Monchique,Orchestra GMO dan seorang istri yang ngambek

Hari ketigabelas, 3 Agustus 2015

Secara tiba tiba saat kami sarapan di pagi ini, Angela menuturkan bahwa dia akan pulang sejenak ke rumahnya di Albortel untuk menyiram tanaman katanya. Aneh? Biasanya dia selalu menyampaikan apa apa yang akan dia lakukan tanpa dadakan seperti sekarang. Tentu saja aku mengerti bahwa mungkin ini ada kaitannya dengan aksi diamku selama makan malam kemarin terhadap Luc. Angela berkata bahwa dia akan datang kembali di sore hari. Dia tergegas mengambil kunci mobilnya setelah selesai sarapan. Cahaya berkata bahwa dia akan ikut dengan omanya, sementara Cinta masih ragu ragu apakah dia akan ikut dengan kami naik gunung atau dengan omanya. Saat aku menyiapkan baju renang Cahaya, Cinta akhirnya memutuskan ikut dengan omanya.

Jika dilihat di peta Monchique berada diatas, dikelilingi oleh pegunungan Serra de Monchique. Tujuan pertama dari kedatangan kami ke daerah Monchique adalah Caldas de Monchique, disana ada sanotarium dan air belerang. Tempat ini mempunyai peran penting di Portugis, daerah ini dikenal dengan resort kesehatannya. Penduduk asli daerah ini banyak menghasilkan kerajinan yang terbuat dari wol. Saat aku memperhatikan penduduk lokal Monchique mereka berparas seperti orang Indian. Kesannya jadi seperti orang Inca di Peru dengan baju wol warna warninya. Kayak di film film.

Saat kami berjalan dengan nafas ngos ngosan kami melewati pabrik air kemasan bermerk Monchique. Pabrik ini sepertinya mempunyai peranan yang cukup besar bagi penduduk sekitar. Bagi Luc datang ke Monchique adalah kali kedua, dia ingin menunjukan tempat ini padaku, katanya bagus hampir mirip Indonesia yang banyak gunungnya dan ada air yang mengalir dengan indahnya menyusuri tangga. Sialnya pada saat kami menyusuri tempat yang ingin ditunjukan Luc dengan bangganya, ternyata air yang mengalir dari atas menyusuri tangga tak ada. Alias kering kerontang. Hehehe Luc kecewa.

Mobil diparkir disini dan kita harus naik ke atas

Mobil diparkir disini dan kita harus naik ke atas

Di bangunan ini, aku bisa ambil uang karaena ada mesin ATM, beli kartu pos karena dijual berbagai macam souvenir dan juga cafe kecil untuk minum melepas dahaga

Di bangunan ini, aku bisa ambil uang karaena ada mesin ATM, beli kartu pos karena dijual berbagai macam souvenir dan juga cafe kecil untuk minum melepas dahaga

Setelah ngos ngosan naik ke atas, pemandangannya seperti ini :)

Setelah ngos ngosan naik ke atas, pemandangannya seperti ini πŸ™‚

Saat kami duduk di cafe melepas lelah sambil minum es jeruk Luc bertanya dengan serius apa yang dapat dia lakukan untuk memperbaiki kemarahanku semalam? Aku menjawab asal bahwa aku ingin datang ke musik seperti kemarin malam. Di sebrang meja Luc tertawa dengan ramainya, baiklah katanya kita kembali kesana setelah mengunjungi Alto da Foia, puncak tertinggi Monchique.

Dari Caldas de Monchique kami masih harus naik mobil ke atas sekitar 5 km, indahnya pemandangan gunung gunung membuat hatiku tentram. Sampai di puncak Alto da Foia sungguh luar biasa. Dibawah terik matahari tapi suhu udara sangat sejuk, panasnya sinar matahari tak terasa sama sekali. Ciri khas dari Alto da Foia adalah tumpukan batu yang disusun seperti bukit kecil, sementara disana sini aku melihat batu yang disusun ke atas mirip suku Indian di cerita komik Winnetou kesukaanku jaman kecil. Ayo angkat tangan siapa yang tau komik Winnetou dari Karl May? Itu tandanya kalian sudah tua seperti diriku, hihihi.

Alto da Foia inilah gundukan batu yang aku maksud

Alto da Foia
inilah gundukan batu yang aku maksud

foto ini mirip dengan kartu pos yang aku beli

foto ini mirip dengan kartu pos yang aku beli

pemandangan di bawah

pemandangan di bawah

Aahhh Bandung ga nampak..... Coba lagi! Aha ternyata ada di hatiku!

Aahhh Bandung ga nampak…..
Coba lagi!
Aha ternyata ada di hatiku!

Satu satunya toko souvenir yang ada di atas

Satu satunya toko souvenir yang ada di atas

IMG_20150803_170404103[1]Turun dari Alto da Foia, Luc mengarahkan mobil ke Carvoira, pantai yang ada panggungnya itu. Berjanji jika tak ada panggung musik disana, dia mau cari ke tempat lain hahahaha, kasian.

Dan adakadabra, sesampainya disana sudah tersedia panggung dan tumpukan kursi kursi untuk pertunjukan. Aku mendatangi meja yang berisi tumpukan pamflet. Disitu tertulis GMO Giovanni Music Orchertra. Aha aku bahagia sekali. Tapi mereka main pukul 21.30 sedangkan saat kami datang jam baru menunjukan pukul setengah tujuh. Aku keukeuh tetap ingin berada di Carvoeiro, Luc setuju saja daripada istrinya ngamuk lagi. Hahaha.

Kami sedikit berjalan jalan melihat toko toko di sana sebelum akhirnya memutuskan masuk ke cafe yang menunya menggoda selera. Membuat taktik kami akan malam di restaurant yang kami temukan sekarang dan tidak akan memesan dessert dan pukul sembilan malam kami akan menempati kursi di cafe yang paling dekat dengan panggung dan memesan dessert dan koffie atau teh disana. Walau aku sudah memperingati Luc untuk tidak memesan dessert di restaurant pertama tapi dia tak kuasa menahan godaan dessert yang ditawarkan, nampak menggugah selera katanya.

Kami datang ke cafe dekat panggung pada pukul sembilan kurang, tak lama kemudian barisan anak anak muda bekaos hitam datang memberskan kursi kursi, membuat formasi melingkar di depan, dan kursi kursi yang tersisa disususn untuk para penonton. Setengah jam mereka selesai dengan persiapan, pertunjukan dimulai pukul sepuluh kurang, terlambat sekitar dua puluh menit dari jam pertunjukan. Sementara Luc telah menghabiskan satu potong taart kelapa dan secangkir teh sebelum pertunjukan dimulai dan disusul pesanan teh kedua saat pertunjukan akan dimulai. Ah gembulnya!

Seorang siswa dari arah belakang berdiri dari kursinya, menyapa kami para penonton dalam bahasa Inggris menjelaskan bahwa mereka dari sekolah musik Giovanni Music Orchestra Β Itali, sedang mengadakan tour musim panas di Eropa, salah satunya negara Portugal. Formasi yang mereka bawa terdiri dari siswa berumur antara 10 hingga 24 tahun. Musik yang mereka tampilkan di sesi pertama adalah musik dari film film yang terkenal di tahun 50 an. Selesai sesi pertama mereka mendapat sambutan dari para penonton. Kami para penonton yang kebanyakan para turis duduk menikmati permainan mereka. Di akhir sesi terakhir mereka menampilkan musik madley dari dari Portugis sebagai kejutan untuk penduduk lokal.

Kami meninggalkan Carvoeira pukul setengah dua belas malam. Toko toko masih buka dengan serunya. Aku senag sekali malam ini. Haruskah aku berterima kasih pada Luc yang telah membuatku kecewa pada malam sebelumnya? Ataukah pada diriku yang keras kepala ingin melihat panggung musik? Hahaha. Sudahlah lupakanlah kelakuan kekanak kanakanku kemarin malam. Seperti kata Luc saat aku menjelaskan mengapa aku ngambek, dia berkata tak apa sekali kali marah….toh itu bagian dari sifat manusia, hehehe.

(bersambung)

IMG_20150803_222117912[1]IMG_20150803_222247090[1]

Para penonton

Para penonton

Foto yg ini kepunyaan GMO yg aku cari di internet. Ternyata mereka juga mengadakan pertunjukan di beberapa daerah lainnya di portugal, seperti Lagos, Portimao dan Silves.  Foto ini saat mereka di  Carvoeiro, aku duduk di deretan tenda kuning, nampakkah?

Foto yg ini kepunyaan GMO yg aku cari di internet.
Ternyata mereka juga mengadakan pertunjukan di beberapa daerah lainnya di portugal, seperti Lagos, Portimao dan Silves.
Foto ini saat mereka di Carvoeiro, aku duduk di deretan tenda kuning, nampakkah?

Advertisements

23 thoughts on “Monchique,Orchestra GMO dan seorang istri yang ngambek

  1. Ha…ha..penutupnya lucu Yang πŸ™‚ Ngambek itu katanya bunga perkawinan, jadi sok aja boleh atuh.

    Aku suka seri tulisan kalian liburan ini, seru bacanya.

    • Ah mba Yoyen makasih banyak support nya, jadi semakin mantap pengen namatin seri nya, cuma ya ini waktunya nyuri nyuri, maklum sampe sekarang kita masih belum nyampe Rotterdam, masih bergerilya πŸ˜‰

  2. Syukurlah akhirnya bisa menonton konser musik ya Mbak, jadi tidak ngambek lagi :hehe. Luc juga so sweet banget, dia sepertinya sangat mengerti apa yang istrinya inginkan, apalagi anak-anak dan mertua juga mendukung sehingga akhirnya kalian bisa berkencan romantis berdua saja, menghabiskan malam! :hoho.

    Btw, tenda kuningnya sih tampak tapi saya belum bisa melihat kehadiran Mbak di sana :hehe :peace.

  3. Teh Yayaaang siga abdi, kalau ada yg dimau ngga kesampaian suka rada cembetut hihi

    Abdi oge paling sukaaa lihat pertunjukan musik teh…untuung kangmas suka juga…suka ngga ya..?? Atau terpaksa suka biar istrinya ngga baeud..?? haha

  4. Seru yaa bisa nonton konser musik.. Pengobat ngambek ya huehehe
    Si Luc tipe yang romantis ni he’ll do anything for his wife .. Backsound lagu nya bryan adams deh yg everything I do I’ll do it for you ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s