Orang Indonesia tukang minta uang?

Secara tak sengaja beberapa hari yang lalu aku dan Luc nonton acara TV disini, menceritakan tentang pengalaman tiga orang Indonesia yang mencari ibu biologisnya di Indonesia. Mereka adalah anak yang diadopsi keluarga Belanda sejak mereka bayi. Dari tontonan yang sudah sudah biasanya menceritakan proses pencarian itu sendiri sampai mereka bertemu dan acara berakhir bahagia. Tapi tontonan yang kemarin menceritakan pengalaman sesudahnya. Sesudah mereka menemukan ibu kandungnya. Tiga dari dua orang tersebut tak melanjutkan silaturahmi kembali dengan keluarga kandungnya di Indonesia salah satu alasannya adalah karena setiap mereka berkomunikasi jarak jauh (melalu surat) selalu diakhiri untuk dikirimi uang. Dia berkata bahwa dia tak suka jika dirongrong untuk selalu mengirimi uang, oleh sebab itu dia memutuskan tak lagi membalas surat surat yang datang.

Rasanya cerita semacam itu tak aneh lagi aku dengar. Salah satunya adalah rumor perempuan yang menikah dengan pria bule adalah karena uang. Rasanya nyesek sekali kalo sudah dituduh seperti itu, walau sebetulnya tak pernah ada orang yang menuduhku secara langsung. Tapi kalo celutukan teman (biasanya teman masa lalu yang tiba tiba muncul) yang berkata…. duh asyik nih punya suami bule pasti uangnya banyak. Nah yang kayak gitu rasanyanya udah pengen ngegetok.

Konon sewaktu Luc akan menikah denganku, calon mertuaku mendapat peringatan dari temannya yang orang Indonesia, bahwa Luc harus waspada karena bisa jadi keluarga istrinya nanti doyan minta uang dari Indonesia. Karena itulah yang terjadi dengan temannya mertuaku itu.

Kira kira sebulan yang lalu, salah satu kerabat temanku (temanku itu  tinggal disini) datang ke Belanda. Temanku ini adalah teman sekolahku dulu, secara tiba tiba empat tahun yang lalu kami bertemu disini di Belanda, tentu saja aku senang karena saat itu tak banyak orang Indonesia yang aku kenal, temanku itu sedang bersama dengan kerabatnya yang datang dari Bandung untuk berlibur. Anehnya aku langsung akrab dengan kerabat temanku itu, selama dia di Belanda aku bertemu dengannya dua kali. Ternyata si kerabat itu sudah sering bolak balik ke Belanda sebelumnya sehingga dia mempunyai beberapa kenanlan. Kedatangan kali ini ke Belanda hanya beberapa hari saja karena dia harus mendatangi negara Eropa lainnya.  Kami pun janjian untuk bertemu. Satu hari bersamanya sungguh menyenangkan.

Tapi ternyata seminggu yang lalu aku menerima whatsApp darinya,  dia  bermaksud meminjam sejumlah uang padaku, uang tersebut untuk membayar utangnya pada temannya yang tinggal di Belanda, dia meminjam uang saat dia berada di Belanda satu bulan yang lalu. Katanya tolong bayarin dulu soalnya itu orang nagih nagih terus, janjinya secepatnya dia ganti. Nah melongo lah aku dapat whats App kayak gitu. Tololnya, aku malah bilang bahwa untuk urusan keuangan tak sepenuhnya wewenangku karena aku tak punya penghasialn sendiri, aku harus bilang suami. Eh dengan cueknya kerabat temanku itu malah bilang iya cerita aja ama suami kan harus terus terang, lagian Luc orangnya royal, pasti dia mengerti posisiku. Begitu katanya.

Berdasarkan berbagai pertimbangan aku tak bercerita pada Luc, sehari kemudia aku menjawab WhatsAppnya, aku memohon maaf karena tidak dapat membantu.

Sebetulnya aku ingin membantah mengenai rumor bahwa orang Indonesia tukan minta uang, karena sahabat dekat dan keluargaku tak seperti itu, dan akupun paling sungkan meminta sesuatu pada orang lain. Aku mengasumsikan bahwa orang seperti itu mungkin mengira bahwa orang yang hidup di LN itu kaya, banyak uang. Jadi dengan mudah minta bahkan bercanda untuk meminta sesuatu. Nah ini kerabat temanku ini kan orang kaya, ya iya lah makanya bisa sering jalan jalan ke Eropa, lagian kenapa minta pinjam padaku kenapa bukan pada temanku itu yang jelas jelas kerabatnya?

Pengalaman lain tentang pinjam dan meminjamkan uang juga pernah aku alami disini juga, saat itu aku masih polos. Belum mengerti pergaulan disini. Aku ikut arisan. Tiba tiba aku menang, padahal aku berharap menang di akhir arisan. Nah ini kok menang di tengah jalan. Ada salah seorang anggota arisan yang selalu berharap menang setiap bulannya, bodohnya aku saat itu dengan mudahnya memberikan setengah uang arisan pada si orang yang sedang butuh uang tersebut. Dia berjanji akan bayar bulan depan, lebih bodoh lagi aku malah menjawab pokoknya uangku harus balik sebelum aku pulang ke Indonesia yaitu tiga bulan lagi. Tambah senenglah itu orang. Pas nyampe rumah aku laporan pada Luc bahwa aku menang arisan dan setengah uangnya aku pinjamkan pada anggota lainnya. Luc melongo menanggapi istrinya yang aneh!

Cerita si uang arisan itu ternyata berbuntut panjang, aku tak pernah bercerita pada orang lain selain pada Luc (dan sekarang pada kalian) bahwa aku meminjamkan uang, si peminjam itu sendiri yang berkoar koar setelah hampir tiga bulan kemudian dia tak kunjung menang arisan juga, dia berharap menang arisan untuk membayar utangnya padaku. Dia memohon pada semua orang semoga dia yang menang karena uangnya untuk membayar utangnya padaku yang sebentar lagi akan berangkat ke Indonesia.

Setelah dia berkoar, sang bandar arisan menelepon padaku. Menyangkan tindakanku yang meminjamkan uang dengan ceroboh, dia mengerti bahwa aku masih baru di Belanda tak mengenal banyak orang, dikiranya semua orang sama seperti di Indonesia, si bandar yang baik hati itu sampai menawarkan uangnya untuk aku pakai jika sampai aku berangkat ke Indonesia orang tersebut belum bayar juga padaku, yang tentu saja aku tolak.

Walau aku tak mendapatkan uangku saat aku berangkat ke Indonesia tapi orang tersebut dapang padaku dan Luc dan meminta maaf karena dia tak dapat memenuhi pembayaran seperti yang dia janjikan. Dan Luc berkata sejujurnya bahwa dia tak masalah selama uangku dikembalikan, malah dijelaskan bahwa kami bukan type yang suka bawa uang cash dengan nominal yang besar ke Indonesia, alasannya karena keamanan, kami lebih suka ambil uang di ATM.

Tak enak rasanya menceritakan dua pengalaman ini. Tapi semoga kita bisa lebih waspada untuk urusan pinjam meminjam atau meminta uang karena seringkali bikin ga enak hati pada akhirnya. Juga semoga lebih bijaksana jika meminta sesuatu pada orang lain, meminta hal yang besar ataupun yang kecil.

Advertisements

30 thoughts on “Orang Indonesia tukang minta uang?

    • Iya betul, klo masih ada ikatan sodara aku biasanya ngasih se iklas aku trus bilang ga usah dikembalikan, ini hanya membantu saja, mudah mudahan dapat pinjaman dari yang lain. Nah si sodara jadi ga pernah minjem uang lagi, dan biasanya sungkan hehehe.

  1. Aku dong lumayan “epic”..: waktu masih tinggal di Kolombia, ketemu teman SMP di Fb. Terakhir kontak ya pas mau lulus SMP, coba jaman kapan itu, aku lulus SMP thn 1990.. Seneng dong.. Tapi baru beberapa kalimat pembuka di chat Fb itu, eh tiba-tiba dia bilang mau pinjam uang buat modal usaha..😐 Speechless! Akhirnya kubilang: “maaf gak bisa bantu, soalnya aku udah gak kerja lagi.., udah gak punya penghasilan sendiri, sehingga penghasilan suami pun jadinya terbatas penggunaannya..”

    • Hahaha itu mah terlalu pisan. Tapi emang teman dari masa lalu itu yang biasanya ‘kurang ajar’ suka tiba tiba bikin speechless. Emang kita bank gitu 😉 pinjam uang buat modal usaha

  2. Waduh Yang, yang pertama kok ngga sungkan ya itu orang. Kerabatnya temen kamu dan cara minta tolongnya gitu.

    Yang kedua aku rasa kamu ngga bodoh, agak naif mungkin iya. Kita menilai orang kan memakai standar kita sendiri. Kalo kamu orangnya tulus, tepatin janji (dalam hal ini kembalikan uang pinjaman) ya kamu pikir orang lain juga gitu. Memang ini pelajaran ya, mudah-mudahan ngga kena lagi.

    Mengenai keluarga di Indonesia minta uang, memang sayangnya imagenya begini. Itu contoh dari Spoorloos ya? Kadang temen/kenalan Belanda ngga percaya kalo keluargaku ke Belanda dan liburan di Eropa bisa beli ticket sendiri 🙂

    • Iya mba, kaget banget pas bilang gitu, kayak yg ga ada beban ngomongnya, ga sungkan sama sekali. Padahal dia tahu sendiri, aku hidup di Belanda ya biasa saja, apalagi yang kerja cuma suami aja.
      Contoh yang kedua memang pelajaran, harus lebih berhati hati, padahal dulu juga pernah sih ketipu ama temen yang belum lama kenal tapi dia bilangnya untuk biaya rumah sakit ibunya, ya aku kasih lah, ternyata ga dibayar bayar sampe dia menghilang, didatangin ke tempat kosnya ternyata menghilang juga. Sebel. Duh jangan sampe lagi kena.
      Suami juga sampe bilang waktu kita nonton acara itu, image orang Indonesia tukang minta uang ga dia temui di keluargaku, gelukkig katanya. Malahan pernah suami berencana ngundang kakak sekeluarga kesini untuk ucapan terima kasih, tapi kakaku malah menolak dengan tegas, malah menyarankan uangnya lebih baik dipakai kami sekeluarga saja untuk pulang kampung. karena sewaktu aku melahirkan orangtua kan disuruh datang kesini, ternyata dia yang bayarin tiket orangtua dan urus semuanya, pas kita berdua tahu harga tiketnya (jauh hari setelahnya) ternyata kakakku membeli tiket seharga 5500 euro untuk ayah dan ibu, alasannya ga ada penerbangan lain yang lebih murah dari itu, sedangkan pihak kedutaan menyarankan pergi hari itu juga saat ayah dan ibu ambil spoed visa di kedutaan, tiket yang sudah dibooking untuk tiga hari kedepan kakakku langsung membatalkan nya dan mencarikan tiket baru. Sampe sampe yang ngepak baju di bandung adalah sepupuku dan langsung dia bawa ke jakarta, ibuku kan pake jilbab, sepupuku sampe lupa bawain gantinya, jadilah ibuku selama di Belanda jilbabnya ga pernah ganti, saking tergesa gesanya mereka kemari.
      Yah beruntunglah kita mba, keluarga kita di Indonesia bukan termasuk image dari órang Indonseia tukang minta uang’ 🙂

  3. Waa ini benar banget, memang kata orang di sini kalau meminjamkan uang itu mesti rela uang tidak kembali, atau uang dipaksa kembali tapi hubungan baik yang jadi korban. Kalau saya, sebisa mungkin di awal jangan mengiyakan kalau meminjam uang kecuali memang yang meminta sedang sangat terdesak dan alasan kemanusiaan. Kalau mau memberi ya memberi, tapi bukan meminjamkan, soalnya konsekuensinya besar…

    • Betul Gara setuju sekali. Kalu mau memberi ya memberi asala iklas dan sesuai kemampuan kita dan dengan alasan yang benar, tapi bukan meminjamkan. Karena aku juga pernah denger keluahan teman, dia minjemin uang tapi malah dia yang jadi takut ama yang dipinjami uang karena lebih galakan yang punya utang daripada yang punya uang hehehe

      • Sama Mbak… saya juga mengalami yang seperti itu. Karenanya saya ikhlaskan sajalah, tapi jadi pelajaran banget supaya besok-besok jangan pinjamkan uang lagi, kecuali saya sudah benar-benar percaya (dan itu susah).

  4. Dituduh nikah sama bule karena uang itu memang nyesek banget. Pengen nyumpel mulut orang yang ngomong gitu pake bakiak 😀 it happened to me.
    Bener Yang. Dipikirnya setelah menikah sama orang luar negeri kita jadi bergelimang harta. Nyatanya kan ga gitu. Trus teman2 yang ga pernah kita tahu kabarnya tiba2 mendekat dengan berbagai macam basa basi yang ujung2nya urusan sama uang. Keseeell banget. Aku kan belum kerja. Manalah aku ada pemasukan.

    • Nah itu, trus yang ga kalah nyebelinnya klo ada komentar ohhh hebat kamu bisa nikah sama bule……. Udah deh klo ada yang ngomong gitu langsung pingin ngamuk. Emang bule lebih tinggi satusnya atau kita yang lebih rendah? Sama sama manusia kok! Keseelll

  5. yang paling nyesek tuh pas mereka mau minjem uang kitanya di baik2in di sok2 akrab gitu, giliran udah di transfer eh menghilang, kasus lain lagi malah pura2 lupa, tiap hari ketemu tapi gak pernah singgung kpn duitnya mau dibalikin, kita mau minta juga sungkan ya *malah curcol* 😀

  6. Sama seperti komen yang lain, uang emang sensitif dan kecenderungannya bikin hubungan jadi ga nyaman meskipun niat kita tulus ikhlas buat bantuin 😀

  7. Suamiku pernah dideketin orang yang ngasih warning kalau orang Indonesia tukang minta-minta duit. Kesel banget dengernya tapi di satu sisi, aku menghargai juga peringatannya (biar suami gak kejebak tukang minta-minta karena rupanya si pemberi peringatan mengalami sendiri).

    Soal pinjam-meminjam, dari dulu aku super strict, kalaupun butuh banget, biasanya aku kasih sebagai hadiah, tapi nominalnya akan jauh dari jumlah yang akan dipinjam. Nah soal pinjam untuk modal usaha itu ya, itu modus semua orang. Aku punya saudara yang rejekinya berlebih. Dia dedeketin banyak banget orang yang minjam2 duit. Duh, kalau pengen usaha beneran bikin proposal ke bank lah.

  8. Wah yang..pelajaran bgt ya kasus mu itu… itu sih namanya kurang ajar, nyepelein bgt. Aku untungnya blm pernah ngalamin tp sering dengar jg pengalaman orang. Paling nohok memang klo di judge nikah sm bule lalu disangka kita nih nikah krn duit. Aku suka dongkol grrhh..soalnya kesannya andil istri asia seakan non existent ( jd curcol) hehehe

    • Pelajaran yg amat berharga dan semoga ga ngalamin lagi.
      Nyebelin banget klo dituduh kawin ama bule karena uang, untung nya klo teman dekat ga ada yg berpasangan begitu tapi klo dari temen jauh ada juga yg langsung bilang enak dong banyak duit. Banyak yg ngira klo bule berarti banyak uang, 😉

  9. iya gak semua orang indo seperti itu tapi emang unfortunately masih banyak yang begitu ya. suka minta uang dan merasa orang yang tinggal di luar negeri (atau yang kawin ama bule) itu duitnya banyak. anyway walaupun orang duitnya banyak bukan berarti mereka bisa seenak ati minta kan ya? hehehe.

    entah gimana pikiran orang2 itu ya… lagian kok gak malu minta2 duit….

    kemaren ini baru ngobrol ama temen disini. orang indo juga. kita cerita kalo kita mau pergi ke indo bulan desember. dia cerita dia sejak pindah ke US gak pernah pulang indo karena males ntar dimintain duit. ya ampun kok sampe segitunya ya. dia bilang kalo dateng dari luar negeri, pas silaturahmi ke sodara2 pasti pada minta duit. ya ampun kok gitu ya… untung keluarga gua gak begitu. hehehe.

    • Ya ampun, klo ga mau pulang ke Indonesia hanya karena malas dimintain duit ya… kok bisa sih, mungkin ada alasan lain, tapi mungkin alasan itu ada diantaranya.
      Ya itulah anehnya kenapa demen banget minta duit atau yg lainnya kadang cuma iseng doang, kayak yg udah kebiasaan ngomong gitu, klo ga minta ga afdol 😀😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s