Sebuah cerita masa lalu

IMG-20150403-WA0008[1]

Seorang wanita bernama Lay Kim Lian yang lahir di tahun 1901, empat anak lahir dari perkawinan pertamanya, dan dia harus kehilangan suami tercinta saat keempat anaknya berusia belasan. Pertemuannya dengan seorang aktifis pergerakan Tionghoa yang datang ke Surabaya dan keduanya bertemu di sebuah kota kecil di Jawa Barat yaitu Tasikmalaya sebut saja Soe mewarnai kehidupannya hingga terjadilah pernikahan kedua dan membuahkan seorang anak lelaki yang dipanggil Thay.

Lahir seorang anak adalah berkah dan kegembiraan. Apakah begitu juga dengan sang ayah? Tentu saja, tapi jalan hidup tak selamanya sesuai rencana, sang ayah yang konon mahir beladiri kungfu dan dikenal sebagai suhu harus meninggalkan keluarganya demi melanjutkan pengembaraannya.

Sudah menjadi suratan takdir si kecil tak mengenal sosok ayahnya, hanya cerita sepihak dari sang bunda yang tak selamanya dia pahami karena tak sesuai dengan sosok ayah yang dirindukannya.

Jadi seperti apa nak sosok ayahmu menurut versimu? Tentu dia seorang yang gagah berani, yang memperjuangkan kebajikan, yang selalu membela si lemah dan memperjuangkan kebenaran.

Apa yang sang ayah pikirkan saat dia pergi meninggalkan istrinya dan bayi kecilnya? Apakah dia mempunyai misi seperti sosok Khouw Ah Soe dari cerita Anak semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer?

Telah bersumpah kami menjadi pekerja yang baik bagi gerakan Angkatan Muda….. Sebab semua percuma kalau toh harus diperintah oleh Angkatan Tua yang bodoh dan korup tapi berkuasa, dan harus ikut jadi bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan. Percuma Tuan, sepandai pandainya ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan. Kepercayaan itu justru kekuatan yang menggerakan kami. Kami tak pernah dijajah oleh ras lain, kami takkan rela mendapatkan pengalaman demikian. Sebaliknya kami pun tak ada impian untuk menjajah ras lain. Itu kepercayaan. Orang tua tua kami bilang: Di langit ada sorga, di bumi ada Honchou, dan kami menambahkan: di hati ada kepercayaan…….

(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Dari Lentera Dipantara, hal viii, cetakan 13, 2011)

Harapan si bayi kecil itu adalah dia ingin sekali mencari jejak kehidupan sang ayah di Surabaya. Pun ketika si bayi kecil itu sudah menjadi seorang kakek dan mengantarkan anak pertamanya untuk bertugas di kota Surabaya, sambil memeluk si sulung dia berkata lirih….. Semoga suatu hari nanti kamu bisa menemukan jejak kakek moyangmu di Surabaya.

Istilah Tionghoa yang berasal dari kata zhonghua dalam Bahasa Mandarin  dibuat sendiri oleh orang Tionghoa di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa orang Tionghoa yang datang ke Surabaya adalah mereka yang bersal dari suku Hokchia, selain Surabaya mereka juga tinggal di Bandung, Cirebon dan Barjarmasin. Sedangkan orang Tionghoa yang banyak menetap di Jakarta, Medan, Makasar dan Menado adalah mereka yang berasal dari suku Kantonis.  Selain itu ada suku suku Hokkian, Hanian, Hakka yang tersebar di seluruh bumi Indonesia.

Thay kecil tumbuh dalam didikan sang bunda yang mandiri, Hidup prihatin di zaman pergolakan adalah hal yang lumrah karena semuapun  mengalaminya, tapi toh diawal tahun 50 an dia sudah dileskan bahasa Inggris oleh sang bunda dengan bayaran yang selalu terlambat karena sang bunda harus mengumpulkan uang dari berjualan abon buatannya.

Selama Orde Baru dilakukan penerapan ketentuan tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, atau yang lebih populer disebut SBKRI, yang utamanya ditujukan kepada warga negara Indonesia (WNI) etnis Tionghoa beserta keturunan-keturunannya. Walaupun ketentuan ini bersifat administratif, secara esensi penerapan SBKRI sama artinya dengan upaya yang menempatkan WNI Tionghoa pada posisi status hukum WNI yang “masih dipertanyakan”.

Di akhir tahun 60 an Thay merubah namanya menjadi lebih Indonesia sesuai dengan ketentuan adanya pelarangan bahasa Mandarin di Indonesia.  Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang. (Baca: Cerita Tionghoa Indonesia)

Seperti banyaknya warga Tionghoa lainnya, Thay pun mendaftarkan dirinya ke fakultas kedokteran di Unpad dan diterima. Takdir mengatakan lain karena disaat yang hampir bersamaan dia pun diterima di fakultas teknik IKIP Bandung, dan dia menetapkan pilihannya di sana. Di fakutas itu dia berjumpa dengan teman hidupnya. Yang selalu dia yakini bahwa ketentuan Tuhan adalah keputusan yang paling baik.

Menikah, memboyong dan merawat ibunya untuk tinggal bersama keluarga kecilnya adalah bakti yang dia lakukan hingga sang bunda tutup usia. Santun dan jujur adalah ciri yang melekat erat dalam dirinya selain rendah hati, hampir semua orang mengenalnya mengatakan itu akan sosoknya.

Tak seorangpun tahu apakah dia masih ingin mengetahui tentang asal usulnya? Rasanya tak mungkin sama pikiran Thay  seperti yang dituturkan Pramudya Ananta Toer,

Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat….

******

Hari rabu tanggal 18 Februari 2015, pukul 9 pagi waktu Rotterdam, aku tengah asyik mengobrol dengan ayahku di telepon secara tiba tiba dia bertanya padaku….

Yayang, besok tahun baru Imlek, apa yang akan kau lakukan? Kamu mau kemana hari itu?

Aku menjawab, bahwa tak ada acara khusus di hari itu. Aku tak pernah merayakan tahun baru Cina sejak berpuluh tahun lamanya, rasanya sejak nenekku tiada, kami tak pernah merayakannya secara khusus………

Ya, Thay yang santun, rendah hati dan jujur adalah ayahku……….

PS: Selamat ulang tahun yang ke 73 ayah paling hebat sedunia, semoga selalu bahagia dan sehat sepanjang hidupmu!

Advertisements

25 thoughts on “Sebuah cerita masa lalu

  1. tulisan2 mbak yayang selalu bagus2,aku suka banet baca postingan2 nya. selalu menginspirasi. cerita kehidupan ayahnya luar biasa ya.
    Selama ulang tahun untuk ayahnya ya mbak,semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂

  2. Mengharukan ceritanya Mbak Yayang, aku bisa relate karena dari kecil banyak cerita juga dari papi mami dan kakek nenek. Malah pas jaman pergolakan etnis itu, entah kenapa Mami dibilangnya WNA (padahal dia lahir dan tumbuh di Indonesia) sampe akhirnya harus mempercepat nikah dengan Papi supaya nggak dideportasi ke Cina… gimana coba ke sana nggak kenal siapa2. Selamat ulangtahun ya papanya Mbak Yayang 🙂

  3. selamat ulang tahun buat ayah..
    kisah hidup yang tak selalu indah tapi sudah ditulis dengan indahnya..

    jadi merenung.., pencarian asal usul dan akar itu pasti sangatlah penting artinya agar kita merasa lengkap

  4. Terharu baca ceritanya Yayang. Selamat ulang tahun buat Ayah, sehat selalu dan berkah selalu ada disetiap hari Beliau 🙂

    Akupun penggemar Pramoedya 🙂

  5. Selamat ulang tahun ayahnya Mbak Yayang, semoga sehat selalu, panjang umur, keluarga dan anak-anak juga diberi kesehatan dan umur yang panjang :)). Sosok ayah memang sosok yang tak terganti ya Mbak. Salut dengan perjuangan yang telah beliau lalui :)).

  6. Salam saya buat ayah terhebat ya mbak. Saya selalu nangis kalo denger cerita betapa hebatnya ayah di mata anak2nya. Salam kenal juga dr anak yg merindukan sosok ayah hebat dlm hidupnya. *maaf jadi melow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s