Awug Bandung

Waktu kecil aku suka sekali jajan awug. Hampir tiap pagi beli di si mbok yang jualan dengan menggunakan bakul gendong yang datang ke setiap rumah. Pesanannya selalu sama awug dan lupis.

Nah sekarang kangen dong makan awug, setelah serching di internet dari tiga resep semuanya sama yaitu menggunakan tepung beras dan tepung ketan yang dicampur dengan komposisi yang sama. Nah dengan berbekal keyakinan resep tersebut akan sama persis dengan awug idaman, mulailah aku mulai menemukan kendala pertama yaitu aku ga punya ‘aseupan’ atau wadah berbentuk segitiga kerucut yang biasanya digunakan untuk menanak nasi di jaman dulu.

Maka jadilah besek yang dijadikan percobaan, masalah bentuk bolehlah berbeda, asalkan rasa sama kan? Ini nih besek yang aku maksud, besek bekas tape singkong yang aku beli di Oriental toko.

Besek alias pipiti ;)

Besek alias pipiti ūüėČ

Nah ternyata resep yang aku dapatkan sama sekali berbeda dengan awug jaman dulu yang aku kenang, kok jadi mirip kue bugis ya? Lengket dan basah.

Beberapa waktu yang lalu aku melihat postingan teman yang bikin awug juga, wih gambarnya persis awug idaman. Langsung dong aku App dia, berikut resep ala Catur temanku yang rasanya dan bentuknya mirip dengan awug masa kecilku.

Bahan:
* 400 gr tepung beras, kukus selama 20 menit
* 250 gr gula merah, iris hingga halus
* 100 gr kelapa parut

Caranya:
* Setelah tepung beras dikukus satukan dengan kelapa parut kira kira 75 gr, sisa kelapa parut untuk taburan setelah awug tersebut jadi.
* Susun selang seling campuran tepung beras dan kelapa parut dengan irisan gula merah.
Ingat tepung beras tersebut harus diciprati air yang telah dicampur garam, secukupnya saja, kemudian taburi gula merah kemudian tepung beras, ciprati lagi, begitu seterusnya hingga bahan habis.
* Nah kukus deh kurang lebih satu jam

Dan inilah hasilnya, selamat menikmati dan mencoba bagi yang doyan awug. Oh ya bagi teman teman yang tinggal di Belanda, mungkin tau dimana toko yang menjual aseupan? Duh aku ga tau apa bahasa Indonesia nya aseupan ūüėČ
IMG_20150405_230613065[1]

Pesta Ulang tahun

Hasil karya Cinta dan Cahaya di sebuah pesta ulang tahun

Hasil karya Cinta dan Cahaya di sebuah pesta ulang tahun

Di bulan April ini Cahaya mendapat undangan ulang tahun sebanyak tiga pesta. Ini tahun kedua mereka sekolah di sekolah dasar, dan tentunya aku semakin berpengalaman menyiapkan anak anak ke pesta ulang tahun. Jadi ga ada istilah terbelalak heran seperti tahun kemarin, atau tangisan salah satu anak yang kecewa karena tak diundang, seperti cerita disini.

Berikut adalah pengalaman yang aku dapatkan tentang ulang tahun anak anak di Belanda.

* Biasanya kartu undangan di sebar  kurang lebih dua minggu sebelumnya, si anak yang mengundang langsung memberikan kartu tersebut pada anak yang diundang didampingi orangtua si anak.

* Seperti kartu undangan pada umumnya, disitu dicantumkan tempat, waktu dan juga catatan yang menyebutkan jika anak yang diundang alergi terhadap makanan tertentu maka si orangtua harus menginformasikannya.

* Setelah kita menerima kartu undangan biasanya kita harus mengconfirm apakah kita akan datang ke pesta itu atau tidak. Confirm dari pihak yang diundang sangat penting karena urusannya berkaitan dengan pemesanan tempat. Biasanya ulang tahun anak anak diadakan di Fun Park Indoor (seperti Kid Plyaground) atau di restaurant yang disukai anak anak seperti di Pannenkoeken Boat.

* Disini pesta ulang tahun teman teman sekolah biasanya diadakan pada hari rabu, karena hari tersebut anak anak sekolah setengah hari saja. Biasanya pihak pengundang akan memeberitahukan guru kelas siapa saja yang akan datang ke pesta ulang tahun, hal itu memudahkan pihak orangtua untuk tidak menjemput anaknya disekolah, karena anak anak tersebut akan diambil alih oleh orangtua si pengundang. Biasanya seusai pesta anak anak akan diantarkan ke rumah.

* Jika pesta diadakan di Fun Park atau Restauran biasanya jumlah anak yang diundang tak sebanyak jika pesta diadakan di rumah, biasanya 4 hingga 8 anak saja.

Nah untuk urasan kado, kisaran harga berapa sih kado yang harus diberikan? Untuk urusan ini aku tak banyak tahu, secara hingga saat ini aku belum pernah membuat pesta untuk Cinta dan Cahaya di Belanda (apalagi untuk aku dan Luc) Jadinya aku tak banyak tahu ukuran kado yang diterima. Menurut Luc sebaiknya kado yang diberikan pada anak yang berulang tahun bukanlah kado yang mahal, karena menurutnya ‘kasian’ kalo kado yang diterima dari temannya lebih fantastis atau mahal dari kado yang diberikan orangtua si yang berulang tahun, karena kado dari orangtua haruslah menjadi raja. Hahaha entahlah apakah itu kata lain bahwa kita cukup pelit untuk urusan kado? Tapi aku pernah menerima keluhan dari salah satu orang tua yang yang berulang tahun, sambil datang padaku si ibu berkata bahwa kado yang diberikan Cahaya untuk anaknya terlalu mahal. Saat itu aku memberikan boneka mermaid yang harga awalnya 30 euro tapi aku membelinya seharga 15 euro saja alias sedang korting! Kalo si ibu itu tau aku beli kado dengan harga korting pastinya tak akan ada keluhan hahaha.

Berdasarkan pengalaman itu, aku dan Luc sepakat memberikan kado ulang tahun seharga kisaran 10 euro saja (jika aku berhitung uang yang dikeluarkan si pemberi pesta tentunya lebih besar untuk setiap anak yang diundang, untuk masuk fun park saja biasanya kena harga tiket masuk 7 hingga 8 euro per anak, belum makanan dan minuman yang harus dipesan, biasanya patat dan frikandel/kroket plus apel mouse.

Oh ya yang harus diingat, jangan memberikan kartu tersebut di kelas saat anak anak masuk kelas, usahakan jangan terlihat anak lainnya. Hal tersebut pernah terjadi padaku, saat seorang anak memberikan kartu pada Cahaya ada anak lain yang berkata pada ibunya….. Cahaya sering sekali di undang ke pesta ulang tahun, sedangkan aku tidak! Mendengar ocehan anak kecil umur 5 tahun tentu saja tak hanya merobek hati si ibu, tapi aku dan juga mungkin si ibu yang memberikan kartu undangan pada Cahaya.

Dan ingat walaupun mereka anak kembar, tak selalu keduanya diundang, dan karena Cahaya lebih sering di undang, aku dan Luc selalu mengingatkan bahwa tak baik membuat Cinta bersedih, karena kadang Cahaya mengejek Cinta dengan memperlihatkan kartu undangan pada Cinta berkali kali, sementara Cinta hanya melirik menegarkan diri…. aaih sayangku.

Biasanya setiap pesta mempunyai tema, jika pesta tersebut diadakan di rumah, anak anak akan membawa hasil prakarya yang dibuat selama pesta berlangsung, misalnya Tshirt yang digambari sendiri, membuat tempat pinsil dari gelas yang cantik dan semua itu akan mereka bawa pulang.

Tshirt yang digambari sendiri,  warnanya sudah pudar ;)

Tshirt yang digambari sendiri,
warnanya sudah pudar ūüėČ

Dan yang paling penting adalah untuk memberi makan dulu sebelum anak tersebut ke pesta (jika pesta tersebut diadakan di jam bukan makan siang atau malam), seperti kejadian tanggal 4 april yang lalu… Dalam undangan disebutkan bahwa anak anak akan dibawa ke studio balet, pesta diadakan mulai pukul 2 siang hingga pukul 5 sore, itu artinya anak anak tak akan diberi makan siang, perkiraanku mungkin hanya taart dan chips saja. Dan betul saja, begitu anak anak datang ke rumah mereka berteriak teriak diantara gembira dan penderitaan….bunda bunda, aku lapar, aku haus. Saat aku menyodorkan minuman dan meminta mereka duduk tenang untuk menceritakan apa saja yang mereka kerjakan di pesta tersebut, secara berebutan mereka menjawab… kita bikin tempat pinsil, kita nonton balet, kita gak lari lari lho dirumahnya Fe, kita rustig lho! Trus kamu makan apa saja sampai kelaparan gitu? Kita makan taart saja seru Cinta, aku ga makan apa apa seru Cahaya. Kenapa? Tanyaku. Taartnya ga enak! Aku dan Luc menahan senyum, kemudian Luc berkata tapi kamu tak mengatakan itu kan pada orangtuanya Fe? Hhmmmmmm…. aku cuma bilang aku ga suka taartnya. Kata Cahaya lirih.

Belajar (Tidak Cukup Hanya Dengan Marah)

IMG_20150402_200401776[1]
Catur, salah satu teman sekelasku sewaktu SMA.
Tak banyak yang aku ketahui tentang dirinya, padahal dua tahun aku sekelas dengannya. Walau dulu rumahku dijadikan markas tempat anak anak berkumpul karena tempatnya yang strategis, di jalan besar buah batu. Tapi Catur bukan termasuk yang sering nongkrong di rumahku, ya lebih banyak teman laki laki yang dulu suka nongkrong di jalan buah batu.

Tapi kini, setelah ribuan mil jauhnya antara aku dengan dirinya, aku jadi semakin mengenalnya. Ya, mengenal dirinya dari tulisan tulisannya. Jadi terkaget kaget sendiri saat mengetahui kesukaannya dan tingkah lakunya ternyata tak jauh beda dengan diriku. Juga kegemarannya akan menulis.

Hari ini kembali aku membaca tulisannya, terdiam sejenak dan kemudian mengagumi kegigihannya. Ternyata ada ketidaksamaan antara aku dan dirinya. Dia, seorang Catur begitu tabah, sabar dan gigih mengajarkan anak anak membaca, sementara aku jangankan mengajarkan anak orang lain, mengajarkan Cinta Cahaya pun aku kadang menyerah.

Saat awal anak anak masuk sekolah aku sudah berkata pada Luc, bahwa aku akan menyerahkan cara pengajaran seluruhnya pada sekolah, aku tak akan mengajarkan Cinta Cahaya membaca atau berhitung kecuali mereka yang minta, aku akan melihat seperti apa metoda yang diberikan pada anak anak di sekolah, kemudian mengcopy cara pengajaran tersebut dengan tujuan aku tak ingin membuat Cinta Cahaya menjadi bingung jika cara yang aku ajarkan tidak sama dengan yang diberikan disekolah. Karena aku pernah membaca cara mengenalkan alfabeth pada anak anak umur 4-6 tahun (kleuteur) bukan A B C D seperti untuk anak umur 7 tahun keatas tapi dengan cara mengikuti suara seberti yang dikeluarkan huruf tersebut misalnya b dibaca beu, c seu d deu begitu seterusnya.

Tapi kemarin sore aku bertemu dengan anak Indonesia, berusia empat tahun sama dengan Cinta Cahaya, dia sudah bisa membaca dengan lancar, berhitung dengan baik, dan menurut ibunya, anak tersebut belajar dibawah bimbingannya setiap hari.
Tentu aku tak akan seperti dia yang begitu telaten mengajarkan anaknya, hari itu aku mencoba mengenalkan huruf huruf pada Cinta Cahaya dengan sebelumnya membaca panduan terlebih dahulu bagaimana cara mengenalkan hurf dengan benar pada anak umur 4 tahun.
http://www.veiliglerenlezen.nl/
Hanya berhasil 10 menit, tak apa apa pikirku dalam hati lumayan.

Sambil menghibur diri, aku berkata dalam hari, tentu setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak anaknya. Jika aku seperti membiarkan Cinta Cahaya selalu bermain, karena itulah yang ingin aku lihat pada anak anakku, bergembira. Mereka sudah bersekolah dari pagi hingga pukul 3 sore, datang ke rumah, waktunya bermain dan rileks pikirku. Untuk saat ini. Tentunya nanti jika semakin bertambah usia aku harus memberikan jam belajar pada mereka. Untuk saat ini, aku hanya memberikan jam belajar setiap hari rabu saja sepulang sekolah untuk belajar iqro. Di bawah bimbinganku. Dan ternyata mereka belajar cepat.

Kembali pada Catur temanku, kami pernah berdiskusi masalah bagaimana menerapkan cara menyampaikan pelajaran matematika dasar pada anak anak. Dia yang aku tahu bukan seorang guru, tapi dia mencari metoda terbaik untuk anak anak didiknya, anak anak tetangga di lingkungan rumahnya yang datang tiap malam ke rumahnya untuk belajar padanya. Dia, mengajarkan dengan sungguh sungguh dan gigih. Dia, tak dibayar barang serupiahpun……

Katanya padaku, aku prihatin pada anak anak masa depan….dan aku ingin mereka menjadi generasi yang baik.

Yayang, banyak yang dapat kau pelajari dari dirinya. Iklas, adalah kunci utama untuk meraih segalnya. Sesulit apapun, jika kita iklas akan selalu ada jalan.

Terimakasih Catur, hari ini setelah aku membaca blogmu, aku akan lebih sabar lagi jika sedang mengajarkan Cinta Cahaya mengaji… Tak cukup hanya dengan marah, seperti katamu…. Terima kasih kawan….

23 Januari 2014

Berikut tulisan Catur; Tidak Cukup Hanya Dengan Marah

Be a ba ha u hu … hahu

Ge a ga je i ji… baji

Es euseu p e pe de a da …segala

Em e me m pe u pu en ye a i hanya di eja saja dan tidak berhasil dirangkai. Aku menghela nafas. M anak kelas empat Sekolah Dasar yang sudah empat malam ini datang ke rumahku untuk belajar matematika, ternyata belum bisa membaca. Mungkin lain tanggapanku kalau dia masih duduk di kelas satu atau kelas dua, tapi ini kelas empat ??

Tidak.. aku tidak marah ataupun kesal pada M. bukan kesalahan dia sehingga dia belum bisa membaca. Aku menebak orang dewasa di rumahnya mungkin tidak paham dengan kondisi ini. Atau kalaupun paham mereka memiliki keterbatasan dalam mengajarkan M membaca. Seperti ketika beberapa waktu yang lalu aku mengundang para ibu dari anak-anak yang belajar di rumah untuk melaporkan perkembangan anak-anak dan memberi tahu metode yang aku gunakan, mereka langsung menyerahkan pengasuhan anak-anaknya padaku. “Terserah Bundalah mau dikumahakeun, yang penting anak-anak bisa belajar. Di rumah mah tara belajar da saya na oge teu ngarti. Tepok jidat deh..

Tapi aku juga tidak menyalahkan ibu-ibu ini. Ketidakmampuan mereka memahami materi yang dipelajari anak-anaknya dikarenakan mereka hanya sedikit saja belajar di sekolah. Seperti ribuan perempuan lain di Negara ini, drop out dari Sekolah dasar dan menikah muda menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka.

Tapi tidak untuk M !

Bukan masa depan itu yang ingin aku lihat dari anak cantik tetanggaku ini. M generasi lebih lanjut dari kami. Dan kalau dia tetap dalam kondisi seperti sekarang, bagaimana dia menghadapi tantangan nanti?

Bicara mengenai rasa kesal, tentu saja aku masih kesal. Aku kesal pada pihak-pihak yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan masyarakat banyak tapi tidak memanfaatkannya, aku kesal pada institusi yang diberikan wewenang untuk mendidik tetapi bisa dengan mudahnya meloloskan M setiap tahunnya untuk naik kelas padahal sudah jelas-jelas kemampuan membacanya parah sekali. Jadi nilai di raport yang dijadikan acuan seorang anak menguasai bidang pelajaran yang dia pelajari selama satu tahun di tingkatnya sehingga boleh naik ke tingkat diatasnya itu datangnya dari mana ??? pulpen yang kepeleset ???

Ketika prestise lebih penting dari prestasi. Kebohongan lebih berarti dari kebenaran, menyelundupkan anak untuk naik tingkat lebih keren dibandingkan membiarkannya tinggal kelas untuk menyatakan bahwa dia belum cukup mampu, pada saat itulah anak-anak diajarkan bahwa curang itu tidak salah!

Menyedihkan‚Ķ ketika arti ‚Äúbelajar‚ÄĚ tergelincir menjadi rutinitas palsu lainnya. Menyedihkan ketika anak-anak ini hanya menjadi obyek dari target pencapaian angka di atas kertas.

Tapi sudahlah…

Cukup bersedihnya, sudah cukup kesalnya. Hanya bersedih dan merasa kesal tidak akan merubah keadaan.

Jadi, maaf M, kalau aku agak galak mulai malam ini. Mari berbalik sebentar, mengenal huruf demi huruf. Tak akan kubiarkan engkau meloncat pindah ke kata berikutnya jika kata yang kau eja belum tepat. Tak akan kubiarkan pula engkau pindah ke halaman berikutnya, jika kau hanya menghapal. Kau boleh tidak suka padaku, sekarang ataupun nanti. Tapi percayalah, usaha kita sama sekali bukan buang-buang waktu.

Sebuah cerita masa lalu

IMG-20150403-WA0008[1]

Seorang wanita bernama Lay Kim Lian yang lahir di tahun 1901, empat anak lahir dari perkawinan pertamanya, dan dia harus kehilangan suami tercinta saat keempat anaknya berusia belasan. Pertemuannya dengan seorang aktifis pergerakan Tionghoa yang datang ke Surabaya dan keduanya bertemu di sebuah kota kecil di Jawa Barat yaitu Tasikmalaya sebut saja Soe mewarnai kehidupannya hingga terjadilah pernikahan kedua dan membuahkan seorang anak lelaki yang dipanggil Thay.

Lahir seorang anak adalah berkah dan kegembiraan. Apakah begitu juga dengan sang ayah? Tentu saja, tapi jalan hidup tak selamanya sesuai rencana, sang ayah yang konon mahir beladiri kungfu dan dikenal sebagai suhu harus meninggalkan keluarganya demi melanjutkan pengembaraannya.

Sudah menjadi suratan takdir si kecil tak mengenal sosok ayahnya, hanya cerita sepihak dari sang bunda yang tak selamanya dia pahami karena tak sesuai dengan sosok ayah yang dirindukannya.

Jadi seperti apa nak sosok ayahmu menurut versimu? Tentu dia seorang yang gagah berani, yang memperjuangkan kebajikan, yang selalu membela si lemah dan memperjuangkan kebenaran.

Apa yang sang ayah pikirkan saat dia pergi meninggalkan istrinya dan bayi kecilnya? Apakah dia mempunyai misi seperti sosok Khouw Ah Soe dari cerita Anak semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer?

Telah bersumpah kami menjadi pekerja yang baik bagi gerakan Angkatan Muda….. Sebab semua percuma kalau toh harus diperintah oleh Angkatan Tua yang bodoh dan korup tapi berkuasa, dan harus ikut jadi bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan. Percuma Tuan, sepandai pandainya ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan. Kepercayaan itu justru kekuatan yang menggerakan kami. Kami tak pernah dijajah oleh ras lain, kami takkan rela mendapatkan pengalaman demikian. Sebaliknya kami pun tak ada impian untuk menjajah ras lain. Itu kepercayaan. Orang tua tua kami bilang: Di langit ada sorga, di bumi ada Honchou, dan kami menambahkan: di hati ada kepercayaan…….

(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Dari Lentera Dipantara, hal viii, cetakan 13, 2011)

Harapan si bayi kecil itu adalah dia ingin sekali mencari jejak kehidupan sang ayah di Surabaya. Pun ketika si bayi kecil itu sudah menjadi seorang kakek dan mengantarkan anak pertamanya untuk bertugas di kota Surabaya, sambil memeluk si sulung dia berkata lirih….. Semoga suatu hari nanti kamu bisa menemukan jejak kakek moyangmu di Surabaya.

Istilah Tionghoa yang berasal dari kata zhonghua dalam Bahasa Mandarin  dibuat sendiri oleh orang Tionghoa di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa orang Tionghoa yang datang ke Surabaya adalah mereka yang bersal dari suku Hokchia, selain Surabaya mereka juga tinggal di Bandung, Cirebon dan Barjarmasin. Sedangkan orang Tionghoa yang banyak menetap di Jakarta, Medan, Makasar dan Menado adalah mereka yang berasal dari suku Kantonis.  Selain itu ada suku suku Hokkian, Hanian, Hakka yang tersebar di seluruh bumi Indonesia.

Thay kecil tumbuh dalam didikan sang bunda yang mandiri, Hidup prihatin di zaman pergolakan adalah hal yang lumrah karena semuapun  mengalaminya, tapi toh diawal tahun 50 an dia sudah dileskan bahasa Inggris oleh sang bunda dengan bayaran yang selalu terlambat karena sang bunda harus mengumpulkan uang dari berjualan abon buatannya.

Selama Orde Baru dilakukan penerapan ketentuan tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, atau yang lebih populer disebut SBKRI, yang utamanya ditujukan kepada warga negara Indonesia (WNI) etnis Tionghoa beserta keturunan-keturunannya. Walaupun ketentuan ini bersifat administratif, secara esensi penerapan SBKRI sama artinya dengan upaya yang menempatkan WNI Tionghoa pada posisi status hukum WNI yang “masih dipertanyakan”.

Di akhir tahun 60 an Thay merubah namanya menjadi lebih Indonesia sesuai dengan ketentuan adanya pelarangan bahasa Mandarin di Indonesia.  Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang. (Baca: Cerita Tionghoa Indonesia)

Seperti banyaknya warga Tionghoa lainnya, Thay pun mendaftarkan dirinya ke fakultas kedokteran di Unpad dan diterima. Takdir mengatakan lain karena disaat yang hampir bersamaan dia pun diterima di fakultas teknik IKIP Bandung, dan dia menetapkan pilihannya di sana. Di fakutas itu dia berjumpa dengan teman hidupnya. Yang selalu dia yakini bahwa ketentuan Tuhan adalah keputusan yang paling baik.

Menikah, memboyong dan merawat ibunya untuk tinggal bersama keluarga kecilnya adalah bakti yang dia lakukan hingga sang bunda tutup usia. Santun dan jujur adalah ciri yang melekat erat dalam dirinya selain rendah hati, hampir semua orang mengenalnya mengatakan itu akan sosoknya.

Tak seorangpun tahu apakah dia masih ingin mengetahui tentang asal usulnya? Rasanya tak mungkin sama pikiran Thay  seperti yang dituturkan Pramudya Ananta Toer,

Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat….

******

Hari rabu tanggal 18 Februari 2015, pukul 9 pagi waktu Rotterdam, aku tengah asyik mengobrol dengan ayahku di telepon secara tiba tiba dia bertanya padaku….

Yayang, besok tahun baru Imlek, apa yang akan kau lakukan? Kamu mau kemana hari itu?

Aku menjawab, bahwa tak ada acara khusus di hari itu. Aku tak pernah merayakan tahun baru Cina sejak berpuluh tahun lamanya, rasanya sejak nenekku tiada, kami tak pernah merayakannya secara khusus………

Ya, Thay yang santun, rendah hati dan jujur adalah ayahku……….

PS: Selamat ulang tahun yang ke 73 ayah paling hebat sedunia, semoga selalu bahagia dan sehat sepanjang hidupmu!