The last day (Hello Goodby)

Rabu, 27 Agustus 2014

Hari ini hari rabu, di minggu terakhir di bulan Agustus, dan berakhir pula liburan kali ini di Indonesia.

Kami berencana berangkat pukul 4 sore dari rumah, dengan harapan tiba di bandara sebelum pukul 9 malam, karena kami sudah harus check in 3 jam sebelum pesawat take off. Sedangkan jadwal pesawat take off adalah pukul 00.04 WIB.

Tapi rencana tinggal rencana, mobil sewaan beserta supir sudah menanti dengan manis sejak pukul 4 sore, tapi kami baru keluar rumah pukul 5 sore. Aku yg berada di mobil sewaan bersama kedua orangtuaku beserta Cinta, Cahaya dan Ghaly ponakanku beserta ibunya yang tak lain istri adikku Abay ‘Surabay’ semakin gelisah begitu melihat antrian panjang di jalan Bypass Bandung, belum lagi mobil sewaan yang harus diisi bensin. Sialnya tanggal 27 Agustus adalah hari yang gonjang ganjingg di Indonesia, saat itu di Indonesia bahan bakar bensin sulit didapat. Ayahku malam sebelumnya sudah mengingatkan adikku untuk menyewa mobil dengan wanti wanti agar mobilnya diisi bensin terlebih dahulu karena menurutnya isu keurangan bahan bakar akan terjadi hari rabu ini. Ternyata apa yang ditakutkan ayahku terbukti benar. Mobil yang kami tumpangi hanya bisa melewati pom bensin yang sebetulnya mudah didapat di Jalan Bypass namun entah kenapa semua pom bensin kehabisan bahan bakar yang dijualnya, semua pom bensin bertulisan kosong.
.
Aku yang terpisah dengan Luc segera menghubungi adikku yang satu mobil dengan Luc untuk tak menunggu kami, setidaknya Luc bisa datang tepat waktu ke bandara dan terlambat. Semua koper ada bersama Luc dan adikku.

Menyesal karena aku tak menuruti saran adikku untuk berangkat menggunakan satu mobil saja. Abay menyarankan agar kami hanya menggunakan mobil ayahku, sedangkan koper berangkan dengan travel saja ke jakarta. Menurut adikku itulah cara yang paling mudah, karena dia sudah biasa menggunakan travel setiap sebulan sekali kalau dia bertugas ke Bali, dia hanya naik travel saja ke bandara, dan katanya bisa barang juga. Tapi aku ketakutan jika barang tak akan sampai di hari yang sama. Kata adikku ketakutan yang tak beralasan katanya.

Tapi sudahlah aku sudah memilih menyewa mobil lain, dan inilah yang terjadi, pukul 6 sore kami masih berada di Bandung mencari bensin. Dan ketegangan kami berakhir ketika pom bensin yang berada di perempatan bypass dan buah batu menyediakan bahan bakar yang kami cari. Dengan antrian yang sabar akhirnya kami berhasil dari pom bensin dengan mobil yang kini terisi penuh dengan bensin.

Kami berhasil sampai di bandara pukul setengah sepuluh malam, kakak pertamaku sudah menanti beserta istri yang datang langsung dari Bogor. Sedangkan Luc dan adikku akhirnya bergabung bersama kami setelah mereka berhasil menurunkan semua koper dari mobil dan segera mendorong troli yang kini dipenuhi oleh koper koper kami.
Kami langsung masuk untuk segera check in, baru saja kami melewati pemeriksaan x ray, sementara koper sudah dinaikan ke ban berjalan untuk diperiksa juga,saat aku sibuk memindahkan koper kembali ke troli, seorang petugas mendatangiku sambil menenteng tas merah kepunyaanku, punya siapa ini? Tanyanya aku segera menjawab punyaku sambil diiringi ucapan terima kasih, aku kira dia tengah membantuku untuk memasukan ke troli, ternyata dia menyuruhku membuka tas merah tersebut, ibu membawa botol baygon besar ya? Tanyanya.

Apa seruku kaget sekali, dan segera membuka tas merah yang terkunci, akhirnya aku berhasil membuka tas tersebut. Hatiku kalang kabut, sepertinya ketegangan masih terus mengikutiku, setelah bisa bernafas lega setealah bisa sampai dengan selamat ke bandara, kini aku masih tertahan untuk membongkar tas merah tersebut. Petugas tersebut segera menarik bingkisan kotak yang terbungkus kertas buku warna coklat. Ternyata isi tas merah adalah semua titipan teman temanku di belanda dari keluarganya di Bandung dan Jakarta. Teman temanku yang menitipkan titipan adalah semua teman terdekatku, bahkan keluarga mereka di Bandung suka berhubungan dengan keluargaku juga di Bandung.

Bungkusan yang kini tengah dibuka oleh petugas bandara ternyata berisi berbagai macam kerupuk mentah, ada kerupuk kulit dan entah kerupuk apa lagi. Petugas tersebut segera mengembalikan otak sepatu yang berisi berbagai kerupuk kulit tersebut dan mulai menarik bungkusan lain yang dicurigai berisi baygon. Aku mulai naik darah karena ingat aku harus segera mengantri untuk check in, jika waktunya terlalu mepet aku tak bisa kembali untuk menemui keluargaku karena waktunya terlalu mepet dengan boarding.

Dan ternyata begitu bungkusan tersebut dibuka, salah satu isinya memang baygon! Ya ampun, aku yang tadinya sudah naik darah malah bersyukur benda tersebut disita di Soekarno Hatta, kalau sampai terperiksa di Schiphool mungkin akan lebih merepotkan, entahlah aku juga tak mengeri mengapa aku tak bisa membawa baygon ke Belanda, mungkin temanku juga tak mengerti bahwa baygon dilarang.

Dengan tergesa gesa aku berhasil memasukan semua barang kembali ke tas tersebut. Luc yang sudah berada di belakangku ikut terkaget kaget dengan kejadian barusan, sambil menenangkan diri kami segera berbaris dalam antrian check in.

Dan waktu yang tersisa hanya setengah jam saja setelah kami berhasil check ini dan memasukan semua koper untuk selanjutnya dimasukan ke bagasi pesawat. Walau begitu aku tetap memutuskan untuk kembali ke keluargaku sejenak. Ghaly ponakanku berseru gembira ketika melihat Cinta dan Cahaya.

Selalu sulit rasanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada orang yang kita cintai terutama pada ibuku. Tak bisa kuungkapkan begitu beratnya, tapi aku harus kembali lagi pada kehidupanku.

Pesawat Emiraat yang membawa kami ke Dubai take off dan landing sesuai dengan jadwal. Begitu turun dari pesawat Cinta dan Cahaya begitu antusias, keluar dari pesawat dua anak kembar ini bertanya padaku dimana Ghaly berada mengapa belum kelihatan juga padahal sudah dari tadi mereka berjalan melewati lorong lorong yang mereka kira masih di bandara soekarno hatta, mana Ghaly tanya mereka? Saat kujelaskan bahwa Ghaly ada di Indonesia sontak mereka kecewa dan ingin kembali ke Indonesia, rupanya mereka belum mengerti konsep perjalanan jauh, tak mungkin orang yang sama mengantarkan kita di Jakarta akan menanti kita juga di Dubai, keistemewaan tersebut hanya akan terjadi di film film saja.

Sampai di Schiphool, taxi yang telah dipesan saat kami ke Indonesia sudah menunggu. Aku tak banyak berkata kat selama berada di dalam taxi, sementara Cinta dan Cahaya kembali terlelap selama perjalanan dari Schiphool menuju Roterdam yang kurang sejam perjalanan saja.

Mendapati rumah masih seperti sedia kala seperti saat kami tinggalkan adalah suatu hal yang pertama aku syukuri.
Akhirnya aku kembali lagi ke kehidupan nyataku. Sangat berharapa akan ada lagi liburan liburan yang akan datang, kejutan kejutan manis yang selalu kunantikan. Bertemu sanak saudara, tak dirasa badan kecapaian, tidur kurang, kenyataan yang tak selamanya seperti yang diharapkan, tetap saja semua itu terobati karena bertemu dengan keluarga.

Apakah kalian juga begitu?

Schiphool 28 Agustus 2014

Schiphool 28 Agustus 2014

Advertisements

3 thoughts on “The last day (Hello Goodby)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s