Day 4: Kue Ladu special

15 days chelenge.png

Baliknya diriku menulis lagi seakan disambut postingannya mbak Yoyen untuk menulis / tantangan menulis selama 15 hari, akhirnya aku pun mencobanya walau tak mulai dari awal karena baru baca  15 day challenge kemarin malam.

Jadi bahasan hari ini adalah,  memori favorit apa sih saat aku kecil dulu? Sepertinya banyak banget, mulai dari cukur rambut sendiri, dikejar anjing hingga jatuh ke selokan kering dan ga bisa bangun karena badan terjepit walaupun terjepit ga sampai setengah jam tapi rasanya berabad abad karena ga ada orang yang lewat buat membantu diriku keluar dari selokan, ih!

Dan yang paling berkesan dalam ingatanku hingga saat ini adalah mengenai sosok mang Yaya dan mang Andi tukang beca langganan aku semasa TK dan SD. Langganan disini memang benar benar langganan yang datang tiap pagi jemput ke rumah dan siang mengantar ke rumah dan bayarannya pun perbulan pula.

Jadi waktu aku TK aku langganan beca buat antar jemput pergi dan pulang sekolah. Mang Andi adalah tukang beca diawal aku masuk TK hingga beberapa bulan kemudian digantikan oleh mang Yaya adiknya mang Andi. Saat penggantian kekuasan itu aku senang sekali digantikan mang Yaya karena beca mang yaya baru, bersih dan lebih besar. Selain beca yang nyaman, mang Yaya sendiri pun orangnya sangat bersih dan gaya, sehingga kami selalu menebutnya mang Yaya gaya. Beralih ke mang Yaya menjadikan diriku bunnya satu satunya anak yang berlangganan beca tapi ada6 anak kecil lainya. Jadi ada tujuh anak yang setiap hari dijemput dan diantar mang Yaya ke sekolah. Tujuh anak dalam satu beca, ajaib ya bener benr kayak sirkus. Jadi tiga anak duduk normal di jok beja, dua anak duduk di kiri dan kanan kayu yang berfungsi sebagai penyangga lengan jika kita duduk normal di sebuah beja, sedangkan dua anak lainnya duduk di stang beca dengan kaki menjulur di jok. Anakk anak yang tubuhnya lebih besar boleh duduk normal bertiga di jok, nah bagian aku dan beberapa teman yang bertubuh mungil hanya bisa pasrah duduk di tempat mengenaskan di kiri dan kanan lengan jok.

Suatu hari mang Yaya sakit, dan tugas mengantar dan menjemput ke sekolah digantikan sementara oleh mang Andi kembali, tak semua anak ditangani mang Andi hanya aku dan Irma saja yang rumahnya berdekatan denganku. Dan hari itu tak sepeti biasanya mang Andi bertanya apakah aku akan ikut mengantar Irma terlebih dulu? Barulah aku yang terakhir diantar pulang, aku setuju. Irma telah tiba di rumahnya dengan selamat, aku masih ada di beca, beca melaju semakin menjauhi rumahku. Aku yang saat itu masih kelas dua SD bertanya akan dibawa kemana diriku. Mang Andi menjawab bahwa dia akan mampir dulu ke rumahnya untuk pipis. Karena aku saat itu masih kecil rasanya jauh sekali baru sampai di rumah mang Andi di daerah Cipagalo, sedangkan rumahku saat itu adalah di terusan buah batu. Tiba disebuah gang yang sempit, mang Andi memarkirkan becanya, menyuruhku menunggu sebentar tapi aku menolak dan memaksa ikut dengannya rasanya takut sekali ditinggal sendirian di beca.

Masih ingat rasanya mang Andi menggandeng tanganku menyusuri gang sempit yang gelap, kemudian kami tiba di rumah yang tak kalah gelap dan sempitnya, ada seorang wanita tua yang menyambut kami, senyumnya mekar saat melihatku, sementara mang Andi pergi entah kemana sepetinya ke jamban umum, aku ditinggalkan bersama wanita tua tersebut yang tak lain adalah istrinya. Dia menyodorkan air putih ke arahku, mengelus rambutku dan berkata bahwa aku cantik sekali.

Mang Andi datang kembali, membawaku kembali menyusuri gang sempit dan gelap, mengambil jalan lain dan tiba disebuah warung kecil. Tak banyak yang dijual di warung tersebut, berbeda sekali dengan warung dekat rumahku, mang Andi menyuruhku untuk mengambil makanan yang aku suka yang ada di warung tersebut. Dengan terpana aku memandangnya tak percaya bahwa aku akan ditraktir oleh seorang tukang beca yang keadannya jauh dari mampu. Aku mengambil kue ladu satu satunya makanan yang tersisa di warung tersebut. Ladu adalah kue yang terbuat dari tepung beras dicampur gula merah yang menyerupai dodol tepung beras yang luarnya ditaburi tepung untuk menghindari lengket di tangan, aku menyebutnya dodol berbedak. Kini ladu bisa aku temui di toko oleh oleh di daerah Garut.

Sepanjang pulang ke rumah aku duduk bahagia di beca sambil mengunyah kue ladu istemewa. Enak sekali. Tiba di rumah aku mengucapkan terima kasih sekali lagi pada mang Andi atas kue ladu traktirannya. Kami sama sama bahagia.

Aku lupa apakah kejadian aku ditraktir mang Andi aku ceritakan pada ibuku atau tidak, kedua orangtuaku bekerj, ibuku baru kembali dua jam setelah aku tiba di rumah. Mang Andi hanya menggantikan tugas mang Yaya selama seminggu saja. Bagiku keduanya adalah my bodyguard. Kadang mang Andi datang ke rumah kami membawa sayur kangkung yang baru dipetik. Dia sudah semakin jarang menarik beca karena tak kuat lagi mengayuh. Aku berlangganan beca hingga kelas tiga SD, karena kami pindah rumah mendekati sekolah jadi aku bisa jalan kaki saja ke sekolah. Mang Yaya masih suka ke rumah kami walau aku tak berlangganan beca lagi padanya, mang Yaya pula yang mengabarkan pada ayah ibuku bahwa mang Andi sakit, orang tuaku datang menjenguk mang Andi. Kemudian tiba suatu hari ibuku datang padaku dengan wajah duka mengabarkan bahwa mang Andi telah berpulang.

Hari ini aku teringat kembali pada kenangan masa kecil itu, kue ladu special dari orang miskin harta yang kaya akan cinta kasih. Bagiku mang Andi adalah orang kaya melebihi siapapun. Tak akan kulupa sosoknya yang selalu megenakan celana panjang warna hijau ABRI dengan topi pet senada dengan celananya, kemeja lengan panjangnya yang lusuh juga berwarna hijau.  Dia menggulung rambutnya keatas ditutupinya dengan topi hijaunya sehingga tak banyak orang tau bahwa dia berambut panjang sepinggang. Sosoknya yang tinggi kurus dengan wajah tirusnya ditambah giginya yang ompong tak mungkin aku lupa hingga kini.

 

Advertisements

11 thoughts on “Day 4: Kue Ladu special

    • Kalo jaman sekarang pasti ngeri ya, anak dipercayakan pada orang lain, pasti was was. Tapi jaman aku kecil jenjang sosial gak begitu mencolok seperti sekarang, trus orang orang jaman dulu lebih mudah dalam tolong menolong.

  1. Kok jadi terharu ya teh, meskipun serem – serem sedap bacanya, ketika diandaikan itu kondisi zaman sekarang.
    Tapi kalo dulu emang masih banyak orang baik , ga kayak sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s