Apolonia dan tragedi bau mulut

Hari ke empatbelas 4 agustus 2015

Hari ini Cinta dan Cahaya dibawa ke zoomarine oleh omanya. Hanya mereka bertiga saja. Walau dua tahun lalu kami pernah ke Zoomarine tapi menurut Angela, Cinta dan Cahaya banyak lupanya tentang kejadian dua tahun lalu sewaktu mereka ke sana. Baiklah kalau begitu, aku menyetujui saja mereka pergi lagi liat lumba lumba, sementara aku dan Luc berencana nyantai saja di rumah paling sorean kami akan pergi ke supermarket dan makan malam berdua saja.

Ada satu kegemearan Luc yang bikin aku tersenyum, waktu pertama kali ke Indonesia dia terkagum kagum dengan supermarket yang ada di Indonesia. Super besar katanya. Nah di Portugal supermarket hampir sama dengan di Indonesia, besar. Ternyata hobi Luc ngecek supermarket besar menular padaku sekarang, rasanya melihat supermarket besar bisa membuatku takjub luar biasa.

Masih tentang Carvoeiro, sewaktu kami pergi kesana untuk pertama kalinya kami melihat supermarket yang baru kami liat di Portugal. Jika disana supermarket yang terkenal dan dimana mana ada adalah Continent namun dalam perjalanan ke Carvoeiro kami melihat supermarket Apolonia. Yang menurut Angela supermarket super mahal karena barang barangnya kebanyakan impor dari Belanda dan Inggris dan yang belanjanya adalah kebanyakan orang asing yang tinggal di Portugal diantaranya orang Belanda dan orang Inggris. Dan Angela bukan salah satu orang Belanda yang belanja di Apolonia! No way katanya, hahahaha.

Baru masuk ke halaman parkir, aku sudah merasakan suasananya yang high class. Sekuriti berdiri tegap disana, begitu masuk toko dua orang pekerja sedang membersihkan lantai. Lebih masuk lagi kedalam kami dihadapkan pada belasan kassa, yang hanya diisi oleh lima orang kasir saja dan selebihnya kosong. Parahnya dari lima kasir yang bertugas hanya satu saja yang sedang sibuk melayani orang yang berbelanja, sang kasirpun dibantu pekerja lainnya yang memasukan barang barang ke tas plastik, persis di Indonesia yang dilayani oleh dua orang pekerja.

Memasuki deretan minuman, Luc bergumam bahwa Angela salah besar, sepertinya harga harganya relatif sama dengan supermarket lainnya, kalaupun mahal tak jauh beda. karena itulah kami tetap melanjutkan belanja disini. Aku membeli sambal piri piri khas dari Portugal. Luc sebagai penyuka sambal ikut memasukan berbagai macam saos piri piri, aku membeli untuk oleh oleh beberapa orang teman.

Tapi begitu aku mengenali barang barang yang ada di Belanda aku terkaget kaget, semua merk conimex dari mulai mihun hingga minyak untuk wok naik beberapa kali lipat. Apa minyak wok satu liter yang biasanya dijual kurang dari dua euro disini mencapai 9 euro?

Sambil berjongkok aku memotret harga yang tercantum disana. Kemudian sambil berjalan menyusul Luc aku berkata bahwa aku memotret harganya, bertanya apakah memotret dalam supermarket dilarang? Karena aku tahu bahwa ada larangan memotret di beberapa toko, walaupun hanya untuk bergaya. Tapi Luc menggeleng. Tanda tak tau.

Begitu sampai pada rak chocola pasta, jam, pindakaas dan lain lain, aku terkaget kaget begitu melihat harga pindakaas merk clave 350 gram dijual hampir 5 euro. Begitu aku bersiap memotret seorang petuga wanita yang ramah tersenyum padaku sambil berkata bahwa dilarang memotret, aku berkata minta maaf dengan kikuknya, hihihi ada ada saja.

ada layanan antar jemput ke hotel pula

ada layanan antar jemput ke hotel pula

Saat kami menceritakan kejadian di supermarket pada Angela dan obrolan Luc yang bercerita bahwa explore supermarket atau pasar adalah kesukaan kami, bahkan Luc berkata bahwa dia menikmati juga jalan jalan ke pasar tradisional di Indonesia. Katanya tak seperti yang dia baca dala panduan tentang Indonesia yang mengingatkan bahwa sebaiknya hindari ke pasar tradisinal di Indonesia karena bau, tapi menurut Luc biasa biasa saja, tidak separah yang diceritakan di artikel yang dia baca.

Mendengar itu Angela tertawa, dan bercerita kejadian waktu Luc kecil dulu yang pernah ‘menyakiti’ teman sekelasnya dengan berkata jujur bahwa si teman itu bau mulut. Hingga Angela harus berkata pada gurunya Luc untuk menceritakan ‘kejujuran’ Luc pada guru kelasnya padahal anak yang disakitinya tidak mengadu pada sang guru. Angela hanya ingin memastikan bahwa kelakuan Luc adalah salah dan gurunya harus tau. Aku bertanya mengapa sampai seperti itu? Bukankah jika seseorang bau mulut dan kita menyampaikannya pada orang yang bersangkutan adalah termasuk hal yang menolong karena untuk kedepannya orang itu akan lebih menjaga kebersihan mulutnya?

Dan Angela menjelaskan bahwa Luc mengingatkan dengan cara yang sadis alias dengan kata kata yang tak pantas diucapkan, kalau diterjemahkan kira kira seperti ini…. tolong jauhkan sungutmu yang bau dari pundakku. Sedangkan sungut hanya boleh diucapkan pada binatang. ya ampun Luc, aku sampai ternganga prihatin pada si anak yang malang itu, setengah tak percaya Luc yang penyayang bisa sesadis itu, sekaligus cekikikan mendengar penjelasan Angela.

Kemudian Luc sedikit membela diri, katanya hampir setiap istirahat setelah selesai jam makan siang teman Luc itu selalu ikut duduk bersama Luc, suatu hari Luc sedang membaca komik donal bebek selepas makan siang, eh temannya ikut pula membaca di balik pundaknya. Tapi nafasnya bau sekali, karena dia selalu makan roti yang diolesi sambal yang berbau aneh. Anak tersebut adalah anak Indo. Teringat Luc dulu pernah bercerita saat aku nonton konser piano Wibi Soerjadi di Rotterdam bersama ibuku, Luc berkata bahwa kakaknya Wibi yang bernama Ardjuna adalah teman sekelasnya. Apakah si anak naas itu Ardjuna?

Tiba tiba Angela berkata, yes I think so! Namun dibantah keras oleh Luc. Kata Luc sewaktu dia bersekolah bersama Ardjuna, dia berada di sekolah yang lebih tinggi, sesudah sekolah dasar dan sekolahnya itu kebanyakan dihuni oleh orang orang kaya, semacam anak anak yang orangtuanya jadi pengacara terkenal, dan orang orangnya kalau berbicara berlogat deftig konon Luc pun jadi terbawa berlogat seperti itu padahal dia paling anti berlogat seperti itu,Menurutnya untunglah sekarang loganya tak seperti itu lagi.

Jadi mana mungkin saat itu dia bisa berkata asosial pada temannya, karena di jaman dia bersekolah saat itu, hal yang impossible bisa mengeluarkan kata kata kasar.

Angela berpikir, lalu dia tertawa kembali menceritakan teman sekelas Luc satu satunya orang Indonesia sewaktu SD adalah anak dari pemilik restoran Indonesia di Roterdam yang sampai saat ini orang tuanya masih berkirim email dengan Angela. Bahkan saat Luc menikah denganku Angela bercerita padanya bahwa Luc menemukan jodohnya orang Indonesia. Jadi apakah si anak bau nafas itu setelah makan sambal adalah anak pemilik restaurant tersebut? Yang kini menurut Lucmenjadi orang sukses mempunyai beberapa  restaurant, juga konon di Amerika?

Aku dan Angela tertawa geli, sementara Luc bersungut sungut karena kelakuannya di masa kecil terbongkar di hadapanku. Hahahaha. Sementara aku lebih prihatin pada bocah yang malang itu. Aahhhhh………

(bersambung)

Advertisements

13 thoughts on “Apolonia dan tragedi bau mulut

  1. bwakakakakakak … aku mungkin bakalan sama kayak suamimu mba. jujur polos tanpa dosa dan tidak merasa bersalah kalau menegur. habis, ngapain sopan2x kl emang kenyataannya gak ngenakin. kl sama temen, lebih vulgar ngomongnya. temenku dl ada yg bau badan, aku bilang aja, ” woi ketek lu bau. pake deodorant dong. rexona kan gak mahal “. besoknya dia udh pake. yaaah, demi kebaikan dirinya sendiri dan masyarakat, mending ditegur deh. sekarang sih lebih manusiawi. hahaha …

  2. hihii sama aku juga suka tuh cek cek supermarket. apalagi pas baru pindah waktu itu ke sf dan sydey . seneng aja cek2 barang makanan minuman yang baru diliat dan pengen beli buat nyobain ;p

  3. Petualangan memang akan selalu seru, bahkan ketika yang dijelajahi adalah supermarket yang luas serta menjual banyak benda, pasti seru banget :hehe. Di sana keren ya, supermarketnya pelayanan premium, mungkin harganya yang mahal itu gara-gara pelayanannya ya :hehe.
    Saya cuma salut saja dengan temannya Luc itu, kalau memang benar ia kini adalah pemilik dari beberapa restoran yang sukses, wow dulu mungkin ia pernah sering diledek gara-gara bau mulut tapi kini sudah sangat berhasil, dia keren sekali :hehe.

    • Iya apalagi supermarkt di Belanda ga segede di Indonesia jadi kita suka terkagum kagum liat supermarkt besar.
      Iya itu yg punya restoran adalah orang tuanya, katanya dia juga sekarang punya restoran di Amerika, tapi kayaknya yg pernah bilang bau mulut cuma luc doang Itu pun waktu kecil. Jadi bukan pem-bully an, hanya omongan nya terlalu sadis saat itu, dasar Luc orang nya lempeng hahahaha, kena batunya sekarang dia suka banget masakan Indonesia termasuk pete dan jengkol

      • Oalah, teman saya juga ada yang seperti itu, blak-blakan sekali orangnya, tapi kita suka soalnya dia jujur dan tidak menutup-nutupi :hehe.
        Pete dan jengkol itu memang enak sih Mbak :siul *ketahuan doyan juga :haha*.

  4. ehm,, ini kebiasaan emak2 banget nih (tunjuk diri sendiri), hapal semua harga barang di supermarket, kalo ada yg jual lbih murah dari supermarket yg satunyapun pasti hapal,hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s