Sebuah renungan

Hari jumat, dua hari yang lalu. Pagi itu aku sudah berada di kelas. Musim gugur akan segera berakhir, tinggal menghitung hari saja digantikan musim dingin. Di pagi yang dingin itu aku tengah memperhatikan kaca jendela besar dihadapanku, lima belas menit lagi menuju pukul sembilan pagi, namun diluar sana matahari belum muncul terhalang kabut tebal menambah suasana terasa senyap diiringi hujan rintik rintik.

Pemandangan di luar jendela itu menghidupkan kenangan lima tahun lalu saat aku terbaring di rumah sakit. Perawat pria berkepala botak yang paling sering kena shift malam tiba tiba saja sudah bertugas di shift dua, dia datang dengan keceriaannya mengecek temperaturku, membuang air pipisku yang ditampung di plastik yang tergantung di sisi tempat tidurku, mendata berapa jumlah volumenya, dan mencatatnya di komputer yang ada di sebelah pintu. Sambil melakukan tugas tersebut dia memandang ke luar jendela sesaat, menggosok gosokkan lengannya sambil berkata musim gugur akan tiba, aku paling suka musim gugur, daun daunnya, anginnya, hujannya bahkan bau udaranya. Ujarnya.

Aku takjub mendengar penjelasannya, aku tak dapat berkomentar akan semua ucapannya, saat itu aku sudah tersadar dari koma tapi masih belum bisa bicara, aku juga tak dapat melirik jendela dan melihat angin musim gugur yang dia maksud. Jendela itu ada dibelakang kepalaku, tak mungkin aku menengok ke belakang, saat itu aku tak dapat bergerak tanpa bantuan orang lain. Tapi dari ceritanya aku seolah bisa melihat apa yang dia ceritakan.

Melihat pohon pohon yang bergoyang ditiup angin, daun berterbangan dari balik jendela kelasku, memoriku seperti kembali pada perawat berkepala plontos itu yang aku claim sebagai sahabat terbaikku saat di rumah sakit selain dokter Cornet dokter favoritku.

Dari pemandangan diluar sana, aku teringat beberapa kejadian sebelum aku terbaring koma, masih cerita di rumah sakit beberapa hari setelah melahirkan. Luc membantuku memasangkan alat pemompa air susu di dadaku. Alat elektronik berwarna kuning itu tetap tak membantu, kemudian Luc menaruh alat tersebut di pinggir tempat tidurku, dia bermaksud memanggil perawat untuk membantu menjalankan alat tersebut, tapi kabel yang masih tersambung pada stop contack menjegal kakinya, dan alat yang berada di pinggir tempat tidurku pun jatuh terguling ke lantai. Aku tau alat tersebut akan rusak, dan benar saja. Esok harinya aku mendengar kabar dari Luc bahwa dia harus mengganti alat tersebut yang dia sewa dari rumah sakit, dan uang pengganti untuk alat pompa itu tidaklah sedikit.

Aku tau bahwa ada sesuatu yang tak beres denganku setelah operasi melahirkan itu, moment ‘alat pompa susu’ itu masih membekas di ingatanku, aku melihat Luc yang kelelahan, dia yang tiba tiba menjelma menjadi seorang ayah baru, begitupun diriku seorang ibu baru, tanpa siapa siapa di Belanda, kami sepasang orang tua baru bagi bayi kembar kami. Tak ada tempat bertanya bagaimana memberikan susu bagi si kembar. Dan kemudian kejadian kejadian dramatis berturut turut silih berdatangan menimpa kami, aku tiba tiba saja harus dilarikan ke ruang operasi kembali. Operasi yang kedua, operasi yang ketiga, dan operasi yang keempat….. Tiga kali operasi yang dilakukan berturut turut (dalam tiga hari) menjadikanku tak berdaya, aku dinyatakan koma selama dua minggu!

Ada kedua orangtuaku saat aku membuka mata untuk yang pertama kali setelah tidur panjangku. Secercah harapan muncul, aku dinyatakan membaik dari hari kehari. Kemudian aku bisa bicara kembali, mendengar penjelasan Luc bahwa kedua orang tua kami dikirim kakakku ke Belanda. Di kemudian hari aku tau bahwa kakakku telah mengirim orangtua kami dengan jumlah tiket yang fantastis seharga 5500 dolar (aku melihat tiket mereka saat mereka akan pulang ke Indonesia).

Sejak orangtuaku kembali ke Indonesia, aku dan Luc semakin memiliki kontak bathin dengan kakakku dan istrinya, mereka yang berjuang mati matian untuk membantu kami, saat aku sakit. Luc selalu berujar padaku bahwa dia akan mengingat dan akan selalu berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan untuk kami.

Hanya beberapa bulan setelah kesembuhanku, cobaan yang lain muncul dan giliran kakak keduaku yang tertimpa prahara.

Seperti sudah jadi takdir pada  si sulung, kembali dialah yang menjadi jembatan utama untuk membantu agar semuanya menjadi tentram kembali,  agar kami semua baik baik saja secara emosi.

Dan di tahun 2013 saat kedua orang tua kami tengah berlibur di Belanda, cobaan ketiga datang pada keluarga besar kami, kali ini giliran si sulung. Dan kini dapatkah kami sebagai adik adiknya membantu dia? Aku menggeleng.

Aku tak pernah mendengar keluhan darinya, dia begitu tegar dan kuat seperti biasanya. Aku seperti kehilangan daya kreatifku bahkan hanya untuk bertanya padanya, apa yang bisa aku bantu? Apakah kau baik baik saja? Untuk sekedar melontarkan pernyataan penghiburanpun aku tak mampu.

Aku melihat dan belajar dari kedua kakakku dalam mengatasi masalahnya, mereka berdua kembali ke akarnya, mereka mencari solusi dari semua permasalahan dengan kembali mempelajari agama.

Kakak kedua menjadi lebih kalem, menurut ibuku sifatnya yang dulu agak temperamental tak lagi ada, masih tetap kadang berpikir berbeda diantara kami berempat (tapi Luc berkata Jerry adalah orang yang jenius, orang jenius berpikir beberapa langkah dari orang kebanyakan, itulah sebabnya mengapa berbeda, dan Jerry adalah favorit suamiku). Masih menurut ibuku, sekarang dia rajin membaca buku buku agama dan banyak tau tapi tak sok tahu. Istilah ilmu padi pantas diberikan padanya. Dan apa yang dilakukan kakak keduaku dalam berproses untuk berdamai dengan masalahnya, diacungi jempol oleh kedua orang tua kami.

Kemudian minggu yang lalu, ibu bercerita dan memintaku untuk bicara dengan si sulung. Masalahnya cukup membuatku tersenyum simpul. Ibu tak suka kakakku memberikan jempol pada apa yang dia baca. Contohnya berita politik  yang ada hubungannya dengan dua kubu yang bersebrangan di pemilu 2014 kemarin. Aku berkomentar balik pada ibu, mengapa aku yang harus bicara, mengapa bukan ibu saja? Ibu berkata, dia sungkan untuk berbasi basi soal itu, hahaha, aku juga seruku. Maka kutulis saja apa yang menjadi ganjalan ibu.

Seperti yang banyak orang ketahui, pemilu yang baru lalu banyak menimbulkan ‘keajaiban’ antara dua kubu yang berbeda. Pun yang terjadi pada kami, aku serta ayah ibu condong pada kubu A dan kedua kakakku condong pada kubu B. Sedangkan adikku sepert sebuah misteri, tapi aku tahu dengan pasti dia ada di kubu yang sama denganku.

Mulanya aku juga tak perduli, siapapun yang menang, justru ketertarikanku untuk semakin keukeuh mendukung jagoanku setelah aku ber chating ria dengan kakakku ini. Rasanya pemikirannya yang biasanya sejalan denganku kini berbeda banyak.

Kami semua tahu bahwa politik adalah panggung sandiwara. Juga saat pengumuman pemenang pemilu diumumkan, saat aku ada di Indonesia, kami saling tertawa dan berseloroh bercanda tentang hasil pemilu ini. Walau berbeda pendapat kami tetap berada di koridor yang terkontrol dan terkendali. Ehmmm.

Aku kira pertarungan ini telah selesai. Terus terang aku tak tertarik lagi menanggapi para penonton yang ternyata kadang masih bertentangan di media sosial walau kini caranya lebih santun. Pun saat kakakku memberikan jempol pada berita media online yang dibacanya.

Menurut ibu, kakakku boleh membaca apapun dengan bebas apa yang dia suka, tapi tolong jangan memberi jempol ujarnya. Tanyaku, mengapa tak boleh? Ibuku menjawab, soalnya yang dia beri jempol adalah sesuatu yang tak penting. Jempol itu tidak sesuai dengan kelasnya. Kakakku seorang yang elegan, tak pantas ikut ikutan berjempol ria seperti yang lainnya. Yang langsung aku sambut dengan gelak tawa.

Aku mengerti maksud ibuku. Dia yang telah meraih jabatan penting pada suatu perusahaan asing di usia muda, yang menjadi barometer pemegang keputusan penting setelah ayahku. Si sulung adalah pemegang simbol si benar, dia tak boleh salah sedikitpun, dia tak boleh melakukan kekonyolan sedikitpun, bagi kami dia adalah simbol sukses dalam segala hal. Dalam keluarga, dalam pekerjaan, pemegang simbol favorit dalam semua urusan. Dan menurut ibu kadar berita yang dia baca tak sesuai dengan kapasitas predikat cerdas yang dia sandang selama ini. Bagaimana bisa dia memberi jembol pada berita seperti itu?

Ah, kataku. Sudahlah. Tak ada sedikitpun niatku untuk memenuhi keinginan ibuku agar aku bicara pada kakakku apalagi hanya urusan si jempol, hingga aku melihat dia sharing berita dari media online abal abal. Aku sedikit merenung, patutkah kukabulkan permintaan ibuku? Belum tuntas aku berpikir, aku melihat komentar adikku untuk si sulung, cukup jelas apa maksud adikku. Adikku menjawab dengan artikel lain yang menyatakan…. Anda suka share berita dari bla bla bla dsb? Anda kurang Vitamin D 🙂

Awalnya aku tertawa membaca komentar si bungsu, tapi tidak setelah membaca jawaban si sulung atas komentar si bungsu, walau kakakku menjawab dengan tulisan riang gembira dan penuh canda tapi menurutku ada yang salah dari jawaban tersebut. Lebih jelasnya ada yang hilang dari sikapnya yang aku kenal dulu.

Tapi kemudian aku merenung. Tak baik aku mentertawakan pendapatnya, setiap orang boleh dengan bebas berpendapat, pendapatku belum tentu lebih baik darinya. Aku sedikit malu ketika muncul perasaan yang membisikiku bahwa jawaban kakakku tidak s-elegan seperti biasanya. Ah aku seperti orang yang merasa benar dan dia salah. Itu tak baik!

Maka kuhapus pikiranku bahwa aku pernah tertawa membaca komentarnya  atas berita yang telah dia share. Dan kupaksa agar aku hanya mengingat bagian awal dan akhirnya saja ….. don’t  think to much…… intinya kita harus membaca secara berimbang….. Begitu tulisnya.

Kepada Rully, Jerry dan Akbar….. Seperti ayah dan ibu yang begitu bangga pada kalian, begitupun aku yang sangat bangga pada kalian. Dari kalian aku mempelajari keteladanan selain dari orangtua kami tentunya.

Terima kasih ayah ibu yang selalu mengajarkan agar kami rukun selalu. Semoga kami bisa menjadi seperti yang kalian harapkan.

Dosenku kini telah berada di dalam kelas, artinya pandangan lurusku ke arah jendela besar yang ada di hadapanku harus aku alihkan. Goyangan pohon pohon di musim gugur harus aku lupakan sejenak, juga ingatan akan perawat yang aku claim sebagai sahabatku di rumah sakit. Musim gugur selalu menimbulkan berbagai memori dalam hidupku. Juga akan rindunya aku pada keluargaku di Indonesia.

Love,
Yayang

The Supandukos

The Supandukos

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s