Menyikapi Lelucon dan Kejutan

 

Tidak semua niat baik/pertolongan yang kita lakukan akan diterima baik oleh yang kita tolong. Banya contoh yang kita lihat dikehidupan sehari sehari. Begitupun jika kita memberikan kejutan yang kita anggap menyenangkan, bisa jadi tidak menyenangkan pada yang diberi kejutan. Juga jika kita memberi lelucon pada seseorang belum tentu orang tersebut suka dan tertawa malah bisa jadi murka.

Jadi harus bagaimana kita seharusnya, jika semua yang kita kira anggap akan menyenangkan ternyata tidak berakhir baik?

Untuk itu aku selalu ingat akan pesan ayahku (jika sedang eling) berbuatlah tanpa berlebihan! Mencintai, mengagumi, membuat lelucon dan lain lainnya tanpa berlebihan, alias sedang sedang saja (tetap dengan konsep lagu Vetty Vera, Yang sedang sedang saja!). Begitupun dalam menyikapi sesuatu, tak perlu berlebihan!

Aku ada beberapa contoh, saat aku membuat lelocon dan kejutan yang sama pada dua orang yang berbeda.

Lelucon

Ponakanku berulang tahun yang ke 17, seorang gadis remaja. Aku mengirimkan kartu pos bergambar foto bule bule telanjang yang sedang mengelilingi kram (warung) ikan kebeling yang berada di pantai, sepertinya foto tersebut diambil di sebuah pantai/area khusus Nudies. Semua laki laki yang membelakangi kamera tersebut telanjang bulat.

Ponakanku mengabariku via wa saat mendapat kartu pos tersebut, terimakasih Ateu! Tulisnya diiringi tiga icon terpingkal pingkal. Tak lama kemudian ibunya, yaitu kakak iparku, mengirimkan aku wa yang intinya aku keterlaluan dalam becanda, namun diiringi untunglah kartu tersebut tidak disita kantor pos, katanya. Karena bisa dikatagorikan dalam unsur pornografi. Ya ampun, masa sih!

Sahabatku aku kirim kartu dengan gambar yang sama. Dia orangnya pendiam, jarang ngomong, gak bermake up atau berpakaian macam macam, pakai hijab yang sederhana ga genjreng. Pokoknya bukan orang yang diperhatikan dalam suatu acara misalnya, tapi menurutku sekalinya dia ngomong aku selalu merasa nyaman dan terhibur, dia lucu menurutku tapi tidak kata orang orang. Nah tanggapan dia saat menerima kartu pos itu adalah jawaban singkat yang membuatku terpingkal, pingkal. Nanti kirim kartu pos yang gambarnya tampak muka! Begitu tulisnya. Hahaha.

Suatu kali saat aku mudik, aku membawa sekotak coklat yang Luc pesan secara online untuk sahabatku ini, coklat berbentuk alat kelamin laki laki (maaf). Saat dia membukanya, dia langsung menjerit kemudian ditutupnya kembali. Aku dan Luc tertawa, kemudian kami mendengar jawaban spontan dari mulutnya…. Lain kali bawalah aslinya jangan berupa coklat. Gumamnya. Saat itu dia belum menikah!

Kejutan

Suatu hari (berapa bulan yang lalu) kami (aku, Luc dan Kadek salah satu teman akrabku di Belanda, aku mempunyai dua teman yang cukup akrab sejak aku tinggal di Belanda) mengobrol tentang bahwa akulah satu satunya dari kami bertiga aku lah satu satunya yang selalu menerima buket bunga dari suami. Setidaknya aku menerima tiga atau empat kali dalam setahun. Saat ulang tahun, hari ibu, hari valentine dan hari perkawinan. Dan Luc selalu membeli bunga terbaik yang ada di toko bunga saat itu. Menyadari hal tersebut aku berseloroh pada Luc dihadapan temanku itu, mungkin ada baiknya kita mengirim bunga untukmu bertuliskan nama suamimu! Yang langsung disambut gelak tawa dan diiyahkan oleh Luc.

Hari senin kemarin, akhirnya aku dan Luc melaksanakan kejutan yang ingin kami beri pada teman baikku di Belanda. Aku memesan bunga secara online disertai kartu dengan tulisan Love, diikuti nama suami yang akan menerima buket bunga tersebut. Sengaja aku memilih jam pengiriman disesuaikan saat mereka sudah ada di rumah. Pada Kadek akuan dikirim siang hari, pada Hanny akan dikirim malam hari.

Sekitar pukul 4 sore, Kadek dengan hebohnya meneleponku, menceritakan dengan suka cita bahwa dia telah menerima bunga yang tertulis nama suaminya sebagai pengirim yang dia yakini bahwa bunga tersebut dari kami, kemudian dia mejerit jerit memanggil suaminya yang kala itu hampir terlelap tidur di kursi taman, memperlihatkan buket bunga ditangannya kemudian menciumi suaminya sambil berterima kasih kasih. Suaminya yang masih antara sadar dan tidak sadar akibat kantuk yang menyerangnya langsung terjaga, mengambil kacamatanya dan tak percaya. Dengan terbata bata dia mengatakan bahwa dia tak mengirim bunga itu, kemudian tanya tanda besar bersarang di pikirannya, dari siapa bunga tersebut? Setelah Kadek puas membuat suaminya termenung, barulah dia berkata bahwa aku dan Luc lah tersangka dari permainan ini, dan dia segera mengkonfirmasikan padaku dengan cerita heboh diatas. Sambil tertawa aku bertanya pada suami Kadek, kamu dapat menahan lelucon ini dengan baik bukan? Kami mengirim bunga untuk kalian berdua karena kami sedang berbahagia, kataku. Tentu saja mereka berdua bahagia dan berterima kasih atas bunga yang kami kirim. Echt goede grapjes, katanya.

Lain lagi cerita Hanny, dia menerima bunga tersebut pukul 9 malam. Suaminya yang membukakan pintu saat menerima dus besar berisi buket bunga. Ada paket untukmu, katanya dengan muka berseri seri. hanny membuka dus tersebut, terkaget kaget melihat isinya, lebih syok lagi saat membaca kartu bertulisan nama suaminya. Hah, dia sama sekali tak percaya bunga tersebut dari suaminya, pikirannya langsung berpikir ada seseorang yang sedang membuat lelucon. Namun suaminya dengan tersenyum dan meyakinkan dirinya bahwa dialah pengirim bunga tersebut, sekali kali membuat kejutan untuk istri tercinta boleh kan. Hanny masih tetap tak percaya, dia meminta untuk melihat transkasinya di bank rekening suaminya. Masih dengan sikap stoer sang suami meyakinkan bahwa benar benar dialah si pengirim bunga tersebut. Hanny segera mengabadikannya dan memasang status di IG (aku tak bisa lihat karena ga punya IG), finnaly setelah 10 tahun menikah bisa juga dia romantis!

Kadek melihat Ig tersebut, menghubungi Hanny dan berkata bahwa diapun mendapat bunga kejutan dari suaminya di hari yang sama, kemudian mengajak Hanny berpikir untuk menebak nebak siapakah pelakunya. kadek tak mau menyebutkan namaku. Hahaha.

Saat aku berbuka puasa pukul 10 malam, hp ku berdering. Video call dari Hanny. Aku segera menghampiri Luc, ternyata diujung sana ada dua wajah pula, Hanny dan suaminya. Mereka terpingkal pingkal sambil berkata terima kasih untuk bunga indahnya. Kami semua tertawa dan lebih terbahak setelah mengetahui bahwa suaminya ikut berperan serta untuk meyakinkan Hanny bahwa dialah pengirim sesungguhnya. Luc senang mendengar cerita mereka, grapjes verrasing yang kami lakukan dapat mereka terima dengan baik.

Kejutan lelucon yang kami buat berhasil dengan baik dan menyenangkan. Bagaimana dengan kalian adakah cerita mengenai kejutan yang berakhir bahagia atau sebaliknya?

13 thoughts on “Menyikapi Lelucon dan Kejutan

  1. aku membawa sekotak coklat yang Luc pesan secara online untuk sahabatku ini, coklat berbentuk alat kelamin laki laki (maaf). Saat dia membukanya, dia langsung menjerit kemudian ditutupnya kembali. Aku dan Luc tertawa, kemudian kami mendengar jawaban spontan dari mulutnya…. Lain kali bawalah aslinya jangan berupa coklat. Gumamnya. Saat itu dia belum menikah!

    ehehehe
    doyan juga rupanya dia
    wkwkwkw

    • Sebetulnya aku pun termasuk jarang melakukan lelucon atau pun kejutan cerita diatas adalah kejutan yg aku lakukan hingga saat ini. 😊

      Dulu aku pun tidak pernah menerima bunga, setelah tinggal di Belanda baru lah suka menerima bunga atau pun memberi bunga jika berkunjung ke orang yg aku tua kan, karena sudah menjadi suatu tradisi.

  2. Hahaha, selera humor orang memang berbeda-beda ya. Harus berhati-hati kadang kalau mau memberikan kejutan. Salah-salah malah jadi salah paham πŸ˜› .

    • Nah itu dia, kamu benar sekali.
      Waktu kami mo kirim bunga juga kita berpikir takut si suami temen merasa tersinggung, takut kode menyuruh mereka membelikan bunga pada para istri. Tapi karena kami mengenal mereka dengan baik, sejak aku tinggal di Belanda bahkan teman yg satunya sudah aku kenal sebelum tinggal disini, dan kami sudah biasa saling tolong menolong disini jadinya kami yakin mereka tidak salah paham. Dan untung lah perhitungan kami tidak meleset. Hihihi.

      • Iya! Kalau teman sudah akrab biasanya sih nggak masalah ya karena sudah tahu banget. Sebenarnya aku dan temanku (sewaktu dia main ke Belanda beberapa waktu lalu) sempat kepikiran ngerjain seorang teman kami lainnya di Indo dengan ide yang mirip kayak di posting ini: mengirim kartu pos yang gambarnya “wow”, haha. Tapi sayangnya kartu posnya nggak sampai. Gagal deh tujuan kami. Sampai hari ini aku kira mungkin kartu posnya salah kirim atau hilang, tapi setelah membaca posting ini jadi kepikiran mungkin kartu posnya ditahan di kantor posnya ya? Alias nggak lolos sensor! Hahahaha πŸ˜†

      • Hahaha bisa jadi itu, sama seperti pikiran kakak iparku, untung gak sampe kena pasal pornografi katanya. 🀣🀣🀣

  3. Wah, keren banget Yang perhatian kalian ke temen dekat. Beruntung temen2mu itu punya kamu dan sebaliknya, semoga langgeng ya pertemanan kalian

  4. Waktu sekantor dg org2 kreatif isinya kejutan semua. Kejutan yg bisa dikategorikan jail hahaha. Jadi sudah terbiasa. Dulu suka juga bikin kejutan dan biasanya sukses…sekarang levelnya nggak se euforia dulu karena nggak tahu ya..lebih hati-hati.

Leave a Reply to yayangneville Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s