Sasak Tour

hari ke enambelas
Selasa, 12 Agustus 2014

Supir yang menunggu kami di loby hotel bernama Eka. Perawakannya bulat berisi, senyumnya selalu mngembang, bagi kami dia supir yang sopan walau kemudian hari kadang dia mengambil keputusan tanpa sempat aku mengetahuinya terlebih dahulu, tapi aku memaklumi tindakannya, mungkin maksudnya baik untuk membuatku mudah selama berlibur di Lombok.

Hari ini, tour kami dimulai dengan mengunjungi desa Sukarare (Sukarar). Desa in terkenal sebagai penghasil tenun tradisional yang sudah terkenal seantero Lombok. Kaum perempuan di desa ini biasanya mengerjakan tenun songket, sedangkan kaum lelaki mengerjakan tenun ikat.

Guide yang membawa kami berkeliling di tempat pembuatan kain tenun, mengajak kami melihat dari awal proses pembuatan tenun ikat. Ternyata dinamakan ikat karena proses setelah di gambari pola kemudia diikat oleh tali rapia. Ada beberapa tahapan untuk sampai menjadi kain tenun ikat yang cantik.

Pembuat pola

Pembuat pola

IMAG2287

Proses pembuatan benang dijadikan kain, yg kemudian hasilnya tenun ikat

Proses pembuatan benang dijadikan kain, yg kemudian hasilnya tenun ikat

proses membuak tali rapia

proses membuak tali rapia

Saat kami melewati seorang ibu yang sedang membuat kain songket, setelah guide menjelaskan cara atau proses pembuatannya, dia menyuruhku untuk mencoba membuatnya. Maka akupun segera duduk dengan posisi kaki selonjor menggantikan si ibu yang awalnya duduk disitu. Dengan bantuannya aku mencoba beberapa kali memposisikan benang benag yang kemudian di tekan dengan keras oleh kayu, sehingga bunyi pukulan berirama mengikuti proses pembuatan kain songket.
111_1072

Kemudian kami diajak ke daerah pembuatan batik di bagian lebih dalam. Ada tiga atau empat gadis muda sedang duduk membuat batik mereka saling duduk memunggungi. Karena Luc sangat tertarik pada pembuatan batik maka sang guide disibukan oleh menjawab berbagai pertanyaan Luc, dan aku lebih bertanya pada seorang pembuat batik tulis yang duduk di dekatku berdiri.

Namanya Ika. Dia bekerja dari pukul 8 hingga 5 sore di tempat ini. Selama 7 hari dalam seminggu. Tujuh hari! Olalala tanpa libur menurut pengakuan Ika. Dia dibayar sebesar 300 ribu perbulan. Menurut dia semua gaji yang diterima ditempat ini sama besarnya, tukang pembuat pola, hingga pembuka rapia dalam proses pembuatan tenun ikat. Kecuali ibu ibu pembuat tenun songket, dia baru dibayar setelah tenun yang dibuatnya selesai.

Ika sedang membuat batik tulis

Ika sedang membuat batik tulis

111_1075

Tempat yang kami datangi adalah sebuah showroom berbagai kerajianan tradisional dari Lombok. Selain menjual kain tenun songket dan ikat, di tempat ini dijual juga berbagai kerajian kayu yang dikenal di Lombok dengan nama cukli. Kerajinan ini berupa segala benda berbahan kayu dengan hiasan kulit kerang yang ditanam di benda tersebut. Barang dibuat biasanya asbak, wadah tissu, wadah buah, pigura, meja, kursi, lemari, peti bahkan tempat tidurpun ada.

Cukli

Cukli

Disini aku membeli sebuah kain tenun songket kecil berupa syal seharga 400 ribu yang kemudian mereka turunkan menjadi 250 ribu. Padahal aku sudah meniatkan tak membeli oleh oleh disini, tapi toh setelah naik te tingkat atas dimana tersedia barang jualan yang beraneka ragam aku tergiur juga untuk membeli oleh oleh.

Showroom kain tenun

Showroom kain tenun

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke desa Sade (cerita tentang desa ini, aku ceritakan nanti ya…)
Keluar dari desa Sade, mobil yang membawa kami segera menuju pantai Kuta. Aku dan Luc segera turun menyusuri pantai sedangkan mas Eka sang supir memilih duduk di sebuah warung sambil menunggu mobil.

Aku tau, Luc bukan penyuka lautan, baginya berjemur atau duduk di pinggir pantai untuk membuat kulit coklat adalah suatu penyiksaan lahiriah. Sedangkan aku yang gampang pusing jika terlalu lama kena panas matahari memang ogah berjemur karena takut kulit gosong (walau kini aku tak peduli lagi tentang kulit). Namun aku pernah punya pengalaman seru sewaktu jaman gadis dulu. Saat aku bekerja di Bandung dulu, aku pernah ditugaskan di Bali selama 3 minggu. Kami yang terdiri dari tim yang berjumlah 12 orang (3 perempuan dan 9 orang laki laki) bagaikan karyawan yang keluar dari kurungan, hampir tiap hari kami menyusuri Bali di sore hari menggunakan sepeda motor, dan tempat favorit kami adalah duduk di pantai kuta sambil menunggu matahari terbenam. Ajeng sahabatku ( laki laki dengan nama yang sering dimiliki perempuan) hingga kini menjadi sahabatku yang paling dekat, dia yang dulu pertama kali aku kabari akan menikah, dia pula yang bertindak sebagai kepala panitia dalam pernikahanku. Dan kini walau terbentak jarak, akulah orang yang dia jadikan tempat curahan berbagai cerita dan peristiwa.

Beberapa kali aku selalu bercerita pada Luc, bahwa aku juga ingin kembali mengulang duduk di tepi pantai sambil menunggu matahari tenggelam, tapi tak pernah sekalipun moment tersebut terulang, juga saat aku berada di Kuta Lombok, Luc segera mengajakku duduk di Cafe Breze kepunyaan Novotel. kami memesan dua minuman moktail tanpa alkohol, dan rasanya asam sekali hingga kami berdua tak sanggup menghabiskan minuman tersebut.
IMAG2293
Keluar dari pantai Kuta Lombok, mas Eka membawa kami ke pantai Mawun. Pantai ini termasuk pantai yang kurang populer dibandingkan pantai lain di Lombok. Padahal pantai ini sangat indah dengan hamparan pasir putihnya. Namun sayang sepertinya akses yang menyertainya kurang terawat baik dan bersih, seperti wc umum yang tersedia di dekat tempat parkir mobil. Tapi aku segera buru buru memaklumi, jangankan di tempat yang jauh seperti ini, dipusat kotapun kadang yang namanya wc umum banyak yang tak bersih. Ssthhh mari berhenti bercerita tentang WC!

Pantai Mawun

Pantai Mawun

111_1122

Tak lama kami berada di pantai Mawun, kami dibawa ke pantai lainnya yaitu pantai Selong Belanak. Pantainya indah sekali dengan pasir putihnya yang bersih. Pantai ini cukup panjang. Dan aku sangat menikmatinya, kami duduk di sebuah warung yang tersedia di pinggir pantai. Sementara supir menikmati segelas kopi pahit yang besar, aku dan Luc cukup menikmati pantai tersebut dengan diam, hanya memandang saja.
111_1130111_1131
Konon pantai Selong Belanak adalah salah satu pantai papan atas di pulau Lombok dari aspek keindahan dan kebersihannya. Bentuk pantainya mirip bulan sabit. Pokoknya datanglah ke pantai ini, maka kalian akan terpesoana pada keindahannya.

Di akhir tour Sasak ini, mas Eka membawa kami ke restaurant yang tak jauh dari tempat kami menginap. Restaurant ini menyediakan berbagai makanan khas Lombok, seperti ayam taliwang dan plecing kangkung, yang menjadi awal drama bolak baliknya aku dan Luc ke toilet, hahaha.

Plecing kangkung pembawa tragedi :)

Plecing kangkung pembawa tragedi 🙂

Ayam taliwang

Ayam taliwang

sop balung

sop balung

Advertisements

One thought on “Sasak Tour

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s