju jalan citarum, dari pukul 6 hingga 9 pagi ayah berolah raga di badminton di gor dimana ayah bekerja dulu.

Kegiatan ayah berolah raga di gor tersebut di lakukan sejak aku belum lahir hingga awal aku tinggal di Belanda. Bayangkan lebih dari 40 tahun. Setelah itu ayah tak kuat lagi bermain bulu tangkis.

Biasanya setelah main bulu tangkis, ayah membawa ku ke pasar cihapit, berbelanja pesanan ibuku, menurutku pasar cihapit walau pun kecil tapi segala kebutuhan dapur komplit tersedia disana dan pasar cihapit menurutku pasar terbersih yang pernah aku temui saat itu dan yang lebih membuatku bahagia adalah setelah selesai berbelanja ayah selalu membawaku jajan disana.

Dilain kesempatan kadang kami jajan di ujung jalan citarum, disebrang Bank nisp kini berada. Disana ada tukang cendol kesukaan ku. Cara penyajian cendolnya berbeda dari pedagang lain umumnya. Cendol disimpan di panci besar yang diketakan di tengah gerobaknya, cendol tersebut sudah tercampur dengan gula putih, es batu remuk sebesar kerikil kecil yg tajam, air santan (yang dulu aku kira susu). Sudah begitu saja, tapi bagiku rasanya luar biasa.

Kegiatan bersama ayah di minggu pagi berlangsung saat aku belum sekolah hingga akhir usia sekolah dasar, setelah itu aku semakin jarang menemaninya. Namun begitu aku sesekali mengunjungi ayah di tempat beliau bermain buku tangkis.

Entah mudik yang pertama atau kedua, aku membawa Luc mendatangi tukang cendol masa kecil ku. Senang rasanya bisa bernostalgia. Kira kira dua jam setelah itu, kepala Luc pusing, keringat dingin bercucuran disertai mulas yang amat sangat, dia minta mobil segera dibelokan untuk mencari toilet.

Sejak kejadian tersebut setiap melihat tukang cendol di taman citarum, Luc selalu tersenyum penuh makna dan tak pernah mau mencobanya kembali.

Hari ini (kamis tanggal 8 agustus) kami berkesempatan mengunjungi pasar cihapit, pukul 9 pagi kami berempat didampingi sepupuku sudah ada disana setelah menikmati sarapan di hotel secara kilat, awalnya si kembar menolak mendatangi pasar tradisional tapi setelah aku menjelaskan bahwa pasar cihapit tidak menyeramkan seperti pasar tradisional yang mereka kenal sebelum nya, akhirnya mereka sepakat untuk masuk ke dalam, ternyata di dalam pasar mereka senang luar biasa.

Setelah kami memasuki lorong /pintu masuk pasar, kami berhenti di jongko penjual kolang kaling. Telah menjadi tradisi jika aku pulang ke Indonesia bibiku selalu mengoleh olehiku kolang kaling buatannya.

Sementara sepupuku memilih kolang kaling, kami berempat merasuk ke dalam pasar. Si kembar tertarik akan proses penjualan kelapa parut. Kami sampai berdiri kurang lebih 5 hingga 7 menit untuk melihat si penjual memperagakan pekerjaan nya, di mulai dengan mengupas kelapa, mengeluarkan airnya, kemudian memasukan kalapa ke mesin parut yg menurut si kembar fantastic.

Di bagian akhir/belakang ada satu tukang ayam, dengan bergidik si kembar memandangi ayam potong yg bergelantungan, tiba tiba kami melihat di pojokan meja seseorang sedang memegangi ayam hidup dan siap disembelih, sementara aku segera menggiring Cahaya untuk secepatnya melewati tukang ayam, Cinta meminta papanya untuk sebentar menemaninya melihat penyembelihan ayam. Aku sampai takjub melihat keberaniannya. (Tapi ternyata siangnya saat kami makan sate ayam dua menolak sate ayam kesukaan nya, dan saat itu Cahaya memutuskan tidak akan makan ayam lagi karena teringat saat ayam disembelih, kasihan katanya. Aha, aku berharap keputusan itu hanya temporary saja).

Didalam pasar pula, aku meligat warung nasi ibu Eha yang legendaris tersebut. Hingga kini aku belum pernah mencoba makan di warung tersebut, padahal sesekali aku ingin sekali makan disana.

Saat kami selesai dengan urusan di pasar, di dekat pintu keluar aku melihat penjual tutut (bekicot) sudah dari sejak jaman dahulu kala Luc ingin sekali makan tutut di Bandung tapi belum pernah terlaksana. Aku membeli satu bungkus tutut untuk percobaan. Hari itu kami check out dari hotel dan kembali ke rumah orang tua ku di cibiru, di malam hari Luc menikmati tutut yang aku beli di pasar, menurutnya tutut yang dia makan lebih enak dari bekicot yang dua makan di Prancis. Bumbunya enak katanya.

Aku dan ibuku yang belum pernah mencoba tutut tetap menolak saat luc beberapa kali menawari ku untuk mencobanya. Hihihi masih belum tega rasanya memakan binatang yang satu itu.

Advertisements

7 thoughts on “Pasar Cihapit

  1. Fijne Vakantie Yayang en Familie!
    Yang, tutut itu keong sawah kan? Kalau bekicot lain lagi. Kalau tutut aku suka banget. Di Jatim namanya kreco. Kalau makan kreco yang dimasak pake santen, wah aku bisa sebaskom gede sendiri ngabisin. Kalau bekicot, makan kripiknya aku doyan.

    • Terima kasih Deny, Iya turut itu keong sawah. Aku bingung tutut bahasa Indonesia nya apa, jadi di tulis bekicot.
      Banyak orang bilang, klo dah suka tutut pasti keterusan, kebetulan aku belum pernah nyoba. ๐Ÿ˜Nanti mo nyoba. Wih ada keripik bekicot juga? Gimana gurih kali ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s