Go to the Camp!

Saat aku meneliti blog ini, aku melihat ada 17 draft yang belum aku selesaikan, salah satunya Go to the Camp ini, baiklah hari ini aku akan menyelesaikannya.

28 Agustus 2017 adalah hari pertama si kembar masuk di sekolah yang baru, mereka pindah sekolah karena kami pindah ke tempat yang baru. Saat itu si kembar baru merayakan ulang tahun yang ke delapan dan telah duduk di groep 5 atau setara dengan kelas 3 SD di Indonesia.

Kebanyakan (tidak semua) sekolah dasar di Belanda ketika anak anak duduk di groep 7 (kelas 5 SD) mereka akan pergi ke perkemahan selama tiga hari dan saat groep 8 selama seminggu.

Siapa sangka sebulan kemudian yaitu pada tanggal 27 september 2017 si kembar harus pergi kemping bersama sekolah selama 3 hari. Ternyata di sekolah baru si kembar, anak anak sudah pergi ke camp sejak pertama masuk SD, groep 1. Walau hanya tidur semalam itupun di sekolah, tetaplah menurutku sangat dini sekali, bayangkan umur 4 tahun harus sudah tidur semalam di perkemahan tanpa orang tua.

Hari itu, Cinta dan Cahaya dengan gagah perkasa walau hati deg degan mereka pergi ke perkemahan selama tiga hari ke depan. Diiringi doa dan petuah petuah dariku yang sudah aku lontarkan beberapa hari sebelum hari H. Entah mengapa rasanya aku lebih was was melepaskan mereka dibandingkan saat mereka pergi berdua ke Portugal.

Bukan saja si kembar yang merasa cemas tapi akupun merasa was was yang luar biasa, alasannya karena mereka berdua ternyata masih belum merasa memiliki atau kerasan di sekolah yang baru, bahkan hal yang tidak aku sangka ternyata mereka menghadapi kesulitan mendapat teman baru. Menurut si kembar anak anak di sekolah yang baru sungguh berbeda tabiat dan kebiasaannya dengan teman mereka yang lama.

Suasana sekolah baru dan ruang lingkup pergaulan yang baru bagi kami semua adalah permasalahan pokok yang sebetulnya membuatku ketar ketir. Entahlah, walau hampir satu bulan lamanya aku menempati rumah baru tapi hatiku masih ada di rumah lama, juga di sekolah lama anak anak. Aku masih merasa tempat tinggal kami yang baru rasanya kurang sesuai dengan diriku.

Diawali saat pertama kali mengantarkan si kembar ke sekolah baru. Aku datang bersama Luc dengan dandanan cara kami. Berada di lingkungan sekolah aku takjub luar biasa saat melihat penampilah para pengantar anak anak lain. Para bapak hampir semuanya memakai setelan jas dan dasi, para ibu berhak tinggi dan tampil rapi dengan pakaian wanita karier versi Belanda, bahkan aku hampir terlonjak kaget saat ada seorang wanita tinggi semampai mengenakan topi lebar! Asli aku hampir berteriak melihat Ratu Maxima!

Berada di dalam mobil saat kembali dari mengantar CC, aku bersama Luc terdiam, jika tidak dimulai oleh Luc yang tertawa duluan dan bertanya padaku, apa kesanmu tentang sekolah baru si kembar? Yang aku jawab, sekolah yang dilihat dari segi fasilitas dan bangunannya lebih baik dari sekolah lama, yang diiyakan oleh Luc sembari menambahkan, rasanya aku salah kostum tadi. dan kami pun tertawa bersama mengomentari pemandangan yang mencolok antara kami dan mereka. Tapi memang itulah keadaan kami, rakyat jelata. Hahaha.

Balik lagi ke topik semula, tiga hari berlalu. Aku menjemput si kembar saat mereka kembali dari camp. Tempat penjemputan tak jauh dari rumah, cukup berjalan kaki saja aku sudah bisa melihat bis yang membawa mereka pulang telah datang. Mereka memelukku erat, bercerita bahwa mereka sedikit menderita disana, mereka merasa terkucil diantara teman temannya, tapi dengan penuh keyakinan mereka menghibur diri sendiri bahwa tahun depan akan lebih baik dari tahun sekarang. Ini karena kami merasa asing, begitu penuturan mereka dengan tabah. Oh ya mereka juga bercerita bahwa di malam terakhir di camp, ada acara bounte avond, seperti malam perpisahan di depan api unggun dan setiap anak menunjukan kemampuannya di depan publik. Bisa menyanyi, menari, pantomin, bersajak atau kemampuan lainnya. Dan itu bisa dilakukan perorangan ataupun kelompok. Cerita si kembar datang mengharukan saat mereka nyaris beraksi berdua saja karena tak ada teman yang lain yang mau dan membolehkan mereka bergabung, namun tiba tiba salah satu teman sekelas mereka meninggalkan kelompoknya dan meutuskan beraksi bersama si kembar. Nama anak tersebut adalah Chloe’ dan hingga saat ini, dia menjadi salah satu teman dekat Cahaya.

Oh ya selama mereka di camp, aku mendapat laporan dari salah satu orang tua murid yang ikut menginap disana dan dia melaporkan kegiatan sehari hari melalui whats App grup kelas si kembar. Biasanya diselingi oleh foto foto anak anak selama mereka disana.

Kini setahun berlalu, si kembar telah kerasan di sekolah yang baru, wlau kini mereka tidak sekelas tapi mereka baik baik saja dan telah siap menghadapi camp berikutnya. 19 September hingga 21 September 2018 mereka pergi kemping. Cerita seru dan sumringah dari mulut mereka mewarnai saat aku menjemputnya pulang, cuaca yang kurang bersahabat saat itu tak mengurangi keriangan mereka. Aku mendapat pujian dari salah satu orang tua teman sekelas Cinta yang mengatakan mereka menampilkan penampilan yang mengesankan saat bonte avond. Mereka menari dan bernyanyi bersama empat orang anak lainnya, karena meurut teman teman mereka Cinta dan Cahaya bersuara emas, ehmmm… mereka boleh bernyanyi berdua sementara empat orang lainnya hanya menari mengiringi si kembar menyanyi.

Laporan via whats App dari orang tua siswa yang ikut menginap disana bagaikan cerita bersambung yang menyenangkan, aku tak sabar menengok teleponku saat ada pesan dari grup tersebut. Mulai tahun ini aturan pemuatan foto anak anak semakin di perketat. Saat si kembar masuk sekolah peuterspeelzaal saat mereka berumur dua tahun, kami harus menandatangani apakah foto si kembar boleh dipublikan di media sosial atau media lainnya jika terbidik kamera, aku menandangani bahwa kami tidak keberatan. Dari situlah kami tahu bahwa kami harus hati hati jika akan ‘memamerkan’ foto si kembar dimana ada anak yang lain yang terfoto, biasanya aku minta izin dulu pada orang tua anak yang terfoto atau jika aku tak sempat minta izin biasanya aku memblurkan wajah anak yang terfoto.

Di sekolah yang sekarang tak ada satu wajah pun yang boleh muncul di media sosial sekolah, jika sekolah mewartakan tentang kegiatan anak anak maka media sosial sekolah hanya memuculkan karya dari anak anak tersebut tanpa wajah dan nama, tapi wajah para guru dan kru sekolah kadang menghiasi media sosial tersebut, misalkan saat sekolah mendatangkan petugas medis yang memakai helicopter, polisi atau petugas pemadam kebakaran (untuk pengenalan pada anaka anak) , maka para petugas beserta alat peraganya yang akan muncul di media sosial sekolah tapi tak ada foto siswa yang muncul, jikapun ada hanya punggungnya saja atau tangannya saja.

Jika tahun lalu aku masih bisa menikmati foto anak anak via whats app yang dikirimkan orangtua yang ikut menginap, tahun ini pengiriman foto ke grup whats aap tidak diperkenankan, dan kini hanya berita tulisan saja, saat salah satu orang tua memohon untuk dikirimkan foto maka si pemberi berita akan mengirimkan foto langit, pohon, sungai atau foto dirinya sendiri.

Walau aku suka memposting foto si kembar disini, tapi aku menghargai dan mendukung pihak sekolah yang menerapkan peraturan bijak tersebut, karena whats Aap seperti halnya media sosial bisa menyebar dengan sangat cepatnya.

Berikut aku sertakan foto Cinta (tetep pamer) saat menerima kado suprise 5 Desember belum lama ini, foto tersebut dikirim salah satu orang tua murid yang menjadi asisten pak guru di sekolah, foto yang dikirim prive padaku bertuliskan, menurut anak yang membuatkan suprise untuk Cinta, Cinta dibuatkan piala voice of Holland, saat menyerahkannya pada Cinta si anak berkata bahwa Cinta patut mengikuti voice of kid (Hollands) karena dia bersuara bagus, ah senangnya hatiku mendengar pujian tersebut.

PS. Pas baca ulang, ini tulisan mo nyeritain apa sih? Ah maafkan dah nulis kesana kemari, initinya cuma mo bilang…

  1. Di sekolah si kembar sudah pergi kemping sejak masuk groep 1, groep 1 dan 2 menginap satu hari, groep 3 dan 4 menginap 2 hari, groep 5 dan 6 menginap 3 hari, groep 7 dan 8 menginap 5 hari.
  2. Tidak diperkenankan memposting foto siswa
  3. Aku masih ‘pamer’ foto si kembar asalkan sopan dan tidak berlebihan. Eh padahal sewaktu mereka masih bayi aku memproteksi foto foto mereka, eh sekarang disaat banyak orang mulai berhati hati aku malah tidak, oalah…
Advertisements

7 thoughts on “Go to the Camp!

  1. ah samaaaa.. banyak draft nih..

    sama juga ceritanya di camping pertama Stan di Belanda.. ada satu anak Belanda yg menemaninya pada akhirnya.. yg mendengarkan ceritanya agak2 sedih agak2 menguatkan si anak lah yaaa…

    untuk sharing foto, ortu diminta mengisi consent ttg kesediaan publikasi di sosial media.. di kelas Stan, semua ortu membolehkan.. jadi kami tetap bisa sharing di klasbord dan di whatsapp orang tua.. malah kami suka nitip potoin anak ke guru/ortu lain yg menemani anak2 saat acara… nah, kalau ada yg mau di share di social media lain biasanya ortu tsb minta ijin satu persatu ke ortunya si anak..

    aku sendiri merasa sudah bisa menyerahkan keputusan pada Stan, apakah dia membolehkan aku posting atau tidak.. aku mulai mempercayakan hal tsb ketika dia sudah mengerti ttg jejak digital dan digital safety (yg diskusinya cukup panjang).. ujung2nya dia tertarik fotografi malahan.. ^^

    ah, ngga sabar ingin berjumpa dengan cinta dan cahaya!

    • Di sekolah yg sekarang aja yg benar benar ketat aturan nya sampai wa pun ga boleh.
      Maureen, sekarang lagi musim foto natuur fotograf buat anak anak. Keren hasil jepretannya, mungkin itu bisa jadi hobby yg positif buat Stan.
      Ayo Maureen, kapan kita ketemu? 😊

Leave a Reply to maureenmoz Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s