Belajar (Tidak Cukup Hanya Dengan Marah)

IMG_20150402_200401776[1]
Catur, salah satu teman sekelasku sewaktu SMA.
Tak banyak yang aku ketahui tentang dirinya, padahal dua tahun aku sekelas dengannya. Walau dulu rumahku dijadikan markas tempat anak anak berkumpul karena tempatnya yang strategis, di jalan besar buah batu. Tapi Catur bukan termasuk yang sering nongkrong di rumahku, ya lebih banyak teman laki laki yang dulu suka nongkrong di jalan buah batu.

Tapi kini, setelah ribuan mil jauhnya antara aku dengan dirinya, aku jadi semakin mengenalnya. Ya, mengenal dirinya dari tulisan tulisannya. Jadi terkaget kaget sendiri saat mengetahui kesukaannya dan tingkah lakunya ternyata tak jauh beda dengan diriku. Juga kegemarannya akan menulis.

Hari ini kembali aku membaca tulisannya, terdiam sejenak dan kemudian mengagumi kegigihannya. Ternyata ada ketidaksamaan antara aku dan dirinya. Dia, seorang Catur begitu tabah, sabar dan gigih mengajarkan anak anak membaca, sementara aku jangankan mengajarkan anak orang lain, mengajarkan Cinta Cahaya pun aku kadang menyerah.

Saat awal anak anak masuk sekolah aku sudah berkata pada Luc, bahwa aku akan menyerahkan cara pengajaran seluruhnya pada sekolah, aku tak akan mengajarkan Cinta Cahaya membaca atau berhitung kecuali mereka yang minta, aku akan melihat seperti apa metoda yang diberikan pada anak anak di sekolah, kemudian mengcopy cara pengajaran tersebut dengan tujuan aku tak ingin membuat Cinta Cahaya menjadi bingung jika cara yang aku ajarkan tidak sama dengan yang diberikan disekolah. Karena aku pernah membaca cara mengenalkan alfabeth pada anak anak umur 4-6 tahun (kleuteur) bukan A B C D seperti untuk anak umur 7 tahun keatas tapi dengan cara mengikuti suara seberti yang dikeluarkan huruf tersebut misalnya b dibaca beu, c seu d deu begitu seterusnya.

Tapi kemarin sore aku bertemu dengan anak Indonesia, berusia empat tahun sama dengan Cinta Cahaya, dia sudah bisa membaca dengan lancar, berhitung dengan baik, dan menurut ibunya, anak tersebut belajar dibawah bimbingannya setiap hari.
Tentu aku tak akan seperti dia yang begitu telaten mengajarkan anaknya, hari itu aku mencoba mengenalkan huruf huruf pada Cinta Cahaya dengan sebelumnya membaca panduan terlebih dahulu bagaimana cara mengenalkan hurf dengan benar pada anak umur 4 tahun.
http://www.veiliglerenlezen.nl/
Hanya berhasil 10 menit, tak apa apa pikirku dalam hati lumayan.

Sambil menghibur diri, aku berkata dalam hari, tentu setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak anaknya. Jika aku seperti membiarkan Cinta Cahaya selalu bermain, karena itulah yang ingin aku lihat pada anak anakku, bergembira. Mereka sudah bersekolah dari pagi hingga pukul 3 sore, datang ke rumah, waktunya bermain dan rileks pikirku. Untuk saat ini. Tentunya nanti jika semakin bertambah usia aku harus memberikan jam belajar pada mereka. Untuk saat ini, aku hanya memberikan jam belajar setiap hari rabu saja sepulang sekolah untuk belajar iqro. Di bawah bimbinganku. Dan ternyata mereka belajar cepat.

Kembali pada Catur temanku, kami pernah berdiskusi masalah bagaimana menerapkan cara menyampaikan pelajaran matematika dasar pada anak anak. Dia yang aku tahu bukan seorang guru, tapi dia mencari metoda terbaik untuk anak anak didiknya, anak anak tetangga di lingkungan rumahnya yang datang tiap malam ke rumahnya untuk belajar padanya. Dia, mengajarkan dengan sungguh sungguh dan gigih. Dia, tak dibayar barang serupiahpun……

Katanya padaku, aku prihatin pada anak anak masa depan….dan aku ingin mereka menjadi generasi yang baik.

Yayang, banyak yang dapat kau pelajari dari dirinya. Iklas, adalah kunci utama untuk meraih segalnya. Sesulit apapun, jika kita iklas akan selalu ada jalan.

Terimakasih Catur, hari ini setelah aku membaca blogmu, aku akan lebih sabar lagi jika sedang mengajarkan Cinta Cahaya mengaji… Tak cukup hanya dengan marah, seperti katamu…. Terima kasih kawan….

23 Januari 2014

Berikut tulisan Catur; Tidak Cukup Hanya Dengan Marah

Be a ba ha u hu … hahu

Ge a ga je i ji… baji

Es euseu p e pe de a da …segala

Em e me m pe u pu en ye a i hanya di eja saja dan tidak berhasil dirangkai. Aku menghela nafas. M anak kelas empat Sekolah Dasar yang sudah empat malam ini datang ke rumahku untuk belajar matematika, ternyata belum bisa membaca. Mungkin lain tanggapanku kalau dia masih duduk di kelas satu atau kelas dua, tapi ini kelas empat ??

Tidak.. aku tidak marah ataupun kesal pada M. bukan kesalahan dia sehingga dia belum bisa membaca. Aku menebak orang dewasa di rumahnya mungkin tidak paham dengan kondisi ini. Atau kalaupun paham mereka memiliki keterbatasan dalam mengajarkan M membaca. Seperti ketika beberapa waktu yang lalu aku mengundang para ibu dari anak-anak yang belajar di rumah untuk melaporkan perkembangan anak-anak dan memberi tahu metode yang aku gunakan, mereka langsung menyerahkan pengasuhan anak-anaknya padaku. “Terserah Bundalah mau dikumahakeun, yang penting anak-anak bisa belajar. Di rumah mah tara belajar da saya na oge teu ngarti. Tepok jidat deh..

Tapi aku juga tidak menyalahkan ibu-ibu ini. Ketidakmampuan mereka memahami materi yang dipelajari anak-anaknya dikarenakan mereka hanya sedikit saja belajar di sekolah. Seperti ribuan perempuan lain di Negara ini, drop out dari Sekolah dasar dan menikah muda menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka.

Tapi tidak untuk M !

Bukan masa depan itu yang ingin aku lihat dari anak cantik tetanggaku ini. M generasi lebih lanjut dari kami. Dan kalau dia tetap dalam kondisi seperti sekarang, bagaimana dia menghadapi tantangan nanti?

Bicara mengenai rasa kesal, tentu saja aku masih kesal. Aku kesal pada pihak-pihak yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan masyarakat banyak tapi tidak memanfaatkannya, aku kesal pada institusi yang diberikan wewenang untuk mendidik tetapi bisa dengan mudahnya meloloskan M setiap tahunnya untuk naik kelas padahal sudah jelas-jelas kemampuan membacanya parah sekali. Jadi nilai di raport yang dijadikan acuan seorang anak menguasai bidang pelajaran yang dia pelajari selama satu tahun di tingkatnya sehingga boleh naik ke tingkat diatasnya itu datangnya dari mana ??? pulpen yang kepeleset ???

Ketika prestise lebih penting dari prestasi. Kebohongan lebih berarti dari kebenaran, menyelundupkan anak untuk naik tingkat lebih keren dibandingkan membiarkannya tinggal kelas untuk menyatakan bahwa dia belum cukup mampu, pada saat itulah anak-anak diajarkan bahwa curang itu tidak salah!

Menyedihkan… ketika arti “belajar” tergelincir menjadi rutinitas palsu lainnya. Menyedihkan ketika anak-anak ini hanya menjadi obyek dari target pencapaian angka di atas kertas.

Tapi sudahlah…

Cukup bersedihnya, sudah cukup kesalnya. Hanya bersedih dan merasa kesal tidak akan merubah keadaan.

Jadi, maaf M, kalau aku agak galak mulai malam ini. Mari berbalik sebentar, mengenal huruf demi huruf. Tak akan kubiarkan engkau meloncat pindah ke kata berikutnya jika kata yang kau eja belum tepat. Tak akan kubiarkan pula engkau pindah ke halaman berikutnya, jika kau hanya menghapal. Kau boleh tidak suka padaku, sekarang ataupun nanti. Tapi percayalah, usaha kita sama sekali bukan buang-buang waktu.

Advertisements

17 thoughts on “Belajar (Tidak Cukup Hanya Dengan Marah)

  1. Salut buat kawan kamu yayang aku juga ingin banyak belajar dengan dia.
    Memang tidak semudah membalikan telapak tangan mengajari anak belajar membaca.
    Seperti pengalaman aku waktu kecil.

  2. Salut banget untuk temen teteh (catur),, dan semangat teteh yayang, teteh pasti bisa jadi bunda sekaligus guru terbaik buat cinta dan cahaya..karena setiap ortu punya gaya masing – masing dalam mendidik anak.

    • Terima kasih Gusti, Catur emang sangat menginspirasi.
      Betul tiap orang tua punya cara sendiri sendiri kadang berbeda tapi tujuannya sama ingin agar anak anaknya selalu berada dlm kebaikan

  3. Menginspirasi sekali temen Mba yayang. Aku rasa gak cuma ikhlas, tapi juga sabar. Aku ngajar potty training aja bawaannya emosi jiwa *payah ya* Eh sama dong, Teona juga lg belajar huruf hijaiyah. Semangat ya cinta dan cahaya untuk belajar iqro nya. Sudah iqro berapa sekarang? 🙂

    • Terima kasih Frany, succes buat Tenang potty training nya. Ah untunglah aku ga ngalamin ngajarin Cinta Cahaya potty training, sebelum umur 3 tahun dia dititipin di Day care seminggu tiga kali. Pas umur tiga tahun pihak Day care bilang, ga usah dipakai pokok lg, mereka udah bisa pipis sendiri kok, eh ternyata betul pas awal awal masih ngompol juga tapi sambil lari ke toilet, biasanya kelupaan karena keasyikan main.
      Hiks cinta cahaya masih iqro 1

      • Asiknyaaa. Iya nih aku masih hrs berjuang+sabar karena ternyata susaahh banget atau Teona aja yg belum ngeh, entahlah. Semoga ga kelamaan. Santai aja, Mba. Asal tekun pasti makin lancar ke iqro 2 dan seterusnya 🙂

  4. Dia figur pendidik sejati. Pendidik, bukan sekadar guru. Standar etika tinggi seperti itulah yang dibutuhkan untuk bisa menelurkan generasi penerus yang mampu membawa bangsa ini pada tahun-tahun mendatang. Salut, Mbak. Saya merinding baca tulisan ini. Merinding ketakutan kalau semua anak seperti M yang kelas 4 SD belum bisa baca terus bisa naik tingkat karena pulpen terpeleset, tapi merinding takjub bahwa ada pendidik yang peduli dan mau mendidik supaya ia berhasil.

    • Betul Gara, Catur seseorang yg istimewa. Saat kami bertukar pikiran tentang cara mendidik, aku belajar banyak dari dia, bicara dengan dirinya adalah ilmu yg bermanfaat. Kadang ngeri mendengar keluhan nya tentang banyak hal di Indonesia terutama tentang pendidikan. Catur adalah orang yang iklas dan peduli. Semoga dia diberikan kemudahan dalam setiap usahanya.
      Konon kini banyak kasus kasus pulpen yang kepeleset.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s