Praia do Carvoeira (Pantai Carvoeira)

Hari kesebelas, 2 Agustus 2015

Algarve adalah sebuah propinsi di Portugal selatan. Disini pula banyak pensiunan Belanda yang menetap tinggal di Algarve. Mereka membeli rumah atau vila (kadang untuk disewakan pula pada turis) dan menikmati masa tuanya dengan bermandikan cahaya matahari yang lebih berlimpah di banding di Belanda, itu pula yang terjadi dengan omanya si kembar.

Algarve terkenal dengan pantai pantainya yang indah, sepertinya hampir disudut tempat yang kita datangi pasti ada pantainya. Seperti hari minggu ini, kami semua bermaksud main air di pantai. Cinta dan Cahaya sudah tak tahan ingin main pasir di pantai mereka berencana membuat kastil. Kali ini kami nebeng di mobilnya Angela, dalam benakku kami akan dibawa ke Albufera tempat dimana biasanya dulu Cinta dan Cahaya selalu bermain air dan membuat kastil. Maka terkejutlah aku saat mobil mengarah ke kota Portimao berlawanan arah dengan Albufera.

Angela menjawab pertanyaanku bahwa dia akan membawa kami ke Portimao. Aku yang beberapa hari sebelumnya sudah ke Portimao bersama Luc berdua saja sedikit kecewa karena tergambar dalam benakku jika ingin main pasir di Portimao maka untuk menuju pantai kami harus melewati tangga yang membuat peluh bercucuran saat kembali ke atas. Tapi tak apalah bathinku, demi anak anak tercinta hihihi.

Saat dalam perjalanan aku melihat penunjuk jalan bertuliskan Praira do Carvoira. Berdasarkan tulisan yang aku kenal, praira berarti pantai. Aha! Aku belum pernah mendengarnya. Saat aku bertanya apakah memungkinkan untuk main pasir disana, Angela menjawab bisa dan bahkan jaraknya lebih dekat daripada harus ke Portimao. Maka mobilpun diarahkan menuju pantai Carvoeira.

Carvoeira itu sendiri adalah nama sebuah kampung yang menjadi bagian pemerintahan Lagoa, Algarve, Portugal. Berpenduduk sekitar 2700 orang ternyata pantai ini cukup banyak didatangi para turis. aku cukup kaget saat tiba disana, karena pengunjung cukup banyak sedangkan pantainya tidak begitu besar, sehingga saat kita merebahkan diripun kita bisa berbicara dengan tetangga sebelah. Dan tentu saja melihat pemandangan itu Luc langsung cemberut. Tapi aku tak mau menanggapi cemberutan Luc, aku tak mau pula kami harus mencari pantai lain setelah Angela begitu sukar untuk mencari tempat parkir yang kosong.

Aku dan Luc bukan type orang yang suka berjemur diri di pantai, kalau ke pantai kami hanya mampu menyusuri boulevard dan tidak menjejakan kaki di pasir. Sepertinya berjemur di pantai paling anti kami lakukan. Kalaupun harus karena biasanya untuk menunggui anak anak bermain. Melihat Luc yang kurang begitu berbahagia saat melihat pantainya yang sempit, akumenyuruh Luc untuk duduk saja di cafe sementara aku dan Angela menunggui anak anak. Tapi Luc menolaknya, dia akan tetap di pantai tapi dia akan mencari tempat yang sedikit teduh dan disana dia akan membaca. Aku menunjukan batu besar yang ada di depan pandanganku dan Luc menggangguk dan segera pergi kesana, sementara aku dan Angela segela gelar handuk dan duduk dibawah teriknya matahari sementara Cinta dan Cahaya sudah asyik bermain pasir dengan ember dan sekop yang dibawa dari rumah. Tapi tak lama Luc datang pada kami, ternyata dia tak boleh duduk di batu yang aku tunjuk karena diatas bebetuan itu ada tebing diatasnya yang bisa longsor setiap saat. Akhirnya Luc menyerah tak mendapatkan tempat teduh di pantai dan dia duduk di cafe pertama yang paling dekat dengan pantai.

Pantai yang kami datangi adalah pantai yang dipagari oleh dua tebing yang sangat tinggi, sehingga air yang datang lumayan keras dan mengikis pada kedua tebing tersebut. Tempat tersebut sangat ideal bagi mereka yang ingin berenang, tapi tidak ideal untuk mereka yang ingin bermain pasir, karena area bermain pasir otomatis tak banyak. Sebelum kita menapaki pasir kita harus melewati lapangan yang tak begitu luas tapi tak sempit pula, disisi kirinya terdapat dua cafe sedangkan disisi kanannya terdapat tiga cafe, dilihat dari penampilan kelima cafe tersebut, bisa dibilang cukup lux jika dibandingankan cafe cafe yang ada disepanjang jalan menuju pantai. Dan di lapangan tersebut terdapat sebuah panggung pertunjukan ย yang membelakangi pantai diaman Cinta dan Cahaya sedang asyik bermain.

Aku tak ikut bermain pasir dengan anak anak, hanya melihat saja, mereka bermain tak jauh dari aku merebahkan diri di pantai dengan gaya yang tak lazim. Ya, aku merebahkan diri dengan handuk yang hampir menutupi seluruh tubuhku untuk menghindari sinar matahari yang menyengat, kontras sekali dengan ‘tetanggaku’ yang berjemur dengan hanya menggunakan bikini tanpa top (bh) guna mendapat kulit coklat ekskotis yang didamba hampir kebanyakan wanita di Eropa. Angela tertawa melihat kelakuanku dan aku memintanya menjepretku dan sungguh aku tak akan membaginya dengan kalian hahaha.

pantai yang dibatasi dua tebing disisi kiri dan kanan

pantai yang dibatasi dua tebing disisi kiri dan kanan

Cinta Cahaya, nose nose

Cinta Cahaya, nose nose

Kaki Angela :) memperhatikan anak anak bermain air

Kaki Angela ๐Ÿ™‚ memperhatikan anak anak bermain air

Setelah satu jam setengah, Angela menyuruhku untuk duduk saja di cafe menemani Luc sementara dia yang akan menjaga anak anak hingga anak anak puas bermain dan kemudian rencananya mendatangi kami dan kemudian akan makan malam disini.

Aku datang menemui Luc yang ternyata telah bersiap siap untuk beranjak setelah membayar apa yang dia minum. Aku mengajaknya untuk duduk di cafe yang ada di depannya. Disana aku memesan ice cream, sambil menikmati ice cream aku memperhatikan orang orang yang kini sedang membenahi panggung pertunjukan, pertunjukan akan segera dimulai.

Aku mengusulkan untuk menjemput anak anak segera, Luc setuju. Terlihat Angela pun sedang bersiap siap membereskan handuk handuk tempat kami duduk tadi. Setelah anak anak membersihkan diri kami berjalan melewati cafe tersebut, sang penyanyi sudah bernyanyi dengan band nya, orang orang segera berdatangan. Kecerian di minggu malam akan segera dimulai. Hatiku gembira karena mendengar alunan musik dari panggung yang ada di tepi pantai, pertunjukan inilah yang sedari dulu aku dambakan.

Aku dan Angela sibuk memilih di cafe mana kami akan duduk dan makan malam, sementara Luc tetap berjalan melewati lima cafe yang ada disitu, sambil melambaikan tangan dia berkata, kita makan disana, ujarnya menunjuk cafe yang dibatasi oleh jalan, disana tak banyak orang dan kita tak terganggu dengan orang orang yang nonton musik, lanjut Luc. Aku ternganga mendengar perkataannya. Apa? dia tak mau melihat musik? Bukankah dia sudah mendengar permintaanku bahwa aku ingin melihat dan mendengar musik?

Aku berjalan melewati cafe yang ditunjuk Luc, dia sama sekali tak melihat kemarahanku. Serunya, Yayang kalo kamu jalan lebih jauh kamu tak akan bisa melihat panggung serunya. Aku tak menggubrisnya. Angela yang ada di belakangku tiba tiba menunjuk cafe yang berada beberapa setelah cafe yang ditunjuk. Sebuah Italian cafe yang keliahatannya cozy. Aha Restaurant Italia, Luc tahu aku tak begitu suka pizza. Sempurna sekali!

Aku mengangguk ke arah Angela sambil tersenyum palsu. Ada dua tanduk yang mucul dari atas kepalaku, ah mertuaku yang baik hati ini tak menyadari bahwa menantunya sedang ngambek pada anaknya.

Masih dengan dua tanduk yang ada di kepalaku aku berpikir tentang kejadian yang baru aku lewati, aku sudah sudi berpanas ria untuk menemani anak anak kami bermain pasir, membiarkan kulit coklatku semakin gosong, menahan dahaga sementara Luc duduk di cafe membaca buku. Saat aku bersuka cita mendengar alunan lagu dari panggung dan orang mulai berdatangan untuk melihat sang penyanyi bernyanyi, membayangkan aku akan menikmati makan malam dipinggir pantai dengan pemandangan yang romantis di depan mata, eh Luc menghapusnya dengan tiba tiba.

Setelah kami duduk dan memesan makanan, aku meminta izin ke toilet. Disana aku menangis sesenggukan.

(bersambung)

Advertisements

25 thoughts on “Praia do Carvoeira (Pantai Carvoeira)

  1. Mungkin Mbak sedang ulang tahun terus dikerjain oleh sang suami? Atau memang sedang agak sensitif? :hehe :peace *sotoy banget ah*. Pantainya agak ramai ya Mbak, dan bertebing, tapi pasirnya lumayan sih buat main-main dengan pasir :hihi. Entah kenapa saya penasaran dengan bagaimana kelanjutannya :)).

  2. Seru ya bermain di pantai itu…

    Btw, jadi penasaran nih sama lanjutannya. Itu kira-kira papanya anak-anak memang beneran ga tahu atau “sengaja” gitu ya? ๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s