Hukuman mati

Sebetulnya untuk menuliskan judulnya saja, aku sudah maju mundur. Haruskah aku tulis kejadian yang sekarang tengah ramai dibicarakan? Keinginan untuk menulis ini muncul kemarin, saat kembali Luc menanyakan pendapatku tentang hukuman mati yang dilaksanakan baru baru baru ini di Indonesia termasuk diantaranya salah satu warga negara Belanda. Tapi karena disini aku tak begitu bisa bercerita dengan mudah pada seseorang maka setelah kami ngobrol, aku hanya menyimpannya dalam hati saja. Dan rasanya untuk menuliskannya sekedar menumpahkan uneg uneg aku masih ragu untuk melanjutkannya, Β aku lebih menjaga mulut untuk urusan sensitif seperti ini, apalagi saat kasus Charlie Hebdo, yang membuat Luc uring uringan aku hanya membicarakan dengan Luc saja dan kemudian dibicarakan dengan dosen kami di kelas, dan menurut cerita dia, dosenku sampai depresi selama dua hari mendengar kasus Charlie.

Jadi baiklah mari kita bercerita sedikit saja…… Saat aku dimintai pendapat, aku masih belum bisa menjawab secara tegas apa pendapatku.Intinya aku hanya menjawab sebaiknya kita menghormati setiap keputusan yang telah diambil dan ditetapkan.

Luc bilang dia kaget, karena Jokowi tidak memberikan grasi pada para terdakwa, katanya seperti tidak sesuai dengan pembawaannya yang penuh kasih dan berjiwa sosial. Kemudian Luc mengungkapkan bahwa hukuman mati di Indonesia tidak begitu tinggi prosentasenya, kemudian ada lagi kasus hukuman mati pada tahun 2013 dan kemudian muncul lagi di awal tahun ini.

Saat aku menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus melaksanakan janjinya, misalnya untuk melaksanakan komitmen bahwa bangsa Indonesia tidak akan berkompromi bagi pengedar obat oabat terlarang dkknya maka saat hukuman mati yang tlah diputuskan maka itulah yang harus dilaksanakan.

Kemudian Luc menyanggah, tapi kan ini menyangkut hidup seseorang. Tapi kan, seorang pengedar akan membuat generasi muda Indonesia hancur gara gara obat obatan terlarang, sahutku. Kemudian ucap Luc, tapi kenapa hanya pengedar saja yang disalahkan? Bukankah orang yang membeli mempunyai pilihan untuk membeli atau tidak? Kenapa masih juga membeli barang yang terlarang? Lagi pula ekstasi tidak membuat orang ketergantungan, beda lagi dengan mariyuana dan heroin yang memang bisa membuat orang yang telah memakainya bisa menjadi budak drugs. Oh ya? Terus terang aku ga tau untuk urusan kadar obat obatan terlarang.

Tahun lalu kami pernah berdiskusi di kelas tentang masalah hukuman mati, kebetulan saat itu teman sekelas yang dari Asia hanya aku dan Ling (China). Teman sekelas kami lainnya tak percaya saat kami mengungkapkan bahwa hukuman mati pun berlaku di negara kami, kemudian aku mencontohkan bahwa hukuman mati yang dijalankan di Indonesia yang aku tahu adalah mereka yang terlibat dalam urusan drugs, contohnya bandar narkoba dengan jaringan yang luas dan membahayakan. Umumnya teman teman sekalasku hanya tahu bahwa hukuman mati hanya dijalankan di Arab Saudi dan Amerika.

Tentu saja semua teman sekelas kami menentang hukuman mati (seperti yang aku kira), kemudian dari mereka sepakat bahwa hukuman mati pantasnya dijatuhkan pada pemerkosa, pedofil atau pembunuh. Sama seperti Luc mereka berasumsi bahwa untuk kasus narkoba ada satu pihak yang masih bisa menghidar dari kejahatan tersebut dengan tidak membeli kejahatan (narkoba) tersebut.

Kami tahu bahwa dengan dijalankannya hukuman mati yang terjadi pada warga Belanda, membuat heboh di negeri ini, hingga kemudian Ambassador Belanda di Indonesia dipanggil ke Belanda untuk dimintai keterangan. Tapi menurutku, jika itu keputusannya sudah benar dan sepakat maka hukuman harus dilaksanakan saja, kan? Jadi hukum benar benar dilaksanakn tanpa pandang bulu. Tapi kaannnnnnnnn…. (lagi lagi Luc menyanggah) ini masalah hidup seseorang, yang mungkin masih bisa diperbaiki, tapi tidak dengan memvonis mati.

Advertisements

22 thoughts on “Hukuman mati

  1. dilema ya, di satu sisi kalau bicara kematian adalah milik Tuhan, tapi di sisi lain ada juga peraturan dan undang2 yang harus ditaati..Dan ini adalah rules nya negara Indonesia dan bukan peraturan Belanda atau Brazil. Si warga belanda itu memang punyak hak asasi untuk hidup, tapi anak bangsa RI juga perlu hak itu.
    Narkoba tuh udah masuk di desa2 jg lho, asli kasihan kalau baca statistik korban2 narkoba.

  2. Iya dilema mb. Satu sisi yg kontra hukuman mati pasti blg mrk punya hak hidup, dan bisa saja habis ini mereka tobat. Tp kan g ada jaminan 😦 yg pasti smpe mereka dijatuhi hukuman mati pasti mmg pelanggaran hukumnya berat sekali, pihak yg dirugikan jg pasti byk bgt, dan potensi hal yg sama terulang lg klo mrk bebas jg mgkn sgt tinggi.

    • Iya pro kontra memang selalu ada, dan itu sah sah saja, semoga kita menyikapi nya dengan baik gak saling ngotot, karena berpendapat itu sebuah hak juga.
      Makasih Ros, buat pendapat nya

  3. Aku anti hukuman mati Mbak, mau kejahatan jenis apapun, bukanlah hak negara atau pemerintah untuk mengambil nyawa warga negara-nya atau asing. Mbak sendiri gimana rasanya melihat TKI atau TKW yang dihukum pancung atau rajam? Kadang kejahatan itu dilakukan karena ada permasalahan sosial jadi latar belakang bisa diurut panjang. Secara prinsip, membalas kejahatan dengan pembunuhan seperti hukuman mati seperti double standar.
    Sayangnya ya hukum Indonesia masih katro dan terlalu banyak penduduk yang pro hukuman mati. Hal ini dimanfaatkan oleh politikus dan salah satunya ya Jokowi. SBY dulu itu hati-hati banget dan masih mau kasih grasi walaupun dimaki-maki dan tidak disukai kebanyakan orang Indonesia, tapi Jokowi tidak mau memberikan grasi. Dia punya kesempatan untuk menunjukan humanisme-nya. Maaf ya mbak, untuk kali ini saya sungguh kecewa dengan Jokowi dan sudah pupus harapan saya bahwa HAM di Indonesia akan ditegakkan oleh beliau.

    • Saya sependapat dengan Mbak Indah. Hak untuk mencabut nyawa manusia itu ada pada Tuhan dan bukan pada negara.

      Jika dikemudian hari ditemukan bukti baru/novum atau bahkan teknologi baru yang membuktikan orang-orang ini tidak bersalah, bagaimana cara negara mengembalikan hak mereka yang sudah dieksekusi?

      Mengatasi masalah narkoba, menurut saya juga bukan dengan mengeksekusi kurirnya, kurir ini kebanyakan hanya orang2 yang terjebak dengan kemiskinan atau bahkan tertipu (yang lagi2 terjadi karena kegagalan negara sebagai duty bearer untuk memenuhi hak warga negaranya).

      Sekali lagi saya sependapat dengan mbak Indah bahwa penyelesaian kasus2 HAM serta perlindungan HAM di Indonesia akan mundur, karena adanya kegagalan Jokowi memahami HAM. Dan kali ini saya angkat topi salam hormat sama SBY yang lebih menghargai hak hidup.

    • Waktu nulis tentang hukuman mati ini sempat kepikiran buat menyisipkan cerita tentang hukuman mati TKI juga, dulu waktu baca berita tentang pihak Indonesia yg mengumpulkan uang utk bayar denda agar hukuman tersebut batal, suami sempat bertanya klo bisa dia ingin ikut nyumbung juga.
      Gak perlu minta maaf mba πŸ˜‰ senang bisa mendengar pendapat yg lain, karena kami hanya berbicara berdua saja dgn suami dan aku orangnya ga speak up… Mikir terus, bahkan saat suami tanya tentang pendapat tersebut aku susah banget jawabnya… Ragu ragu terus…
      Thanks Indah untuk berbagi pendapat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s