Telepon kencan

Pukul 8:15 Aku masih menyisir rambutku sementara anak anak sudah bersiap di tangga untuk turun keluar rumah. Aku berteriak pada Luc untuk membawa anak anak ke sekolah tanpa aku, dan meminta Luc kembali ke rumah untuk menjemputku.

Selalu begitu. Drama dipagi hari. Padahal aku sudah bangun pukul tujuh pagi, mandi kilat, menyiapkan roti untuk bekal  anak anak di sekolah,  diselingi komando pada si kembar untuk menghabiskan sarapan serealnya, tapi toch aku masih ketinggalan kereta padahal tinggal menyisir rambut, memakai sepatu, jas, sjaal dan berlari lari mengejar Luc yang sudah berada di mobil.

Setiap hari selasa dan rabu sebelum aku ke perpustakaan pukul 10 pagi, aku selalu ngopi atau sekedar sarapan croussant di sebuah cafe dekat perpustakaan, biasanya aku sudah berada disana pukul 9 pagi jika aku menumpang pada Luc setelah kami mengantarkan anak anak ke sekolah.

Pukul 8:37, Luc belum juga kembali ke rumah untuk menjemputku, jarak rumah ke sekolah si kembar hanya 3 menit saja jika naik mobil, seharusnya Luc sudah kembali pukul 8:35. Sedikit tak sabar aku segera keluar rumah, memutuskan menunggu Luc di depan pintu rumah. Pukul 8:42, hanya lima menit dari waktu aku keluar rumah aku mulai berpikir, jangan jangan Luc lupa untuk kembali menjemputku dan malah meneruskan perjalanan ke kantor. Dan saat itu juga aku memutuskan berjalan ke arah halte bis, dengan beberapa kali menegok ke belakang, berharap Luc datang dari arah belakang. Menaiki bis yang datang tepat pukul 8:50.

Berpikir dengan gundah, menyalahi kebiasaan Luc yang selalu membiarkan handphone nya mati, selalu lupa untuk mengisi baterainya, saat itu aku tak mau meneleponnya, tak mau menelan ludah menyadari telepon genggamnya tak dapat dihubungi. Mengasihani diriku sendiri yang dilupakan suami. Bagaimana mungkin dia bisa lupa datang kembali ke rumah untuk menjemputku? Haruskah aku menyalahkan rambutku yang belum disisir saat mereka telah siap berangkat? Ah, bukan ide yang menguntungkanku jika aku menyalahkan diriku untuk bangun lebih pagi, jadi semuanya tidak harus terburu buru. Jadi lebih baik salahkan saja Luc yang tega sekali melupakanku.

Tapi bagaimana jika dia tidak lupa? Bagaimana jika aku yang terburu buru keluar rumah, tak sabar menunggu Luc yang pasti datang kembali untuk menjemputku? Bagaimana jika aku yang begitu khawatir terlambat ke cafe karena sudah janji bertemu dengan seorang teman tepat pada pukul 9 pagi. Dan hampir semua orang tau, aku paling benci jika harus terlambat. Aku masih sabar jika harus menunggu orang lain yang terlambat, tapi jika aku sendiri yang terlambat rasanya menyebalkan sekali!

Pukul 8:52, dua menit setelah aku berada di bis dengan hati yang sedih luar biasa. Teleponku berdering, dari handphone Luc! Aahhhhhhhhhhhhh………

Ada suara lembut di ujung sana. Bertanya dengan penuh khawatir padaku, dimana aku sekarang? Dengan suara terbata aku menjawab bahwa aku sudah berada di dalam bis. Nada heran terdengar dari pertanyaan Luc, bagaimana mungkin bisa secepat itu.

Lalu tuturnya, pukul 8:45 dia sudah berada di rumah (aku meninggalkan rumah pukul 8:42). Mencari charger telepon handphone-nya (aha saat itu handphone memang kosong tak berenergi), menunggu beberapa menit untuk bisa menyalakan teleponnya dan baru berhasil menghubungiku pukul 8:52.

Aku begitu terburu buru mengantar anak anak bahkan sampai lupa mencium mereka karena ingat aku harus segera kembali ke rumah untuk menjemputmu. Aku menjalankan mobilku lebih cepat dari biasanya, tiba tiba aku tersadar, kenapa laju mobil ini menuju arah kantor? Luar biasa pikiranku adalah kembali ke rumah untuk menjemputku, tapi kenapa mobil ini malah bergerak ke kantor?  Begitu tuturmu, sambil berkali kali meminta maaf.

Aku mendengarnya dengan trenyuh, kemudian kami mentertwakan kekonyolan kami berdua, aku yang tak sabar menunggu dan Luc yang menjalankan mobilnya ke arah kantor sehingga dia harus kembali memutar mobilnya ke arah rumah Dan pembicaraan itu masih berlanjut hingga aku keluar dari bis, kemudian berjalan ke arah cafe. Dan aku harus menghentikan pembicaraan kami dan mengingatkannya untuk segera berangkat kerja.

Sampai nanti sore sayang, dan sekali lagi maafkan aku. Begitu ucapnya sesaat ketika aku menutup teleponnya.

Sungguh sudah lama sekali aku tak merasa getar marah, gembira, sedih dan bermacam macam rasa yang tak dapat aku ungkapkan seperti rasa saat aku jatuh cinta. Dan menerima telepon darinya mengingatkan aku pada rasa jatuh cinta itu……….. Seperti dulu.

Advertisements

27 thoughts on “Telepon kencan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s