Bahasa Indonesia

Sejak si kembar dalam kandungan, ibuku mengingatkan agar aku berjanji untuk mengajarkan bahasa Indonesia pada anak anakku. Tentu saja aku berjanji padanya, karena aku pun sepakat dengan Luc bahwa Luc akan berbahasa Belanda dengan anak anak sedangkan aku akan berbahasa Indonesia dan boleh ditambahahi bahasa Sunda jika berbicara dengan anak anak.

Ibuku khawatir, jika beliau tak bisa berkomunikasi dengan cucunya sendiri. Ibuku tak mau kasus yang menimpa temannya terjadi pula pada dirinya. Anak teman ibuku itu tinggal di Amerika dan cucu cucunya sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia. Ibuku bilang berbahsa Inngris masih mending, banyak orang bisa berbahasa Inngris termasuk ibuku juga, tapi rasanya tragis sekali jika orang yang masih ada darah Indonesia tak bisa berbahasa Indonesia sama sekali dan lebih tragis lagi, saat teman ibuku itu bercerita tanpa sungkan bahkan terkesan sedikit bangga bahwa cucunya hanya berkomunikasi dalam  bahasa Inggris saja.

Dengan berjalannya waktu ternyata kemampuan bahasa Belandaku sangatlah lambat. Aku tak banyak berhubungan dengan orang Belanda, Luc tak mempunyai familie disini, sedangkan teman teman dekatnya yang biasa berkunjung, sejak pertama mengenalku selalu menggunakan bahasa Ingrris jika berbicara padaku karena aku tak lancar berbahasa Belanda. Jadi rasanya sangat mudah untukku untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia pada si kembar.

Tapi tak begitu kenyataannya. Aku orang yang tak mudah untuk berkomunikasi termasuk pada anak anakku sendiri. Jika aku sering melihat ibu ibu yang lain pada bayinya bercerita apa saja bahkan di bis sekalipun, aku tak begitu.

Kemudian saat usia anak anak 6 bulan, aku dipertemukan dengan sahabat sepupuku. Jaman dulu kala saat aku masih SD, aku sering melihat dia datang ke rumahku bersama sepupuku, kala itu aku tak begitu mengacuhkannya, karena usia kami yang berbeda, aku masih kecil sedangkan mereka sudah bekerja.

Bertemu di Belanda, menjadikan di seperti kuanggap keluargaku sendiri. Dari dia aku tau bahwa aku harus selalu bercerita dengan bayiku, apa saja yang aku kerjakan sebaiknya diucapkan juga secara lisan. Misalnya jika aku sedang memakaikannya baju, maka aku harus mengucapkan juga secara lisan tahap tahap memakaikan baju tersebut dengan bahasa Indonesia. Pesan dia padaku, selalu gunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah dengan anak anak, kelak jika mereka sudah bertemu dengan dunia luar, bahasa Belanda akan mudah mereka pelajari. Masih ucapannya juga nanti jika aku banyak mengenal orang Indonesia di Belanda maka aku akan ‘takjub’ bahwa kebanyakan dari mereka anak anaknya tak fasih berbahasa Indonesia.

Mengapa begitu? Masih penuturannya juga bahwa orang Indonesia yang menikah dengan orang Belanda entah mengapa kebanyakan dari mereka seakan gengsi jika berbahasa Indonesia di depan umum dengan keluargannya, even bahasa Belandanya ancurpun mereka tetep berbahasa Belanda.  Mungkin dari situ ada juga sisi positif yang dapat diambil, jika dibandingkan negara pendatang yang tinggal di Belanda, orang Indonesia termasuk pada kelompok yang menurutku mudah beradaptasi dan dapat berbahasa Belanda dibandingkan kelompok pendatang lainnya.

Dan kini, hal hal yang dikhawatirkan ibuku dan dibicarakan sahabat sepupuku itu, terjadi pada kami. Aku dan Luc masih belum bisa melihat hasil yang kami terapkan pada Cinta dan Cahaya untuk berbahasa Indonesia denganku, mereka masih menjawab dengan bahasa Belanda.

Ternyata sulit sekali untuk konsisten  berbicara bahasa Indonesia dengan si kembar, terlebih lagi sejak dua tahun yang lalu sekolah bahasa Belanda, aku sendiri mendisiplinkan diri untuk selalu berbahasa Belanda dengan Luc. Konsistensi untuk selalu berbahasa Indonesia dengan anak anak ternyata tak semudah teori yang diajarkan beberapa teman, kesulitan itu juga yang diceritakan teh Dewi yang tinggal di jerman di blognya.

Ada perasaan iri saat melihat Calista berbahasa Spanyol dengan lancar pada Claudia (ibunya), Cali seumur dengan si kembar dan kami selalu rutin bertemu setidaknya jika si kembar berulang tahun atau Cali berulang tahun. Claudia mengajarkan padaku jika si kembar menjawab dalam bahasa Belanda maka aku harus pura pura tak mengerti, dan harus mengulai jawabannya dalam bahasa Indonesia. Nasihat itu pernah aku coba tapi tak berhasil.

Kini kami berempat bersepakat, jika aku menggunakan bahasa Belanda pada si kembar maka aku akan menerima hukuman. Pertama yang harus didisiplinkan adalah aku sendiri, jika aku sudah disiplin maka akan tiba saatnya untuk si kembar untuk menerima sanksi jika berbahasa Belanda denganku.

Dan tahukah kalian, sanksi apa yang harus aku terima jika berbicara bahasa Belanda pada si kembar? Aku harus duduk di tangga, tempat dimana biasanya Cinta Cahaya harus duduk disitu jika mereka berbuat nakal. Kesepakan itu ternyata membantuku untuk konsisten berbahasa Indonesia dengan si kembar, karena jika aku mengeluarkan kata kata Belanda dari mulutku, mereka langsung mengingatkan, itu bahasa Belanda bunda, dan mereka akan langsung menunjukkan tangga dimana aku harus duduk disitu, yang kemudian mereka sendiri yang menyuruhku untuk melupakan tangga tersebut sambut tertawa, kami maafkan, serunya, jangan diulangi lagi ya….. Hahaha, dasar bocah.

Menurutku perkara tidak bisa berbicara bahasa Indonesia bagi Cinta dan Cahaya adalah perkara yang serius. Aku akan bangga jika mereka fasih berbahasa Indonesia. Seperti pengalamanku beberapa waktu yang lalu, saat aku di Maastrich dengan beberapa kawan Indonesia, kami sedang memelototi jadwal kereta api, kebingungan karena harus mengikuti rute yang lain, ternyata ada perubahan jadwal dan rute karena sedang ada perbaikan disana sini. Seorang gadis muda yang aku tebak pasti berdarah campuran datang memberi anjuran sebaiknya rute apa yang sebiknya aku kami ambil untuk kembali ke Rotterdam, dia berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang fasih dengan logat ala Cinta Laura. Di dalam kereta aku masih terkesan dengan sikap gadis itu yang sangat sopan dan datang membantu kami tanpa diminta lebih dulu, ah gadis yang tak akan kulupakan celotehku pada temanku saat kami berbicara di dalam kereta api. Temanku menjawab sambil lalu…..mungkin ibunya dirumah mendidik anak itu dengan tepat, sehingga dia bisa berbicara bahasa Indonesia selancar itu disertai sopan santunnya yang konon menurut nenek monyang kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah taman dan santun. Aha, betulkah?

Aha, bunda kena setrap karena ngomong bahasa Belanda pada anak anak.

Aha, bunda kena setrap karena ngomong bahasa Belanda pada anak anak.

Advertisements

38 thoughts on “Bahasa Indonesia

  1. ahaha,,,lucu deh bundanya juga kena setrap
    eh tp iya nih,ternyata susah juga ya menerapkan anak2 berbahasa indonesia yg baik,apa kabar saya nih,yang notabene asli indonesia,suami orang Romania, tapi kami tinggal di Italy, dan saya sehari2 dgn suami komunikasi dengan bahasa inggris,kalo punya anak nanti pasti anaknya bingung mau pake bahasa apa,hehe

    • Kalo buatku asal mereka bisa bahasa Indonesia udah bersyukur banget, Kalo untuk pake bahasa Indonesia yg baik dan benar pasti Susah sekali, secara ibunya juga bahasa Indonesia nya amburadul hihihi.
      Nah buat dirimu jika bersepakat ingin mengenalkan bahasa ibu dan bapaknya, berarti kamu mesti berbahasa Indonesia dgn anak anak dan bapaknya berbahasa Rumania. Bahasa Italy bisa dgn murah didapat di sekitar, bagaimana? Hihihi tapi Susah
      banget lho diperlukan perjungan sampe di setrap segala😀

  2. xxixi semangat ya mbak !
    kek 3 keponakkan aku yg di Belanda jg gak bisa bahasa Indonesia, untungnya mami papi ku fluent bahasa belanda, jadi waktu bocah2 ini masih kecil bisa komunikasi dgn oma opa nya 🙂

  3. Ini juga nih yang sering aku dan suami bicarakan. Kalau nanti kami sudah diberikan amanah anak, harus konsisten dalam berbahasa. ga boleh setengah2. Tapi melihat cerita kamu, memang butuh perjuangan extra yaa. Thanks sudah berbagi cerita yang menginspirasi Yang 🙂

  4. Wah serunya tinggal di luar negeri ya mbak.aku pernah baca soal mengajarkan bilingual pada anak memang orangtua hrs disiplin..kemana dan dimanapun bunda bhs Indonesia n ayah bhs Belanda. Semoga berhasil ya mbak..jangan sampe kena setrap lg
    Btw salam kenal ya 🙂

  5. waaahh saya salut banget sama konsistensi mba yang mau mengajarkan bahasa Indonesia ke anak anak mba 😀

    di Indonesia sendiri terlalu banyak orang tua yang mengajarkan dan memaksakan bahasa asing ke anak-anaknya, mereka berlomba memasukan anak ke sekolah bertaraf international, dirumah pun menggunakan bahasa asing sampai nyari pembantu pun harus yang fasih berbahasa asing. bahkan pernah di salah satu stasiun TV disiarkan ada sebuah keluarga yang notabene memang orang Indonesia tinggalnya pun di pulau jawa tapi anaknya tidak ada satupun yang bisa berbahasa Indonesia, mereka semua memakai bahasa Inggris dan orang tuanya terlihat bangga ketika diinterview 😦

    saya merasa sangat sedih sekali, karena bahasa adalah akar bangsa, ketika seseorang melupakan bahasa nya maka dia telah kehilangan identitasnya.

  6. AIiihhh..si emak disetrapppp..! Hahaha.. Makasih udah berbagi pengalaman, Yang… Jadi inget temenku orang Indonesia, suaminya (orang Australia) hanya ngebolehin ngomong bhs Inggris.., dulu si istri nurut, sekarang nyesel, anaknya udah 4, yg paling gede udah 12 tahun, gak ada satu pun yg bisa bhs Indonesia..

    • Iyah ini bocah, kegirangan waktu emaknya di setrap, tapi setelah itu mereka bikin peraturan baru katanya boleh sampe tiga jali salah baru distrap, hihihi ada hati nurani juga ternyata😁

      Mungkin bapanya merasa berada di luar lingkaran klo keluarganya bicara bahasa Indonesia jadinya ga ngebolehin pake bahasa Indonesia

      • Ya memang gitu alasannya.., hasilnya anak-anaknya pada bengong kalo ketemu keluarga Indonesia.. Trus sang nenek negur sang ibu.. Nyesel deh sang ibu sekarang, gak ngajarin bhs Indonesia..

  7. same here…..!!! *setres* lah keluarga saya yg aneh, suami istri sama2 orang Indonesia, tp anaknya ga bisa bahasa Indonesia. hiks. 😦 Sampai sekarang masih berkutat sama speech delay. Akhirnya malah disarankan untuk pake bahasa jepang aja ke Nisa. Karena Nisa sekolah di lingkungan orang2 Jepang, dan Nisa ternyata juga ga bisa menyerap dua bahasa sekaligus. Harus ada yg dimenangin, biar salah satu lancar dulu. Tapi saya sama bapake tetep pake bahasa Indonesia. hahaha. *mbulet* 😥

    • Ya, setiap anak beda beda. Anak anakku lambat berbicara. Sejak usia dua tahun Sudah sekolah empat hari seminggu, selama satu tahun ga bicara di kelas. Umur tiga tahun mulai bicara tapi ga banyak, kebetulan dokter dan locopedie (orang yang ahli dlm bahasa dan artikulasi) disini tetap mendukung Kami untuk mengenalkan bahasa ibu, 😁.
      Harapan ke depan semoga cinta dan cahaya mau bicara bahasa Indonesia pada ibunya, huhuhu susaahhhh

  8. Aku berjanji kalau punya anak, anakku nanti gak cuma diajarin bahasa Indonesia, tapi mau diajarin Bahasa Malangan. Jadi kalau pulang kampung ke Malang bisa membaur. Tapi disatu sisi juga pengen ngajarin bahasa Perancis. Ibunya ambisius ^_^

    Bagus tuh mbak metode disiplinnya. Jadi Ibu dan anak setara, sama-sama berhak dihukum.

    • Nah ini Baru seru, pasti keren klo bisa bahasa daerah juga, aku juga sebetulnya ngomongnya campur sunda hehehe.
      Hihihi,gapapa sesekali ibunya ambisius asalkan anaknya senang juga, Katanya sih anak anak gampang nyerap berbagai bahasa, tapi ternyata prakteknya Susah dengan cinta cahaya, trus dapet laporan Dari gurunya cinta, Kalo cinta kadang kadang suka jawab pake bahasa inggris, kagetlah kita ternyata dia nyerap Kali ibu bapaknya ngobrol pake bahasa inggris

  9. Yang, Kalo mau anak dua bahasa pake sistem OPOL One Parent One Language. Jadi kamu ke anak-anak selalu bahasa Indonesia dan bapaknya bahasa Belanda. Hanya ada kendala dimana diumur tertentu anak-anak mogok berbahasa kedua. Sukses ya!

      • Oh, begitu. Makasih infonya mba. Buat jaga jaga klo suatu saat si kembar begitu juga, jadi nga kaget2 am at.
        Buatku dah bersyukur klo seumpamanya mereka dah mau jawab bahasa Indonesia, setidaknya mereka dah bisa berkomunikasi Kalo mereka ada di Indonesia😊

  10. Hehe lucu liat fotonyaaa…
    Sepertinya sih memang harus konsisten ya teh, tapi kalau terbiasa dengar yg berbahasa Indonesia, mereka inshaa- Allah bakalan bisa teh, meski lidahnya rada-rada berdialek negara setempat.

    Betul pisan teh, meski lahir dan gede di LN, umumnya anak- anak Indonesia mah sararopan, dan ramah. Saya selalu bilang kita teh muslim dan orang Indonesia yg menjunjung tinggi sopan santun, sopan sama yg lebih tua dan santun sama yg lebih muda.
    Alhamdulillah sampai saat ini mereka masih dijalurna.

    Katanyaaa…biar lebih lancar lg bhs Indonesiana, harus sering-sering pulang teeh hehe

    • Hahaha nah itu anjuran yang paling jitu….. Harus sering pulang kampung!!!!
      Tapi kita ga kuat di ongkos hahahaha. Sedih memang, tapi ya harus tahu diri huhuhu, sebetulnya alhamdulillah juga selama ini setiap tahun pasti mudik, tapi tahun depan suami dah warning ga akan mudik ke Indonesia tahun depan, aduh seseknya udah sejak aku keluar Dari bandara Sukarno hatta pas mudik Augustus kemaren

      • Alhamdulillah masih bisa 1 thn sekali, dulu saya mah 2 tahun sekali pulangnya, beurat di ongkos, trs begitu nambah anak lagi [baca:kecelakaan hihi], jd ngga bisa 2 thn sekali, eeeeh sekarang kalau pulang 5 tiket dewasa dan 1 tiket anak dan hrs bln Agustus pula mudiknyaaa pas muahaaal cobaaa huwaaa makin beuraaat.. huhuhu
        Akhirnya kata suami, kalau mau sering pulang mah, sendirian aja katanya, tp cuma 2 minggu ..
        *lhoo malah curhat ☺️☺️

  11. seru pisan euy.. tp bahasa indonesia itu bahasa paling gampang nya.. WYSIWYR.. What You See Is What You Read.. ketulisnya gitu baca nya ya gitu jg.. SPOK.. simpel.. tetap semangat ! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s