250 ribu ongkos naik kuda di Ganeca ITB, Blaammmmmmmmmmmm!

Hari keduapuluh empat
Rabu, 20 Agustus 2014

Hari ini ayahku menjemput kami dari hotel balik ke Cibiru ke rumah orang tuaku setelah tiga malam menginap di Sensa. Aku berjanji pada Cinta Cahaya untuk membawa mereka naik kuda sebelum kembali ke Cibiru. Setelah berputar dua balikan di jalan Cilaki, kami tetap tak menemukan kuda yang biasanya nangkring di jl Cilaki. Akhirnya kuputuskan untuk mencari kuda di jl Ganeca, yang sudah pasti suka berkeliaran di sekitar kampus ITB itu.

Baru saja ayahku berhasil parkir, beberapa mang kuda sudah mendatangi mobil kami, aku berkata bahwa kami hanya butuh tiga kuda saja, untuk Cinta, Cahaya dan Ghaly. Sementara Cinta dan Cahaya heboh untuk segera menaiki kuda, Ghaly ponakanku malah meronta ronta tak mau keluar dari mobil, di bujuk dengan cara apapun dia tak mau menaiki kuda.

Bagaimana bisa sementara ayahnya (adikku), dulu paling gila naik kuda. Masih ingat dalam ingatanku aku yang saat itu sudah kuliah sedangkan adikku yang kala itu masih SD (kami terpaut perbedaan umur 12 tahun) sering membawa adikku untuk naik kuda, kubiarkan dia naik kuda sepuasnya, sementara aku asyik makan baso yang kadang mangkal di pinggir jalan atau sambil membaca buku di mobil sambil istirahat atau sambil terkantuk kantuk saja di balik stir mobil. Hingga si mang kuda yang mendampingi adikku, memintaku untuk mencari kuda lain untuk ditunggangi adikku, kasian capek kudanya, kata si emang. Dan begitu kuperhatikan kuda yang ditunggangi adikku, kuda tersebut sudah mengeluarkan busa dari mulutnya. Dan tentu saja si emang sudah tersengal sengal kelelahan.

Kini mana mungkin Ghaly anak adikku bisa takut menaiki kuda? Karma? Karena dulu sering membuat kuda kecapean? Hehehehe.

Kembali ke soal Cinta dan Cahaya yang antusias naik kuda, mereka dengan sigap dinaikan oleh si mang kuda ke punggung kuda yang dia bawa. Tanpa ba bi bu lagi dua tukang kuda itu membawa Cinta dan Cahaya pergi. Ayah ibuku yang belum keluar mobil terkaget kaget, dan berkata padaku, awas perhatikan dengan baik takutnya anak anak dibawa kabur.

Waduh merinding pula mendengar komentar ibuku, untunglah belum lagi aku menyuruh Luc untuk mengejar si kembar, Anak anak sudah berada di hadapanku dengan senyum mengembang, melempar senyum di atas punggung kuda dengan bangganya. Aku berseru ke arah si emang untuk berhati hati dan cukup dua putaran lagi saja, mengingat waktu kami yang tak banyak sementara kami harus masih ke tempat lain sebelum pulang ke cibiru yaitu ke studio foto.

Kemudian satu dua kali aku melihat mereka melewati kami, kemudian aku dan Luc sepakat saat mereka melewati kami, cukup bagi anak anak main kuda.

Si mang kuda merayu kami untuk membiarkan Cinta dan Cahaya berkeliling sekali lagi, tapi aku menolaknya walaupun diikuti rengekan anak anak. Kok cuma sebentar bunda? Lagi lagi dong, abru juga naik, dan kata kata protes lainnya dari mulut si kembar, yang membuat si mang kuda di atas angin. Tapi begitu Luc berkata tidak, empat orang itu yang tadi merengek renget langsung diam termasuk dua kuda yang ditunggangi Cinta Cahaya. Si mang buru buru menurunkan anak anak dari punggung kudanya.

Aku segera bertanya berapa uang yang harus di bayarkan.
Jawab si emang…..
Satu putaran 50 ribu, mereka naik kuda tiga putaran.
Kemudian kata si emang yang satunya lagi….
Eh itu tiga putaran besar, trus satu putaran kecil. Yang putaran besar dikali dua, jadi mereka naik kuda tujuh putaran.

What???!!!! Seruku terkaget kaget. Jadi satu anak harus bayar 350 ribu? kali dua jadi 700 ribu? Yang rasanya tak sampai 10 menit saja? Di antara kepanikan mendengar angka yang fantastis aku masih sempat bersyukur untung Ghaly tak naik. Kalau dia berhasil kurayu untuk naik kuda, berapa uang yang harus kubayarkan?

Tapi tunggu dulu, aku ga mau dipalak begitu saja. Ini Indonesia, masih bisa bernego alias di tawar.

Jawabku, aku yang salah mang, harusnya aku menawar dulu sebelum anak anak naik. Nah aku lupa menawar karena kejadiannya begitu cepat, kalian langsung membawa anakku naik kuda. Mana mungkin 50 ribu satu putaran, pantasnya 10 ribu saja. Jadi perorang 70 ribu ya, dua jadi 140 ribu. Ujarku dengan yakin.

Si emang tetep ga mau, pun ketika aku menawarkan 200 ribu kemudian 250 ribu pada mereka. Hingga Luc mendengar diskusi kami dan bertanya sebetulnya berapa sih yang harus dibayarkan. Dan beranglah saat tau berapa rupiah yang dipinta tukang kuda tersebut. Tak wajar itu, serunya mana bisa lebih mahal dari pada naik kuda di Belanda?

Akhirnya ibuku turun tangan, katanya menggunakan bahasa Sunda yang halus, yang artinya seperti ini…. sudah kasih harga yang wajar saja, ibu juga penduduk Bandung, lahir disini, makan nasi seperti emang jadi tahu pasti mana mungkin naik kuda bisa semahal ini (lho apa hubungannya makan nasi dan harga naik kuda? hhihihi) Jadi terima saja uang 250 ribu ini, kan emang ga kerja setengah jam saja tidak sampai…. dapat uang sebesar ini, ibu aja yang pensiunan pegawai negri yang lebih dari 35 tahun kerja ga mungkin 15 menit dapat uang sebesar itu. Jadi terima saja, syukuri rejeki mamang yang banyak.

Kemudian sambil menyerahkan uang 250 ribu, ibuku berkata kembali…. ini saling ridho kan, semoga bermanfaat.

Kedua tukang kuda itu mengangguk ngangguk takjim, mengucapkan terima kasih dan berlalu dari kami semua. Sementara aku masih terbengong bengong.

Sebetulnya berapa sih harga normal naik kuda tunggang di ITB untuk satu putaran kecil? Walau aku tak tau ada putaran kecil dan besar seperti istilah yang dikatan tukang kuda padaku.

Cahaya naek kuda!

Cahaya naek kuda!

Cinta naek kuda!

Cinta naek kuda!

Advertisements

29 thoughts on “250 ribu ongkos naik kuda di Ganeca ITB, Blaammmmmmmmmmmm!

  1. aq ga pernah naik kuda di ITB mbaak (dah keburu gede 😀 ) tapiiiii kok ya muaaahaaal bangeeet ituuh….kebiasaan jelek orang kita, ga bisa liat “bule” dikit, harga langsung melambung. Jadi ingat waktu sekolah dulu, ada 2 orang bule naik bemo, mereka dipalakin sama si tukang bemo, dengan dalih itu bemo lgsg nganterin mereka kedepan hotel…padahal emang rutenya lewat sana..udah coba aq bantuin, tapi apa daya..waktu itu masih cilik…yaah tetap kalah laah ama si abang tukang bemo yang sangar 😦

    • Huhuhu, aku lupa klo aku ga di liat, yg di liat cuma bule, dan kadang banyak orang mikirnya bule identik dgn banyak uang, padahal salah besar, yg banyak uang justru orang Indonesia.
      Hahaha lucu juga ngalamin liat bule dipalakin supir bemo, ada ada aja ya😆

    • ini hari biasa, dan kuda tunggang, bukan andong, jadi cuma di daerah tertentu saja adanya tidak bisa keliling jauh. Cinta Cahaya 3 setengah keliling kata si emang kuda. Tiga keliling lingkaran besar dan satu putaran lingkaran kecil, yg lingkaran besar dihitung dua putaran hehehe. Untunglah sekarang sudah lama kejadiannya, jadi sudah tambah meridokan saja hehehe

  2. Ada lihat liputan wisata jalan-jalan di Borobudur naik gajah 50 ribu, yg namanya naik-naik binatang di tempat wisata mahal ya ternyata. Di Bandung gak tahu berapa pasti, tapi di puncak naik kuda juga harga berkisar sekitar 50 ribuan juga mba.

    • Iya betul ya, semua sudah mahal dimana mana, termasuk di Indonesia, tapi kalo yg ada tarifnya jelas gpp, jadi kita jelas, klo pun mau naik dua atau beberapa kali, kita bisa berhitung menyesuaikan dgn budget kita. Tiga tahun yg lalu kita ke taman safari, bisa foto dgn singa, di situ biaya foto 15 ribu perorang, karena kita ingin foto sekeluarga dgn singa jadi aku beli ticket 4, ternyata begitu difoto ticket itu berlaku untuk satu kali foto, bukan biaya perorang. Walah kaget campur seneng, karena kita bisa ngasihin ticket yg 3 nya ke orang lain yg ingin di foto juga, orang lain senang, kita pun senang krn bisa bikin orang lain bahagia😁

  3. Ya ampun mahalnya Yang! Ini karena mereka lihat suami kamu orang kulit putih ya? Aku suka cara ibu kamu menjelaskan ke mereka, bagus sekali ibu mengajak mereka melihat ridho, rejeki per hari dsb. Sama seperti kamu aku juga kadang ngga ngerti level harga di Indonesia sekarang.

    • iya kadang ga ngerti dgn tarif apakah itu harga normal atau kemahalan. Ya bisa jadi karena liat suami, atau kadang klo orang Jakarta ke Bandung mereka pada royal beli beli, jadi selalu kesannya orang Jakarta banyak uang, padahal aku orang Bandung

  4. Pingback: Ngga tahu harga | Chez Lorraine

  5. Aku tuh dulu hobbynya kalo ke Bandung pasti WAJIB naik kuda di Ganesha. Trus setelah kuliah di ITB jadi muak sama yang namanya kuda di sana x) Cuman ini bener2x keterlaluan deh… 250rb hanya untuk waktu sesingkat itu? Oh no… Aku seneng bisa bantu tukang kuda plus pasti ongkos merawat kuda gak murah…Cuman ya ga segitu juga kali yah 😦

    • ya, masalahnya aku ga nawar duluan, anak anak langsung naik, itu juga difoto waktu lewat kita dan aku panggil untuk selesai karena kita mau pergi ke tempat lain. Dan yg jelas aku ga tau taris untuk 3 setengah lingkaran/keliling. Kalo tau awalnya mahal mungkin cukup satu keliling saja.
      Iya, dulu waktu aku masih kuliah dan adikku masih SD, aku suka bawa adikku naik kuda di ITB, akunya suka ngobrol ama tukang kuda yg lain yg lg nongkrong, masih inget si tukang kuda rumahnya di Lembang, cerita juga tentang biaya perawatannya, tapi dulu kok aku bisa membebaskan adikku naik kuda sesukanya, rasanya harganya masih terjangkau banget, sekarang….. betul betul ga tau harga, hehehe

  6. Mbak, ini pasti karena pasangannya WNA, jadi dipalakin. Kebiasaan orang Indonesia memang begitu, orang kulit putih dianggap tajir dan boleh dipalakin.

    Di Bromo, naik kuda sekitar 80-90 ribu, tapi itu kudanya pakai mendaki.

  7. Halo mba… salam kenal yaaa….
    iya tuh kemarin pas mudik krucil kami naik kuda juga diseputaran ITB… alhasil pas bayar mertuaku ngamuk2 gara2 merasa ditipu… sama juga kayak mba, muternya ga seberapa lama, tarifnya minta ampun…. (pdhl kami ga ada yg bule lho, btw hehehee)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s