Pondok Indah Mall

Hari kesebelas
Jumat, 8 Agustus 2014

Rencana dari Belanda adalah kami ingin keliling Jakarta, tapi apa daya kondisi badan dan mepetnya waktu serba tak memungkinkan. Maka hari jum’at selesai check out dari hotel tujuan ke monas atau taman mini dibatalkan, tujuan kami hanya jalan jalan ke mall saja. Dan atas saran kakakku, tujuan mall kali ini adalah mall Pondok Indah yang lebih dikenal PIM.

Kami dijemput dari hotel oleh seorang supir yang masih kerabat besan ortu tepat pukul 11 pagi. Kami diturunkan di pintu masuk mall sektor 3 dan akan dijemput kembali sekitar pukul 5 sore untuk kemudian menjemput kakakku yang bekerja di daerah Pondok Indah untuk kemudian bersama sama menuju rumahnya di Bogor.

Begitu masuk ke PIM aku bagaikan si iteung saba kota! Saking terbelalaknya melihat ada mall sebesar ini. Baru kali pertama aku datang ke Jakarta untuk jalan jalan ke mall, sebelumnya kalau ke Jakarta paling ke rumah saudara itupun tak pernah menginap dan mungkin hanya satu atau dua kali saja seingatku. Bahkan  waktu jaman gadis dulu saat aku ke negara Jepang, rasanya aku tak sekaget ini.

Ada banyak alasan mengapa aku sekaget ini. Barang barangnya aduhai mahal sekali. sampai takut aku melihat harganya! Orang orang yang berkunjung ke sana pun rasanya tak akan menolehku jika aku berjalan seorang diri. Para nanny alias baby sitter yang mendorong atau menggendong bayi sang majikan dua kali lebih hebring dari penampilanku, hehehe. Dan rata rata mereka adalah orang tua muda.

Para wanita yang berlalu lalang di sekitarku baik yang muda ataupun yang sudah sepuh, begitu anggun berjalan menggunakan sepatu atau sandal berhak tinggi, disesuaikan dengan pakaian dan tas yang melengkapi penampilannya. Enak dipandang mata. Kontras sekali dengan penampilanku yang menggunakan rok batik tak bermerk dan sepatu sandal murah meriah dari van Haren namun enak dipakai di kaki. Timbul pertanyaan dalam hatiku, taukah mereka rasanya bebas merdeka berjalan dengan sandal teplek dan kaos oblong yang nyaman?

Luc memperbolehkanku untuk belanja pakaian atau sepatu di PIM namun dengan tegas kutolak tawarannya, terima kasih! Aku termasuk orang yang melihat harga terlebih dahulu sebelum mencoba barang yang akan aku beli. Jika aku melihat harga yang tak ada dalam kisaran budget yang kami punya lebih baik aku tak meliriknya sama sekali atau untuk sekedar iseng mencobanya tak ada dalam pikiranku.

Cinta Cahaya menemukan toko yang menarik minat mereka yaitu toko barbie. Lucu sekali saat mereka mencoba baju di kamar pas tanpa aku boleh melihatnya, mereka membuka baju sendiri dan memakai baju yang mereka coba dan keluar dari kamar pas dengan bangganya untuk diperlihatkan pada aku dan Luc. Dan saat mereka menemukan baju yang mereka suka, aku berkata pada mereka bahwa baju yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan di Belanda dengan harga yang lebih murah, aku memberi pengertian kepada mereka jika mereka bisa bersabar aku berjanji membelikannya suatu hari nanti jika kami telah kembali ke Belanda.

Cinta dan baju yang akan dicobanya

Cinta dan baju yang akan dicobanya

Cahaya yang bergaya dengan baju yang dicobanya

Cahaya yang bergaya dengan baju yang dicobanya

Rata rata kaos barbie yang ada disana dijual dalam kisaran 400 ribu itupun setelah dipotong korting sekitar 20%, itu hanya atasan saja jika ingin membeli dengan bawahannya setidaknya bisa mencapai satu juta. Uhuy untuk satu anak saja! Iseng aku bertanya pada penjaga toko yang melayani kami, banyakkah anak anak yang membeli baju disini? Dan jawab penjual toko tentu saja banyak, anak perempuan biasanya penyuka barbie. Ya ya ya bagi mereka yang berada, jika mereka yang terlahir seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, jangankan memiliki pakaian seperti yang dipakai boneka barbie, mengelus boneka barbie pun sepertinya hal yang mustahil. Seperti Cahaya yang ingin dibelikan boneka barbie seharga 30 euro edisi Ariel yang bisa mengeluarkan musik yang kujanjikan jika berulang tahun nanti dan hingga kini hadiah yang didamba belum ada ditangannya. 30 euro terlalu mahal untuk boneka barbie menurutku.

Untunglah Cinta dan Cahaya hingga kini masih mengerti jika aku menyebutkan kata ‘mahal’ untuk sesuatu yang dia inginkan dan mereka akan meletakkan barang yang dilihatnya jika aku menyebutkan kata itu.
Kemudian Luc melihat cafe magnum. Es krim magnum yang biasa saja menjadi istimewa setelah disulap di cafe ini, baik Luc, Cinta dan Cahaya mereka sangat menikmati es krim pesanan mereka.
IMAG2242IMAG2240

Saat kami melewati toko buku, dengan antusias seperti baisanya si kembar segera sibuk memilih buku, tak menghiraukan orang orang yang memperhatikan kehebohan mereka memilih buku sambil duduk di lantai toko. Sementara Luc menemukan majalah film yang segea dibelinya.
IMAG2233IMAG2235

Di akhir jalan jalan sebelum kami meninggalkan PIM, aku meminta pengertian Luc untuk menyetujui pilihanku untuk makan di bakmi Gajah Mada. Sejak dulu aku mendengar dan membaca begitu terkenalnya bakmi yang satu ini. Walaupun terkenal tapi belum pernah aku mencobanya, maka saat aku melihatnya aku tau sudah saatnya aku mencicipi si bakmi ini, dan Luc sebagai orang yang bukan pencinta baso atau bakmi meluluskan permintaanku untuk makan disana.
IMAG2253

Keluar dari PIM dan duduk di mobil kakakku yang membawaku ke arah kota Bogor pikiranku masih dipenuhi berbagai pemandangan di dalam mall tersebut. Mereka yang sepertinya tak pernah tau bahwa ada dunia lain yang tak seindah dan senyaman kehidupannya, mereka yang sering kujumpai saat aku berjalan di trotoar, saat aku membayar uang parkir di parkiran liar pinggir jalan, saat aku membayar ongkos angkot, saat aku menyelipkan uang tak seberapa di tangan mereka yang tengah menyapu trotoar atau memanggul karung plastik besar berisi berbagai rongsok, mereka yang mungkin tak tau bahwa ada rumah boneka seharga rumah mereka…..

Advertisements

4 thoughts on “Pondok Indah Mall

  1. Wah bakmi GM nya bikin kangen plus terahkir kali makan ya di situ huuuuuu jadi sedih..
    Wah salut untuk si kembar yang bisa memahami apa yang di katakan mamanya padahal biasanya anak kecil kalau sudah mau A ya harus A.
    Peluuuk deh buat cinta dan cahaya…

  2. Aduh mbak, kalo PIM sih lewat deh kalo kesana cuma buat cuci mata, barangnya gak kebeli atau baru kebeli kalo emang duit kita udah tumbuh jadi pohon di halaman belakang rumah :).
    Salut buat si kembar ya, mengerti dan gak konsumtif *hugs, good girls*.
    Hahaha kalo di jakarta kostum nge mall emang begitu mbak, apalagi kalo lagi malam minggu, bikin minder yang nge mall udah kayak mau ke pesta apa gt, kinclong2 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s