Dan Porter pun ikut check in……………

Hari ke Sembilanbelas
Jumát, 15 Agustus 2014

Ga ada yang terlalu istimewa hari ini, kecuali pemandangan yang mungkin sudah biasa di bandara lombok, tapi aku baru pertama kali melihatnya.

Gini ceritanya….
Sewaktu di dalam taksi yang membawa kami dari hotel ke bandara, sopir taksi tanya, mau pake porter ga? Tentu aja kami jawab ga perlu karena koper yang kami bawa cuma satu itupun kecil saja.

Eh ternyata begitu taksi kami mendarat di depan bandara, dan saat kami turun. Porter yang sudah bejibun menunggu setiap taksi yang datang langsung membuka bagasi taksi,  pak sopir sudah bilang tak usah. Tapi karena si koper sudah dipegang porter, aku bilang pada pak sopir ga apa apa. Dalam hati membagi sedikit rizki tak apalah, toh mereka bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.

Si porter seorang bapak paruh baya terlihat bahagia saat aku iyakan, dengan sigap dia membawa koper kami ke troli yang dibawanya, kemudian kami sama sama masuk ke pintu bandara. Sampai situ aku segera mengambil troli yang dia pegang dan segera menyelipkan uang  di tangannya.
Si porter kaget, sambil berkata…. memangnya ibu ga mau saya antrikan di depan tempat check in?
Nah gantian aku dong yang terbelalak. Kok bisa diantrikan porter di tempat check in? Aku berkata pada porter itu, tak perlu Pak. Dan si Porter pun berlalu sambil mengucapkan terima kasih.

Aku dan Luc segera mencari counter Lion Air. Saat itu aku hanya melihat hanya ada dua bagian counter chek in yaitu Lion Air dan Garuda. Tempatnya saling bertolak belakang, begitu pula orang yang yang mengantri disana. Di bagian Garuda hanya sedikit yang antri, ada beberapa orang asing tapi tak banyak, terlihat beberapa orang asing tersebut datang beserta keluarganya karena ada anak anak kecil yang berkeliaran. Dan beberapa orang Indonesia yang bisa aku bedakan mereka datang dari orang orang yang ‘mampu’. Iya lah kita semua bisa melihat dari penampilan dan bawaannya.

Sedangkan di bagian diamana aku mengantri tak seperti di bagian sana. Di depanku bergerombol sekelompok laki laki muda dan ada beberapa yang tua. Mereka membawa  tas ransel yang lusuh, pakaiannya pun tak jauh beda dengan tas yang dibawanya. Kelompok itu saling bergerombol seperti mengandalkan dua lelaki muda yang ada di depannya. Mereka mengumpulkan tiket dan ktp pada lelaki muda tersebut. Mungkin ada enam orang. Luc sudah mulai terganggu karena mereka tidak berbaris tapi bergerombol. Kemudian aku sedikit menenangkan Luc, menjelaskan mengenai mereka, aku kira mereka pekerja yang akan bekerja di Jakarta, mungkin buruh tukang atau yang lainnya. Ku perhatikan wajah polos mereka. Bisa jadi mereka naik pesawat untuk yang pertama kalinya, karena mereka begitu mengandalkan lelaki muda yang paling depan. Dalam hati kudoakan semoga dimudahkan di Jakarta atau dimanapun mereka bekerja. Mendapatkan rizki yang barokah. Entah kenapa hatiku sentimentil sekali melihat mereka.

Kemudian tiba tiba saja seorang porter datang tergesa ke meja counter, pemuda lugu  yang sedang mengantri di depanku (yang seharusnya tiba gilirannya) tak berdaya menghadapi porter yang menyalipnya, porter tersebut menyerahkan beberapa tas di ban timbangan, mempersilahkan wanita yang dibawanya menyerahkan ktp dan tiket pada petugas di meja chek in tersebut. Melihat wajahnya tak ada mimik bersalah diwajahnya, sepertinya dia sudah biasa melakukan itu. Tak tahu aku apakah dia tak mengerti atau sudah begitu aturannya, jika dilayani porter maka barang harus dibawakan sampai ke tempat check in, dan si porter bisa dengan seenaknya menyalip antrian.

Luc melirik tajam ke arahku dan segera bertanya mengapa wanita dan porter itu menyalip antrian. Aku menjawab sekenanya mungkin wanita itu sudah hampir tertinggal pesawat sehingga harus didahulukan. Luc puas dengan jawaban tersebut!

Tapi kemudian belum sempat aku menarik nafas lega, seorang porter lainnya tiba tiba maju, dia bersama seorang laki laki yang aku perkirakan berumur 40 an, dia memakai kaca mata tebal dan yang sangat menyebalkan dia sibuk saja dengan hand phone nya, bukan sedang menelepon tapi memelototi layar hpnya, sibuk membaca, sambil sesekali jarinya menyentuh layar handphone tersebut, tapi matanya tetap ke handphone walau sedang berjalan, dan berjalan untuk menyalip kami! Menyalipku dan pemuda lugu itu( beserta gerombolannya)!
 
Luc kembali terguncang!  Apa lagi ini, serunya. Aku yang sudah pasrah hanya menjawab dengan dongkol, biarkan saja…. mereka hanya tak mengerti aturan.

Apakah porter di bandara ini selain membawakan tas dan koper juga bertugas mengantar sampai barang masuk bagasi? Kenapa mereka harus ikut mengantri? Sungguh baru kali ini aku melihat porter ikut membantu ke counter untuk chek in, mengangkat barang bawaan sampai menaikannya ke ban berjalan untuk ditimbang. Sungguh baru kali ini!
Mengertilah aku kini, tugas porter selain membawa barang bawaan juga agar orang yang akan check in tidak perlu mengantri, dan dengan cueknya bisa menyalip antrian. Sungguh menyebalkan!

Dan orang itu, orang yang berkaca mata tebal itu, yang mengenakan pakaian necis dan seperti seorang yang terpelajar hanya nunut saja ketika porter yang membawakan barang bawaannya menyalip antrian.

Dalam hati aku menyayangkan mengapa pemuda lugu itu yang ada di depanku, mengapa bukan aku sendiri yang ada di barisan paling depan saat dua porter menyalip kami, kalau saja ada di depanku, tentu sudah aku tegur. Kata kataku sudah ada di ujung lidah hanya ingin mengingatkan dengan wajah datarku tanpa marah, ingin mengatakan mengapa tidak antri saja sendiri, mengapa harus ditolong porter? Toch barang bawaannya hanya sedikit. Apakah dia tak bisa menyeret koper kecilnya seorang diri? Oh My God, aku benar benar tak habis pikir.

Tiba tiba si kaca mata tebal itu melirikku diantara matanya yang tengah memelototi handphone, dan dengan sengaja aku sedikit mendekat ke arahnya, keisenganku muncul seketika, aku ikut melirik layar handphone dengan sengaja. Dan ternyata saudara saudara sekalian….. dia sedanga memelototi Face book! Ternyata hanya memelototi sesuatu yang tak penting! Atau mungkin menurutnya itu adalah sesuatu yang maha penting! Who knows!

IMAG2365

Pemuda lugu yang dua kali disalip antriannya.

Advertisements

2 thoughts on “Dan Porter pun ikut check in……………

  1. kirain sibuk balas email kerjaan yah, ternyata facebook-an:D
    Salah satu minus point traveling di Indonesia memang berhadapan dengan manusia nya, kita sering kali harus positive thinking, tp kelamaan bikin sebel juga…pfiughhh

    • Padahal rasanya aku dah sabar ngadapen orang orang yang kadang suka ‘merasa istimewa’ kayak gitu, tapi ngadepen si kaca mata itu rasanya sebel banget, kalo yang nyalip orang yang ga tau atau ga ngerti masih okelah, ini mah kayak orang terpelajar gitu… eh ternyata…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s