Pasar Kaget

Hari keenam
Minggu, 3 agustus 2014

Jam tujuh pagi sudah harus bangun, rencananya hari ini kita semua akan berkunjung ke ruamh adikku yang masih sama sam tinggal di Bandung, sementara kedua kakakku sudah kembali ke kotanya masing masing sejak jumat malam dua hari yang lalu.

Istimewanya di rumah adikku ini setiap hari minggu pagi, dia besarta anak dan istrinya tinggal di komplek Vijaya Kusuma kawasan yang berada di Cipadung kerap dikunjungi mereka yang ingin berolah raga jalan santai di minggu pagi. Nah rencana olah raga ini gak lengkap rasanya kalau hanya jalan kaki saja tanpa di sertai belanja belanaj dan makan makan. Maka prinsip ekonomi pun terjadi dimana ada Demand maka disitu pula ada Suply, tak heran kawasan yang dulunya didatangi untuk berjalan ke puncak bukit kini berubah jadi pasar kaget yang sangat luas disepanjang jalan.

Setelah kami memarkir mobil di depan rumah adikku, kami berjalan ke arah atas. Setelah sampai disana kami disuguhi lautan manusia. Para pedagang berjejer di pinggir jalan sementara pembeli memenuhi tengah jalan deselingi beberapa motor yang mencoba menerobos lautan manusia.

Baru beberapa meter memasuki daerah ‘perang’ Cinta dan Cahaya sudah menemukan apa yang mereka inginkan, yang langsung diperbolehkan oleh Luc dengan gembira. Mereka menaiki mainan yang dijalankan oleh tenaga manusia, yaitu semacam korsel yang berada di atas sepeda. Ada empat mobil kecil di atas sepeda tersebut, dimana mobil tersebut bisa dinaiki satu orang anak, kemudian si tukang komedi putar tersebut duduk di belakang kemudi sambil mengayuh pedal yang ada di belakang maka berputarlah atau bergoyanglah keempat mobil kecil yang ada di atas sepeda tersebut. Sepeda tersebut dilengkapi tape recorder yang memutarkan lagu anak anak, setiap satu lagu anak anak dikenai biaya seribu rupiah. Cinta, Cahaya dan Ghaly keponakanku anak dari adikku dengan antusias menaiki permainan tersebut. Setelah empat lagu berputar kami menyuruh mereka turun dan kembali melanjutkan perjalan ke atas.

Naik odong odong

Naik odong odong

Tak sampai di seperempat perjalanan, kami sudah menikmati makan bubur di pinggir jalan. Tak hanya Luc saja yang ikut makan bubur bahkan Cahaya pun ikut makan bubur, hanya Cinta saja yang tak tertarik menikmati bubur. Teringat pesan temanku yang memperingatiku untuk tidak memberikan makanan pinggir jalan pada si kembar, bersyukur hingga hari ini (beberapa hari kedepan setelah ini) si kembar tidak (belum dan jangan) terkena diare.

Berjalan ke arah bawah, aku masih sempat membeli tape singkong, membeli baso kampung untuk dimakan di rumah adikku dan beberapa jajanan lainnya.

Pukul sebelas kami telah kembali ke rumah orangtuaku, istirahat sebentar dan setelah shalat dhuhur aku dan Luc dijemput adikku yang akan bereuni bersama teman sekolahnya dulu sambil mengajak berenang anak anak mereka, dan tentu saja Cinta dan Cahaya tak mau ketinggalan, sementara aku dan Luc minta di drop di daerah Cihampelas, tujuan Luc ke Ciwalk tentu saja ingin ke bioskop.

Hari itu kami nonton North Penthuis, lumayan untuk ukuran thilier walau dari awal jalan ceritanya sudah tertebak, tapi aku ikut tegang juga menonton film tersebut, dan masih dengan acara tutp mata menggunakan tangan dan kemudian mengintip di balik sela sela jari yang menutupi mata.
Sebelum masuk bioskop kami masih sempat makan di De Kios, cafe kecil yang menyajikan makanan Indonesia, menurutku makanan di sana cukup komplit dan harganyapun masih wajar, tidak mahal tapi cukuplah. Aku langsung memesan nasi liwet komplit, tahu gejrot cemilan khas cirebon yang sudah banyak dijumpai di kota Bandung, untuk minumnya aku memesan es campur. Semuanya enak menurutku.

Sedangkan Luc memesan bebek ijo dan es cendol elizabeth tapi pelayan yang tak menyunggingkan senyum secuilpun kembali datang ke meja kami dengan menyebutkan es cendol nya habis dan langsung dirubah menjadi es cholate hazelnut berdasarkan permintaan Luc. Kedua pesanan Luc mendapat komplain dari Luc, dia tak menyukai rasa pahit dari sambal ijo di bebek ijo yang dipesannya, sedangkan es cholate hazelnut entah salah order atau memang begitulah rasanya, lebih menyerupai es kopi, dan tentu saja Luc yang tak meminum kopi sama sekali langsung tak mau menyentuhnya setelah sedotan pertamanya, dan aku sebagai penggemar kopi tulen mendapatkan berkah lungsuran minumannya hahaha.

Nasi liwet

Nasi liwet

Bebek ijo

Bebek ijo

IMAG2168

Advertisements

2 thoughts on “Pasar Kaget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s