Bu, tolong singkirkan HPnya!

Kira kira seperti itu kata kata seorang sopir bis tadi pagi pada seorang ibu muda yang tengah asyik dengan telepon genggamnya di sebuah bis nomor 32 jurusan Station Zuid Rotterdam.

Pukul 9 pagi aku sudah berada di sebuah bis yang akan membawaku ke perpustakaan pusat di Rotterdam. Di sebuah bis halte seorang ibu yang menggendong bayi kira kira umur satu tahun masuk ke bis. Dan mengambil tempat duduk tepat di depanku. Si ibu tetap berdiri sementara bayinya di dudukan di kursi. Bis melaju dan si ibu tetap fokus pada telepon genggamnya.

Di halte berikutnya bis berhenti dan sang supir memanggil si ibu yang sedang sibuk dengan HPnya. Si ibu datang ke arah supir, singkat cerita si supir meminta si ibu menyingkirkan HPnya, kata katanya kira kira seperti ini, apakah Hp lebih penting dari bayimu?

Si ibu meradang dan kembali ke kursi dimana bayinya ditinggalkan, sambil berkata jangan banyak omong Pak, ini bukan urusanmu, ayo mengemudi saja. Aha kontan saja sang supir semakin marah mendengar jawaban seperti itu. Keselamatan penumpang tanggung jawab saya, kalau kamu gak mau menyingkirkan HPmu, turun dari bis ini! Ucapnya sambil membuka pintu bis

Dan si ibupun tak berkutik. Dengan bersungut sungut si ibu memasukan HP pada tasnya.

Pemandangan orang memegang telepon genggam memang bukan sesuatu yang aneh. Rasanya jaman kini kebanyakan orang makin tergantung pada telepon genggam. Seperti halnya diriku.

Tujuh tahun yang lalu, saat aku masih tinggal di Indonesia, telepon genggam lebih banyak digunakan buat sms an dengan teman teman. Di awal kepindahanku ke Belanda hingga dua tahun lalu, aku tak tergantung pada telepon genggam. Tak banyak komunikasi dengan teman atau keluarga melalui telepon, komunikasi lebih banyak melalui facebook, messenger, yahoo atau skype. Semuanya melalui computer yang tak pernah dimatikan selama 24 jam perhari. Computer baru dimatikan jika kami pergi lebih dari satu minggu lamanya.

Nah barulah kira kira dua tahun yang lalu, aku mulai tergantung kembali pada telepon genggam setelah adanya whats App, apalagi setelah bermunculan grup Whats App teman SD, SMA dan kuliah, belum lagi grup keluarga di Indonesia dan teman teman disini. Telepon genggam juga semakin melekat erat karena kini acces internet lebih mudah ditemukan dimana mana, jadi pesan baju, pesan makanan atau apapun yang dulu aku lakukan melalui computer duduk, kini bisa aku lakukan melalu telepon genggam.

Pertanyaannya, adakah manusia jaman kini di negara maju yang tidak tergantung pada telepon genggam? Tentu saja ada, salah satunya adalah teman sekasurku, alias sang suami.

Awal pacaran dulu, aku masih ada di Indonesia, dia sudah enggan ber-sms denganku, apa apa mesti melalui email atau messenger. Katanya telepon genggam yang dia punya adalah kepunyaan kantor, kantor memberinya inventaris telepon genggam karena dia tak punya, dan sialnya jika dia sms atau telepon pada diriku yang ada di Indonesia maka dia harus bayar sendiri. Rugi katanya. Dan menurutnya dia tak suka sama sekali pada telepon genggam, ribet.

Satu hari setelah aku berada di Belanda, Luc membelikanku telepon genggam merk Nokia sesuai permintaanku dengan model terbaru kala itu, sementara Luc tetap menggunakan telepon genggam inventaris kantor yang jadul sekali. Sebulan kemudian Luc tak bekerja lagi di perusahaan tersebut dan dia terbebas dari telepon genggam. Hingga anak anak berusia tiga tahun dan masuk kinderopvang atau penitipan anak, pengurus kinderopvang meminta nomor telepon dari kedua orang tua. Maka terpaksalah Luc membeli HP.

Apakah setelah itu dia tergantung pada telepon genggam? Tidak sama sekali. Malah akhir akhir ini kian menyebalkan dan membuatku jengkel. Bukan, bukan karena dia anteng dengan telpon genggamnya melainkan karena sama sekali tak mengindahkan telepon nya sama sekali.

Beberapa kejadian menyebalkan terjadi pada diriku gara gara telepon genggamnya tak tak diindahkan. Suatu hari aku dan anak anak pergi ke mushola, seperti biasanya Luc mengantarkan kami dan pulangnya dia akan menjemput kami setelah aku menelepon ke rumah dan minta dijemput. Tapi hari itu aku tak bisa menghubungi telepon rumah, ada nada sibuk disebrang sana, dan itu berlangsung lama sekali. Tak mungkin Luc menggunakan telepon selama itu, sepertinya telepon rumah rusak. Kemudian aku menelepon ke HP Luc tapi tidak tersambung alias HP nya mati. Pukul 10 malam mushola tutup, seorang teman menawarkan untuk mengantar kami pulang, tapi karena arah rumahnya berlawanan dengan rumahku, aku menolaknya dan lebih memilih ikut di rumah teman yang dekat mushola berharap Luc ingat padaku dan mencari cara menghubungiku. Dan dia baru menghubungi pukul 12 malam, setelah panik kenapa aku belum menelepon juga. Astaga!!!

Dan kejadian seperti itu Β tidak hanya sekali, beberapa kejadian yang membuatku naik darah, janjian dia menjemputku di centrum sepulang dari kantor, eh begitu dia sampai centrum dia harus pulang dulu ke rumah karena menyadari teleponnya tak ada baterainya sehingga tak dapat menghubungiku, atau saat dia menjemputku di station, aku harus mencarinya di tempat parkir karena HPnya mati. Kini jika kami janjian di suatu tempat aku harus mengingatkannya agar dia membawa HP atau memeriksa baterainya.

Richard adalah orang kedua yang aku kenal yang tidak tergantung pada telepon genggam. Sahabat Luc sejak umur 14 tahun itu dan hampir setiap selasa malam datang ke rumah kami untuk menonton film itu Β sama sekali tak mengindahkan HPnya, telepon berdering dering dia tak mengangkatnya. Dulu aku sebal sekali melihat kelakuannya, pernah suatu waktu aku menyuruhnya membuang HP karena mengganggu sekali. Dia datang ke rumah kami, mengeluarkan semua benda bendai dari saku celananya di meja, ada HP, kunci mobil dan kunci lainnya. dan HP tersebut sering bergetar dan dia sama sekali tak pernah menjamahnya. Dia hanya menggumam pasti hanya urusan kantor dari anak buahnya yang jaga malam. Seperti halnya Luc, Richard juga seorang programmer bahkan mereka saling kenal di sebuah grup computer saat mereka masih berusia belasan, grup orang orang Nerd, kata Luc. Hahaha

Pernah suatu saat aku bilang padanya, kenapa bawa HP kalau tidak pernah menjawab panggilan yang masuk? Dan jawabnya, sudah tau aku tak pernah angkat telepon dari kantor masih juga menghubungiku. Ya Tuhan.

Nah di jaman sekarang adakah diantara kalian yang tak tergantung pada telepon genggam, membiarkan telepon yang masuk atau membawa HP tapi HPnya mati? Atau apakah kalian golongan yang tergantung pada telepon genggam hingga kena bentak, seperti si ibu muda di dalam bis tadi pagi?

Posisi bayi yang didudukan di sebelah (orang yang sedang duduk) sementara ibunya berdiri disamping sia anak sambil asyik dengan HPnya

Posisi bayi yang didudukan di sebelah (orang yang sedang duduk) sementara ibunya berdiri disamping sia anak sambil asyik dengan HPnya. (ini hanya contoh di dalam bis, posisinya seperti yang aku gambarkan)

Advertisements

36 thoughts on “Bu, tolong singkirkan HPnya!

  1. Pak sopirnya keren, teges! Ak trmsk org yg trgtg sm hp. Krn smua2 trmudahkan dgn hp. Tp ak msh bisa nahan liat2 hp utk kondisi2 tertentu. Klo lg kumpul2 sm temen2, biasanya kita numpuk hp ditengah, sisanya ya ngobrol scr offline

  2. Pak Sopir hebat sekali Mba, kalau di Indonesia semua supir seperti itu kayanya ngga ada yang naik bis, karena sepertinya semua sibuk pegang HP ya..sama nih di Malaysia juga

    HP ku paling banyak dipakai buat whatsapp, karena urusan kerjaan, sejujurnya memang lumayan membantu.

    Aku kadang ketergantungan juga, kalau lagi ngga ngapa-ngapain pasti pegang HP duh, harus dikurangin memang.

    paling ngga suka kalau lagi makan bareng atau ngumpul dengan teman dan ada yang sibuk dengan HP, pengen nimpuk jadinya

    • Wah klo buat pekerjaan ga masalah menurut ku. Itu kan alat bantu, malah bermanfaat, kecuali untuk urusan gak penting dan jadi candu, lupa akan keadaan sekitar dan lebih tertarik pada dunia maya, itu yg ga bagus.

      • betul Mba, teknologi harus digunakan dengan bijak
        Facebook, Path, Instagram, Iphone 6+ ga salah apa-apa, yang salah adalah kita kalau tidak bisa menggunakan dengan bijak πŸ™‚

  3. Aku jg ketergantungan hp nih mba tp skr berusaha ngurangin. Hp diutak atik kalo lg sendirian aja, kalo lagi ketemu org atau keluarga sebisa mungkin

    • Udah bagus Dit, klo udah bisa lepas HP klo lg ketemu orang. Aku kena tegur anakku, bunda kenapa maen telepon terus?
      Padahal aku liat telepon klo anak anak lagi anteng maen berdua, klo akunya ikutan maen maen anak anak tentu aja aku ga pegang telepon. Tapi klo aku asyik sendiri mereka tetap protes. Jadi sekarang baru lihat HP, klo anak2 sudah tidur atau sedang sekolah, seperti sekarang πŸ˜‰

    • Hihihi udah eneg kali itu pak supir, karena banyak orang klo masuk bis, tram dll begitu masuk pada sibuk dengan telepon genggam nya.
      Awalnya pak supir juga bilang, pegang bayinya jangan sibuk dengan telepon terus, emangnya telepon lebih penting dari bayimu?
      Sebetulnya percakapan mereka panjang banget, sampai saling berbantahan. Sampe semua penumpang terdiam.

  4. Waahh, sopirnya tegas juga ya Yang. KerenπŸ‘. Jadi ingat pas waktu aku kerja. Pada waktu itu aku memang ga terlalu suka berHp. Jadi setiap sampai kantor selalu kumasukin laci. Otomatis aja. Sampai bosku saking kesalnya pernah bilang “mending dibuang aja deh Den hpnya kalo ga pernah dipake. Saya mau menghubungi kamu lebih susah dibanding nelpon presiden” haha. Seringkali baterai sampai habis ga sadar. Padahal aku bagian marketing yg banyak dihubungi orang. Sejak ganti nomer Belanda, aku cuman ada 3 group di whatsapp. Dulu sebelum pindah lebih dari 10. Lumayan tenang sekarang.

    • Walaaahhh Den, itu bahaya! Marketing kan paling heboh dengan HP, nah dirimu? Hihihi pantes aja bos mu sampe bilang begitu. Jadi kamu hampir mirip mirip suamiku hihihi soal urusan HP. Untuk jaman sekarang udah jarang lho.
      Betul Den, dibutuhkan banyak orang tegas untuk mengurangi ketergantungan pada telepon genggam.
      Yang jadi masalah sekarang ini adalah banyak dari kita dan mungkin aku juga yang sedikit dikit periksa HP nya jadi candu, kalau untuk fasilitas kerja atau sesuatu yang penting yahh sah sah saja.
      Acungan jempol buat dirimu. Aku hanya bisa ga check HP klo lg ada di luar rumah, krn HP ku tergantung wifi di rumah, aku ga nyalain network mobile nya. Selain biar tercontrol urusan pembayaran nya, juga karena aku dari dulu tak terbiasa check HP di depan umum, ribet. Kadang klo pergi lupa bawa HP pula hahahaha.

  5. Suami dan saya hp kami tidak ada fasilitas internetnya (ga mau keluar biaya bulanan tambahan πŸ˜€ ) jadi klo keluar rumah ya tidak sibuk dg hp πŸ˜‰ . Ketika dulu di indonesia hp saya selalu berdering kebanyakan buat sms an, skrg sunyi senyap tak ada lagi sms masuk setiap hari, paling dari suami klo ada yg penting. Ym, line, WA saya tidak gunakan walau banyak yg nanyain biarkan saja, supaya hidup tenang ga ada yg ngejar2 hehe.

  6. Wah, sopir busnya tegas juga ya πŸ™‚ .

    Hape sekarang semakin membuat ketergantungan dengannya semakin tinggi setelah bisa diterkoneksi dengan internet dan segala macam app-nya itu. Untuk aku sendiri, hmmm, mungkin ada di tengah-tengah ya, hehehe πŸ™‚ . Cukup tergantung, tetapi untungnya belum pernah ditegur seperti ibu-ibu di dalam bus itu πŸ˜€ .

    • Iya betul, karena sekarang wifi dimana mana. Di bis juga ada wifi.
      Hahahaha untunglah belum kena tegur supir bis Rotterdam, suamiku dah kena tegur, walau bukan urusan telepon.
      Waktu itu aku ama anak anak dah masuk duluan ke bis, langsung check in dong setelah bilang salam ama supir nya dan langsung ngejar anak anak, soalnya di belakang ku ada orang yg ga punya kartu jadi dia beli dulu di supir, nah suamiku langsung main check in aja dan ngejar anak anak trus duduk. Eh dipanggil lagi ama supir nya sambil bilang, lain kali tunggu dulu ya orang di depan kamu sampe urusan selesai, baru kamu boleh check in. Ya ampun gondok dong suamiku, dia bilang serasa dua jadi orang asosial. Walaupun suami ku minta maaf tapi gondok banget digituin, hihihi.

  7. Kita butuh banyak orang spt pak sopir itu…..people who care. Memang hp itu spt candu. Belum pernah kena tegur. Kalau ada di luar dimana harus ketemu orang bnyk saya menerapkan kebijakan no gadget…msh level berusaha konsisten, sih. hehe…..tp memang untuk org lain kita harus lihat2 sikon. Kdg suka BT juga kalau tatap muka teman2 tapi masing2 pada nyambi di gadget masing2. Ingin teriak HOI, kan disangka gila. Jaman dulu kalau kita berhadapan tapi nggak bertatapan saja sudah dianggap nggak sopan…sekarang….susye hehehe

    • Betul, kadang kita ingin mengingatkan tapi tanggapan yang kita terima malah gak enak. Tapi begitulah hukumnya, akan ada tantangan untuk menegakkan kebaikan, jadi amannya emang lihat sokong dulu. Tapi typical orang sini emang blak blak kan, terus terang. Dan kita sudah terbiasa dengan teguran. Walau kelihatan nya mereka cuek cuek tapi mereka care.

  8. hahaha, aku gak tau deh ya, tp kayaknya aku gak bisa tanpa hape. pernah ketinggalan hape dan saat itu aku mau ke bogor 2 hari. aku minta tukang ojek langganan nganterin ke kantor dan rela ditinggal bis kantor dan nyusul demi menunggu hape. wkwkwkwk … soalnya takut ada yg hubungi/menghubungi. jd harus bawa trussss …

    • Wah, sampe rela ditinggal rombongan? Hihihi emang susah ya klo dah nyangkut kebutuhan kerja. Klo aku dengan keadaan sekarang(yg gak kerja dan hp hanya untuk urusan pribadi saja) kayaknya lebih milih bebas hp 2 hari drpd ditinggal rombongan.
      Eh, tapi pastinya lebih tenang ya ada hp, klo ga nyuruh tukang ojek bisa bisa ga bisa tidur πŸ˜‰

  9. di Indonesia lebih gila.. mainan hp sambil bawa motor mobil.. pengen mentung rasanya.. udah kelewatan !!! tapi kalau aku sih hp hanya buat bisnis banyaknya… selain itu ngobrol2 weh sama kalian2 temen2 hehehehe…

  10. jadi initeh jawaban knapa gak wa bbm atau telp. πŸ˜€

    bisaan.

    tapi titin jg udh 10 tahunan gak pnh bunyiin HP sik, getar juga gak. jd diem aja tuh hp. gak berisik. dan sering dpt komplain karena ga angkat2 kalo di telp :))

    itu sopir nya meuni kereen. andai di sini ada yg begitu

  11. Mbak Yayang, sopir nya keren bgtttt πŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ. Btw aku juga agak addicted sama hape. Suami juga… Pengen bgt nguranginnnn πŸ˜‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s