Waar blijf de tijd?

Ada sesuatu yang aku pikirkan, dan hampir seminggu ini aku memendamnya seorang diri. Enggan rasanya aku menceritakan sesuatu yang mengganjal di pikiranku itu pada Luc. Pikirku karena itu tak terlalu penting dan itu bukan hal yang baru.

Tapi tadi pagi, aku sudah tak tahan lagi. Dimobil saat Luc membawaku ke sekolah, aku ceritakan ganjalan hatiku. Luc mendengarkan dengan prihatin, kemudian memberi saran. Menguatkan diriku seperti biasanya agar aku berani.

Tak sampai disitu, curhatku menjalar. Yang asalnya hanya curhat tentang seorang kawan, kini curhat tentang keadaan diriku sendiri. Mulai dari rutinitas setiap hari hingga keluhan keluhan yang lainnya. Sehingga Luc harus memarkirkan mobilnya (yang biasanya hanya menurunkanku saja) untuk mendengarkan keluhanku, hingga mataku berkaca kaca. Duh cengengnya……

Akhirnya setelah menyeka air mata  itu,  aku keluar juga dari mobil, karena dua menit lagi pelajaran akan dimulai. Dan tralaaaaa, begitu sampai di kelas, pak dosen sedang membagikan kertas ke setiap bangku. Aku segera duduk. Dan layar proyektor di depan kelas segera menyala. Disitu terpampang tulisan Waar blijf de tijd- Herman van Veen. Pak dosen menjelaskan bahwa kami harus mengisi kata kata yang kosong dengan bait yang akan dinyanyikan Opa Herman ini.

Musik diputar, di layar proyektor terpampang foto jadul, sepasang manusia. Foto perkawinan. Bait pertama tak sempat kuisi, aku malah terpana dengan foto tersebut dan melupakan tugasku untuk mengisi kata yang hilang. Untunglah konsentrasiku kembali muncul dan mampu mengisi kata kata selanjutnya yang hilang walau tak sempurna karena si opa menurutku nyanyinya ga jelas, terlalu nge bas malah membuat tak jelas ditelingaku yang sedikit budek ini.

Dan kemudian saat pak dosen mengulang lagu tersbut untuk kedua kalinya dengan cara menghentikan beberapa saat  (pause) setiap kata yang kosong, aku jadi bisa mencerna isi lagu tersebut. Astaga kok persis banget dengan apa yang tadi aku keluhkan pada Luc. Mungkin karena momennya aku sedang galau, eh si air mata meleleh lagi.

Cobalah simak beberpa arti dari bait bai tersebut.
Kamu menikah muda ketika kamu dua puluh (aku enggak, hehe)
Beberapa tahun kemudian kamu begitu sibuk
Dengan tiga, empat anak,
Ga ada banyak waktu kebahagiaan untuk dirimu sendiri 
kamu berada dia antara membersihkan lantai dan mencuci
Cucian kotor dan kompor
Kamu tak diam, bahkan saat dunia matipun
Kamu tetap sibuk di rumah

Trus ada bait bait yang lain yang tak kalah getirnya… anak anak yang ribut bermain sementara kamu sibuk berada di antara letupan kopi dan sang suami berada di balik koran sambil duduk santai. Hahaha ini lagu ajaib sekali. Dan ironisnya aku terbawa suasana memikirkan, oohhh inikah kehidupan kaum wanita?

Ternyata cobaanku tak sampai disitu, dari sekolah aku harus langsung ke tempat les renang, di bis aku iseng memeriksa tas yang berisi perlengkapan renangku, dan benar saja aku tak membawa baju renang. Semalam aku hanya memasukan baju lengan panjang, celana jins dan sepatu renang saja. Ya sejak minggu yang lalu aku harus menggunakan pakaian lengkap saat berenang termasuk sepatu, karena aku sedang sibuk meraih sertifikat B. Tapi tentu saja aku harus memakai baju renang juga karena saat menyelam nanti semua pakaian lengkap harus ditanggalkan dan aku hanya boleh menggunakan baju renang saja. Tak akan cukup waktu jika aku harus kembali ke rumah untuk mengambil baju renang, solusinya adalah aku terpaksa mampir ke toko baju yang terletak tak jauh dari kolam renang, tak ada baju renang untuk dewasa, sialnya di tempat anak anak pun tak ada nomor yang pas untukku, semuanya kecil. Dengan sedikit was was aku mengambil nomor yang paling besar yang ada di rak. Dan betul saja baju renang tersebut tak muat di tubuhku. Dengan bantuan instruktur renang, dia menggunting sedikit baju renang tersebut yang berada di bagian ketiak sehingga aku bisa menggerakan tanganku. Aaahhhhhh leganya.

Dari tempat berenang aku berjalan ke rumah, hari ini Cinta Cahaya mengikuti les tentang nature selama lima minggu, dan hari ini adalah hari terakhir, jadi aku bisa santai sejenak di rumah sebelum pukul 16.30 tiba. Saat merebahkan diriku di kursi, mengintip HP, kulihat ada whats app yang muncul dari seorang temanku. Aku tertawa membaca pesannya. Rasanya ringan sekali pikiranku setelah tertawa panjang.

Pedan tersebut berisi dalam bahasa sunda, tapi aku akan coba menterjemahkannya:
Seorang suami  berdoa pada Tuhan,
Ya Tuhan, aku cape sekali bekerja sampai banting tulang, hingga bermandi peluh. Begitu sampai dirumah aku menyaksikan istriku yang sedang minum teh sambil menonton TV, selonjoran. Ingin aku memberi pelajaran padanya, tolonglah aku Tuhan, rubah istriku jadi aku dan aku jadi dia.

Tuhan mendengar doa sang suami, besoknya sumi teresebut berubah jadi si istri. Begitu bangun tidur dengan tergesa dia langsung ke dapur, menyiapkan sarapan, terus membangunkan kedua anaknya untuk bersiap ke sekolah. Langsung memasukan baju baju kotor ke mesin cuci, setelah anaknya yang besar pergi sekolah, dia mengantar anaknya yang TK ke sekolah, mampir ke pasar, kembali ke rumah, mengeluarkan cucian dari mesin cuci, menjemur pakaian. Setekah beres dia langsung ke dapur memasak, kembali ke sekolah menjemput si kecil. Kembali ke rumah langsung mencuci peralatan yang kotor habis memasak, membersihkan dapur. Setelah anak yang besar datang ke rumah, mereka bertiga makan, saat makan dia ingat bahwa dia harus bayar listrik dan telepon yang sudah waktunya dibayar. Setelah makan dia langsung pergi ke bank untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank dia terus menyetrika baju sambil nonton TV, sore hari dia memandikan anak anaknya, terus membantu mereka belajar, memeriksa PR mereka dari sekolah. Jam sembilan malam dia sudah merasa kecapean dan langsung tidur pulas.

Dua hari dia menjalani perasa sebagai istri, hingga dia tak kuat lagi dan memohon pada Tuhan: Tuhan, aku minta maaf, ternyata aku salah, selama ini aku salah sangka! Aku tak tahan menjalani peran sebagai istri, tolong maafkan aku dan kembalikan aku jadi suami seperti semula.

Tuhan menjawab: Bisa aja, tapi kamu harus menunggu sembilan bulan kedepan, karena saat ini kamu sedang hamil!

Hahahaha, disitu aku tertawa lega. Lega karena aku tidak harus sampai seperti wanita itu, walau ditengah sibuknya aku, aku masih bisa duduk manis didepan komputer untuk menulis, menelepon ibuku atau pergi ke kota seorang diri atau bersama teman untuk melihat barang yang aku mau, atau hal lainnya yang menentramkan hatiku.

Tuhan maha adil, Dia tak akan memberi beban hambanya terkecuali sesuai kemampuanya.

PS: Yayang, jangan lupa kamu bersyukur ya………………… ayo nikmati lagi lagu dari opa Herman, tanpa air mata! Seperti tersurat dalam lagu tersebut…. ini bukan sesuatu yang harus ditangisi…………

Advertisements

21 thoughts on “Waar blijf de tijd?

  1. semangat Yayang.., ada saatnya kita merasa bosa dengan aktivitas rutin.., tapi nanti saat anak2 sudah besar bakal rindu lagi ke masa itu
    #curhatjuga he..he..

    • Aaaahhh betul sekali, bahkan sekarang pun klo mereka ga ada di rumah aku kadang suka merasa kangen, tapi klo lg suasana hati ga karuan sedikit aja mereka nakal, jengkelnya hati ini hahahaha

  2. Semangat terus ya Mbak… melalui lagu Opa Herman itu, saya pikir Tuhan sedang membuka pikiran Mbak :hehe. Saya pun sering demikian, berpikir banyaknya masalah di dunia ini, dan Tuhan selalu mengingatkan saya in the most convenient way :hehe. Selalu ada jalan keluar untuk keluar dari setiap masalah :)).

  3. Saya juga jadi lega mbak habis baca postingan ini, belum tentu ya kita bisa menjalani sesuatu yang kelihatan enak di mata kita, kita harus bersyukur lagi dengan apa yang kita punya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s