Indonesia 2016

img_20160724_161411579

Entah dari mana harus aku mulai. Rasanya jari jemari menjadi kaku setelah libur panjang dari menulis. Tapi baiklah kucoba untuk mulai menulis lagi. Judulnya masih rada gak pas mungkin, tapi apa yang ingin aku tulis saat ini adalah beberapa cerita ngalor ngidul seputar cerita mudik 2016 yang baru lalu, seperti…..

Luc yang begitu tertarik mendengar penjelasan adikku saat kami kena macet seperti biasanya di bunderan Cibiru. Adikku menjelaskan mengapa saat ini begitu banyak truk truk besar pengangkut pasir berseliweran, karena saat itu sedang dibangun stadion terbesar di Bandung di daerah gede bage, tutur adikku yang langsung disambut teriakan gembira oleh Luc. Aha artinya akan dibuat jalan baru kan? Karena membuat stadion besar berarti akan dibuat juga fasilitas penunjang lainnya, jalan baru. Dan tentunya akan mengurai macet seperti sekarang ini. Ya ya ya, logikanya seperti itu.

Atau saat kami menginap di sebuah hotel di dago atas dan memutuskan tidak makan malam di restauran hotel namun berjalan keluar mencari cafe disekitar hotel atas rekomendasi pegawai hotel. Luc terbelalak ‘kagum’melihat sibuknya tukang parkir yang mengarahkan pengunjung untuk parkir. Setelah kami duduk di cafe yang nyaman, Luc menghitung tempat duduk yang terlihat dari pandangannya dan bergumam… OMG luas sekali, banyak tempat duduk yang tersedia, apakah tadi kamu memperhatikan tempat parkirnya? Sangat tidak memadai untuk pengunjung cafe ini. Bukankah sebelum membangun cafe si empunya memikirkan tempat parkirnya juga, seharusnya jumlah kursi disesuaikan dengan jumlah mobil yang dapat ditampung di tempat parkirnya, apalagi jika mengingat penduduk Indonesia yang datang ke tempat seperti ini kebanyakan menggunakan mobil. Ya ya ya tentu saja teori seharusnya begitu!

Juga saat kami diam seribu bahasa, bahkan bernafas pun sulit saat kami berada di mobil yang akan membawa kami ke bandara Husen Bandung, kami harus mengejar pesawat yang akan membawa kami ke Surabaya pada pukul tujuh lewat lima belas pagi sementara kami masih terjebak macet di daerah buah batu pada pukul enam pagi. Ayahku berbicara panjang pendek pada dirinya sendiri tak mengerti mengapa bisa macet seperti ini. Ibuku hanya diam pucat pasi di tempatnya duduk, sementara Cinta Cahaya tetap mengoceh tak menyadari apa yang akan menimpanya (kemungkinan tak jadi berangkat hari itu), sementara aku bolak balik mengecek teleponku mencari cari tiket yang bisa aku beli bila kami tak bisa berangkat hari itu, ku tanyakan pada adikku apakah benar aku harus chek in paling lambat setengah jam sebelum pesawat berangkat? Pertanyaanku diiyakan oleh adik dan ayahku, namun adikku masih bisa memberikan harapan padaku…. kalau beruntung masih bisa sih lima belas menit sebelum pesawat berangkat. Oh ya?

Semakin mendekati bandara, aku menyusun strategi, aku meminta pada adikku yang membawa kami ke bandara untuk menurunkan kami di pintu masuk dan aku akan berlari ke loket diikuti oleh Luc sementara ibu dan ayahku akan menyusul bersama koffer dan tas kami berenam. Aku tiba di loket saat petugas tengah memegang papan bertulisan ‘closed’untuk ditempatkan di meja loket. Aku menyodorkan tiket dan paspoort padanya, si petugas bertanya padaku yang datang seorang diri kemudian diikuti satu mahluk bule, mana yang lainnya? Tanyanya melihat paspoort di tangannya yang berjumlah 4 buah ditambah dua buah KTP seumur hidup. Dengan wajah memelas aku berkata bisakah ditunggu barang lima menit saja? Lebih dari lima menit saya pasrah jika tidak dapat berangkat. Jawabku. Luc berlari membalik menyongsong ibu dan ayahku yang tak berbentuk membawa seluruh barang bawaan kami, sementara si kembar menyeret bawaannya sambil lari pontang panting. Ah sungguh pemandangan yang mengenaskan dan mengharu biru!

Sebagai ganjarannya, kami berhasil terbang bersama pesawat yang tidak mempunyai reputasi terlambat, padahal di mobil tadi aku sudah berdoa kuat kuat agar pesawatnya terlambat. Tiba di surabaya, kami bersama sama tertawa lepas, lega rasanya namun masih harus menunggu supir mobil yang telah aku pesan seminggu sebelumnya yang ternyata datang terlambat setengah jam dari waktu yang dia janjikan. Dengan percaya diri Luc bertanya, kena macet ya pak? Dan langsung dijawab tegas oleh sang supir, tidak pak! Saya sudah datang dari setengah jam yang lalu, hanya saja ibu tidak langsung menelepon saya. Jawabnya tegas. Aha, seperti yang telah aku pelajari, hati hati dengan supir Surabaya yang satu ini, beliau tidak akan pernah mau disalahkan!

Oh ya ada lagi cerita Cinta yang ngambek difoto. Mudik kali ini untuk pertama kalinya kami membawa si kembar pula untuk jalan jalan, biasanya saat mudik ke Indonesia kami selalu meninggalkan si kembar seminggu di Bandung bersama kakek dan neneknya sehingga aku dan Luc bisa pergi berdua saja. Karena kami membawa rombongan juga ayah dan ibuku maka acara jalan jalan kali ini dikhususkan untuk si kembar. Jadilah kami banyak ke tempat atraksi, seperti taman safari Jatim, Wisata Batu, Jatim Park 1, 2 atau sekedar menikmati Malang di malam hari. Ada yang berbeda dari orang Bandung dan Malang, di Malang dan Surabaya orang orang banyak tertarik pada Cinta dan Cahaya, hampir setiap berpapasan mereka minta foto dengan si kembar bahkan ada yang brutal tanpa bilang dulu pada kami langsung tarik tangan Cinta dan cetrek! Hanya pada si kembar tidak pada Luc yang besar seperti raksasa. Cahaya masih bisa tersenyum jiga yang mengambil dirinya untuk difoto meminta Cahaya tersenyum, tapi tidak dengan Cinta dia sudah berada di titik jenuh, hari terakhir di Malang dia meminta kami jika ada yang mau foto lagi dia tidak akan mau!

Jika selama di Belanda, aku tau banget tentang berita di Indonesia karena aku rajin nonton TV Indonesia di internet namun tidak begitu halnya saat di Indonesia, aku sama sekali tidak melihat TV disana, disamping tentu saja sibuk kesana kemari, tapi sekalipun menginap di rumah ayah ibu, mereka jarang menyalakan TV, sudah begitu adanya sedari aku kecil dulu. Seperti kemarin pagi saat aku menelepon ibuku, tanpa sengaja aku menyinggung berita yang tengah jadi viral di medsos yaitu ibu ibu yang menyerang seorang anggota polisi, ibuku terkaget kaget keheranan, dia sama sekali tak tau berita yang tengah jadi buah bibir itu, ada di TV kok kataku. Dan jawab ibuku… seperti kamu tau kan kami jarang menyalakan TV, setidaknya dengan tidak menyalakan TV hati kami tetap tenang, tidak was was melihat dan mendengar berita jaman kini yang ajaib. Tapi ibu ketinggalan berita paling ajaib saat ini bu….. Yang langsung disambut tawa lepasnya.

Advertisements

17 thoughts on “Indonesia 2016

  1. Hallooo, Mbak Yayang. Baru pulang liburan ya. Saya punya pengalaman mirip Cinta, 2 hari lalu, hari terakhir liburan saya menyempatkan jogging pagi. Tiba2 hujan langsung lebat, semua orang di pantai & jogging track pun berteduh. Di antara kami, ada seorang wanita bule. Yang langsung mendadak seleb karena banyak ibu2 yg minta foto bareng. Reaksi wanita bule itu tentu kaget tapi tak enak menolak. Saat kami saling eye contact, saya hanya bisa senyum tipis. Gak bisa menolong apalagi memberi penjelasan. Mau gimana lagi?!

    • Hallo Frany, liburannya sudah lama bulan juli dan agustus yang baru lewat, biasa klo ke Indonesia harus pas anak anak libur musim panas karena liburan terpanjang mereka.
      Hahaha kalo wanita bule nya sudah sering liburan di Indonesia biasanya sudah terbiasa klo ada yang minta foto bareng, yang biasanya terkaget kaget kalo baru pertama kali ke Indonesia. Tentu saja mudik ini pun bukan yang pertama kali buat si kembar bahkan sejak umur 1 tahun mereka sudah mudik, hanya inilah peristiwa paling menghebohkan selama di Malang dan Surabaya karena banyak sekali yang ambil foto mereka dan kadang tiba tiba ditarik tangannya diajak untuk berfoto bareng.

    • Hallo neng Dila, terima kasih walah ,macet dan bising tapi tetap dong Bandung selalu di hati dan tentu saja kami semua sangat menikmati setiap liburan bersama keluarga di Bandung (Indonesia)

  2. haha kalo di indo emang kalo buka restoran gak mikir parkirannya muat atau gak. πŸ˜›
    baru aja keamren pas chatting ama bokap cerita tentang restoran di gading yang selalu penuh dengan kondangan tapi parkirannya susah karena gak memadai. tapi ya herannya walaupun parkiran susah tetep aja rame. makanya yang punya restoran juga gak peduli. hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s