Savoi Homan, Jalan Braga dan Ricuh tiket Air Asia

1 Agustus 2018

Hari kedelapan belas

Savoi \nHoman

Akhirnya kesampaian juga aku menginap di hotel Savoi Homan Bandung. Hotel yang terkenal karena menjadi hotel yang ditempati para tamu negara pada saat KTT Asia Afrika tahun 1955 berlangsung. Saat aku kecil dulu setiap lewat hotel Homan, aku selalu teringat akan cerita ayahku tentang hotel Homan. Tempat dimana Presiden pertama RI menginap. Rasanya mustahil aku bisa menginap disana, pikirku saat itu.

Beranjak remaja, ketertarikanku mengenai hotel yang pernah menjadi tempat menginap Presiden pertama RI tidak lagi menjadi daya tarik bagiku, saat melewati hotel Homan tempat disebrang hotel Homanlah yang menjadi daya tarikku untuk melirik dan bahkan mampir kesana. Nasi goreng pinggir jalan di depan kantor surat kabar Pikiran Rakyat atau yang lebih dikenal dengan nama nasgor PR.

Jika hari menjelang malam sekitar 10 malam barulah tukang nasgor pinggir jalan ini penuh, kami sampai duduk di trotoar karena tidak kebagian kursi plastik yang disediakan. Hanya kursi, tidak ada mejanya. Nah aku sudah mewanti wanti Luc bahwa tengah malam nanti aku akan keluar hotel untuk membeli nasgor legendaris tersebut (yang ternyata tidak kesampaian karena aku sudah kenyang dan cape hingga tidak mampu memuaskan hasratku yang rakus). Oh ya, kini nasgor PR tidak mangkal di depan kantor PR lg di jalan Asia Adrika tapi tepat berada di jalan kecil pinggir hotel Homan. Pemindahan ini dikarenakan kota Bandung yang berbenah setelah dikomando oleh Ridwan Kamil kala itu. Jadi lebih cantik dan rapih.

Ternyata begitu kami sampai di Savoi Homan, begitu masuk lobi kami sudah mendengar bahasa yang tidak asing ditelinga kami. Bahasa Belanda. Olala alamat Luc manyun sepanjang masa. Dan benar saja begitu kami berada di kolam renang, bahkan di lift sekalipun orang orang yang berkeliaran rasanya menggunakan bahasa Belanda semua. Ahhhhhhhh Nederlander dimana mana. Saat dimana kau menceritakan tentang riwayat hotel Homan pada si kembar tentang konfrensi Asia Afrika, tentang pemimpin dunia yang menginap di hotel yang sama dengan kita menginap sekarang, kemudian Luc menyela bahwa cukup sekali saja kami meningap disini. Dia selalu merasa tak nyaman jika saat liburan tapi menemukan orang sebangsanya di tempat yang sama. Untunglah saat sarapan kami tidak terlalu menemukan orang Belanda disana, mungkin mereka melewati sarapan karena harus ikut tour mulai pagi buta.

Jalan Braga

Nah ini termasuk jalan yang wajib dikunjungi para turis jika sedang menginap di Bandung. Apalagi jika menginap di daerah yang tidak jauh dari jalan Braga jadi tinggal jalan kaki saja.

Dulu sewaktu aku masih tinggal di Bandung, Braga tidak terasa istimewa biasa saja. Tentu saja jalan tersebut jalan yang sering dilewati jika aku berkendaraan, juga termasuk trotoar yang sering dipijaki saat aku berjalan kai disana, ada saja keperluan ke daerah Braga, entah itu saat melwati jalan ABC, cari pernik pernik cantik dari kayu di toko Sin Sin atau membeli roti di french Bakery yang ada di paling awal jalan Braga, atau kalau ibuku sering mampir ke toko roti sumber hidayangan untuk membeli kue bolu marjipan kesukaanku.

Kini restauran Braga Permai bukan satu satunya restauran primadona di jalan Braga, (walau tetap menjadi primadona bagi Nederlander)! ada tempat makan lainnya yang banyak didatangi para turis, salah satunya adalah Braga Art cafe. Dari luar terlihat sepi, membuat Luc tertarik untuk masuk kesana. Sementara si kembar menarik narik tanganku untuk masuk ke Braga Permai yang ditolak mentah mentah oleh Luc. Berdasarkan pengalaman Luc (bukan sekali saja) jika dia masuk ke restauran tersebut maka dipastikan akan terdengar bahasa yang dia kenal sejak masih orok dari para pengunjung yang tengah menyantap makanan disana dan kebanyakan dari mereka adalah oma dan opa.

Design dari Braga Art Cafe dibuat senyeni mungkin, dengan ornamen kayu jati tua dengan ukiran Jeparanya. Bahkan barnya juga terlihat cantik walau terlihat seperti romelig tapi enak dipandang mata. Soal makanan, rasanya tidak terlalu istimewa, biasa saja. Porsinya bisa dibilang sangat banyak menurut ukuranku dan harganya jauh lebih murah dibandingkan jika kami makan di Braga Permai. Secara keseluruhan Braga Art Cafe tempat yang bisa kalian datangi jika datang ke jalan Braga.

Hari itu juga setelah makan malam disana, kami mengunjungi warung kopi Djawa. Aku niat banget datang kesana setelah membaca postingan Ariv yang bercerita bahwa toko buku Djawa telah berubah menjadi waring kopi. Ternyata disana membludak banget lho, tidak ada tempat duduk yang tersisa. Tapi Luc tetap menyuruhku tetap masuk karena dia mendengar nostalgiaku tentang toko buka Djawa saat aku kecil yang sering datang kesana bersama ayah dan ibu. Akhirnya aku membawa pulang es kopi Djawa yang direkomendasikan disana, kopi dengan campuran gula jawa. Sayang walaupun aku membawa pulang es kopi tersebut tapi aku tak sempat meminumnya karena masih terlalu kenyang akibat makan di Braga Art dan memberikan kopi tersebut pada orang yang aku temui (baca: tukang parkir) saat aku berjalan pulang ke hotel.

Ricuh tiket Air Asia

Hari ini kami sekeluarga ditambah ayah dan ibuku akan berangkat ke Kuala Lumpur. Rencana akan berlibur ke Malaysia dan Singapure usdah ada sejak kami masih di Belanda, dan rencanya aku akan mengajak ayah dan ibu. Biasanya jika kami mudik ke Indonesia, semuanya sudah siap. Rencana akan pergi kemana saja sudah tersusus rapi termasuk tikek pesawat atau hotel diamanpun kami akan menginap termasuk hotel di Bandung. Semuanya sudah di pesan saat masih di Belanda. Tapi liburan kali ini aku sungguh sibuk, banyak kejadian yang menyita perhatian kami sebelum kami mudik. Tentang si kembar yang akan dipisah mulai tahun ajaran baru sehingga kami harus berkali kali datang menuemui kepala sekolah untuk diberi pengarahan mempersiapkan si kembar nantinya, tentang rumah lama yang tiba tiba terjual sehingga kami harus bolak balik ke notaris untuk mengurus ini itu, tentang diriku yang tiba tiba dapat kerja part time tiga minggu sebelum kami berangkat.

Aku menelepon ibuku seminggu sebelum aku mudik untuk memastikan bahwa aku akan mengajak ayah dan ibu ke Singapure dan Malaysia. Tiga hari di Singapure dan empat hari di Malaysia. Tapi suara ibuku di ujung sana tidak tampak antusias, kemudian ibuku memintaku untuk tidak membeli tiket pesawat terlebih dahulu karena dia tidak yakin ingin ikut berlibur ke Singapure dan malaysia, alasannya dia tidak ingin merepotkan kami karena harus mengurus ayah ibu juga padahal kami sedang berlibur, nimatilah bersama suami dan anak anak, tidak usah mengurus orang tua terus. Begitu kata ibuku. Luc sedikit kecewa karena dialah yang ingin sekali mengajak ayah dan ibu liburan juga.

Ternyata kami diuntungkan dengan tidak jadi membeli tiket pesawat ke Singapure di Belanda, karena Cahaya sakit panas dan kami memutuskan tidak jadi berangkat ke Singapura guna memulihkan stamina Cahaya terlebih dahulu dan merubah tujuan kami berlibur hanya ke Kuala Lumpur saja, itupun dipersingkat karena tanggal 5 Juli nanti aku sudah mempunyai janji untuk bertemu teman lama. Akhirnya tiket dibeli dua hari sebelum keberangkatan, 6 tiket Pulang Pergi bandung Kuala Lumpur- Kuala Lumpur Bandung. Yuhuuu akhirnya ibuku jadi ikut setelah ayahku mengancam akan tetap ikut walaupun ibuku tidak ikut. Hahah dan itu ancaman paling manjur karena ibuku langsung mengiyakan untuk ikut, alasannya sederhana saja kalau ayahku yang ikut tanpa ibuku, ayahku akan lebih merepotkan diriku, hahaha. Itu teori ibuku.

Ayah dan ibu datang menjemput kami ke hotel pukul setengah enam sore dispiri adikku yang langsung membawa kami ke Bandara. Tidak ada drama nyaris ketinggalan pesawat seperti dua tahun lalu saat kami mudik dan pergi berlibur dengan ayah ibu juga. Ah bandara Bandung memang penuh kenangan. Semuanya berjalan lancar hingga kami check in. Petugas di balik meja check in berkata bahwa Luc belum membayar tiket kami!

Aku dan Luc melongo sejadi jadinya. Saat kami membeli tiket via online aku melihat jelas ada email yang masuk bahwa tiket kami sudah terbayar. Kemudian petugas menjelaskan bahwa memang awalnya pembelian sukses dua hari yang lalu tapi hari ini ada refund di sistemnya bahwa uang yang kami bayarkan dikembalikan. Luc memakai kartu credit saat memesan tiket tersebut. Tiket dibeli melalui site momondo.

Petugas check in seorang wanita muda yang tegas yang menurutku sangat menguasai tugas dari pekerjaannya, sayang dia tidak mempunyai rasa empati sama sekali dia berkali kali mengatakan bahwa kesalahan bukan berada di pihak Air Asia, dia mengatakan itu urusan anda dengan kartu creditnya. Berkali kali Luc mengechek di laporan credit card nya bahwa pembayaran telah sukses dan didak ada pengembalian. Yang kemudian kami lakukan adalah berkomunikasi dengan pihak Visa. Luc menelepon ke nomor yang ada di balik kartu creditnya, tersambung ke Amsterdam. Dan itu bukan hal yang mudah karena HP Luc dan aku telah berganti nomor menggunakan kartu pra bayar di Indonesia, tidak tersambung mungkin karena pulsanya tidak cukup atau entah apa. Untunglah HP ku menggunakan duo kartu yang bisa langsung di switch, sehingga Luc akhirnya bisa menelepon ke Amsterdam. Tak banyak yang bisa dilakukan pihak Visa karena dari pihak sana pun tidak ada refund yang dikembalikan, kami tidak punya bukti sama sekali bahwa pembelian tiket kami dikembalikan. Aku tidak mengerti sama sekali. Sementara pihak Air Asia bersikeras bahwa pembelian tiket kami digagalkan persis di hari keberangkatan, menurut dia satu satunya yang bisa kami dilakukan agar dapat berangkat hari ini juga adalah membeli tiket kembali dengan harga yang sama yang dikembalikan. Dan harus cash!

Ibuku menarik tanganku, menyuruh diriku berpikir jernih. Jangan panik katanya, mungkin ada baiknya kita semua kembali ke rumah dan memikirkan mungkin liburan ke Malaysia kali ini akan gagal, kalaupun masih tetap bersikeras pergi, bisa ditunggu esok hari. Tapi Luc memikirkan hotel yang telah terbayar hingga empat hari kedepan. Kemudian katanya padaku, mari coba ambil uang di ATM. Uang berhasil kami ambil dari mesin ATM dari dua kartu tabungan yang berbeda, kartu Belanda tentunya. Sisanya menggunakan uang cash yang ada di dompet ibuku, karena penarikan dari kartu ada batas limit perharinya. Saat aku menyerahkan uang dan menghitungnya di meja check in, aku menatap nanar uang rupiah berwarna merah yang tergeletak di meja. Rasanya baru kali ini aku melihat uang sebanyak itu, dan transaksi yang kami lakukan seperti jajan sate di warung pinggir jalan. Beli tiket menggunakan uang cash seperti kembali kebelasan tahun yang lalu.

Aku meminta print bukti pembayaran dan juga print refund tiket sebelumnya, selain itu aku minta via email juga, semuanya untuk pengurusan jika kami kembali ke Belanda dan harus complain pada pihak Momondo atau pada pihak Visa. Semuanya akan kami pikirkan nanti.

Malam itu kami berhasil masuk ke pesawat sebagai penumpang yang terakhir, pintu imigrasi segera ditutup sesaat setelah pasport kami diperiksa. Kemudian kami duduk dalam diam, rasanya aku merasa menanggung beban berat telah melibatkan orangtua kami dalam situasi yang tidak menyenangkan. Luc duduk diantara aku dan ayahku. Sedangkan ibuku duduk diantara Cinta dan Cahaya, mereka duduk di belakang tempat aku duduk.

Ditengah perjalanan saat pesawat membelah awan yang gelap gulita, Cinta memanggil diriku….. Bunda, aku merasa mual…… Lirih Cinta. Kemudian ibuku menyentuh dahinya, sembari berkata pelan ke arahku yang membalikan badan menatap mereka diantara sela sandaran kursi pesawat. Yayang, badan Cinta panas…..

Tanpa terasa air mataku jatuh….

(bersambung)

Advertisements

7 thoughts on “Savoi Homan, Jalan Braga dan Ricuh tiket Air Asia

  1. Nasi goreng PR itu memang legendaris banget ya. Tapii, entah kenapa dulu kok aku ya belum pernah nyobain 🙈.

    Wah, kok AirAsia aneh begitu ya? Padahal biasanya kalau transaksi gagal/batal kan juga ada notifikasi/emailnya. Mungkin karena kebetulan beli tiketnya cukup dekat dengan keberangkatan ya? Anyway, mudah-mudahan benar demikian deh dan pembayarannya di-refund dengan selamat!

    Btw, Momondo adalah metasearch engine, jadi mereka adalah perantara konsumen dengan Online Travel Agency (OTA), atau mungkin malah airline-nya langsung, darimana transaksi dilakukan. Jadi menurutku, sebaiknya komplainnya nanti langsung ke OTAnya ini. OTAnya apa bisa diketahui dari konfirmasi tiketnya.

    Ah, mudah-mudahan Cinta segera sembuh!

    • Mungkin karena nasgor PR beken di jaman aku muda dulu, beda jaman dengan kamu Zilko😁. Jadi kamu belum nyoba.
      Iya, kamu betul Zilko. Luc sudah me ngontak OTA nya, yaitu Apodo. Dari nomor telponnya ternyata kantornya di UK, dan yg bikin aku deg degan yg terima telponnya logatnya India gitu, aku nightmare klo denger orang India ngomong di telpon, soalnya sering banget aku dapet telpon ke rumah yg ngomongnya orang India pake bahasa Inggris pasti mereka bilang dari Microsoft, yg udah beken banget di Belanda itu penipuan. Apalagi pihak Apodo bilang akan me nelpon balik dalam waktu 24 jam dan mereka ga nelpon nelpon dong, aku makin was was. Untunglah sehari kemudian Luc dpt email dari pihak Apodo katanya akan segera diurus. Btw Luc baru nelpon hari senin kemarin.

      • Ada beberapa perusahaan Eropa yang outsource klantenservicenya ke India Yang makanya kadang kalau telp dibantu petugasnya dengan logat India. Mudah-mudahan urusan refund ini beres ya.

  2. Mbak, haqul yakin, papa CC baik bangettt. Kalo suamiku, udah pasti langsung batalin liburan dan pulang ke rumah. Ah, semua memang tergantung niat awal sih ya. Perasaan saat itu pasti gak karuan ya. Menyikapi tanpa panik, nasehat ibu mbak tepat namun pastinya sulit dilakukan. Huhu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s