Umami

IMAG3068Tanggal 3 kemaren Luc ulang tahun, mau makan makan dimana nih? Di Umami kata Luc. Restauran Umami ditemukan secara tidak sengaja. Kami sedang jalan jalan di pasar Blaak dan kelaparan, tak jauh dari situ kami melihat restaurant kecil berlampu terang, biasanya kalo berlampu terang paling snack bar atau sebangsa restauran siap saji yang tak mahal, bukan cafe cafe gitu lah. Saat melewati Umami kami membaca daftar menu di jendela restaurant dari luar. Saat itu sekitar pukul lima sore sudah gelap karena musim dingin. Tak seorangpun kami lihat di dalam restaurant. Tutup pikir kami. Tapi Luc melihat opening tijd, dan melihat restaurant itu sudah buka. Ah ga laku, pasti ga enak, tuduhku.

Akhirnya kami melewati saja restaurant tersebut dan mencari restaurant Italy yang pasti aman buat anak anak karena mereka suka pizza.

Nah minggu lalu, saat aku bertanya pada Luc mau makan dimana saat nanti berulang tahun? Dia langsung menjawab bahwa dia ingin makan di Umami. Ternyata Luc langsung searching di internet setelah kami pulang ke rumah sesaat setelah kami secara kebetulan menemukan restaurant umami yang penampakannya seperti snack bar itu. Kata Luc sepertinya restauran yang menarik karena restaurant itu adalah restauran masakan Asia yang dikombinasikan dengan masakan Prancis. Entahlah apakah hanya penampilannya saja atau rasanya yang disesuaikan dengan lidah Eropa atau bahannya yang di campurkan. Pokoknya informasinya seperti itu.

Sebelum pergi Luc berkali kali mengingatkan Cinta dan Cahaya untuk duduk manis selama di restaurant nanti karena konon termasuk restaurant berkelas pula. Masa sih? Kok penampilan nya biasa aja malah berkesan kayak snack bar? Hahaha.

Saat di mobil Luc langsung bilang bahwa dia tidak memesan tempat terlebih dahalu, jadi jika kami ditolak maka kami akan makan di restaurant Pho, restauran Vietnam favorite kami.

Kami tiba lima belas menit setalah pukul 5 sore, tak ada serang pengunjungpun disana (selain kami tentunya). Pelayan bertanya apakah kami sudah memesan tempat, saat Luc menggeleng, si pelayan bertanya apakah kami akan makan lebih dari pukul delapan malam? Jika kami tak akan menghabiskan waktu lebih dari pukul delapan malam, maka dia punya tempat untuk kami, Luc mengiyakan sambil berseloroh jika lebih dari pukul delapan malam kami masih makan maka usirlah kami.

Maka duduklah kami berempat dengan tenang ditempat yang ditunjukan setelah tanda reserved disingkirkan terlebih dahulu, saat aku memandang ke meja lain aku hanya mendapati setiap meja sudah dipesan. Aha, laku juga ini restaurant. Pelayan datang kembali sambil membawa dua buah menu, kemudian bertanya pada kami apakah kami pernah datang ke tempat ini? Kemudian dia menjelaskan aturan mainnya, bahwa ada dua opsih, pertama kami bisa memilih menu 3 gangen yang telah ditentukan juru masaknya hari ini, atau kami bisa makan all can eat gitu, dengan aturan yang berbeda dari restauran Sumo, restauran yang sudah familier bagiku.

Di umami di sediakan tiga babak yang setiap babaknyanya kami hanya boleh memilih maksimal dua makanan saja, dan tiga babak tersebut harus kami isi secara langsung. Karena disini tidak dibedakan harga untuk dewasa dan anak anak, maka si pelayan langsung memberikan kebijaksanaan bahwa Cinta dan Cahaya boleh berbagi, artinya mereka berdua akan dihitung satu saja.

Baiklah kalau begitu artinya kami bisa memilih enam macam menu untuk setiap babaknya. Saat aku mengisi ketiga babak menu tersebut aku sedikit khawatir kami tak mampu menghabiskan makanan tersebut. Apakah akan kena denda jika meninggalkan makanan yang tidak dihabiskan seperti di restaurant Sumo? Mengingat kami bukan termasuk yang banyak makan.

Dan inilah makanan yang kami pesan
IMAG3067

Untuk babak pertama kami memesan Vinai beef, peanut chicken, manggo prawns, gado gado, umami sushi mix dan umami veggie roll. Begitu keenam makanan tersebut datang, aku gembira dengann penampilannya, menggoda sekali, dan traalaaaaaaaaa melihat porsinya aku tak kuatir untuk melahap semuanya, porsinya kecil. Ya mirip di restaurant Prancis yang masakannya seuprit disajikan di piring besar dengan dekorasi minimalis tapi cantik. Umami hampir mirip mirip gitu lah walau penyajiannya ga di piring super lebar dan cantik. Tapi di tempat atau piring yang sesuai dengan kapasitas isi makanannya.

PhotoGrid_1420401857414[1]

Babak I

Manggo prawns adalah makanan paling enak untuk babak pertama. Aku mengira akan menyerupai manggo thai salad, ternyata salah besar. Disitu hanya tersaji empat buah udang diatas daun daun salade mix itali yang biasa. Lalu dimana mangganya? ternyata hanya ada empat buah tutik sauce yang setelah aku colek itu sauce mangga, weleh weleh…. Tapi mak enaknya luar biasa. Untuk gado gado karena porsinya mini sekali maka rasanya terasa luar biasa hahaha, hanya ada tauge rebus yang dilumuri minyak olive kemudian ditutupi oleh satu telr rebus yang diiris tipis dan dibubuhu sauce kacang dan dihiasi dua buah kerupuk singkong pedas biasa yang bisa kita dapatkan secara mudah di supermarket dan ditaburi daun koriander. Dengan tiga kali hap menggunakan sumpit maka habislah gado gado tersebut ke perutku, sementara dua kerupuk mungil sudah sedari tadi dicolong Cinta daj Cahaya.

Setelah semua habis, pelayan mengangkut semua piring kotor. Sekitar sepuluh menit kemudian babak kedua sudah tersaji di meja. Makanan yang kami pesan adalah Orange chicken, Lamb skewer, tempura prawns, lemon fish, mini springroll, tempura enoki.

Dan jagoan untuk babak dua adalah lemon fish. Ikan putih yang aku sendiri tak tau jenisnya (karena menunya sudah diambil) itu dibalut terigu dan diboreng begitu saja kemudian di hiasi oleh saus lemon yang creamy dan lembut, wah enak pokoknya. Lamb skewer berupa daging kambing yang digoreng dengan dibalut tepung terigu juga dan disajikan dalam bentuk sate dan ditambahi kecap manis. Enak dagingnya lembut dan berasa bumbunya. Untuk mini springroll tak ada menariknya sama sekali dan aku curiga kemungkinan lumpia mini itu hanya diambil dari frezzer saja dan banyak dijual di supermarket hahaha secara aku tak tau persis rasanya karena empat buah mini springroll tersebut habis dibabat si kembar. Untuk tempura prawn rasanya biasalah seperti tempura pada umumnya sedangkan tempura enoki yaitu gorengan jamur tak begitu istimewa karena terlalu banyak minyak yang aku rasakan saat mengunyahnya di mulut. Oh ya yang menarik untuk anak anak adalah chicken orange, ayam itu diolah seperti chicken katsu di hokben hanya dibubuhi saus creamy orange.

PhotoGrid_1420400567797[1]

PhotoGrid_1420402797306[1]

Babak II

Nah setelah babak dua, perut mulai terisi dong, berharap babak tiga akan muncul tak secepat babak dua mengingat perut yang ingin beristirahat sejenak, sementara dua anak kembar yang duduk manis di depan kami mulai berceloteh bahwa mereka sudah selesai dengan makanan mereka dan tak mau makan lagi malah meminta ice cream seperti biasanya kalau selesai makan di restaurant sebagai

PhotoGrid_1420399945301[1]

PhotoGrid_1420403115214[1]

Babak III

Dan babak ketiga pun datang. Aku terkejut begitu porsinya lebih banyak dari babak satu dan dua, dan yang lebih membuat ku khawatir adalah makanan tersebut ditambahi dengan dua mangkuk bakmi dan satu mangkut nasi goreng. Waahhh maaltijd alias makanan utama yang datang ternyata. Untuk babak tiga ini kami memesan teriyaki chicken, green lamb, black been beef, bangkok prawn, cucumber quinoa, tofu wrap. Babak tiga ini menurut ku yang paling enak adalah tofu wrap, yang aku kira tahu biasa ternyata jamur yang dibungkus kembang tahu dalam kuah mayo yang encer. Sedangkan menurut Luc jagoan babak tiga adalah cucumber quinoa yaitu sup mentimun.

Ternyata kekhawatiranku tak terjadi, kami mampu menghabiskan makanan yang tersaji kecuali dua buah bakmi dan satu nasi goreng yang sama sekali tak mai sentuh (untunglah kami tak kena denda seperti yang aku khawatirkan).

Untuk makanan secantik dan selezat itu dihargai 34,95 euro per orang belum termasuk minuman dan ice cream. Ditotal tentu saja mahal apalagi jika dibandingkan di Sumo yang hanya 18,5 euro saja untuk lunch dan 24 euro untuk dinner per orang. Tapi menurut Luc sebandinglah dengan kelezatan dan penampilannya.

Seperti site Umami yang aku baca adalah Umami membuat anda berkenalan dengan masakan asli Asia yang disajikan dengan teknik memasak Prancis yang elegan dalam nuansa modern dan kontemporer. Restauran elegan yang fokus pada kualitas, kesehatan kuliner yang tinggi dengan harga yang terjangkau.

Apakah seperti itu? Secara kasat mata Β ya! Tapi ternyata saudara saudara, satu jam setelah kami kembali ke rumah, Luc mengeluh bahwa dia merasa tenggorokannya berasa asam, kayak ingin muntah. Pukul 10 malam dia memilih tidur saja karena tenggerokannya tak menentu. Aku menyusul satu jam kemudian ke kamar, aku tiba ke kamar dia malahan lari ke WC. Dan aku mendengar dia muntah disana. Ahhh Luc tragis benar nasibmu memuntahkan makanan lezat hari ini di hari ulang tahunmu.

Dan pagi tadi, aku bangun tidur dengan tenggorokan yang tak nyaman. Luc segera membuatkan teh manis, tetap tak menolongku. Tapi aku tidak muntah seperti Luc. Hingga saat aku akan mandi pukul 12 siang, barulah aku memuntahkan makanan lezat yang aku santap kemarin. Ya Tuhan!

Kami berdua segera bertanya pada si kembar apakah mereka juga ingin muntah, mereka menggeleng. Kenapa hanya kita berdua? Aku meinta Luc untuk searching di internet apakah ada kasus yang sama seperti kami setelah makan di umami? Tak kami temukan kasus yang sama pada kami, jadi apa sebabnya? Mungkin kita terlalu banyak makan saja akhirnya itu kesimpulan kami berdua, padahal ga banyak banyak amat ya. Atau mungkin kami hanya alergi pada makanan mahal? Hahahaha, walaupun bicara soal mahal adalah hal yang relatif, tapi menurut kami itu sudah termasuk harga mahal.

Jadi apakah kamu akan ke Umami lagi? Luc menjawab iya untuk membuktikan apakah nanti akan muntah lagi atau tidak, hahahaha.


					
Advertisements

17 thoughts on “Umami

  1. Yang babak ketiga enaaak itu kayaknya. πŸ˜€ Setuju sarannya mbak, nanti coba lagi makan di situ buat buktiin akan muntah lagi atau enggak. πŸ˜€ semoga enggak ya.

    • Iya itu aneh banget, semuanya fresh! Ini kejadian kedua aku muntah setelah makan di restauran Asia kayak gitu. Yang dulu kena aku Cinta dan Cahaya, bayangin kita makan malam sehari sebelum berangkat Ke Portugal. Tiga tiganya muntah tengah malem. Besoknya aku udah ga muntah eh si kembar muntah sesaat setelah turun dari pesawat, di mobil yang membawa kita dari airport ke villa liburan. Ampuun deh, di restauran all you can eat juga cuma yg wok gitu, bukan Japanese

  2. kedengarannya rada aneh ya Asia + Prancis, jadi kayak fusion gitu. Keliatannya sih enak semuaaa!! mungkin makanan yg babak 3 itu ada yg ga beres makanya Luc sma kamu sakit ya. Sayaaang! 😦 aku jarang makan makanan Chinese sih, tp sekali nya makan Chinese kan porsi banyak ya dan untungnya gak pernah sakit sesudahnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s