Indonesia, negara sejuta Mall?

Hari ke duapuluh enam dan duapuluh tujuh
Jumat dan Sabtu 22-23 Agustus 2014

Rasanya diantara negara yang pernah aku kunjungi, sepertinya Indonesia juara satu dengan jumlah mall terbanyak. Jadi sepertinya tak salah jika mendapat julukan negara sejuta mall. Dan mall yang paling kami sukai selai BIP dan Paris van Java(tahun ini kami tak sempat ke PVJ) adalah Ciwalk, karena setiap kami pulang ke Bandung kami selalu menyempatkan tidur di hotel Sensa salah satu alasannya karena berada di dalam mall Ciwalk.

Saat Luc check internet bioskop apalagi yang belum dia kunjungi, dia menemukan nama Festival City Link yang sebelumnya belum pernah aku dengar. Karena Luc hobby sekali nonton film maka nama mall yang baru aku dengar kali ini pun akhirnya kami datangi.

Ternyata Festival City Link dulunya gedung lama dari Molis yang dulu bankrut dan kini berubah wajah. Jadwal ke mall kali ini apalagi kalau bukan memenuhi permintaan Luc nonton film, karena semua film sudah dia tonton di mall yang lainnya, dia menemukan satu judul film yang tidak ada dibioskop lainnya dan hanya da di Festival City Link ini. Sementara Luc menonton film, aku sibuk creambath.

Esoknya kami datang ke TSM yang dulunya bernama BSM. Bahkan Luc pun ikut terkaget kaget saat BSM berubah nama, tanyanya kenapa harus berubah nama? Mungkin disesuaikan namanya karena kini ada Trans Studio disana?

Lebih kaget lagi, karena saat kami makan di food court, kami harus bayar makanan pakai kartu yang ada saldonya. Yah kami kan tak tau, kita pesan makan dan begitu bayar mereka tanya ada kartunya? Yah aku bilang ga punya dong, dan aku langsung memberikan uang 50 ribu untuk semangkuk mie kocok dan kerupuknya. Nah orang yang melayaniku di gerai mie kocok itu memberikan sebuah kartu dari dompetnya, sambil berkata pake punyaku saja dulu dan aku diminta mengisi debitnya sebesar 50 ribu di counter pengisian kartu Trans.

Sambil melongo keheranan aku laksanakan juga perintahnya, saat aku duduk dan menanti Luc yang sedang membeli soto di kedai yang lainnya, aku mendengar panggilan Luc, dia tak mengerti sama sekali apa yang diminta kassa, o alah aku sudah menyangka pasti dia diminta kartu juga, aku jelaskan kami tak memiliki kartu dan aku meminta untuk membayar cash saja. Akhirnya orang yang melayani Luc setuju. Sialnya saat Luc akan membeli juice untuk minum, kedai juice tak menerima uang cash, sambil bersungut sungut Luc kembali duduk dan kembali berkeluh kesah mengenai sistem pembayaran yang menjengkelkan itu. Ya tentu saja menjengkelkan bagi kami yang baru pertama kali lagi datang, tak tahu apa apa mengenai kartu Trans dan tak mendapat penjelasan sebelumnya.

Oh ya, hal yang bikin aku terkejut juga adalah ternyata saat aku ke supermarket yang ada di TSM, Hero supermarket aku terpana melihat tampilan Hero sekarang ini, lebih diperuntukan untuk ekonomi kelas menengah ke atas, disaat aku mencari cereal untuk Cinta Cahaya,  ternyata disini harganya cukup mahal yaitu Rp. 113.490, padahal biasanya aku membeli dengan harga sekitar 3 euro saja untuk jenis cereal yang sama keluaran Kellogg’s
IMAG2436
IMAG2437
Cukup sekali saja makan di food court TSM, sungut Luc dengan nada jengkel.

Advertisements

Desaku yang kucinta

111_1268

Luc, mang Entis, ayah

Hari ke duapuluhlima
Kamis, 21-8-2014

Akhirnya adikku Abay Surabay datang juga pukul 10 pagi, setelah aku dan ibuku sibuk mengomel panjang pendek karena rencananya pergi pagi ke Singaparna tak sesuai dengan rencana. Seruku menyambut kedatangannya, asalnya kalian mau tak tinggal… tapi gak bisa wong kamu supirnya. Dia hanya nyengir saja seperti biasa. Menurutnya tak penting mendengar omelan aku yang selalu cerewet padanya.

Dan perjalanan menuju Singaparna pun diramaikan oleh celoteh Cinta dan Cahaya yang sudah lebih fasih berbahasa Indonesia dan saling menimpali bersama Ghaly sepupunya, anak adikku itu. Sepanjang perjalanan Luc banyak diam saja, merasakan perutnya yang menurut ceritanya masih belum normal juga, dia sesekali menyuruh Cinta dan Cahaya tidak terlalu ribut, dan ketiga bocah yang duduk di jok paling belakang mobil Avanza kepunyaan ayahku terdiam sesaat setiap kali Luc berteriak menyuruh diam tapi selang menit kemudian mereka bertiga sudah kembali tertawa tawa dan berceloteh kembali. Hatiku senang melihat keakraban mereka bertiga. Tapi rupanya Luc sedikit cemburu, katanya padaku kenapa dia satu satunya yang tak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia? Aku semakin memanasinya, kelak kami bertiga akan saling berbagi rahasia menggunakan bahasa Indonesia dan kau tak tau, ujarku semakin membuat Luc geram. Hihihi.

Tapi untunglah Luc yang sedang sedikit ‘tertekan’ akibat bahasa dan perut yang tak bersahabat segera mencair ketika sudah mendekati Singaparna, dan kegembiraan segera terasa saat kami tiba di rumah mang Entis. Kami berkunjung ke rumah mang Entis, begitu kami biasa memanggilnya. Beliau bukan kerabat kami, tapi kekeluargaan diantara keluarga kami dan dia begitu erat. Walau pada awalnya hubungan ini adalah antara tuan dan bawahan, tapi kami tak mengganggapnya seperti itu. Aku sudah kenal mang Entis sejak aku bayi (menurut cerita ayah dan ibuku tentunya), mang Entis adalah orang yang mengerjakan sawah ayah dan ibuku, yang kemudian menjadi sering dipanggil ke Bandung untuk urusan memelihara taman yang harus dirapikan setiap sebulan sekali. Kemudian menjadi penunggu rumah ayah dan ibuku, jika mereka sedang berada di luar kota atau luar negri.

Saat Luc untuk pertama kalinya datang ke Indonesia, ibuku sudah mengajak Luc ke kampung mang Entis. Luc jatuh hati padanya. Saat Luc datang untuk yang kedua kalinya ke Indonesia untuk menikah denganku, oleh oleh istimewa dia persiapkan untuk mang Entis.

Menurut Luc, man Entis adalah orang yang paling baik yang pernah dia temui. Sementara menurut ibuku, dia adalah orang yang paling jujur dan tak pernah membicarakan orang lain sedikitpun walaupun kita berusaha untuk memancingnya, dia tetap tak akan terpengaruh.

Dan menurutku dia adalah orang yang cerdas, kecerdasan mang Entis yang begitu melekat erat dalam ingatanku adalah karena mang Entis bisa menjawab teka teki yang aku lontarkan yang menurutku teka teki tersusah di jamannya hahaha, saat itu aku masih kelas dua SD.

Herannya walau mang Entis tak banyak cakap, kalau tak kita tanya maka dia akan membisu selamanya tapi anak anak kecil sangat suka padanya dan selalu mengekuti mang Entis, itu terjadi padaku sewaktu aku kecil dulu, kemudian pada adikku, pada ponakanku dan kini pada Cinta dan Cahaya.

Ghaly ikut recokin mang Entis yg lg kerja

Ghaly ikut recokin mang Entis yg lg kerja

IMG-20140920-WA0004

Dan hari kamis tanggal 21 pada saat pengumuman pemenang presiden di umumkan, Cinta dan Cahaya begitu bergembira bermain main di pematang sawah.

Desa Ciawang Lebak Singaparna-2014

Desa Ciawang Lebak Singaparna-2014

250 ribu ongkos naik kuda di Ganeca ITB, Blaammmmmmmmmmmm!

Hari keduapuluh empat
Rabu, 20 Agustus 2014

Hari ini ayahku menjemput kami dari hotel balik ke Cibiru ke rumah orang tuaku setelah tiga malam menginap di Sensa. Aku berjanji pada Cinta Cahaya untuk membawa mereka naik kuda sebelum kembali ke Cibiru. Setelah berputar dua balikan di jalan Cilaki, kami tetap tak menemukan kuda yang biasanya nangkring di jl Cilaki. Akhirnya kuputuskan untuk mencari kuda di jl Ganeca, yang sudah pasti suka berkeliaran di sekitar kampus ITB itu.

Baru saja ayahku berhasil parkir, beberapa mang kuda sudah mendatangi mobil kami, aku berkata bahwa kami hanya butuh tiga kuda saja, untuk Cinta, Cahaya dan Ghaly. Sementara Cinta dan Cahaya heboh untuk segera menaiki kuda, Ghaly ponakanku malah meronta ronta tak mau keluar dari mobil, di bujuk dengan cara apapun dia tak mau menaiki kuda.

Bagaimana bisa sementara ayahnya (adikku), dulu paling gila naik kuda. Masih ingat dalam ingatanku aku yang saat itu sudah kuliah sedangkan adikku yang kala itu masih SD (kami terpaut perbedaan umur 12 tahun) sering membawa adikku untuk naik kuda, kubiarkan dia naik kuda sepuasnya, sementara aku asyik makan baso yang kadang mangkal di pinggir jalan atau sambil membaca buku di mobil sambil istirahat atau sambil terkantuk kantuk saja di balik stir mobil. Hingga si mang kuda yang mendampingi adikku, memintaku untuk mencari kuda lain untuk ditunggangi adikku, kasian capek kudanya, kata si emang. Dan begitu kuperhatikan kuda yang ditunggangi adikku, kuda tersebut sudah mengeluarkan busa dari mulutnya. Dan tentu saja si emang sudah tersengal sengal kelelahan.

Kini mana mungkin Ghaly anak adikku bisa takut menaiki kuda? Karma? Karena dulu sering membuat kuda kecapean? Hehehehe.

Kembali ke soal Cinta dan Cahaya yang antusias naik kuda, mereka dengan sigap dinaikan oleh si mang kuda ke punggung kuda yang dia bawa. Tanpa ba bi bu lagi dua tukang kuda itu membawa Cinta dan Cahaya pergi. Ayah ibuku yang belum keluar mobil terkaget kaget, dan berkata padaku, awas perhatikan dengan baik takutnya anak anak dibawa kabur.

Waduh merinding pula mendengar komentar ibuku, untunglah belum lagi aku menyuruh Luc untuk mengejar si kembar, Anak anak sudah berada di hadapanku dengan senyum mengembang, melempar senyum di atas punggung kuda dengan bangganya. Aku berseru ke arah si emang untuk berhati hati dan cukup dua putaran lagi saja, mengingat waktu kami yang tak banyak sementara kami harus masih ke tempat lain sebelum pulang ke cibiru yaitu ke studio foto.

Kemudian satu dua kali aku melihat mereka melewati kami, kemudian aku dan Luc sepakat saat mereka melewati kami, cukup bagi anak anak main kuda.

Si mang kuda merayu kami untuk membiarkan Cinta dan Cahaya berkeliling sekali lagi, tapi aku menolaknya walaupun diikuti rengekan anak anak. Kok cuma sebentar bunda? Lagi lagi dong, abru juga naik, dan kata kata protes lainnya dari mulut si kembar, yang membuat si mang kuda di atas angin. Tapi begitu Luc berkata tidak, empat orang itu yang tadi merengek renget langsung diam termasuk dua kuda yang ditunggangi Cinta Cahaya. Si mang buru buru menurunkan anak anak dari punggung kudanya.

Aku segera bertanya berapa uang yang harus di bayarkan.
Jawab si emang…..
Satu putaran 50 ribu, mereka naik kuda tiga putaran.
Kemudian kata si emang yang satunya lagi….
Eh itu tiga putaran besar, trus satu putaran kecil. Yang putaran besar dikali dua, jadi mereka naik kuda tujuh putaran.

What???!!!! Seruku terkaget kaget. Jadi satu anak harus bayar 350 ribu? kali dua jadi 700 ribu? Yang rasanya tak sampai 10 menit saja? Di antara kepanikan mendengar angka yang fantastis aku masih sempat bersyukur untung Ghaly tak naik. Kalau dia berhasil kurayu untuk naik kuda, berapa uang yang harus kubayarkan?

Tapi tunggu dulu, aku ga mau dipalak begitu saja. Ini Indonesia, masih bisa bernego alias di tawar.

Jawabku, aku yang salah mang, harusnya aku menawar dulu sebelum anak anak naik. Nah aku lupa menawar karena kejadiannya begitu cepat, kalian langsung membawa anakku naik kuda. Mana mungkin 50 ribu satu putaran, pantasnya 10 ribu saja. Jadi perorang 70 ribu ya, dua jadi 140 ribu. Ujarku dengan yakin.

Si emang tetep ga mau, pun ketika aku menawarkan 200 ribu kemudian 250 ribu pada mereka. Hingga Luc mendengar diskusi kami dan bertanya sebetulnya berapa sih yang harus dibayarkan. Dan beranglah saat tau berapa rupiah yang dipinta tukang kuda tersebut. Tak wajar itu, serunya mana bisa lebih mahal dari pada naik kuda di Belanda?

Akhirnya ibuku turun tangan, katanya menggunakan bahasa Sunda yang halus, yang artinya seperti ini…. sudah kasih harga yang wajar saja, ibu juga penduduk Bandung, lahir disini, makan nasi seperti emang jadi tahu pasti mana mungkin naik kuda bisa semahal ini (lho apa hubungannya makan nasi dan harga naik kuda? hhihihi) Jadi terima saja uang 250 ribu ini, kan emang ga kerja setengah jam saja tidak sampai…. dapat uang sebesar ini, ibu aja yang pensiunan pegawai negri yang lebih dari 35 tahun kerja ga mungkin 15 menit dapat uang sebesar itu. Jadi terima saja, syukuri rejeki mamang yang banyak.

Kemudian sambil menyerahkan uang 250 ribu, ibuku berkata kembali…. ini saling ridho kan, semoga bermanfaat.

Kedua tukang kuda itu mengangguk ngangguk takjim, mengucapkan terima kasih dan berlalu dari kami semua. Sementara aku masih terbengong bengong.

Sebetulnya berapa sih harga normal naik kuda tunggang di ITB untuk satu putaran kecil? Walau aku tak tau ada putaran kecil dan besar seperti istilah yang dikatan tukang kuda padaku.

Cahaya naek kuda!

Cahaya naek kuda!

Cinta naek kuda!

Cinta naek kuda!

Meisya si Japanese girl

with Mikako and Ai Ginza-Tokyo, July 2006

with Mikako and Ai
Ginza-Tokyo, July 2006

Hari ke duapuluhtiga
Selasa, 19 Agustus 2014

Hari ini dapat kunjungan dari Meisya. Meisya si cantik yang kini tinggal di Jepang. Ada cerita sendiri sewaktu Cinta dan Cahaya pertama kali ketemu. Waktu itu di awal bulan jan 2010. Cuaca ekstrim luar biasa. Untuk pertama kalinya aku berkunjung ke rumah seorang teman di Groningen.Aku baru tiga bulan keluar dari rumah sakit, aku baru lepas dari suster yang membantuku yang setiap dua kali sehari pagi dan malam datang ke rumahku, dan saat itu fisioteraphy masih datang ke rumahku satu minggu sekali.

Temanku Puti mama dari Meisya menerima kedatang kami, dia memasak capcay dan ayam bumbu kecap untuk kami, masih belajar katanya hahaha. Sama sama pendatang baru dari Bandung yang hijrah ke Belanda dan tak pernah ke dapur untuk memasak sebelumnya selama tinggal di Bandung dan tentu saja sama dengan diriku (dan aku kira banyak yang senasib dengan kami). Dan tralaaaaaaaaa pemula ini sudah bisa menyuguhkan masakan lezat.

Cahaya-Meisya-Cinta (Jan 2010)

Cahaya-Meisya-Cinta (Jan 2010)

Satu tahun kemudian kunjungan Puti sekeluarga ke Rotterdam.

Hingga mereka sekeluarga harus hijrah ke Jepang. Karena bung Amel mendapat pekerjaan baru disana, dan kami tak sempat bertemu untuk bersay goodby.

Ternyata saat liburan ini kami bisa bertemu kembali di Bandung. Puti sekeluarga sedang mudik ke Bandung begitu juga diriku.
Ternyata say goodby yang belum sempat terucapkan berubah menjadi say hello saat berjumpa di Bandung.

Walau waktunya singkat, dan kami tak sempat bercerita banyak, tapi Cinta dan Cahaya menikmati pertemuan meraka kembali, berlari ke sana kemari. Yang dua bicara bahasa Belanda dan yang satu bicara bahasa jepang. Seru lucu dan kocak. Meisya sudah lupa lagi bahasa Belanda padahal dia masih sempat sekolah di Belanda. Kini dengan mudahnya dia berbahasa Jepang. Untunglah sebagai penyambung bahasa mereka bertiga saling menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Walau lebih banyak berlarian daripada bercerita, tapi itulah dunia anak anak, apapun bahasa mereka, mereka akan saling mengerti satu sama lainnya.

Reuni agustus 2014

Reuni agustus 2014

Dan kenapa kita orang dewasa walaupun dalam satu bahasa yang sama kadang tak pernah saling mengerti? Hahaha.

Terima kasih Puti dan Meisya atas kunjungannya, dan serbuk ajaib yang berubah jadi permen. It’s really amazing!

Puuuuut kapan aku bisa balik ke Jepang?
Kangen Syibuya tempat nongkrong hampir tiap sore bersama Ai and the gank, pas nyebrang di stopan yang super ramai itu. Kangen ngumpulin tissu gratisan. Kangen Yokohama. Kangen Yamanasi, Tokyo, Fukuoka. Kangen berat dengan Nishiyama san “mother of Tokyo” yang memperlakukanku bak seorang putri. Terlebih itu aku kangen pada ibu keduaku Sachie Ogata, dari beliau aku belajar bagaimana menjadi seorang istri yang melayani suami dengan cinta dan pengabdian, dan tak seujung rambut pun aku tak akan mampu seperti dia. Okasan maafkan aku yang belum juga membawa Luc seperti janjiku saat kutelepon dirimu untuk mengabarkan bahwa aku akan menikah. Ya Tuhan baru aku sadari bahwa aku ternyata dikelilingi oleh orang orang hebat. Tersadar bahwa aku punya warna warni hidup yang ceria dan fantastis.

Ya Tuhan, nikmat apa lagi yang telah aku dustakan?

Syibuya!

Syibuya!

Akhirnya Facial juga!

Hari ke duapuluhdua
Senin, 18 Agustus 2014

Setiap ke Indonesia, aku selalu menyempatkan diri buat di facial. Kebiasaan itu muncul sewaktu masih kuliah dulu, pergi dengan beberapa orang teman, di facial di salon salon rumahan, hal itu juga berlangsung hingga sudah bekerja. Tak sering paling dua atau tiga bulan sekali. Nah di akhir akhir masa kerjaku barulah aku mampu di facial di tempat perawatan kulit yang agak lumayan di Bandung. Aku pilih di Natasha yang berada di daerah Talaga Bodas. Tetap sejak dulu aku tak pernah tertarik jika ditawari produk produk dari mereka, secara aku tak terlalu suka bermake up juga aku tak suka jika harus berlama lama membersihkan muka, jadi kalaupun ditawarkan aku selalu pilih sabun muka saja yang bisa dikerjakan di kamar mandi. Cepat dan praktis.

Sejak tinggal di Belanda datang ke tempat perawatan kulit adalah waktu yang selalu didambakan dan kini aku selalu mengajak ibuku datang ke Natasha. Lucunya jika ditanya kapan terakhir kali datang kesini, selalu kami jawab sudah lama kira kira satu tahun yang lalu. Ya wong mudiknya hanya bisa satu tahun sekali kecuali mudik tahun ini yang baru bisa dua tahun kemudian karena tahun lalu orang tuaku yang berkunjung ke Belanda.

Pagi itu pukul 10 pagi kami sudah nongkrong di Natasha, aku dan ibuku janjian bertemu di Natasha, aku dtang dari Sensa Ciwalk sedangkan ibuku datang dari rumahnya dari Cibiru. Aku datang sendirian naik angkot dan ibuku diantar ayahku. Pukul satu siang kami sudah selesai. Wah rasanya wajah berubah halus dan mulus, hahaha.

Membayangkan orang orang yang ada di Indonesia dan yang berbudget berlebih tentunya bisa dengan sesuka hati mendatangi salon kecantikan. Walah enaknya….

Setelah kami makan siang, kami menjemput si kembar di rumah bibiku. Aku membawanya ke hotel diantarkan ayahku. Tak kuberitahukan pada Luc bahwa aku akan datang bersama anak anak, saat mereka datang dihadapan Luc, Luc menciumi mereka dengan senangnya kemudian dia bercerita bahwa sejak aku meninggalkan dirinya tadi pagi, dia hanya diam saja di hotel tak jalan jalan atau nonton film di bioskop seperti yang selalu dilakukannya. Perutnya masih tak juga membaik karena itulah dia hanya diam saja di hotel karena mudah jika harus bolak balik ke toilet. Duh kasian……… Lalu ucapnya aku bahagia sekali kalian datang, rasanya depresi  tinggal seharian di hotel hanya berteman TV dan internet saja.

Aku menanggapinya sambil lalu, itulah yang tak pernah aku mengerti, mengapa Luc dan ternyata banyak dari suami suami bule teman temanku yang lebih suka memilih hotel daripada di rumah? Alasan Luc kadang dia perlu waktu pribadi juga, dia tidak terbiasa jika setiap saat ada orang di luar keluarga intinya, apalagi kalau tiba tiba tetangga datang dan Luc harus ikut mengobrol juga. Dia hanya tidak terbiasa. Dan menurut Luc liburan adalah waktunya hanya untuk diri sendiri dan aku saja, kalau bisa Cinta dan Cahaya pun dititipkan dulu, hahaha.

Tapi kami sangat beruntung karena Cinta Cahaya tidak terlalu harus bersama kami. Kami bisa pergi tanpa anak anak sampai berhari hari lamanya, sementara mereka bersama ayah ibuku. Tentu saja orang tuaku hanya mengawasi saja karena aku menitipkan alias menggaji juga seorang pengasuh anak setiap kali kami datang ke Indonesia.

Pernah suatu saat ibuku berpesan, urusan anak adalah urusan dan tanggung jawab orang tuanya, jangan sekali kali membebankan pada kakek neneknya. Hahaha dan ini baru terjadi dalam sejarah keluargaku, dulu tak pernah kakak kakakku menitipkan anaknya pada kakek neneknya, sekarang hanya aku yang tega menitipkan anak anakku pada kakek neneknya. Tapi kan mereka paling cepet hanya setahun sekali bisa berjumpa dengan kakek neneknya, dalihku mencoba mencari pembenaran.

Jadi proses mutualisma pun terjadi, aku dan Luc bisa bebas bergerak tanpa anak anak sesaat, ayah dan ibuku pun bisa berkangen kangen dengan cucunya. Betulkan? Hehehehe…..

Tapi aku pernah kena batunya juga, tahun lalu saat kami berlibur ke Portugal ( ke ibunya Luc), Cinta dan Cahaya kami titipkan selama lima hari pada omanya itu, sementara kami bermobil ria menjelajahi Spanyol wilayah Andalusia. Begitu datang dengan rasa kangen yang amat sangat aku langsung memeluk anak anak, tapi sepertinya mereka tak kangen sama sekali. Kemudian dengan polosnya Cinta berujar kepadaku, kenapa kalian sebentar perginya? Seru loh dengan oma Angela saja…….

Dan hatiku hancur berkeping keping……………

Quality time with my lovely parents

Hari ke duapuluhsatu
Minggu, 17 Agustus 2014

Rencananya hari ini ingin melihat perlombaan tujuh belas agustus di Cibiru, tapi dari pagi saat toa di mesjid berubah fungsi untuk memanggil para peserta lomba, aku tak beranjak untuk mempersiapkan Cinta dan Cahaya mengikuti lomba, mengingat waktunya yang sempit karena pukul 11 pagi aku ditemani ibu dan ayah harus segera keluar rumah untuk berburu batik di pasar baru atau apapun yang bisa aku bawa ke Belanda.

Dan cita cita untuk mengikutkan Cinta Cahaya dalam perlombaan makan kerupuk pupus sudah. Pukul 11 siang Cinta dan Cahaya sudah dibawa bibiku, dia akan dibawa jalan jalan ke taman lalu lintas Bandung dan menginap satu hari dirumahnya.
Sementara aku akan menginap selama tiga hari bersama Luc di hotel Sensa Bandung. Ayahku menurunkan Luc di jalan Cihampelas, dia boleh berkeliaran di sana dan jika sudah capek Luc bisa langsung check in di hotel sementara aku akan menyusul jika urusanku di pasar baru sudah selesai.

Acara ke pasar baru ini sungguh seru, begitu mobil di parkir di jalan Otista, kami segera berburu mie kocok di pinggir jalan otista. Bertiga saja, seperti dulu sewaktu aku masih tinggal bersama orang tuaku. Kemudian kami mendatangi pasar baru, membeli bed cover satu ukuran besar dan dua buah ukuran single untuk Cinta dan Cahaya. Tak kuberitahu soal bed cover ini pada Luc karena jika dia tahu dia akan duluan protes karena mana mungkin kami bisa membawa ke Belanda barang sebesar itu.

Selain berburu bed cover, aku juga mencari baju batik untuk guru ngajiku di Belanda, tapi ukuran yang dicari tak ada, walaupun XL tapi tetap saja kecil tak mungkin muat di badannya. Hingga akhirnya aku menemukan batik untuk diriku sendiri hihihi, biasa…. tujuan awal untuk seseorang, saat yang dicari tak didapatkan daripada tak membawa hasil lebih baik belikan untuk diri sendiri saja kan.

Selesai urusan pasar baru, kami bertiga datang ke hotel dimana Luc berada, istirahat sebentar, sholat dan lain lain lalu siap siap pergi untuk makan malam berempat. Adikku sudah merekomendasikan agar kami makan malam di Nanny’s Pavillon di jl Riau, mengingat perut Luc yang belum kembali normal setiba dari Lombok, apalagi kalo bukan urusan diare. Maka disarankan makan ala western saja.

Ibuku yang biasanya tak begitu suka makan diluar, kali ini sangat menikmati moment makan malam ini, berkali kali dia mengungkapkan beginilah makan malam yang dia inginkan, tak terlalu ramai tempatnya, penyajian yang cepat dan makanan yang lezat. Aku kira kenapa saat ini kami bisa makan dengan tenang karena tak ada anak kecil diantara kami, biasanya jika ayah dan ibu makan di luar akan selalu ada beberpa orang cucunya ikut bersamanya, tergantung siapa yang mengajak makan tersebut, jika kakakku yang mengajak kakakku maka akan ikut pula dua anak anaknya, tapi kini Cinta dan Cahaya sedang menginap di rumah bibiku, tentu saja heboh anak kecil tak terjadi malam ini.

Dan kami berempat benar benar menikmati makan malam ini dengan bahagia, bercengkrama saling bercerita dan bercanda.

Terima kasih ibu dan ayah. Atas doa yang tak pernah putus untuk kami, atas semua kasih sayang yang telah diberikan yang tak  mungkin bisa kami tandingi. Semoga kesehatan, kedamaian dan kebahagian akan selalu bersama kalian. Aamiin. 
IMAG2373IMAG2381IMAG2384IMAG2385

Apakah teman sejati itu ada?

Hari keduapuluh
Sabtu, 16 Agustus 2014

Rencana hari ini adalah di rumah saja, di rumah orang tuaku di Cibiru. Sebelum kami datang ke Bandung aku dan Luc sudah menyusun schedule dan hari ini dijadwalkan bagi teman temanku yang sudah wanti wanti ingin bertemu denganku, jika aku datang ke Indonesia. Bak orang penting? Ah tidak! Biasa saja sih…..

Pukul 9 pagi, pintu rumah sudah dibuka untuk seseorang yang baru pertama kali aku kenal. Namanya Pak Asep. Dia kawan dari kakak ipar temanku di Belanda. Si kakak ipar temanku ini (dia orang Belanda) menitipkan umpan ikan (untuk memancing). Si kakak ipar temanku ini mengirimkan umpan ikan itu melalui pos ke alamatku di Belanda. Lucunya si kakak ipar temanku ini belum pernah aku kenal juga. Dia meminta tolong untuk membawakan umpan ikan itu melaluiku untuk temannya di Garut. Dan Pak Asep ini pagi pagi sekali sudah datang dari Garut untuk membawa umpan titipan dari kakak ipar temanku ini.

Dan ternyata, Pak Asep ini sangat baik sekali berbahasa Belanda! Maka obrolan dengan Luc pun mengalir lancar.

Pukul 11 pagi, datang ibu dari temanku dia juga membawa barang titipan dari temanku untuknya. Tak banyak kami bercakap cakap dengan dia, karena beliau sangat terburu buru, ibunya sedang terbaring di rumah sakit (nenek temanku).

Pukul satu siang, temanku yang dulu tinggal Belanda datang menjenguk kami. Dia hanya empat tahun tinggal di Belanda untuk menyelesaikan S3 nya, pulang ke Indonesia bulan April tahun ini dan akan kembali lagi bulan september masih di tahun ini untuk sidang. Anaknya yang seusia dengan Cinta Cahaya menjadikan pertemanan kami begitu erat.

Tepat mereka meninggalkan rumah orangtuaku, datang sahabatku dari Jakarta. Ratna.

Dia sahabatku dalam segala urusan. Mengapa begitu? Kami dipertemukan karena hobby yang sama. Sejak di bangku SMA aku berkeinginan untuk bisa menjahit baju sendiri, ternyata mencari kursus jahit di Bandung tidak mudah. Kursus jahit itu biasanya seperti sekolah umum saja yang datang tiap hari dan berjangka waktu tertentu misalnya tiga bulan atau enam bulan dan akan disertai sertefikat jika sudah lulus nanti, dan tentu saja biayanya tidak murah.

Nah keinginanku untuk belajar menjahit sejak kelas satu SMA itu baru terwujud sewaktu duduk di bangku kuliah, secara tak sengaja aku membaca iklan les privat menjahit di sebuah surat kabar. Ternyata tempatnya tak jauh dari rumahku, saat datang aku terkaget kaget karena orang yang memberikan les ternyata tak jauh beda umurnya denganku, berperawakan kecil juga sepertiku. Belajar menjahit bersama Ratna ternyata menjadi hal yang menyenangkan, kami banyak tertawa, setiap ngobrol nyambung dan persahabatan itu kian berkembang.

Dia seorang yang mandiri, berbekal kemampuan menjahit setelah meyelesaikan kursus menjahit bersertifikat, dia membuka privat jahit sendiri. Setiap kali les berlangsung dua jam. Aku datang setelah membayar untuk 10 kali les. Dia memberikan 10 kartu padaku, setiap aku les aku harus memberikan satu kartu untuknya. Menurut yang dia janjikan dalam 10 kali pertemuan itu aku akan dapat menjahit di tingkat dasar. Sistem yang dia berikan sangat menarik dan menurutku sangat cerdik. Kami sama sama mendapatkan keuntungan, jika aku tak datang ke tempat les karena suatu urusan, kartuku tak akan hilang sehingga aku bisa menggunakannya di lain waktu.

Ternyata kami sama sama penggila buku, banyak buku yang dia baca dan tak aku ketahui, dari sana kami bertukar buku, kemudian kami saling janjian untuk shoping bareng, bermula pada alat alat jahit dan bahan atau Kain untuk membuat baju, kemudian berkembang ke yang lainnya. Dan pertemanan itu berlangsung dari tahun ke tahun hingga aku lulus kuliah, dan mulai masuk kerja. Aku menceritakan suka duka di tempat kerja, bertemu teman teman baru yang tak kupahami siafatnya. Dia mendengarkan dengan baik kadang memberi nasihat. Kemudian kami jadi hobby traveling, beberpaa kali kami ke Yogya, menemukan pengalaman menarik disana dan tak terlupakan. Kemudian persahabatan ini menjadi melibatkan dua keluarga, orang tua dan adikku jadi sering mengunjungi keluarga mereka.

Kemudian dia menikah. Aku masih tetap sendiri dan kemudian aku pindah kerja ke Bogor, dan dia harus pindah ke Jakarta mengikuti suaminya. Persahabatan ini tak berubah. Kami masih saling berhubungan. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan dia sibuk dengan usahanya untuk mempunyai anak. Bertahun tahun namun tetap tak membuahkan hasil. Hingga mereka berencana untuk mengadopsi seorang anak. Dan kemudian aku menikah, meninggalkan pekerjaanku yang mulai membaik, meninggalkan bos ku yang mengharapkan aku tetap disisinya. Aku pindah ke Belanda, mengikuti suamiku. Mengandung, melahirkan, membesarkan si kembar. Dan semuanya tak berubah aku dan Ratna tetap menjaga hubungan baik, saling menyapa di media sosial, kadang aku meneleponnya dari Belanda, berhaha hihi sesaat, kemudian sama sama melanjutkan kegiatan kami kembali. Setiap aku ke Indonesia kami selalu berjumpa.

Dan satu setengah tahun yang lalu aku mendengar kabar gembira, Ratna dan suaminya berhasil mengadopsi seorang anak setelah menanti dalam jangka waktu yang lama. Dia hanya bercerita bahwa bayi yang ada dalam asuhannya sudah berusia tiga hari saat berada di tangannya. Dalam kondisi yang sangat mengenaskan karena tak diberi susu oleh ibunya sejak melahirkan. Bayi tersebut harus dirawat di rumah sakit saat tiba di tangannya. Dan Ratna memasukannya ke rumah sakit bersalin mahal dan terkenal di Bandung. Kenapa di Bandung? Karena dia dapat mengawasi dibantu keluarga besarnya di Bandung.

Dan selama satu setengah tahun ini, aku belum pernah melihat foto bayi kecil Ratna. Yang saat pertama kali datang dan berada di tangannya kurang dari 2 kg saja, yang harus masuk mesin inkubator beberapa waktu di rumah sakit. Dalam bulan bulan pertama di tangannya ratna sering mengirimkan whats App padaku, meminta petunjuk apa yang harus dia lakukan kalau bayinya menangis terus, bagaimana menghadapi saat dia diare, saat dia panas tinggi, hingga bertanya kapan usia yang tepat untuk mengajak jalan jalan si bayi ke Yogya, hahahaha.

Dan sore itu saat mereka sekeluarga datang, aku sungguh terpesona pada bayi mungil Ratna yang kini berusia satu tahun setengah dan tak mungil lagi. Badannya besar dan gemuk, dia lincah luar biasa, berteriak teriak tak jelas, dan salah satu matanya tak berfungsi dengan baik. Aku bertanya tentang kondisi matanya. Ya, menurut Ratna karena terjadi saat tak mendapatkan asupan makanan sejak dilahirkan, dan hampir tak tertolong. Aku mendengarkan dengan baik setiap penuturan Ratna, sejak pertama dia mendapatkan bayi ini dia sudah mendapat penjelasan dari dokter bahwa bayi miliknya akan banyak kekurangan, Ratna dan suaminya tetap mengusahakan penyembuhan untuk matanya, tak jelas bagaimana cerita Ratna yang menceritakan jika salah satu matanya tetap tak berfungsi setelah operasi yang akan dijalankan dokter akan membuatkan bola mata palsu untuknya.

Tuhan selalu mempunyai skenario yang baik untuk umatnya. Anak yang ada dalam asuhan Ratna dan suaminya, berada di tangan orang yang tepat. Mereka begitu melimpahi kasih sayang yang luar biasa untuknya. Aku tahu melihat keadaannya, anak tersebut pastilah memakan biaya yang sang at besar. Tapi Tuhan memberikan kemudahan bagi pasangan suami istri tersebut. Aku memang tahu ada beberapa investasi yang dimiliki sahabatku itu, dan Ratna menceritakan bahwa dia sudah menabung untuk si anak kelak, dia menginginkan pendidikan terbaik, kesehatan terbaik, dan ahlak yang mulia. Aku bergetar mendengarnya. Teringat bagaimana Ratna dulunya, dia wanita yang tak mau duduk diam, ada saja yang selalu dikerjakannya, sibuk kesana kemari. Dan sekarang bagaimana bisa dia hanya diam di rumah saja mengurusi anaknya?

You are great mother, Ratna. Pujiku padanya. Kemudian Ratna berbalik berseloroh padaku dan ibuku yang duduk menemani bertukar cerita. Kamu yang hebat Yayang, ibu yang luar biasa. Bagaimana bisa mengurusi dua orang anak yang lincah seorang diri di rumah? Tak ada yang membantu, jauh dari orang tua dan saudara, bagaimana bisa?

Dan kami pun tertawa bersama. Mengingat persahabatan kami yang istimewa. Aah ah ah, salah satu yang aku rindukan dari Indonesia adalah sahabat yang mengerti aku apa adanya sejak dulu……..