Madrid City Tour

Hari ke sembilanbelas, 9 Agustus 2015

Hari ini, kami berencana bermain turis. Aku meminta Luc untuk mencari informasi sebanyak banyaknya tentang Madrid, aku berkata padanya bahwa aku mempercayakan rencana hari ini padanya. Disepakati bahwa kami akan naik tour bus, kami memilih Madrid city Tour. Tapi kok saat Luc searching berkali kali, dia hanya menggumamkan padaku dia ingin melihat mal terbesar di Madrid, agak jauh katanya dari pusat kota. Kemudian dia menawarkan padaku rencana untuk esok hari (hari ini), kami akan naik mobil ke pusat kota memarkir mobil kemudian mencari halte yang dilewati bus Madrid city tour. Usulanku untuk mencari halte terdekat dari hotel ke pusat kota ditolaknya, katanya lebih mudah membawa mobil ke pusat kota. Tak digubrisnya saat aku mengingatkan bahwa nanti parkirnya mahal.

Selesai sarapan, kami bersiap pergi, eh pas naik mobil saat aku bertanya mana alamat semalam yang telah dicari Luc untuk kami datangi, dia hanya menggeleng. Ternyata dia hanya mencari alamat mal yang dia ingin liat tersebut. Ya ampun, terpaksalah aku googling sebentar, dan secara acak aku memasukan daerah Serrano pada navigasi, setelah dilihat dari informasi bahwa Serrano daerah yang harus didatangi jika berada di Madrid.

Tiba di daerah tersebut, ternyata merupakan pertokoan dan restauran glamor. Dan hampir semuanya toko tokonya tutup, karena hari ini adalah hari minggu. Kami berhasil mendapatkan tempat parkir dibawah gedung pertokoan yang bagaikan kota mati. Hingar bingar kota Madrid yang ramai, tak kami rasakan di daerah tersebut. Kami berjalan menyusuri jalan tersebut, melihat hotel hotel yang harganya bukan berada dalam jangkauan kami. Bercanda dengan Luc jika suatu hari nanti dapat kembali lagi ke Madrid, dia ingin tidur di hotel yang abru kami lewati yang ada air mancurnya. Aku hanya tertawa saja mendengarnya.

Kami berhasil menemukan halte yang diberi tanda dilewati bis Madrid city tour. Kami naik di halte 10  Serrano 61, bis route 2. Bis Route 2 dilewati sebanyak 16 halte. Di setiap halte yang dilewati kami bisa turun untuk melihat tempat yang menarik, kemudian bisa kembali naik dengan bis berikutnya yang datang setiap 9 menit. Ada rute lain yang dilewati bis Route 1. Bis Route 1 dilewati 21 halte. Kami bisa bertukar bis antara bis Route 1 dan bis Route 2, ada beberapa halte yang keduanya bertemu, kami bisa melihat dari tanda yang dibuat di map yang kami dapatkan saat pertama kali naik bis.

Tiket bisa dibeli saat kami naik bis, bisa menggunakan kartu jika kita tak membawa uang cash. Harga tiket adalah 21 euro untuk dewasa dan 10 euro untuk anak anak berumur 7-15 tahun perorang perhari. Jika kita berada disana dua hari, kita bisa membeli tiket perdua hari seharga 25 euro untuk dewasa dan 13 euro untuk anak anak.
IMG_20150816_210550171[1]

Ini kali kedua, kami naik turis bus model begini bersama anak anak. Pada tahun lalu kami naik bis tour juga di Kopenhagen Denmark. Pengalaman kami naik bis tour bersama anak anak sebetulnya cukup nyaman juga karena kami punya waktu bercerita dan menjelaskan bersama sama, tapi untuk explore lebih jauh tentang kota itu sendiri ternyata sulit jika bersama anak anak. Mereka tak bisa berjalan jauh, jadi untuk turun dan anik bis kembali rasanya lama sekali, selain lebih banyak untuk duduk makan eskrim juga mereka banyak mengeluh cape, jadi kami memilih tidak turun dari bis dan hanya bercerita dan menunjukan dari atas bis saja pada anak anak tempat yang menarik untuk diceritakan. Beda jika kami pergi berdua saja, naik bis tour model begini rasanya dapat kami pakai semaksimal mungkin, seperti pengalaman kami di Budapest dan Lisabon. Kami bisa sering turun dari bis dan berjalan untuk melihat tempat yang menarik.

Dari bis Route 2 kami turun di Puerta Del Sol, di tempat ini pula kami bisa menaiki bis Route 1. Barulah disini kami bisa berjalan jalan dan serasa berada di kawasan pariwisata, karena tempat yang ramai, pertokoan disana sini yang tentunya terjangkau dengan kantong kami (musim discount) dan bukan merk merk yang diburu beberapa artis di Indonesia, hehehe.

Disini pula si kembar berhasil mendapatkan sepatu dan baju Flaminco, ternyata sehari sebelum kami menuju Madrid, Angela sedikit bercerita mengenai Spanyol pada si kembar, beliau pun memperlihatkan tarian Flaminco dari youtube pada si kembar. Maka begitu bahagianya si kembar saat melihat pakaian dan sepatu Flaminco di toko sauvenir.

Mereka berjalan dengan semangat menuju halte bis Route 1, mendekap erat barang belanjaannya. Sementara Luc berjalan lunglai menenteng belanjaanku, sambil bergumam sehari saja di Madrid telah membuatku bangkrut, ujarnya.
IMG_20150809_182236024[1]

Anak anak beberpa kali melongok belanjaannya saat berada di dalam bis, berkali kali mereka bilang tak sabar ingin segera memakainya. Namun perhatian mereka sedikit teralihkan saat ada segerombolan orang yang naik ke atas bis, ke tingkat dua dimana kami duduk dan mereka dengan hebohnya berbicara bahasa Indonesia.

Cinta langsung menghampiriku, sambil berbisik mereka orang Indonesia bunda, yang langsung aku iyakan. Seorang ibu muda yang cantik yang rasanya wajahnya aku kenal, putri Indonesiakah? Artiskah? Disusul eorang lelaki muda tampan usia awal dua puluhan, bersama sorang gadis remaja, disusul seorang bapak bersama anak kecil sepantaran si kembar.

Cinta Cahaya semakin tertarik, Cinta bertanya padaku bolehkah dia mendekati mereka? Aku mengangguk saja. Cinta mendekati ibu muda tersebut, kemudian bertanya… Are you Indonesian? Si wanita menatap Cinta keheranan, detik berikutnya dia menggeleng. Wajah Cinta dan Cahaya berubah, mengkerut, berpikir sejenak, bukan Cinta namanya klo tak bertanya lagi, dengan mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan perempuan itu dia kembali bertanya. Are you Indonesia?

Si ibu muda itu tercengang sambil berkata gugup, oh ya ya ya Indonesia. Kemudian pemuda tampan itu mendekat pada Cinta dan Cahaya dan bertanya bersahabat. Kami saling bertukar cerita, sementara si bapak lebih banyak diam dan senyum saja, menjaga jarak dan tak mauterlibat dalam percakapan kami. Si anak kecil sepantaran Cinta dan Cahaya mudah sekali berteman dan ngobrol dengan hebohnya, si anak itu berbica bahasa Inggris yang lancar dengan logat American, dia berbahasa Inggris dengan anggota keluarga yang lainnya pula. Sementara Cinta dan Cahaya lebih banyak menyimak dan terkagum kagum pada si anak tersebut, mereka duduk bersama sama.

Berkali kali sang ayah turun ke bawah dan membawakan permintaan mainan yang diminta putrinya, sepertinya ada anggota keluarga lain yang duduk di bawah. Berkali kali aku berpikir keras, siapa lelaki itu, seperti seorang politikus yang dulu sering muncul di TV. Tapi aku tak menemukan sepotong namanya di kepalaku. Sementara si ibu muda lebih fokus pada camera profesional yang ada di tangannya, memotret bangunan bangunan yang menarik perhatiannya, membuat handphone ku tau diri dan masuk ke tas mungilku saking malunya, hahaha. Tak sebanding untuk duduk berdampingan!

Kekakuan lelaki itu mulai mencair, dia mulai bertanya pada kami tentang si kembar. Cahaya pun tak sungkan untuk duduk di pangkuan lelaki itu dan bertanya banyak hal pada camera yang ada di genggaman lelaki itu, si bapak mencelaskan dengan detail apa yang ditanyakan Cahaya. Kami segera memanggil Cahaya saat dia mulai berani menyentuh camera si bapak itu. Luc menjelaskan untuk menjaga kesopanan pada Cahaya, menyuruhnya duduk kembali bersama Cinta dan anak si bapak itu.

Kami harus turun di halte berikutnya, saling mengucapkan salam perpisahan. Begitu kami turun ke lantai satu, seseorang menyata denagn ramahnya pada Cinta dan Cahaya. Seorang wanita cantik yang wajahnya aku kenali, juga namanya! Tapi mulutku terkunci untuk bertanya. Malah jawaban konyolku yang muncul saat wanita tersebut menyatakan bahwa dia senang melihat anak kembar, aku menyambar perkatannya dengan … Ayok mbak punya anak lagi, siapa tau nanti kembar. Kemudian dia berkata bahwa dia tak ingin hamil lagi, sudah tua katanya sambil menambahkan bahwa anaknya sudah tiga, semua anak yang ada di atas bis itu adalah anak anaknya. Jadi pemuda tampan yang super ramahitu? Yang usianya mungkin 25 tahun, gadis remaja yang cantik dan lincah? Nah kalau anak yang seumuran Cinta dan cahaya pantaslah anaknya.

Kami turun dari bis sambil melambaikan tangan pada wanita yang mengenakan mut yang biasa dikenakan di musim dingin yang dia fungsikan sebagai penutup kepala sebagai ciri khas seorang muslimah.

Sesaat setelah berada di atas tanah, setengah berteriak ke arah Luc aku berkata EEP SAEFULLOH!!! Ya wanita cantik yang ramah yang tengah melambaikan tangannnya ke arah kami adalah Sandrina Malakiano!

(bersambung)

# Berikut foto foto yang dapat aku abadikan sebelum, handphoneku menyembunyikan diri, karena tak mau bersaing dengan camera profesional 🙂

IMG_20150809_160557157[1]IMG_20150809_161420769[1]IMG_20150809_121811907[1]IMG_20150809_122312844[1]IMG_20150809_170838789[1]IMG_20150809_123312498[1]IMG_20150809_173928919[1]IMG_20150809_122647494[1]IMG_20150809_170923092[1]IMG_20150809_173802916[1]

Advertisements

12 thoughts on “Madrid City Tour

  1. Waaahhh ke Madrid ketemu Sandrina ya Yang. Aku sukaaa banget sama pintarnya dia. Sayang dirimu sadarnya pas sudah turun bis ya Yang. Tau gitu bisa minta poto bareng hehe

    • Iya itulah aku, pemalu ga bisa nyapa duluan malah bibir kelu. Trus ga bisa maksain akrab duluan. Padahal itu sekitar ada sekitar sejaman kali bareng, ga nyadar cuma nebak nebak itu siapa ke Eep, krn aku kira istrinya yg kayak putri indonesia itu, ternyata dia sodaranya, Sandrina sendiri duduk di bawah. Anaknya Eep yg paling besar itu sampai bikin video cinta cahaya bareng ama adeknya yg kecil itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s