Bukan hanya sekedar ‘Girls Talk’

Sebetulnya ini percakapan yang rada aneh klo ditulis disini, karena terlalu pribadi menurutku. Tapi karena beberapa terakhir ini terus ada dalam pikiranku untuk menulisnya, maka baiklah aku memberanikan diri untuk menuliskannya. Yang akan aku coba untuk ditulis seringan mungkin.

Agama

Aku dibesarkan dalam ajaran agama Islam, tidak terlalu fanatik tapi kami semua menjalankan ajaran agama kami sebisa mungkin. Dari pihak keluarga ayah tak ada satupun yang beragama sama dengan kami, begitupun ayah adalah seorang mualaf (dulu). Dari pihak ibu, lebih beragam bahkan salah seorang kakaknya adalah seorang pendeta.

Luc, pernah ditolak ayahku saat melamarku! Jawaban ayahku membuat Luc tutup mulut. Yayang adalah wanita dewasa, saya tidak mempunyai hak untuk menghalangi dia menikah dengan siapapun pilihannya. Namun karena kamu memintanya melalui saya, saya tidak bisa menikahkan Yayang dengan sesorang yang tidak mengakui adanya Tuhan atau yang diluar agamanya. Itu jawaban ayah saat itu. (Hingga Luc datang kedua kalinya pada ayahku untuk melamarku dan mendapat jawaban ‘Yes’dari ayah).

Aku bukan seorang ibu yang bercerita tentang agama pada anak anaknya. Namun aku menjalankan ajaran agamaku, sholat lima waktu dan juga puasa. Saat aku mengajarkan membaca Quran pada si kembar, mereka menyebutnya belajar membaca Arabic (bahasa Arab). Dengan bertambahnya usia seperti sekarang, mereka mengetahui sendiri bahwa mereka beragama Islam.

Seorang temamnya datang menjemputnya untuk bermain sepulang sekolah. Saat membuka pintu Cinta berkata pada Nick (temannya) bahwa dia harus membaca bijbel (injil) dulu, datanglah setengah jam lagi. Begitu katanya. Aku bertanya pada Cinta mengapa dia menyebut Quran dengan bijbel? Cinta menjawab bahwa Nick tak akan mengerti apa itu Quran. Bukankah engkau pernah berkata bahwa Quran adalah bijbel untuk umat Islam? Deg! Terus terang aku tak yakin tepatnya lupa apakah aku pernah mengatakan hal itu. (Oh ya, si kembar bersekolah di sekolah katolik dan setiap hari kamis pertama tiap buannya, seorang pastor datang ke kelasnya).

Suatu hari Cinta pernah datang padaku bertanya…. Bunda, aku seorang muslim kan? Yang aku jawab, tentu saja. Lanjutnya, tapi kata temanku, tak mungkin aku seorang muslim karena aku adalah orang Indonesia bukan Maroko atau Turki. Karena hanya Maroko dan Turki yang muslim! Apakah itu benar, bunda?

LGBT

Cahaya berkata padaku bahwa suatu hari nanti dia akan menikahi seorang laki laki. Sama seperti bunda, menikahi laki laki. Kemudian dia bercerita apa itu lesbi, apa itu homo. Dan aku juga akan mempunyai bayi, lanjutnya.

Untunglah aku menanggapi obrolan Cahaya dengan mimik se rileks mungkin, bertanya ini itu tentang pandangannya mengenai hal tersebut. Dan bersyukur si kembar bisa mengemukakan pendapatnya padaku, aku hanya mendengarkannya saja walau dalam hati terkaget kaget.

Sex

Cinta datang padaku dan Luc dengan muka marah sepulang sekolah (kira kira tahun lalu, sat mereka masih berseolah di sekolah yang lama). Papa, Si A mengatakan pada seluruh kelassambil tertawa tawa bahwa aku nge’sex’ dengan si B. Blam, bukan aku saja yang memerah mendengar itu, namun reaksi Luc lebih parah lagi. Kalau diibaratkan sepertinya kepalanya langsung berasap. Luc harus mendudukan Cinta di kursi meja makan dan mengobrol dengan suara setenang mungkin. Apa itu sex? Tanya Luc. Kemudian Cinta kebingungan untuk menjelaskannya…. Seharusnya papa yang tau, katanya. Karenan sex itu hanya dilakukan oleh orang dewasa, bukan anak anak seperti kami, aku tak bisa menjelaskannya seperti apa, katanya sex itu ciuman seperti ini, kemudian Cinta mendekati Luc dan berusaha mencium bibir Luc yang langsung ditepis Luc dengan tangannya.

Entah gimana, Luc kemudian menjadi tenang dan berkata pada Cinta bahwa dengan bertambahnya usia dia akan tau apa itu sex, dan tidak disarankan untuk tau pada saat ini. Dihari berikutnya, Luc memutuskan untuk mengirimkan email pada gurunya Cinta dan menceritakan apa yang dikatakan anak tersebut pada Cinta di kelas.

Minggu lalu, Cinta bertanya padaku bagaimana terciptanya bayi. Otakku langsung berasap mendengar pertanyaannya. Jawaban spontan tercetus cepat dari mulutku, biasanya orang yang telah menikah akan mempunyai bayi. Dan langsung dijawab oleh Luc, bukan seperti itu…..

Kemudian Luc bercerita bahwa wanita dewasa tiap bulannya akan memproduksi sel telur, sedangkan laki laki akana memproduksi sperma. Jika adanya telur dibuahi sprema  maka akan tercipta embrio calon bayi, bla bla bla. Kemudian mereka sama sama melihat internet. Luc menjelaskan seperti apa sperma dan seperti apa embrio. Mereka sama sama saling bertanya dan menjawab. Percakapan meluas hingga ke pembuahan binatang dan tumbuhan.

Aku menyaksikan percakapan tersebut dengan takjub dan benar benar speechless.

Ah Yayang kuatkan dirimu, siapkan dirimu dengan kejutan pertanyaan pertanyaan berikutnya dari anakmu…………

IMG_20151223_124658404

Hobi mereka adalah membaca

Advertisements

14 thoughts on “Bukan hanya sekedar ‘Girls Talk’

  1. Makasih banyak udah berbagi kisah yg memang sangat pribadi dan sensitif ini.. Salut udah bisa mengungkapkan hal kayak gini dalam bentuk tulisan publik juga.. Ini gambaran buatku dalam 5 tahun ke depan setidaknya, soal menghadapi pertanyaan anak, terutama anak yg berlatar belakang pernikahan campuran yg tinggal d negara multi kultural kayak Belanda dan Australia.. Kadang aku juga suka mikir, keluarga campuran lain gimana ya dalam hal ini.. Mau nanya tapi di sekitarku gak ada keluarga campuran Indonesia yg aku kenal dekat, kan jadinya sungkan mau tanya-tanya..

    • Disini kebetulan banyak sekali pasangan campuran. Namun begitu aku orang yang tak mau bertanya atau ingin tau cara mereka mengajarkan agama di rumah. Saya suka mengikuti pengajian disini tapi anak dan suami tak pernah ikut serta. Sama seperti kebanyakan orang sini, kami tak pernah membicarakan apa keyakinan kami, kecuali klo ditanya. Bahkan jika ada seorang teman bertanya, apakah si kembar diajarkan sholat udah membuatku memerah, dan biasanya aku menjawabnya tidak terlalu terbuka. Biasanya anak anak dibekali pengertian bahwa agama adalah bersifat pribadi dan kalian boleh terbuka atau menolak menjawab jika ada orang yang bertanya mengenai hal tersebut, pokoknya apa yang membuat mereka nyaman boleh dijawab.
      Sama sama neng… semoga kita bisa sama sama berbagi

      • Di tempatku tinggal juga kurang lebih sama kayak di tempatmu soal tanya-tanya urusan pribadi.. Biasanya memang ketika bertemu orang sesama sebangsa yg suka ditanya beginian.. ok Yang, semoga kamu sekeluarga juga sehat selalu ya..

  2. Sama kayak Teona : kapan aku pakai bra seperti ibu? Saya jawab, nanti saat aqil baligh yaitu bertumbuh dewasa. Lalu kenapa ibu pakai pembalut? Saya jawab, nanti ada masanya Teona mengalami masa yang dialami perempuan yang perlu memakai pembalut.

    Teona belum tanya soal gimana bayi, tapi dia sempat meminta adik. Saya jawab, nanti kalau ibu siap insya Allah ada rezeki adik. Tapi itu semua ketentuan Allah lho ya.

    Teona sudah paham muslim dan non muslim. Belum memahami LGBT dan sex. Namun ketika dia bertanya kelak, saya akan jawab dengan sudut pandang seorang muslimah. Karena semua jawabannya ada di Al. Quran.

    Semakin cerdas dan kritis ya, Cinta dan Cahaya. Salut.

    • Ya, orang tua akan dihadapi dengan pertanyaan anak anak yang semakin kritis dan mau tau. Sukses juga buat Frany dalam menghadapi pertanyaan Teona. Semoga kita selalu bisa memberikan jawaban terbaik untuk anak anak kita.

  3. Yang, di sekolah mulai usia berapa ya mulai diajarkan pendidikan sex? Aku pernah baca buku dan disebutkan di buku tersebut tentang pendidikan sex di sekolah di Belanda. Tapi lupa mulai grup berapa.
    Tentang agama, aku dan suami sepakat bahwa agama adalah pilihan, datangnya dari hati dan keyakinan. Kami tidak akan memaksakan pada keturunan kami untuk menganut atau tidak menganut agama. Buatku pribadi, menjadi manusia yang berbuat baik dan menyebarkan kebaikan serta tidak menimbulkan kerugian buat sekitarnya, itu jauh lebih penting.
    Terima kasih Yang sudah berbagi tulisan ini.

    • Hai Deny, seperti nya pendidikan sex sudah dijajarin di sekolah semenjak mereka awal masuk sekolah, karena mereka diajarkan perbedaan laki laki dan perempuan, bahkan pertanyaan tentang pernikahan sesama jenis pun datang dari mereka setelah diterangkan di sekolah. Mereka lebih diajarkan untuk menerima perbedaan.
      Tentang pilihan agama, kamu sependapat dgn suamiku. Bahkan sebelum punya anak pun kami pernah membahas masalah tersebut. Cuma aku keukeuh ama suami, aku ingin mengajarkan agama yg aku tau pada mereka, setelah dewasa mereka boleh memutuskan sendiri. Juga waktu kami berbicara tentang menyukai sesama jenis, aku berkata pada suami bahwa aku tidak masalah dengan dgn itu hanya jangan sampai terjadi dgn anak anak ku yg langsung ditanggapi oleh suami, itu sama saja artinya aku tidak setuju jika masih ada kata ‘asal’ hihihi.
      Duh topik ini memang sensitif sekali, biasanya aku menghindari topik topik pribadi seperti ini.

  4. Mba Yayang, keponakanku yang umur 11 tahun juga pernah tanya apa itu orgasme gara2 dia baca artikel kesehatan di instagram. Orang tua dia sudah kasi IG ke dia yang mana bahaya banget karena dia buktinya follow macem2. Aku jawab ga tau. Masih belum tau caranya menjelaskan hal sensitif seperti itu ke anak2. 😦

    • Anak anak selalu punya pertanyaan yg bikin kaget dan ga nyangka bakal tanya ke kita. Dan kadang aku pun ga sanggup jawabnya karena banyak pertimbangan apakah sudah waktunya atau belum. Klo sudah begitu aku suka bilang akan nyari dulu di buku setelah tau pasti akan bunda jawab. Padahal itu taktik aja agar ga bilang jawabannya sebelum aku pikirkan. Yang jelas kita harus selalu jujur pada anak anak, sekali kasih jawaban salah atau ngarang krn kita sungkan menjelaskannya, mereka akan selalu ingat

Leave a Reply to yayangneville Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s