Jadian

Bukan, bukan menceritakan kapan pertama kali aku jadian dengan suami atau jadian dengan para mantan atau (hanya mantan) karena hanya satu itu, tapi menceritakan jadiannya versi si kembar.

Tepat umur 4 tahun si kembar masuk SD groep satu atau kalau di Indonesia TK nol kecil, setelah dua tahun sebelumnya mereka masuk pra sekolah atau disini disebut peuterspeelzaal (usia 2-4 tahun). Di sekolah si kembar groep satu dan dua disatukan kelasnya mereka belajar bersama sama, begitu tahun baru ajaran maka sebagian murid yang telah cukup umur dan siap (mereka yang dikatagorikan groep dua) akan naik kelas ke groep tiga dimana sekolah yang sesungguhnya akan dimulai.

Tak berapa lama setelah si kembar masuk SD, ada beberapa orangtua murid yang datang padaku dan menceritakan bahwa anaknya jatuh cinta pada Cahaya atau Cinta, si kembar saat itu tidak sekelas. Kami mengobrol sambil tertawa tawa, menceritakan kelakauan anak anak bau kencur tersebut. Di akhir groep satu tiba tiba Cinta bercerita bahwa dia akan bersedih karena Hidde salah satu temannya akan masuk groep tiga, itu artinya akan keluar dari kelasnya. Ik ben verliefd! Hah? Jatuh cinta?!!!!!

Cerita Hidde memudar dengan beriringnya waktu, awal berpisah konon Cinta masih berusaha saat istirahat untuk mencari Hidde ke area bermain groep tiga, ingin bermain bersama lagi seperti dulu tapi katanya tidak berhasil, sang arjuna sibuk bermain dengan gerombolan anak laki laki lainnya main bola, bukan main pasir atau main boneka lagi.

Hidde adalah cerita fenomenal Cinta sekitar tiga tahun lalu, kemudian tak terdengar lagi Cinta jatuh cinta lagi, hingga bulan february tahun ini, aku mendengar cerita mendebarkan tentang ‘kisah asamara’ Cinta kembali.

Kala itu Cinta memegang gulungan kertas warna merah berpita, diacungkan padaku. Ini dari Rafael, Bunda! Kami sama sama membuka gulungan kertas tersebut, dan sama sama terkejut saat membaca nama yang tertera disitu, bukan dari Rafael namun dari Saffa, teman sekelas Cinta yang jarang diceritakan Cinta. Dengan merenggut kecewa, Cinta menghempaskan kertas tersebut. Lalu mengertilah aku, dalam rangka valentine day si ibu guru di kelas membuat tema valentine, anak anak dibagikan kertas merah cantik yang boleh digambar atau ditulisi sesukanya pokoknya dibuat cantik, setelah selesai kertas tersebut disimpan secara sembunyi sembunyi di laci meja anak anak yang dituju, boleh juga dilaci sendiri jika tertas merah itu ditujukan untuk orangtua atau saudara di rumah, jadi nanti bisa dibawa pulang. Si bu guru memastikan si anak akan mendapat kertas merah tersebut, jika anak yang tidak mendapat kertas merah dilacinya si bu gurulah yang akan membuat surat cinta tersebut untuk si anak, tentu saja hasil karya bu guru lebih dinilai special oleh anak anak.

Cahaya mendapat dua kertas merah, dari sahabatnya dan dari anak cowok yang sejak pertama mereka sekelas di groep tiga sudah dikenal sebagai anak yang memuja Cahaya secara nyata. Menurut Cahaya dan cerita beberapa temannya, Cahaya sering dikejar kejar olehnya kemudian diciumi pipinya. Hal yang terakhir itu sempat membuat Luc naik darah, bahkan ada satu kejadian (yang tidak bisa saya ceritakan disini) membuat Luc harus menulis surat pada kepala sekolah, yang kemudian kami didudukan bersama orangtua si anak tersebut. Orang tua anak tersebut sampai meminta maaf pada kami dan memastikan tidak akan ada peristiwa itu lagi pada Cahaya.

Diluar kejadian tersebut, aku dan Luc sangat menyukai Delencio anak yang menyukai Cahaya tersebut, anaknya lucu dan super ramah, spontan dan antusias. Beberapa hari sebelum liburan musim panas ini, Delencio menangis dan memeluk Cahaya karena akan berpisah dengan Cahaya. Si kembar mulai tahun ajaran depan akan pindah sekolah! (Ssssstttthhhh karena kami akan pindah rumah).

Jiga disinggung tentang Delencio, Cahaya selalu cemberut katanya dia sama sekali tidak nyaman karena hampir semua anak di sekolah tau bahwa Delencio menyukainya, kadang mereka mengejeknya dengan cara menyanyikan guyonan bahwa mereka sepasang kekasih. Cahaya memastikan padaku bahwa dia tak mau menikah dengan Delencio jika dewasa nanti, alasannya karena dia makannya cepat. Anak lain belum selesai makan dia sudah habis dalam hitungan menit dan yang lebih menyeramkan bagi Cahaya adalah karena Delincio jika makan apel dia menghabiskannya sampai bijinya ikut dimakan juga (klokhuis appel/bagian tengah apel).

Hari terakhir sekolah sebelum musim panas, hari jumat minggu lalu. Cinta bercerita padaku bahwa Cahaya jadian dengan anak yang bernama Thiago. Hah???? Saat aku bertanya dengan senyum dikulum, Cahaya menceritakan bahwa Thiago bertanya padanya apakah Cahaya mau menjadi pacarnya? Cahaya menjawab singkat ‘oke’. Alasannya kan ini hari terakhir, aku kan tidak akan bertemu dia lagi, apa salahnya menjawab setuju. Jawan Cahaya dengan polosnya.

Aku tak bisa tertawa terbahak bahak, tentu saja didepan mereka aku berusaha menyelami pikiran mereka dengan bijaksana walau kadang menggodanya juga. Sebelum aku berkata kata, Cinta sudah menimpali bahwa dia jadi mendadak tak suka dengan Thiago, karena ulah Thiago jadinya Cinta keduluan yang bisa jadian, bukan dirinya. Aku bertanya, apakah Rafael mengajak Cinta jadian? Cinta menjawab cepat, aku yang bertanya pada Rafael tapi Rafael menolaknya……. Oh noooo!

Oh ya, Cahaya pun pernah menerima kartu Valentine saat umur 4,5 tahun saat dia duduk di groep 1 yang diserahkan langsung padaku dari oppasnya (baby sitter). Kata oppasnya, ibunya Pascal yang menuliskannya langsung karena Pascal memintanya, tulisannya Ik hou van je, Chahaja. Hihihihi, rumah Pascal tak jauh dari rumah kami, kadang Cinta dan Cahaya bermain ke rumahnya begitupun sebaliknya, dan yang mengatur urusan main saat pulang sekolah adalah aku dan oppasnya, aku hanya satu kali bertemu dengan ibunya saat ada acara Holloween di lingkungan rumah kami, saat itu aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia berkostum dan bermake up nenek sihir. Kata kata yang pertama kali dia ucapkan saat kami berkenalan adalah, oh ini Cinta dan Cahaya yang sudah beken namanya di telingaku. Aha!

Kalau kalian umur berapa kalian pertama kali jadian?

***

Note: Nama teman teman si kembar dalam tulisan ini sedikit disamarkan, hanya sama huruf depannya saja. 🙂

 

 

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Jadian

  1. hahaha… kiyuuuut… iya ya mbak… kita tetep hrs serius ngedengerinnya meski nahan ketawa, hihihi, jadi pengen bangeeeeet gemesin si kembar niiiih…

    awal masuk groep 6, Tristanku sepertinya jatuh cinta tiap hari sm cewe2 bermata biru – ketika menemukan ketidakcocokan cepet banget ilfilnya, tapi sekalinya patah hati sekali waktu nembak cewe trus si cewe ternyata naksir sahabatnya.. oh noooooooo… hehehe…

  2. ahaha.. asli teh, ngakak2 bacanya

    sekecil ituh udah tembak2an aja, jadian2an. 😀
    banyak bgt yg suka cinta cahaya yah

    ***hmm.. belum pernah jadian teteeeeh, wekekekeke

  3. Lucu sih tapi miris juga anak umur segitu mikir cinta-cintaan. Kemaren temen ponakan juga ada yang nangis his terus karena ponakanku gak masuk. Dia seneng banget sama ponakanku. Akhirnya sampai harus dikasih obat biar tenang 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s