Air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep

111_1218

Hari ke tujuhbelas
Rabu, 13 Agustus 2014

Rute hari ini adalah mengunjungi daerah Utara Pulau Lombok. Apalagi kalau bukan Gunung Rinjani. Sang supir membawa kami ke jalan yang berbeda dengan kemarin, jika kemarin menyusuri tepian pantai, kini berubah pemandangan di kanan kiri, maka aku disuguhi pemandangan pohon pohon nan hijau serasa ke arah Garut.

Dengan melintasi jalan yang berliku, tempat yang kami tuju (Air terjun Sindang Gile) bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam menggunakan mobil pribadi dari kota Mataram dimana hotel tempat kami menginap berada.

Ada dua rute yang bisa dilalui yaitu Rembiga – Anyar – Sinaru, sedangkan rute kedua adalah Mataram – Ampenan – Pemenang – Anyer – Sinaru. Eka, supir yang mambawa kami memilih menggunakan rute pertama, melalui rute ini kami melewati Hutan Pusuk. Di Hutan ini terkenal dengan monyet yang masih berlimpah, sebagian monyet tersebut datang ke pinggir jalan yang kami lewati dan nongkrong disana, meminta belas kasihan kami untuk sedikit memberi makan pada mereka.
111_1153

Setibanya kami di tujuan yaitu air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, begitu membuka pintu mobil aku dihadapkan pada seorang pemuda yang membawa sebuah kertas, sambil bertanya apakah kami akan ke air terjun, dia menyodorkan kertas yang sedari tadi dipegangnya.

Kertas tersebut berisi daftar harga untuk mencapai satu atau dua air terjun sekaligus. Harga untuk satu air terjun 125 ribu dan untuk dua air terjun sebersar 175 ribu perorang. Tarif sebesar itu sudah termasuk tiket masuk ke air terjun, snack dan guide yang menyertai kita. Agak terkaget kaget dengan tarif sebesar itu karena yang aku baca dari buku keluaran gramedia (intisari) berjudul where to go (Lombok & Sumbawa) yang keluar di tahun 2012 dan dibeli ayahku di tahun 2013 tiket masuk untuk melihat dua air terjun tersebut hanyalah sebesar dua ribu rupiah saja. Jadi untuk guide dan lain lainnya yang mahal.

Aku menawar tarif tersebut, tapi tak berhasil. Pemuda tersebut tetap memintaku biaya 350 ribu untuk dua air terjun untuk dua orang. Aku tau aku bukanlah penawar yang ulung jika dibandingkan teman yang aku kenal, tapi aku lebih baik daripada ibuku yang hampir tak pernah menawar dalam hidupnya, kalaupun harus menawar pasti tak pernah berhasil!
Aku menyerahkan setengah uang dimuka dan aku berjanji membayarkan sisanya setelah selesai. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa kami akan di guide oleh temannya
.
Edy, seorang muda belia yang datang kepada kami untuk meng guide kami, kurus, berkulit legam dengan wajahnya yang kalem dan mata yang teduh. Kami berdua (aku dan Luc) langsung jatuh hati padanya. Dalam hatiku, mampukah dia membawa kami kesana? Edy meminta tas ransel yang dibawa Luc. Aku bawakan katanya, pertama Luc menolaknya, tas ransel itu hanya berisi obat obatanku dan dua botol air mineral saja. Edy membujuk Luc untuk membawakan ranselnya sehingga dia bisa memasukan kantong keresek yang sedari tadi dibawanya. Ternyata isi kresek Edy adalah tiga botol air mineral, sebungkus kacang garuda, chips, Oreo, dan wafel Tanggo.

Jalan menuju air terjun Sindeng Gile menurun dengan tanah yang teleh ditembok menjadi tangga. Rapi dan nyaman saat kami menuruni tangga tersebut. Orang lokal sini sepertinya tak perlu membayar tiket masuk karena aku melihat beberapa anak kecil usia sekitar 10 tahunan sedang bermain menuju air terjun. Tak banyak turis domestik. Kami hanya berpapasan dengan turis mancanegara dengan guide yang menyertai mereka.

Kurang lebih duapuluh menit berjalan kami telah sampai di air terjun Sindeng Gile. Pemandangan di depanku sungguh menakjubkan. Baru pertama kali ini aku melihat air terjun sebesar dan setinggi ini. Air terjun Sindeng Gile aliran airnya melalui tebing bertingkat. Masyarakat disekitar sini mempercayai bahwa air terjun ini mempunyai khasiat membuat awet muda.
111_1163

Berdiri dalam jarak dimana Luc berdiripun, dia kembali keatas dengan basah kuyup terkena serpihan air terjun yang deras, disarankan bagi mereka yang tak ingin basah bajunya untuk menggunakan jas hujan

Berdiri dalam jarak dimana Luc berdiripun, dia kembali keatas dengan basah kuyup terkena serpihan air terjun yang deras, disarankan bagi mereka yang tak ingin basah bajunya untuk menggunakan jas hujan

 

pelangi kembar

Pelangi kembar

sendiri

Suara air terjun yang deras membuat kami harus mengeraskan suara jika ingin berbincang. Sedikit saja mendekati air terjun tersebut, maka pakaian kami basah terkena cipratan air terjun yang deras. Disitu kami sibuk berfoto ria, Edy menawarkan makanan yang dia bawa pada kami saat kami duduk di batu didekat air terjun. Aku berkata padanya, mengapa dia membeli makanan ini, dia menjawb karena itu adalah snack yang tertera di kertas yang aku baca sebelumnya. Aku menyarankan lain kali jangan membeli snack karena biasanya para wisatawan asing tak banyak yang ngemil, sayang uangnya dibelikan sesuatu tapi tak dimakan.

Nah perjalan ke air terjun selanjutnya yaitu Tiu Kelep, sedikit membuat aku kewalahan, medannya yang sedikit sulit membuat Luc dan Edy menolongku berkali kali. Dua kali kami harus menyebrang sungai, walau tak sampai pahaku airnya tapi sungguh menyulitkan berjalan di atas batu yang licin. Tapi rasa lelah setelah berjalan akan terobati saat melihat pemandangan Tiu Kelep. Saking derasnya air yang menghujam ke bawah menimbulkan uap air yang berterbangan, di tengah jatuhnya air terjun disarankan untuk tidak berenang di bagian jatuhnya air terjun karena di situ pusaran airnya lebih deras dan ada putara air, sehingga jika kita kecapaian maka kita akan tak kuat berenang ke tepian. Edy bercerita beberapa waktu yang lalu ada seorang warga negara Spanyol yang datang ke tempat tersebut tanpa guide. Dia berenang disana dan dia terbawa pusaran air hingga lelah, untunglah nyawanya masih tertolong tapi dia tak mampu untuk berjalan balik keatas, hingga dia harus dibopong oleh 4 orang guide.
111_1190111_1195di dpn air terjun

Dari cerita Edy selanjutnya aku mendapatkan informasi bahwa untuk mencapai kaki gunung Rinjani diperlukan perjalanan lagi sekitar dua kilometer dari situ. Satu kilometer dapat ditempung menggunakan kendaraan roda empat sedangkan satu kilometer selanjutnay hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, Edy menawarkanku ke pintu kaki Rinjani dengan mengguanakan sepeda motor miliknya, sayang waktu yang kami miliki tidak banyak sehingga janjiku kepada ponakanku untuk bisa mengunjungi kaki Rinjani tak dapat dicapai. Ponakanku bernama Rinjani, namanya diambil dari Gunung Rinjani yang diberikan oleh ibuku untuknya, Rinjani yang megah. Dan gadis cantik yang bernama Megah Rinjani ini kini telah berusia 17 tahun.

Saat kami duduk beristirahat di Tiu Kelep, Edy bercerita bahwa dia minggu yang lalu habis membawa tamu dari Belgia menaiki gunung Rinjani, perjalanan menaiki Rinjani diperlukan waktu tiga hari dua malam. Biaya yang harus dikelurkan mereka yang menaiki Rinjani untuk menyewa guide berkisar maksimal 6 juta perorang. Berdasarkan pengalaman Edy tamu yang pernah dibawanya yang  cerewet adalah tamu dari Prancis dan Cekoslowakia, mereka menginginkan pelayanan yang prima, menurutnya para guide harus bekerja maksimal karena mereka telah dibanyar sangat mahal, konon jika mereka tak bagus maka uang yang telah mereka bayarkan ingin ditarik kembali, entahlah.
duduk di batu
111_1202

Jika Edy menerima tamu menaiki Rinjani, dia sangat gembira karena dia akan menerima uang bersih sebanyak 500 ribu dari perjalan tiga hari tersebut. Tapi dia harus membawa beban hampir 35 kg di punggungnya. Edy bercerita satu tahun yang lalu saat di untuk pertana kalinya membawa tamu ke gunung Rinjani (sewaktu dia kelas 3 SMA) dia menangis di bukit penyesalan. Bukit tersebut berada di atas danau Segara Anak yang indah itu. Tanah yang dipijak setelah dua injakan akan menurun satu injakan, jadi akan memakan waktu yang lama untuk mencapai puncak. Banyak pengunjung disana menangis karena menyesal mendakai gunung Rinjani, katanya mau naik ke atas serasa tak mampu lagi apalagi mau kembali ke bawah, akan sangat menyesal karena sudah lebih setengah jalan. Tamu yang dibawa Edy pun merasa kasian, berkali kali mereka menawarkan untuk membawakan beban yang dibawa Edy, tapi Edy menolaknya karena itu merupakan tugasnya. Biasanya mendaki gunung Rinjani bersama sebuah tim, guide dan juga poter yang membantu membawa beban, tentu saja beban yang dibawa poter lebih banyak.

Edy tak menyebutkan berapa honor yang dia dapat setelah mengantarkan kami. Tapi dia berkata bahwa setidaknya dia dapat memberikan uang kepada ibunya sebesar 20 ribu setiap kali dia membawa tamu ke air terjun, dan sedikit uang saku untuk membeli rokok untuk dirinya. Aku menggodanya jika Edy tak merokok tentu uang yang diberikan pada ibunya akan lebih besar. Dia hanya tersenyum. Aku pun berkata kue yang telah dia beli untuk dibawanya pulang saja. Edy sangat senang dan berkali kali mengucapkan terima kasih. Aku bertanya bagaimana uang sebanyak seperti di tarif yang dicantumkan bisa sampai hanya kecil saja pada dirinya? Dia berkata uang tersebut sudah berkurang untuk dibelikan makanan bagi para tamu, sedangkan harga makanan semakin menggila saja dan sebagian untuk sumbangan ataubagi tempat yang merka sewa yang dijadikan tempat mangkal bagi dia dan teman temannya juga biaya lainnya, jadi dia hanya menerima sisanya saja.

Saat kami kembali ke tempat parkir mobil, kami harus berjalan mendaki. Edy menawarkan jalan lain melewati terowongan air. Sedikit ragu aku menerima tawarannya. Edy menjelaskan kami akan berjalan sekitar 10 menit di dalam terowongan dengan air yang cukup deras. Maka kami segera berjalan beriringan, Edy berjalan di depan, aku ditengah yang kemudian disusul oleh Luc. Berkali kali Edy mengingatkan agar kami menginjak bagian yang telah diinjak oleh Edy sebelumnya, saat Edy menunjukan langit langit dengan senter yang ada di HPnya, hatiku dan Luc sedikit ciut. Jika saja aku tau bahwa terowongan ini berkelelawar tentu aku menolak untuk berjalan ke dalam terowongan ini. Celana pendek yang aku gunakan basah bagian ujungnya, begitupula Luc yang menggunakan celana pendek selutut.

Mengukur derasanya dan ketinggia air sebelum berjalan ke dalam terowongan. Lebih masuk ke dalam air telah membasahi celana pendekku

Mengukur derasanya dan ketinggia air sebelum berjalan ke dalam terowongan. Lebih masuk ke dalam air telah membasahi celana pendekku

Terus terang aku bangga dan lega luar biasa begitu keluar dari terowongan. Berkali kali Luc berteriak, we did it! Pengalaman menyusuri selama 11 menit (berdasarkan timer yg ada di HP Edy) yang menengangkan akhirnya berakhir dengan menggembirakan.

Yes, we did it!

Yes, we did it!

Aku menyerahkan sisa uang yang harus aku bayarkan pada Edy, Luc membisiku agar aku memberikan tambahan uang padanya. Edy menerimanya dengan gembira yang membuat hatiku lebih bergembira darinya.

edy
Saat kami kembali menuju hotel, mas Eka sang supir mengajak kami menikmati matahari tenggelam, dia menghentikan mobilnya sebentar sehingga kami bisa menikmati turunnya matahari dengan nyaman di tepi jalan.
111_1236111_1237

Kemudian di daerah dekat pantai Senggigi, dia menurunkan kami untuk menyantap makan malam, kami duduk di restaurant yang berada di tebing dengan pemandangan laut dibawahnya, sayang keindahan laut tak banyak bisa kami nikmati karena hari telah gelap. Dan reataurant dengan menu seafood yang bisa kami pilih sendiri sebelum dimasak cukup membuat perut kami kenyang.
111_1243

Berkunjung ke Lombok? Jangan lupakan untuk datang ke air terjun. Rasa lebih bahagia aku dapatkan hari ini.

Advertisements

8 thoughts on “Air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep

    • Mba Ria, tiket resmi masuk sindang gile menurut buku panduan yg sy punya cuma dia ribu aja, mungkin krn ini ada biaya guide dan makanan ringannya. Kalo pinter nawar kayaknya bisa turun. Tapi banyak kejadian ticket masuk buat kita yg orang Indonesia dan buat orang asking memang dibedakan, contohnya ticket masuk di Borobudur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s