What about lunch, dear?

Selama hidup di Indonesia rasanya aku selalu berada dalam zona aman dalam kehidupan. Dibesarkan dalam keluarga normal. Artinya ada ayah ada ibu, keduanya bekerja normal, dari pagi hingga sore, kecuali ibuku hingga pukul 2 siang.

Aku punya teman teman yang normal juga, artinya tidak terlibat drug atau kehidupan yang bikin aku takjub  yang kisahnya hanya aku lihat di TV atau dalam berita yang aku baca.

Mungkin kalian bisa menyebutnya membosankan atau kehidupan yang datar saja, tapi bagiku aku punya kisah yang mengasyikan bersama kawan. Di Indonesia aku bukan type orang yang suka berkelompok, masa sekolah dari SD hingga universitas tentu saja kadang kadang kami pergi berkelompok tapi bisa dibilang karena urusan belajar kelompok atau karyawisata. Hingga semakin bertambahnya umur maka temanpun semakin berkurang, kemudian aku menemukan teman di lingkungan kerja, dengannya aku bisa melakukan hal hal menyenangkan tapi hanya kami jalani berdua saja, aku juga menemukan sahabat yang hingga kini masih saling kontak, dengannya aku bertualang kemana mana, namun begitu mereka tidak pernah saling bertemu. Yang satu di tempat kerja yang sesekali bertemu diluar hari kerja dan yang satunya bertemu disaat weekend atau setelah pulang kerja.

Hingga kemudian aku berada di Belanda, tak ada keluarga tak ada teman. Satu satunya kawanku hanya yang aku kenal dari Indonesia itupun karena kami belajar dari guru privat bahasa Belanda yang sama. Aku tumbuh dan berkembang bersama dengan Luc, dia yang sendiri juga tak ada  saudara. Dia hanya punya teman tiga orang saja, seperti halnya denganku ketiga temannya tidak saling kenal. Yang satu teman yang dia kenal dari umur 14 tahun dari computer club yang mereka ikuti, yang satunya teman yang dia kenala sejak umur 19 tahun dan yang terakhir yang dia kenal di awal umur 30 an, yang ajaibnya aku bisa menganggap mereka sudah seperti keluarga.

Dan babak drama dalam pencarian teman di negara Belanda terjadi pada diriku. Aku selalu antusias setiap melihat ada orang Indonesia. Naluriku yang begitu haus mencari teman menyebabkan aku menjadi orang yang naif dan mudah percaya. Dulu jika aku berteman maka Luc juga akan ikut terlibat didalamnya, namun kini aku melihat berkawan disini bisa berkelompok, seperti jaman aku sekolah dulu. Janjian dengan beberapa teman untuk makan siang misalnya, atau hanya sekedar minum teh atau kopi. Yang tempatnya bisa di cafe atau di rumah saja yang kemudian bisa berkembang jadi rumpi dan mencari info tentang teman yang lainnya yang begini dan begitu. Yang jenis begini biasanya akan dengan mudah bubar jalan.

Ada juga kelompok yang terlihat elegan, beberapa dari mereka adalah wanita pekerja yang bekerja dengan posisi setidaknya sesuai dengan ilmu akademik yang mereka pelajari di Indonesia, ada yang bersuamikan orang Belanda adapula yang bersuamikan orang Indonesia. Dengan kelompok ini aku menemukan tak banyak rumpi, dengannya kadang kami sengaja untuk saling jumpa.

Dan yang terakhir adalah kelompok yang tak sengaja tercipta, bermula dari aku dan temanku yang dulu pertama kali aku kenal sejak di Indonesia sedang jalan bersama di pusat kota, kemudian kami berjumpa  dengan seseorang yang aku kenal di sekolah (saat itu kami tidak sekelas) dia bersama seorang temannya yang kemudian aku ketahui dia tinggal di jalan yang sama  denganku. Kami bercakap sebentar dan tralaaaaa kini kami jadi sering bertemu, tidak selalu bertemu berempat, kadang aku berdua saja pergi ke pasar kadang bertiga minum kopi kadang bisa berempat juga makan siang sama sama. Tidak selala jika pergi berdua dengan si A, bisa juga dengan si B atau si C. Begitu juga mereka.

Dan sepanjang yang aku ketahui merekapun mempunyai kehidupan yang hampir sama seperti diriku saat kami masih di Indonesia dulu, yaitu kehidupan yang datar saja yang mungkin bisa dikatakan membosankan oleh sebagian orang, tapi sebetulnya kami punya pengalaman yang seru juga bagi ukuran kami, hahahaha.

Walau aku tahu, bahwa persahabatan itu adakalanya up and down, selama kami bisa saling membantu dan tidak terlalu ikut campur, bagiku bertemu sesekali adalah hal yang lumrah, dan mungkin diperlukan bagi keseimbangan bathin dan jasmani untuk bertemu orang orang yang berbahasa sama dan mempunyai kesukaan yang sama.

Jadi jika sesekali kami saling melontarkan pertanyaan, what about lunch, dear? Maka di ujung sana akan menjawab dengan keceriaan yang sama, why not, dear? Atau dengan teriakan yang keras, Yes!!!

Dan bagaimana dengan kalian?

PhotoGrid_1415219199888PhotoGrid_1402488406527IMG-20141106-WA0001

De beste selfie van de hele wereld, hahaha

De beste selfie van de hele wereld, hahaha

Advertisements

11 thoughts on “What about lunch, dear?

  1. Kayaknya aku banyak miripnya deh sama kamu soal latar belakang keluarga dan kehidupan di Indonesia serta dalam hal pertemanan.. Aku juga gak minat berkelompok gitu tapi bukan berarti anti sosial ya..😀 BTW, suka deh lihat foto-fotonya..

  2. Aku bukan tipe yang suka berkelompok, runtang runtung kesana kemari. Bukan pula anti jika diajak acara rame-rame. Tapi jangan juga terlalu rumpi, rasanya jengah 🙂 Banyak teman menjuluki aku aneh, karena jarang ikutan acara kumpul2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s