Go to Lombok

Hari ke limabelas
Senin, 11 Agustus 2014

Perjalana ke Lombok lancar jaya. Kami datang ke bandara Soekarno hatta pagi pagi sekali setelah di drop kakakku di halte bus yang membawaku ke bandara. Dari Bogor kami menumpang bis Damri. Dengan harga karcis 45 ribu perorang kami sudah sampai dengan selamat di bandara tepat waktu.

Pesawat yang membawaku berangkat tepat waktu, aku naik Lion Air yang konon suka sekali delay, tapi ternyata tidak ada keterlambatan walau beberapa menit. Semuanya perfect! Di dalam pesawat aku sempat membaca tulisan Febby di majalah Lion Air edisi bulan agustus 2014, Febby adalah salah satu penulis blog yang tulisannya aku ikuti. 

Sampai di Lombok dari airport kami langsung menaiki taksi menuju Hotel. Semuanya lancar. Hotel yang telah dibooking sejak dari Belanda, ternyata sedikit di luar dugaanku. Aku kira hotel kami berada di sebuah mall di kota Mataram, ternyata Plaza Hotel Mataram hanya berada di dekat sebuah mall.

Kami makan malam di sebuah restaurant di bagian depan mall, cafe Delicious, yang tak seistimewa namanya, just ok. Yang istimewa dari cafe ini adalah, baru saja kami memesan, makanan sudah tersedia dengan cepatnya namun dengan porsi yang sedikit.

Lemon juice dan Koboy Juice by Delicous

Lemon juice dan Koboy Juice by Delicous

Cah kangkung dan daging lada hitam yang telah masuk perut ;)

Cah kangkung dan daging lada hitam yang telah masuk perut 😉

Kembali ke hotel, aku masih disibukkan dengan menghubungi beberapa kenalan yang mempunyai mobil sewaan besarta sopir untuk membawa kami mengelilingi Lombok mulai besok pagi. Sampai jam 9 malam aku masih belum mendengar kabar yang pasti siapa yang akan membawa kami besok, hingga setengah jam kemudian telepon di kamar berdering aku mempunyai appointment untuk massage.

Bicara tentang di pijat badan, ini kali ketiga aku dipijat. Dulu aku paling takut dipijat, takut sakit dan geli. Ibuku berkali kali mencoba mempengaruhiku apabila aku terlihat kelelahan, panggil tukang pijit ya…. langganan ibu. Tukang pijit langganan ibuku dulu adalah tukang pijit kampung yang dibayar semampunya kita alias tidak memasang tarif. Walau begitu aku tak pernah mau dipijit. Hingga tiga tahun lalu saat liburan ke Indonesia aku masuk angin parah. Luc tak percaya ada penyakit masuk angin. Tak mungkin angin bisa masuk ke badan katanya, ada juga keluar angin, hahaha. Ibuku memanggilkan tukang pijit, sesudah dipijit badanku sedikit ringan.

Maka satu tahun kemudian, saat aku ada di Indonesia lagi aku minta dipijat kembali. Dan lagi saat liburan kembali ke Indonesia. Ah apapun yang tak mungkin aku dapat di Belanda bisa dengan mudah didapat di Indonesia. Begitu pula sebaliknya, namnya hidup bukan? Walau dipijat di tempat perawatan tubuh yang lebih profesional dan berbau bisnis (seperti massage and spa, yang hampir selalu ada di setiap hotel) bagiku tak masalah selama yang memijat badanku sama sama perempuan.

Kembali ke kamarku, aku sudah sempoyongan menahan kantuk, teringat pada urusanku mencari sopir yang belum berhasil. Kabar menggembirakan aku dapatkan saat aku membuka pintu kamar, hotel meminta menelepon balik teman adikku yang aku mintai bantuannya mencarikan supir. Jawaban di ujung sana saat aku menghubunginya mengatakan mobil dan supir yang kami butuhkan telah tersedia.

Senangnya hatiku, aku bisa tidur dengan amat nyenyak malam ini.

 

Advertisements

2 thoughts on “Go to Lombok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s