Apolonia dan tragedi bau mulut

Hari ke empatbelas 4 agustus 2015

Hari ini Cinta dan Cahaya dibawa ke zoomarine oleh omanya. Hanya mereka bertiga saja. Walau dua tahun lalu kami pernah ke Zoomarine tapi menurut Angela, Cinta dan Cahaya banyak lupanya tentang kejadian dua tahun lalu sewaktu mereka ke sana. Baiklah kalau begitu, aku menyetujui saja mereka pergi lagi liat lumba lumba, sementara aku dan Luc berencana nyantai saja di rumah paling sorean kami akan pergi ke supermarket dan makan malam berdua saja.

Ada satu kegemearan Luc yang bikin aku tersenyum, waktu pertama kali ke Indonesia dia terkagum kagum dengan supermarket yang ada di Indonesia. Super besar katanya. Nah di Portugal supermarket hampir sama dengan di Indonesia, besar. Ternyata hobi Luc ngecek supermarket besar menular padaku sekarang, rasanya melihat supermarket besar bisa membuatku takjub luar biasa.

Masih tentang Carvoeiro, sewaktu kami pergi kesana untuk pertama kalinya kami melihat supermarket yang baru kami liat di Portugal. Jika disana supermarket yang terkenal dan dimana mana ada adalah Continent namun dalam perjalanan ke Carvoeiro kami melihat supermarket Apolonia. Yang menurut Angela supermarket super mahal karena barang barangnya kebanyakan impor dari Belanda dan Inggris dan yang belanjanya adalah kebanyakan orang asing yang tinggal di Portugal diantaranya orang Belanda dan orang Inggris. Dan Angela bukan salah satu orang Belanda yang belanja di Apolonia! No way katanya, hahahaha.

Baru masuk ke halaman parkir, aku sudah merasakan suasananya yang high class. Sekuriti berdiri tegap disana, begitu masuk toko dua orang pekerja sedang membersihkan lantai. Lebih masuk lagi kedalam kami dihadapkan pada belasan kassa, yang hanya diisi oleh lima orang kasir saja dan selebihnya kosong. Parahnya dari lima kasir yang bertugas hanya satu saja yang sedang sibuk melayani orang yang berbelanja, sang kasirpun dibantu pekerja lainnya yang memasukan barang barang ke tas plastik, persis di Indonesia yang dilayani oleh dua orang pekerja.

Memasuki deretan minuman, Luc bergumam bahwa Angela salah besar, sepertinya harga harganya relatif sama dengan supermarket lainnya, kalaupun mahal tak jauh beda. karena itulah kami tetap melanjutkan belanja disini. Aku membeli sambal piri piri khas dari Portugal. Luc sebagai penyuka sambal ikut memasukan berbagai macam saos piri piri, aku membeli untuk oleh oleh beberapa orang teman.

Tapi begitu aku mengenali barang barang yang ada di Belanda aku terkaget kaget, semua merk conimex dari mulai mihun hingga minyak untuk wok naik beberapa kali lipat. Apa minyak wok satu liter yang biasanya dijual kurang dari dua euro disini mencapai 9 euro?

Sambil berjongkok aku memotret harga yang tercantum disana. Kemudian sambil berjalan menyusul Luc aku berkata bahwa aku memotret harganya, bertanya apakah memotret dalam supermarket dilarang? Karena aku tahu bahwa ada larangan memotret di beberapa toko, walaupun hanya untuk bergaya. Tapi Luc menggeleng. Tanda tak tau.

Begitu sampai pada rak chocola pasta, jam, pindakaas dan lain lain, aku terkaget kaget begitu melihat harga pindakaas merk clave 350 gram dijual hampir 5 euro. Begitu aku bersiap memotret seorang petuga wanita yang ramah tersenyum padaku sambil berkata bahwa dilarang memotret, aku berkata minta maaf dengan kikuknya, hihihi ada ada saja.

ada layanan antar jemput ke hotel pula

ada layanan antar jemput ke hotel pula

Saat kami menceritakan kejadian di supermarket pada Angela dan obrolan Luc yang bercerita bahwa explore supermarket atau pasar adalah kesukaan kami, bahkan Luc berkata bahwa dia menikmati juga jalan jalan ke pasar tradisional di Indonesia. Katanya tak seperti yang dia baca dala panduan tentang Indonesia yang mengingatkan bahwa sebaiknya hindari ke pasar tradisinal di Indonesia karena bau, tapi menurut Luc biasa biasa saja, tidak separah yang diceritakan di artikel yang dia baca.

Mendengar itu Angela tertawa, dan bercerita kejadian waktu Luc kecil dulu yang pernah ‘menyakiti’ teman sekelasnya dengan berkata jujur bahwa si teman itu bau mulut. Hingga Angela harus berkata pada gurunya Luc untuk menceritakan ‘kejujuran’ Luc pada guru kelasnya padahal anak yang disakitinya tidak mengadu pada sang guru. Angela hanya ingin memastikan bahwa kelakuan Luc adalah salah dan gurunya harus tau. Aku bertanya mengapa sampai seperti itu? Bukankah jika seseorang bau mulut dan kita menyampaikannya pada orang yang bersangkutan adalah termasuk hal yang menolong karena untuk kedepannya orang itu akan lebih menjaga kebersihan mulutnya?

Dan Angela menjelaskan bahwa Luc mengingatkan dengan cara yang sadis alias dengan kata kata yang tak pantas diucapkan, kalau diterjemahkan kira kira seperti ini…. tolong jauhkan sungutmu yang bau dari pundakku. Sedangkan sungut hanya boleh diucapkan pada binatang. ya ampun Luc, aku sampai ternganga prihatin pada si anak yang malang itu, setengah tak percaya Luc yang penyayang bisa sesadis itu, sekaligus cekikikan mendengar penjelasan Angela.

Kemudian Luc sedikit membela diri, katanya hampir setiap istirahat setelah selesai jam makan siang teman Luc itu selalu ikut duduk bersama Luc, suatu hari Luc sedang membaca komik donal bebek selepas makan siang, eh temannya ikut pula membaca di balik pundaknya. Tapi nafasnya bau sekali, karena dia selalu makan roti yang diolesi sambal yang berbau aneh. Anak tersebut adalah anak Indo. Teringat Luc dulu pernah bercerita saat aku nonton konser piano Wibi Soerjadi di Rotterdam bersama ibuku, Luc berkata bahwa kakaknya Wibi yang bernama Ardjuna adalah teman sekelasnya. Apakah si anak naas itu Ardjuna?

Tiba tiba Angela berkata, yes I think so! Namun dibantah keras oleh Luc. Kata Luc sewaktu dia bersekolah bersama Ardjuna, dia berada di sekolah yang lebih tinggi, sesudah sekolah dasar dan sekolahnya itu kebanyakan dihuni oleh orang orang kaya, semacam anak anak yang orangtuanya jadi pengacara terkenal, dan orang orangnya kalau berbicara berlogat deftig konon Luc pun jadi terbawa berlogat seperti itu padahal dia paling anti berlogat seperti itu,Menurutnya untunglah sekarang loganya tak seperti itu lagi.

Jadi mana mungkin saat itu dia bisa berkata asosial pada temannya, karena di jaman dia bersekolah saat itu, hal yang impossible bisa mengeluarkan kata kata kasar.

Angela berpikir, lalu dia tertawa kembali menceritakan teman sekelas Luc satu satunya orang Indonesia sewaktu SD adalah anak dari pemilik restoran Indonesia di Roterdam yang sampai saat ini orang tuanya masih berkirim email dengan Angela. Bahkan saat Luc menikah denganku Angela bercerita padanya bahwa Luc menemukan jodohnya orang Indonesia. Jadi apakah si anak bau nafas itu setelah makan sambal adalah anak pemilik restaurant tersebut? Yang kini menurut Lucmenjadi orang sukses mempunyai beberapa  restaurant, juga konon di Amerika?

Aku dan Angela tertawa geli, sementara Luc bersungut sungut karena kelakuannya di masa kecil terbongkar di hadapanku. Hahahaha. Sementara aku lebih prihatin pada bocah yang malang itu. Aahhhhh………

(bersambung)

Monchique,Orchestra GMO dan seorang istri yang ngambek

Hari ketigabelas, 3 Agustus 2015

Secara tiba tiba saat kami sarapan di pagi ini, Angela menuturkan bahwa dia akan pulang sejenak ke rumahnya di Albortel untuk menyiram tanaman katanya. Aneh? Biasanya dia selalu menyampaikan apa apa yang akan dia lakukan tanpa dadakan seperti sekarang. Tentu saja aku mengerti bahwa mungkin ini ada kaitannya dengan aksi diamku selama makan malam kemarin terhadap Luc. Angela berkata bahwa dia akan datang kembali di sore hari. Dia tergegas mengambil kunci mobilnya setelah selesai sarapan. Cahaya berkata bahwa dia akan ikut dengan omanya, sementara Cinta masih ragu ragu apakah dia akan ikut dengan kami naik gunung atau dengan omanya. Saat aku menyiapkan baju renang Cahaya, Cinta akhirnya memutuskan ikut dengan omanya.

Jika dilihat di peta Monchique berada diatas, dikelilingi oleh pegunungan Serra de Monchique. Tujuan pertama dari kedatangan kami ke daerah Monchique adalah Caldas de Monchique, disana ada sanotarium dan air belerang. Tempat ini mempunyai peran penting di Portugis, daerah ini dikenal dengan resort kesehatannya. Penduduk asli daerah ini banyak menghasilkan kerajinan yang terbuat dari wol. Saat aku memperhatikan penduduk lokal Monchique mereka berparas seperti orang Indian. Kesannya jadi seperti orang Inca di Peru dengan baju wol warna warninya. Kayak di film film.

Saat kami berjalan dengan nafas ngos ngosan kami melewati pabrik air kemasan bermerk Monchique. Pabrik ini sepertinya mempunyai peranan yang cukup besar bagi penduduk sekitar. Bagi Luc datang ke Monchique adalah kali kedua, dia ingin menunjukan tempat ini padaku, katanya bagus hampir mirip Indonesia yang banyak gunungnya dan ada air yang mengalir dengan indahnya menyusuri tangga. Sialnya pada saat kami menyusuri tempat yang ingin ditunjukan Luc dengan bangganya, ternyata air yang mengalir dari atas menyusuri tangga tak ada. Alias kering kerontang. Hehehe Luc kecewa.

Mobil diparkir disini dan kita harus naik ke atas

Mobil diparkir disini dan kita harus naik ke atas

Di bangunan ini, aku bisa ambil uang karaena ada mesin ATM, beli kartu pos karena dijual berbagai macam souvenir dan juga cafe kecil untuk minum melepas dahaga

Di bangunan ini, aku bisa ambil uang karaena ada mesin ATM, beli kartu pos karena dijual berbagai macam souvenir dan juga cafe kecil untuk minum melepas dahaga

Setelah ngos ngosan naik ke atas, pemandangannya seperti ini :)

Setelah ngos ngosan naik ke atas, pemandangannya seperti ini đŸ™‚

Saat kami duduk di cafe melepas lelah sambil minum es jeruk Luc bertanya dengan serius apa yang dapat dia lakukan untuk memperbaiki kemarahanku semalam? Aku menjawab asal bahwa aku ingin datang ke musik seperti kemarin malam. Di sebrang meja Luc tertawa dengan ramainya, baiklah katanya kita kembali kesana setelah mengunjungi Alto da Foia, puncak tertinggi Monchique.

Dari Caldas de Monchique kami masih harus naik mobil ke atas sekitar 5 km, indahnya pemandangan gunung gunung membuat hatiku tentram. Sampai di puncak Alto da Foia sungguh luar biasa. Dibawah terik matahari tapi suhu udara sangat sejuk, panasnya sinar matahari tak terasa sama sekali. Ciri khas dari Alto da Foia adalah tumpukan batu yang disusun seperti bukit kecil, sementara disana sini aku melihat batu yang disusun ke atas mirip suku Indian di cerita komik Winnetou kesukaanku jaman kecil. Ayo angkat tangan siapa yang tau komik Winnetou dari Karl May? Itu tandanya kalian sudah tua seperti diriku, hihihi.

Alto da Foia inilah gundukan batu yang aku maksud

Alto da Foia
inilah gundukan batu yang aku maksud

foto ini mirip dengan kartu pos yang aku beli

foto ini mirip dengan kartu pos yang aku beli

pemandangan di bawah

pemandangan di bawah

Aahhh Bandung ga nampak..... Coba lagi! Aha ternyata ada di hatiku!

Aahhh Bandung ga nampak…..
Coba lagi!
Aha ternyata ada di hatiku!

Satu satunya toko souvenir yang ada di atas

Satu satunya toko souvenir yang ada di atas

IMG_20150803_170404103[1]Turun dari Alto da Foia, Luc mengarahkan mobil ke Carvoira, pantai yang ada panggungnya itu. Berjanji jika tak ada panggung musik disana, dia mau cari ke tempat lain hahahaha, kasian.

Dan adakadabra, sesampainya disana sudah tersedia panggung dan tumpukan kursi kursi untuk pertunjukan. Aku mendatangi meja yang berisi tumpukan pamflet. Disitu tertulis GMO Giovanni Music Orchertra. Aha aku bahagia sekali. Tapi mereka main pukul 21.30 sedangkan saat kami datang jam baru menunjukan pukul setengah tujuh. Aku keukeuh tetap ingin berada di Carvoeiro, Luc setuju saja daripada istrinya ngamuk lagi. Hahaha.

Kami sedikit berjalan jalan melihat toko toko di sana sebelum akhirnya memutuskan masuk ke cafe yang menunya menggoda selera. Membuat taktik kami akan malam di restaurant yang kami temukan sekarang dan tidak akan memesan dessert dan pukul sembilan malam kami akan menempati kursi di cafe yang paling dekat dengan panggung dan memesan dessert dan koffie atau teh disana. Walau aku sudah memperingati Luc untuk tidak memesan dessert di restaurant pertama tapi dia tak kuasa menahan godaan dessert yang ditawarkan, nampak menggugah selera katanya.

Kami datang ke cafe dekat panggung pada pukul sembilan kurang, tak lama kemudian barisan anak anak muda bekaos hitam datang memberskan kursi kursi, membuat formasi melingkar di depan, dan kursi kursi yang tersisa disususn untuk para penonton. Setengah jam mereka selesai dengan persiapan, pertunjukan dimulai pukul sepuluh kurang, terlambat sekitar dua puluh menit dari jam pertunjukan. Sementara Luc telah menghabiskan satu potong taart kelapa dan secangkir teh sebelum pertunjukan dimulai dan disusul pesanan teh kedua saat pertunjukan akan dimulai. Ah gembulnya!

Seorang siswa dari arah belakang berdiri dari kursinya, menyapa kami para penonton dalam bahasa Inggris menjelaskan bahwa mereka dari sekolah musik Giovanni Music Orchestra  Itali, sedang mengadakan tour musim panas di Eropa, salah satunya negara Portugal. Formasi yang mereka bawa terdiri dari siswa berumur antara 10 hingga 24 tahun. Musik yang mereka tampilkan di sesi pertama adalah musik dari film film yang terkenal di tahun 50 an. Selesai sesi pertama mereka mendapat sambutan dari para penonton. Kami para penonton yang kebanyakan para turis duduk menikmati permainan mereka. Di akhir sesi terakhir mereka menampilkan musik madley dari dari Portugis sebagai kejutan untuk penduduk lokal.

Kami meninggalkan Carvoeira pukul setengah dua belas malam. Toko toko masih buka dengan serunya. Aku senag sekali malam ini. Haruskah aku berterima kasih pada Luc yang telah membuatku kecewa pada malam sebelumnya? Ataukah pada diriku yang keras kepala ingin melihat panggung musik? Hahaha. Sudahlah lupakanlah kelakuan kekanak kanakanku kemarin malam. Seperti kata Luc saat aku menjelaskan mengapa aku ngambek, dia berkata tak apa sekali kali marah….toh itu bagian dari sifat manusia, hehehe.

(bersambung)

IMG_20150803_222117912[1]IMG_20150803_222247090[1]

Para penonton

Para penonton

Foto yg ini kepunyaan GMO yg aku cari di internet. Ternyata mereka juga mengadakan pertunjukan di beberapa daerah lainnya di portugal, seperti Lagos, Portimao dan Silves.  Foto ini saat mereka di  Carvoeiro, aku duduk di deretan tenda kuning, nampakkah?

Foto yg ini kepunyaan GMO yg aku cari di internet.
Ternyata mereka juga mengadakan pertunjukan di beberapa daerah lainnya di portugal, seperti Lagos, Portimao dan Silves.
Foto ini saat mereka di Carvoeiro, aku duduk di deretan tenda kuning, nampakkah?

Praia do Carvoeira (Pantai Carvoeira)

Hari kesebelas, 2 Agustus 2015

Algarve adalah sebuah propinsi di Portugal selatan. Disini pula banyak pensiunan Belanda yang menetap tinggal di Algarve. Mereka membeli rumah atau vila (kadang untuk disewakan pula pada turis) dan menikmati masa tuanya dengan bermandikan cahaya matahari yang lebih berlimpah di banding di Belanda, itu pula yang terjadi dengan omanya si kembar.

Algarve terkenal dengan pantai pantainya yang indah, sepertinya hampir disudut tempat yang kita datangi pasti ada pantainya. Seperti hari minggu ini, kami semua bermaksud main air di pantai. Cinta dan Cahaya sudah tak tahan ingin main pasir di pantai mereka berencana membuat kastil. Kali ini kami nebeng di mobilnya Angela, dalam benakku kami akan dibawa ke Albufera tempat dimana biasanya dulu Cinta dan Cahaya selalu bermain air dan membuat kastil. Maka terkejutlah aku saat mobil mengarah ke kota Portimao berlawanan arah dengan Albufera.

Angela menjawab pertanyaanku bahwa dia akan membawa kami ke Portimao. Aku yang beberapa hari sebelumnya sudah ke Portimao bersama Luc berdua saja sedikit kecewa karena tergambar dalam benakku jika ingin main pasir di Portimao maka untuk menuju pantai kami harus melewati tangga yang membuat peluh bercucuran saat kembali ke atas. Tapi tak apalah bathinku, demi anak anak tercinta hihihi.

Saat dalam perjalanan aku melihat penunjuk jalan bertuliskan Praira do Carvoira. Berdasarkan tulisan yang aku kenal, praira berarti pantai. Aha! Aku belum pernah mendengarnya. Saat aku bertanya apakah memungkinkan untuk main pasir disana, Angela menjawab bisa dan bahkan jaraknya lebih dekat daripada harus ke Portimao. Maka mobilpun diarahkan menuju pantai Carvoeira.

Carvoeira itu sendiri adalah nama sebuah kampung yang menjadi bagian pemerintahan Lagoa, Algarve, Portugal. Berpenduduk sekitar 2700 orang ternyata pantai ini cukup banyak didatangi para turis. aku cukup kaget saat tiba disana, karena pengunjung cukup banyak sedangkan pantainya tidak begitu besar, sehingga saat kita merebahkan diripun kita bisa berbicara dengan tetangga sebelah. Dan tentu saja melihat pemandangan itu Luc langsung cemberut. Tapi aku tak mau menanggapi cemberutan Luc, aku tak mau pula kami harus mencari pantai lain setelah Angela begitu sukar untuk mencari tempat parkir yang kosong.

Aku dan Luc bukan type orang yang suka berjemur diri di pantai, kalau ke pantai kami hanya mampu menyusuri boulevard dan tidak menjejakan kaki di pasir. Sepertinya berjemur di pantai paling anti kami lakukan. Kalaupun harus karena biasanya untuk menunggui anak anak bermain. Melihat Luc yang kurang begitu berbahagia saat melihat pantainya yang sempit, akumenyuruh Luc untuk duduk saja di cafe sementara aku dan Angela menunggui anak anak. Tapi Luc menolaknya, dia akan tetap di pantai tapi dia akan mencari tempat yang sedikit teduh dan disana dia akan membaca. Aku menunjukan batu besar yang ada di depan pandanganku dan Luc menggangguk dan segera pergi kesana, sementara aku dan Angela segela gelar handuk dan duduk dibawah teriknya matahari sementara Cinta dan Cahaya sudah asyik bermain pasir dengan ember dan sekop yang dibawa dari rumah. Tapi tak lama Luc datang pada kami, ternyata dia tak boleh duduk di batu yang aku tunjuk karena diatas bebetuan itu ada tebing diatasnya yang bisa longsor setiap saat. Akhirnya Luc menyerah tak mendapatkan tempat teduh di pantai dan dia duduk di cafe pertama yang paling dekat dengan pantai.

Pantai yang kami datangi adalah pantai yang dipagari oleh dua tebing yang sangat tinggi, sehingga air yang datang lumayan keras dan mengikis pada kedua tebing tersebut. Tempat tersebut sangat ideal bagi mereka yang ingin berenang, tapi tidak ideal untuk mereka yang ingin bermain pasir, karena area bermain pasir otomatis tak banyak. Sebelum kita menapaki pasir kita harus melewati lapangan yang tak begitu luas tapi tak sempit pula, disisi kirinya terdapat dua cafe sedangkan disisi kanannya terdapat tiga cafe, dilihat dari penampilan kelima cafe tersebut, bisa dibilang cukup lux jika dibandingankan cafe cafe yang ada disepanjang jalan menuju pantai. Dan di lapangan tersebut terdapat sebuah panggung pertunjukan  yang membelakangi pantai diaman Cinta dan Cahaya sedang asyik bermain.

Aku tak ikut bermain pasir dengan anak anak, hanya melihat saja, mereka bermain tak jauh dari aku merebahkan diri di pantai dengan gaya yang tak lazim. Ya, aku merebahkan diri dengan handuk yang hampir menutupi seluruh tubuhku untuk menghindari sinar matahari yang menyengat, kontras sekali dengan ‘tetanggaku’ yang berjemur dengan hanya menggunakan bikini tanpa top (bh) guna mendapat kulit coklat ekskotis yang didamba hampir kebanyakan wanita di Eropa. Angela tertawa melihat kelakuanku dan aku memintanya menjepretku dan sungguh aku tak akan membaginya dengan kalian hahaha.

pantai yang dibatasi dua tebing disisi kiri dan kanan

pantai yang dibatasi dua tebing disisi kiri dan kanan

Cinta Cahaya, nose nose

Cinta Cahaya, nose nose

Kaki Angela :) memperhatikan anak anak bermain air

Kaki Angela đŸ™‚ memperhatikan anak anak bermain air

Setelah satu jam setengah, Angela menyuruhku untuk duduk saja di cafe menemani Luc sementara dia yang akan menjaga anak anak hingga anak anak puas bermain dan kemudian rencananya mendatangi kami dan kemudian akan makan malam disini.

Aku datang menemui Luc yang ternyata telah bersiap siap untuk beranjak setelah membayar apa yang dia minum. Aku mengajaknya untuk duduk di cafe yang ada di depannya. Disana aku memesan ice cream, sambil menikmati ice cream aku memperhatikan orang orang yang kini sedang membenahi panggung pertunjukan, pertunjukan akan segera dimulai.

Aku mengusulkan untuk menjemput anak anak segera, Luc setuju. Terlihat Angela pun sedang bersiap siap membereskan handuk handuk tempat kami duduk tadi. Setelah anak anak membersihkan diri kami berjalan melewati cafe tersebut, sang penyanyi sudah bernyanyi dengan band nya, orang orang segera berdatangan. Kecerian di minggu malam akan segera dimulai. Hatiku gembira karena mendengar alunan musik dari panggung yang ada di tepi pantai, pertunjukan inilah yang sedari dulu aku dambakan.

Aku dan Angela sibuk memilih di cafe mana kami akan duduk dan makan malam, sementara Luc tetap berjalan melewati lima cafe yang ada disitu, sambil melambaikan tangan dia berkata, kita makan disana, ujarnya menunjuk cafe yang dibatasi oleh jalan, disana tak banyak orang dan kita tak terganggu dengan orang orang yang nonton musik, lanjut Luc. Aku ternganga mendengar perkataannya. Apa? dia tak mau melihat musik? Bukankah dia sudah mendengar permintaanku bahwa aku ingin melihat dan mendengar musik?

Aku berjalan melewati cafe yang ditunjuk Luc, dia sama sekali tak melihat kemarahanku. Serunya, Yayang kalo kamu jalan lebih jauh kamu tak akan bisa melihat panggung serunya. Aku tak menggubrisnya. Angela yang ada di belakangku tiba tiba menunjuk cafe yang berada beberapa setelah cafe yang ditunjuk. Sebuah Italian cafe yang keliahatannya cozy. Aha Restaurant Italia, Luc tahu aku tak begitu suka pizza. Sempurna sekali!

Aku mengangguk ke arah Angela sambil tersenyum palsu. Ada dua tanduk yang mucul dari atas kepalaku, ah mertuaku yang baik hati ini tak menyadari bahwa menantunya sedang ngambek pada anaknya.

Masih dengan dua tanduk yang ada di kepalaku aku berpikir tentang kejadian yang baru aku lewati, aku sudah sudi berpanas ria untuk menemani anak anak kami bermain pasir, membiarkan kulit coklatku semakin gosong, menahan dahaga sementara Luc duduk di cafe membaca buku. Saat aku bersuka cita mendengar alunan lagu dari panggung dan orang mulai berdatangan untuk melihat sang penyanyi bernyanyi, membayangkan aku akan menikmati makan malam dipinggir pantai dengan pemandangan yang romantis di depan mata, eh Luc menghapusnya dengan tiba tiba.

Setelah kami duduk dan memesan makanan, aku meminta izin ke toilet. Disana aku menangis sesenggukan.

(bersambung)

Faro

Hari kesepuluh, 1 Agustus 2015

Hari kesembilan dilewati di rumah saja, gak ada yang istimewa baru keluar pada malam hari untuk pergi makan saja. Barulah di hari sabtu aku dan Luc pergi ke kota Faro, sedangkan si kembar bersama omanya pergi ke kebun binatang di Lagos.

Faro adalah ibukota dari propinsi Algarve, di jaman dulu kala Faro dikenal dengan pelabuhan besarnya, di jaman kini pada saat kejuaaraan sepakbola Piara Eropa tahun 2004, beberapa pertandingan diadakan di Faro itulah sebabnya dibangun stadion baru di kota Faro.

Konon walau Faro adalah kota yang cukup penting di Algarve karena adanya airport, tapi sepertinya Faro menjadi tempat persinggahan saja bagi para turis hanya untuk mendarat saja, padalah disana banyak tempat menarik dan historis yang patut dikunjungi. Begitupun dengan kami, baru hari inilah untuk pertama kalinya aku sengaja menjelajahi kota Faro, dulu dulu cuma nyampe airportnya saja dan langsung melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan dimana kami akan tinggal.

Ternyata begitu sampai dipusat kota Faro, aku langsung jatuh cinta. Kotanya nyaman dan tenang tak banyak orang walaupun dikiri kanan jalan toko toko bertebaran, kesan dan suasananya hampir mirip dengan kota Malaga di Spanyol, tapi disini jauh lebih tenang.

Saat aku duduk di sebuah cafe di boulevard maka pemandangan di depan mata adalah jejeran perahu perahu.

(bersambung)
IMG_20150801_163455526[1]IMG_20150801_164304480[1]IMG_20150801_161535903[1]

kiri kanan toko, suasananya serasa berada di Malaga

kiri kanan toko, suasananya serasa berada di Malaga

Jalan raya yang sepi

Jalan raya yang sepi

IMG_20150801_164033810[1]