Apakah teman sejati itu ada?

Hari keduapuluh
Sabtu, 16 Agustus 2014

Rencana hari ini adalah di rumah saja, di rumah orang tuaku di Cibiru. Sebelum kami datang ke Bandung aku dan Luc sudah menyusun schedule dan hari ini dijadwalkan bagi teman temanku yang sudah wanti wanti ingin bertemu denganku, jika aku datang ke Indonesia. Bak orang penting? Ah tidak! Biasa saja sih…..

Pukul 9 pagi, pintu rumah sudah dibuka untuk seseorang yang baru pertama kali aku kenal. Namanya Pak Asep. Dia kawan dari kakak ipar temanku di Belanda. Si kakak ipar temanku ini (dia orang Belanda) menitipkan umpan ikan (untuk memancing). Si kakak ipar temanku ini mengirimkan umpan ikan itu melalui pos ke alamatku di Belanda. Lucunya si kakak ipar temanku ini belum pernah aku kenal juga. Dia meminta tolong untuk membawakan umpan ikan itu melaluiku untuk temannya di Garut. Dan Pak Asep ini pagi pagi sekali sudah datang dari Garut untuk membawa umpan titipan dari kakak ipar temanku ini.

Dan ternyata, Pak Asep ini sangat baik sekali berbahasa Belanda! Maka obrolan dengan Luc pun mengalir lancar.

Pukul 11 pagi, datang ibu dari temanku dia juga membawa barang titipan dari temanku untuknya. Tak banyak kami bercakap cakap dengan dia, karena beliau sangat terburu buru, ibunya sedang terbaring di rumah sakit (nenek temanku).

Pukul satu siang, temanku yang dulu tinggal Belanda datang menjenguk kami. Dia hanya empat tahun tinggal di Belanda untuk menyelesaikan S3 nya, pulang ke Indonesia bulan April tahun ini dan akan kembali lagi bulan september masih di tahun ini untuk sidang. Anaknya yang seusia dengan Cinta Cahaya menjadikan pertemanan kami begitu erat.

Tepat mereka meninggalkan rumah orangtuaku, datang sahabatku dari Jakarta. Ratna.

Dia sahabatku dalam segala urusan. Mengapa begitu? Kami dipertemukan karena hobby yang sama. Sejak di bangku SMA aku berkeinginan untuk bisa menjahit baju sendiri, ternyata mencari kursus jahit di Bandung tidak mudah. Kursus jahit itu biasanya seperti sekolah umum saja yang datang tiap hari dan berjangka waktu tertentu misalnya tiga bulan atau enam bulan dan akan disertai sertefikat jika sudah lulus nanti, dan tentu saja biayanya tidak murah.

Nah keinginanku untuk belajar menjahit sejak kelas satu SMA itu baru terwujud sewaktu duduk di bangku kuliah, secara tak sengaja aku membaca iklan les privat menjahit di sebuah surat kabar. Ternyata tempatnya tak jauh dari rumahku, saat datang aku terkaget kaget karena orang yang memberikan les ternyata tak jauh beda umurnya denganku, berperawakan kecil juga sepertiku. Belajar menjahit bersama Ratna ternyata menjadi hal yang menyenangkan, kami banyak tertawa, setiap ngobrol nyambung dan persahabatan itu kian berkembang.

Dia seorang yang mandiri, berbekal kemampuan menjahit setelah meyelesaikan kursus menjahit bersertifikat, dia membuka privat jahit sendiri. Setiap kali les berlangsung dua jam. Aku datang setelah membayar untuk 10 kali les. Dia memberikan 10 kartu padaku, setiap aku les aku harus memberikan satu kartu untuknya. Menurut yang dia janjikan dalam 10 kali pertemuan itu aku akan dapat menjahit di tingkat dasar. Sistem yang dia berikan sangat menarik dan menurutku sangat cerdik. Kami sama sama mendapatkan keuntungan, jika aku tak datang ke tempat les karena suatu urusan, kartuku tak akan hilang sehingga aku bisa menggunakannya di lain waktu.

Ternyata kami sama sama penggila buku, banyak buku yang dia baca dan tak aku ketahui, dari sana kami bertukar buku, kemudian kami saling janjian untuk shoping bareng, bermula pada alat alat jahit dan bahan atau Kain untuk membuat baju, kemudian berkembang ke yang lainnya. Dan pertemanan itu berlangsung dari tahun ke tahun hingga aku lulus kuliah, dan mulai masuk kerja. Aku menceritakan suka duka di tempat kerja, bertemu teman teman baru yang tak kupahami siafatnya. Dia mendengarkan dengan baik kadang memberi nasihat. Kemudian kami jadi hobby traveling, beberpaa kali kami ke Yogya, menemukan pengalaman menarik disana dan tak terlupakan. Kemudian persahabatan ini menjadi melibatkan dua keluarga, orang tua dan adikku jadi sering mengunjungi keluarga mereka.

Kemudian dia menikah. Aku masih tetap sendiri dan kemudian aku pindah kerja ke Bogor, dan dia harus pindah ke Jakarta mengikuti suaminya. Persahabatan ini tak berubah. Kami masih saling berhubungan. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan dia sibuk dengan usahanya untuk mempunyai anak. Bertahun tahun namun tetap tak membuahkan hasil. Hingga mereka berencana untuk mengadopsi seorang anak. Dan kemudian aku menikah, meninggalkan pekerjaanku yang mulai membaik, meninggalkan bos ku yang mengharapkan aku tetap disisinya. Aku pindah ke Belanda, mengikuti suamiku. Mengandung, melahirkan, membesarkan si kembar. Dan semuanya tak berubah aku dan Ratna tetap menjaga hubungan baik, saling menyapa di media sosial, kadang aku meneleponnya dari Belanda, berhaha hihi sesaat, kemudian sama sama melanjutkan kegiatan kami kembali. Setiap aku ke Indonesia kami selalu berjumpa.

Dan satu setengah tahun yang lalu aku mendengar kabar gembira, Ratna dan suaminya berhasil mengadopsi seorang anak setelah menanti dalam jangka waktu yang lama. Dia hanya bercerita bahwa bayi yang ada dalam asuhannya sudah berusia tiga hari saat berada di tangannya. Dalam kondisi yang sangat mengenaskan karena tak diberi susu oleh ibunya sejak melahirkan. Bayi tersebut harus dirawat di rumah sakit saat tiba di tangannya. Dan Ratna memasukannya ke rumah sakit bersalin mahal dan terkenal di Bandung. Kenapa di Bandung? Karena dia dapat mengawasi dibantu keluarga besarnya di Bandung.

Dan selama satu setengah tahun ini, aku belum pernah melihat foto bayi kecil Ratna. Yang saat pertama kali datang dan berada di tangannya kurang dari 2 kg saja, yang harus masuk mesin inkubator beberapa waktu di rumah sakit. Dalam bulan bulan pertama di tangannya ratna sering mengirimkan whats App padaku, meminta petunjuk apa yang harus dia lakukan kalau bayinya menangis terus, bagaimana menghadapi saat dia diare, saat dia panas tinggi, hingga bertanya kapan usia yang tepat untuk mengajak jalan jalan si bayi ke Yogya, hahahaha.

Dan sore itu saat mereka sekeluarga datang, aku sungguh terpesona pada bayi mungil Ratna yang kini berusia satu tahun setengah dan tak mungil lagi. Badannya besar dan gemuk, dia lincah luar biasa, berteriak teriak tak jelas, dan salah satu matanya tak berfungsi dengan baik. Aku bertanya tentang kondisi matanya. Ya, menurut Ratna karena terjadi saat tak mendapatkan asupan makanan sejak dilahirkan, dan hampir tak tertolong. Aku mendengarkan dengan baik setiap penuturan Ratna, sejak pertama dia mendapatkan bayi ini dia sudah mendapat penjelasan dari dokter bahwa bayi miliknya akan banyak kekurangan, Ratna dan suaminya tetap mengusahakan penyembuhan untuk matanya, tak jelas bagaimana cerita Ratna yang menceritakan jika salah satu matanya tetap tak berfungsi setelah operasi yang akan dijalankan dokter akan membuatkan bola mata palsu untuknya.

Tuhan selalu mempunyai skenario yang baik untuk umatnya. Anak yang ada dalam asuhan Ratna dan suaminya, berada di tangan orang yang tepat. Mereka begitu melimpahi kasih sayang yang luar biasa untuknya. Aku tahu melihat keadaannya, anak tersebut pastilah memakan biaya yang sang at besar. Tapi Tuhan memberikan kemudahan bagi pasangan suami istri tersebut. Aku memang tahu ada beberapa investasi yang dimiliki sahabatku itu, dan Ratna menceritakan bahwa dia sudah menabung untuk si anak kelak, dia menginginkan pendidikan terbaik, kesehatan terbaik, dan ahlak yang mulia. Aku bergetar mendengarnya. Teringat bagaimana Ratna dulunya, dia wanita yang tak mau duduk diam, ada saja yang selalu dikerjakannya, sibuk kesana kemari. Dan sekarang bagaimana bisa dia hanya diam di rumah saja mengurusi anaknya?

You are great mother, Ratna. Pujiku padanya. Kemudian Ratna berbalik berseloroh padaku dan ibuku yang duduk menemani bertukar cerita. Kamu yang hebat Yayang, ibu yang luar biasa. Bagaimana bisa mengurusi dua orang anak yang lincah seorang diri di rumah? Tak ada yang membantu, jauh dari orang tua dan saudara, bagaimana bisa?

Dan kami pun tertawa bersama. Mengingat persahabatan kami yang istimewa. Aah ah ah, salah satu yang aku rindukan dari Indonesia adalah sahabat yang mengerti aku apa adanya sejak dulu……..

Advertisements

4 thoughts on “Apakah teman sejati itu ada?

  1. Kata pepatah, Satu sahabat lebih baik dari seribu teman. Karena kita tahu, sahabat adalah yang ada dalam suka dan duka. Yang mengerti rasa. Yang menyinari hati.
    ah~ saya jadi rindu dengan sahabat-sahabat saya yang sedang merantau di segala penjuru 🙂

  2. Hai mbak. Saya pernah mampir blok ini blum sempat nyapa. Selalu tertarik dg cerita pertemanan bagaimana bisa bertemu bagaimana bisa bertahan. Seperti jodoh pasangan saja. Meski ada pasang surut. Yang selalu saya kuatirkan adalah kalau ada “badai” dalam pertemanan itu. Hehehe inshaa allah awet ya mbak pertemanannya dg mbak Ratna. By the way sosoknya hebat ya mbak ratna&suami begitu ikhlas menerima si bayi dg keadaannya

    • Halo Rangi, makasih dah nengok blog ini.
      Betul berteman itu seperti jodoh, kadang bisa ketemu dalam keadaan baik tapi bisa juga berpisah dalam keadaan tak menyenangkan. Walau kita sudah berusaha berpikir kenapa bisa berakhir tak menyenangkan, tetap saja kadang tak habis pikir kenapa orang yang dulunya baik pada kita bisa menyakiti kita bertubi tubi, hiks jadi curhat juga.
      Betul mbak Ratna dan suami memang orang langka di muka bumi ini. Cinta mereka benar benar tulus pada si kecil dan begitu berusaha memberikan segalanya untuk si kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s