Desaku yang kucinta

111_1268

Luc, mang Entis, ayah

Hari ke duapuluhlima
Kamis, 21-8-2014

Akhirnya adikku Abay Surabay datang juga pukul 10 pagi, setelah aku dan ibuku sibuk mengomel panjang pendek karena rencananya pergi pagi ke Singaparna tak sesuai dengan rencana. Seruku menyambut kedatangannya, asalnya kalian mau tak tinggal… tapi gak bisa wong kamu supirnya. Dia hanya nyengir saja seperti biasa. Menurutnya tak penting mendengar omelan aku yang selalu cerewet padanya.

Dan perjalanan menuju Singaparna pun diramaikan oleh celoteh Cinta dan Cahaya yang sudah lebih fasih berbahasa Indonesia dan saling menimpali bersama Ghaly sepupunya, anak adikku itu. Sepanjang perjalanan Luc banyak diam saja, merasakan perutnya yang menurut ceritanya masih belum normal juga, dia sesekali menyuruh Cinta dan Cahaya tidak terlalu ribut, dan ketiga bocah yang duduk di jok paling belakang mobil Avanza kepunyaan ayahku terdiam sesaat setiap kali Luc berteriak menyuruh diam tapi selang menit kemudian mereka bertiga sudah kembali tertawa tawa dan berceloteh kembali. Hatiku senang melihat keakraban mereka bertiga. Tapi rupanya Luc sedikit cemburu, katanya padaku kenapa dia satu satunya yang tak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia? Aku semakin memanasinya, kelak kami bertiga akan saling berbagi rahasia menggunakan bahasa Indonesia dan kau tak tau, ujarku semakin membuat Luc geram. Hihihi.

Tapi untunglah Luc yang sedang sedikit ‘tertekan’ akibat bahasa dan perut yang tak bersahabat segera mencair ketika sudah mendekati Singaparna, dan kegembiraan segera terasa saat kami tiba di rumah mang Entis. Kami berkunjung ke rumah mang Entis, begitu kami biasa memanggilnya. Beliau bukan kerabat kami, tapi kekeluargaan diantara keluarga kami dan dia begitu erat. Walau pada awalnya hubungan ini adalah antara tuan dan bawahan, tapi kami tak mengganggapnya seperti itu. Aku sudah kenal mang Entis sejak aku bayi (menurut cerita ayah dan ibuku tentunya), mang Entis adalah orang yang mengerjakan sawah ayah dan ibuku, yang kemudian menjadi sering dipanggil ke Bandung untuk urusan memelihara taman yang harus dirapikan setiap sebulan sekali. Kemudian menjadi penunggu rumah ayah dan ibuku, jika mereka sedang berada di luar kota atau luar negri.

Saat Luc untuk pertama kalinya datang ke Indonesia, ibuku sudah mengajak Luc ke kampung mang Entis. Luc jatuh hati padanya. Saat Luc datang untuk yang kedua kalinya ke Indonesia untuk menikah denganku, oleh oleh istimewa dia persiapkan untuk mang Entis.

Menurut Luc, man Entis adalah orang yang paling baik yang pernah dia temui. Sementara menurut ibuku, dia adalah orang yang paling jujur dan tak pernah membicarakan orang lain sedikitpun walaupun kita berusaha untuk memancingnya, dia tetap tak akan terpengaruh.

Dan menurutku dia adalah orang yang cerdas, kecerdasan mang Entis yang begitu melekat erat dalam ingatanku adalah karena mang Entis bisa menjawab teka teki yang aku lontarkan yang menurutku teka teki tersusah di jamannya hahaha, saat itu aku masih kelas dua SD.

Herannya walau mang Entis tak banyak cakap, kalau tak kita tanya maka dia akan membisu selamanya tapi anak anak kecil sangat suka padanya dan selalu mengekuti mang Entis, itu terjadi padaku sewaktu aku kecil dulu, kemudian pada adikku, pada ponakanku dan kini pada Cinta dan Cahaya.

Ghaly ikut recokin mang Entis yg lg kerja

Ghaly ikut recokin mang Entis yg lg kerja

IMG-20140920-WA0004

Dan hari kamis tanggal 21 pada saat pengumuman pemenang presiden di umumkan, Cinta dan Cahaya begitu bergembira bermain main di pematang sawah.

Desa Ciawang Lebak Singaparna-2014

Desa Ciawang Lebak Singaparna-2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s