Jangan pernah menyepelekan ingatan seorang ibu

Hari ke duapuluh delapan
Minggu, 24 Agustus 2014

Hari ini adalah hari minggu terakhir di Bandung sebelum aku kembali ke Rotterdam. Walau adikku Abay Surabay tak bisa datang tapi hari ini kedua kakakku bisa datang ke Bandung. Kakak pertamaku datang beserta keluarganya dari Bogor, sedangkan kakak nomor dua datang bersama istrinya dari Cianjur.

Hari ini, kakakku meminta kami makan siang bareng, katanya makan siang terakhir bareng bareng sekeluarga sebelum aku kembali ke Rotterdam. Karena nanti sore aku, Luc dan si kembar akan menginap kembali di Sensa berhubung rencana ke Cirebon batal, ternyata Luc membooking dua kamar di Sensa dari minggu sampai selasa, satu kamar untuk ayah ibuku. Gara garanya karena aku tak mau tidur di hotel lagi dan sangat ingin menikmati hari hari terakhir sebelum pulang ke Belanda hari rabu nanti bersama kedua orangtuaku. Kali ini ibuku bersedia diajak tidur di hotel hanya untuk menebus rasa bersalah dua tahun lalu, saat kami mengajak ayah ibu untuk tidur di Hotel juga, ibuku tak mau tidur disana, ngapain katanya tidur di hotel, wong ada rumah di Bandung dan tentu saja tempat tidur sendiri adalah tempat tidur yang paling nikmat sedunia, dan itu aku setuju sekali. Maka sebelum pergi makan siang aku sudah membereskan koper untuk dibawa ke Belanda, semua sudah dirapikan hanya satu koper saja yang masih terbuka untuk barang barang yang belum dibereskan sepulang kami dari hotel.

Awalnya kami berencana makan di Roemah Nenek di jalan Taman Cibeunying. Sengaja mencari tempat yang tak terlalu jauh, Taman Cibeunying mudah di jangkau, berhubung kami berangkat dari rumah sudah terlalu siang dan kedua kakakku akan langsung kembali ke rumahnya di Bogor dan Cianjur setelah makan nanti. Saat aku berkata bahwa kita akan ke Roemah Nenek, Luc yang saat itu sedang tenggelam di balik tablet melontarkan kata kata pada kami, Stone cafe rating nya lebih tinggi dari pada Roemah Nenek! Kakak pertamaku langsung ikut mengecek juga, dan tiba tiba saja dia ikut berseru kita kesana yaa…….

Padahal tempatnya termasuk dalam daerah yang kami hindari, sudah jauh macet juga. Saat Luc menyebutka nama Stone cafe tak ada diantara kami yang tau nama itu, artinya tidak satupun dari kami yang pernah makan disitu. Tapi kemudian ibuku menimpali, dia tau tempat itu, katanya dia pernah makan bersama kakakku dan kemudian menuduhku sudah makan disitu juga. Kontan kami semua menyebut ibu mengada ada sambil bercanda kami berkata ibu sedang mengigau, anehnya ibuku menyebut sangat detail tempatnya, saat kami menyebutkan beberapa nama untuk meyakinkan ibuku mungkin ibu keliru dengan restauran lainnya, tapi ibu tetap menggeleng dan berkata bukan setiap nama yang kami sebutkan. Saking detailnya ibu bisa menyebutkan bahwa ada mushola di bagian depan, kecil tapi bersih dan tempat wudhu nya bagus, ibu sholat Asar disana katanya.

Aku, Luc, ibu ikut bersama kakak nomor dua beserta istri. Berhubung rombongan kakak pertamaku yang paling kami andalkan untuk urusan jalan ke restaurant sudah berangkat duluan karena harus ke toko buku dulu untuk keperluan anaknya, rombonganku terjebak di jalan, karena kakakku tak berhasil menemukan jalan ke sana, waktu di briefing dia dengan pasti tau tempatnya, nah begitu sudah ada di daerah Tubagus Ismail dia tidak berhasil menemukan tempatnya.

Maka sibuklah aku saling telpon untuk meminta petunjuk ke rombongan yang telah pergi duluan, ibuku yang duduk di sampingku berkali kali memberitahukan kakakku yang sedang berada di belakang kemudi untuk mengikuti petunjuknya dengan menunjukan jalan karena dia pernah ke Stone cafe katanya. Karena kami tetap tak menemukan tempat yang dimaksud akhirnya Luc mengecek internet lagi, mencari alamat yang jelas dimana tempat itu, dan hoplaaa sekarang Luc sibuk menjadi co pilot kakakku dengan mengarahkan kemana mobil yang kami tumpangi harus melaju, Luc menggunakan google maps.

Dan tralaaaaaaa, kemudian kami mengenali jalan jalan yang dilalui, kemudian ibu semakin bersorak ketika Luc menyuruh kakakku menepikan mobilnya.

Saat kami menemui rombongan kakak pertamaku dan adikku yang sudah menunggu disana, kulihat mereka tertawa tawa, termasuk dua ponakanku yang sadah beranjak dewasa. Tawa kami semakin membahana saaat ibuku berkomentar seperti ini…..

Makanya harus percaya pada orang tua, apalagi pada seorang ibu. Sudah berapa kali ibu bilang, kita pernah kemari tapi tak ada satupun dari kalian yang percaya.

Hahaha, saat aku turun dari mobil dan berjalan ke arah cafe, saat itu barulah aku yakin bahwa akupun pernah berada disini. Bahkan kedua ponakanku yang biasanya tak pernah lupa akan suatu tempat, semakin tersenyum simpul menyadari bahwa merekapun pernah kemari.

Satu pelajaran yang kami pahami hari itu, jangan pernah menyepelekan pendapat orang lain. Apalagi perkataan seorang ibu, jangan pernah diingkari.

Sambil cengengesan menahan malu, kami semua meminta maaf pada ibuku bahkan ayahku juga!

Advertisements

2 thoughts on “Jangan pernah menyepelekan ingatan seorang ibu

    • Ya emang aneh ga ada yg ingat selain ibu. Mungkin krn nama Stone cafe jarang kami denger, jadi kami hanya berkata berdasarkan keyakinan ‘rasanya’ kami blm pernah makan ditempat itu. Ternyata ‘rasa’ itu keliru😌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s