Indonesia Memilih

Akhirnya tanggal 5 juli 2014 pun tiba, berbondong bondong warga Indonesia dari seluruh pelosok Belanda yang telah punya hak pilih datang ke KBRI di Denhaag untuk memilih presiden Indonesia pilihan mereka.

Terus terang aku terbengong bengong begitu sampai di KBRI tepat pukul 10 pagi, ternyata antrian sudah sampai ke pintu luar kedutaan. Ramainya minta ampun, padahal undangan untuk menyoblos dimulai pukul 10 pagi hingga pukul 6 sore.

Tapi inilah kami, bangsa Indonesia di Belanda yang begitu sukacita menyambut hari pemilihan tersebut. Dimulai dengan naik Metro dari Rotterdam hingga centraal station Denhaag dilanjut naik bis yang super padat serasa di Indonesia, karena jumlah penumpang yang membludak dan warna kulit yang sama.

Sampai disana sebelum kami masuk ke antrian kami sudah dihadapkan pada berbagai pedagang dadakan yang menjual berbagai makanan Indonesia, bahkan ada dari mereka yang sudah pesan sebelumnya melalui FB.

Dan pagi itu entah kenapa kami merasa bahagia sekali walau harus berada di antrian yang panjang. Seorang ibu yang telah berkali kali ikut pemilu berujar padaku bahwa tahun ini kedutaan dibanjiri oleh pemilih yang spektakuler, menurutnya di tiga kali pemilihan sebelumnya yang dia ikuti tak pernah didatangi pemilih sebanyak ini apalagi harus sampai antri sedemikian rupa, menurutnya mungkin para pemilih yang lain seperti juga dirinya datang untuk memilih si dia, yang langsung aku benarkan. Oh ya, si dia yang mana? Seru si ibu padaku sambil terus mengejar dengan pertanyaan pilih nomor berapa dek? Kemudian tertawa senang saat mendengar jawabanku.

Jikapun berbeda itu bukan menjadi soal, aku memilih karena berbagai alasan, demikian juga mereka yang memilih tak sama denganku. Tetap untuk tetap fokus dan yakin pada pilihan sendiri adalah kenikmatan yang tiada tara walau dibombardir oleh pemberitaan di TV atau bacaan di media sosial yang biking gerah. Hadapi dengan santai dan dampaknya padaku adalah lucu dan seru saja menurutku.

Hidup Indonesiaku dan jayalah selalu.

Advertisements

Twins

Waktu pertama Cinta dan Cahaya masuk peteurspeelzaal saat usia mereka dua tahun total anak dalam kelas mereka adalah sebelas orang, enam anak dari sebelas orang adalah kembar, alias terdapat tiga pasang anak kembar.

Suprise? Tentu saja. Dan terjawab ketika mereka sedang berjalan di sekitar rumah bertemu dengan tetangga yang bercerita bahwa di jalan dimana kami tinggal terdapat 3 pasang anak kembar. Apa? Mendengar penjelasan tetangga tersebut kini aku selalu memperhatikan tetanggaku yang kembar itu, yang ternyata hanya bertaut dua rumah dengan kami, dua anak permpuan berusia kurang lebih 12 tahunan, dan salah satu darinya sering mengenakan baju untuk mengendarai kuda, sedangkan pasangan kembar lainnya hingga saat ini aku belum pernah bersua dengannya.

Kini mereka telah masuk basisschool alias sekolah dasar tepat saat usia mereka empat tahun dan mereka ditempatkan di tweelingklas alias kelas kembar, mereka tidak sekelas tapi kelas tersebut diperuntukan untuk mereka yang kembar, kelasnya berdampingan terletak dalam satu gedung. Dimana terdapat lima anak kembar di kelas Cinta dan pasangan kembar lainnya duduk di kelas Cahaya.

Pernah suatu pagi Cahaya masuk ke kelas Cinta dan bersalaman dengan guru Cinta, kebetulan saat itu guru Cinta sedang tidak begitu memperhatikan Cahaya dengan baik, tapi langkah berikutnya juf Jolanda berseru, aha kamu bukan Cinta! Apa yang kamu lakukan disini? Ujarnya sambil tersenyum.

Ya, baik juf Jolanda (guru Cinta) dan juf Evelien (guru Cahaya) mengetahui dengan baik kelima kembar di kelas mereka. Dan kini akupun demikian, aku tahu dengan pasti mana kembar yang sekelas dengan Cinta atau kembar pasangannya di kelas Cahaya.

Dan inilah kembar yang berhasil aku foto yang berada di lingkungan rumah kami.

Image
Teman sekalas dulu sewaktu di peteurspeelzaal.

Image
Bertemu tak sengaja dengan kembar lainnya saat sedang jalan jalan di sekitar rumah.

Image
Sepasang kembar berbeda jenis kelamin, yang perempuan sekelas dengan Cahaya yang laki laki sekelas dengang Cinta.

Image
Teman sekalas Cinta dan cahaya saat mereka di peteurspeelzaal, mereka lahir dari pasangan mix juga.

Image
Sahabat Cinta dan Cahaya. Uros dan Andre.

943510_10200811849355085_1646394915_n
I
nez dan Maria, bertemu sejak bayi jika Cinta Cahaya berlibur di rumah oma

 

 

 

 

 

Can I help you?

Ini bukan cerita upik abu atau pekerja anak di bawah umur tapi ini benar benar permintaan Cinta yang ingin selalu membantuku dalam urusan pekerjaan rumah. Menyapu lantai dapur, memasukan piring piring kotor ke mesin cuci piring hingga memasukan piring piring yang telah bersih dari mesin cuci piring ke lemari piring, memasukan baju kotor ke mesin cuci, membersihkan debu di rak buku, mengelap meja sampai mengelap toilet.

Tentu saja pekerjaannya tidak sempurna, aku masih harus membersihkannya ulang, tapi melihat semangatnya untuk selalu membantu membuatku bahagia. Dan yang namanya anak kecil jika giliran aku meminta membereskan kamarnya dan merapikan mainannya setelah selesai bermain ada saja alasannya untuk menolak. Cape bunda….. ¬†atau alasan lainnya….. Anjing tidak bisa membereskan mainan, katanya (dan segera dia merangkak seperti anjing dan mulai menggonggong, artinya saat itu Cinta sedang berubah menjadi anjing kecil).

Akan kegemarannya membereskan sesuatu tak jarang sepulang sekolah Cinta mendapat sticker di keningnya dari gurunya yang pertanda dia melakukan hal yang baik dikelasnya, sticker di setiap kening anak bisa berupa penghargaan apa saja, dan setiap aku bertanya pada Cinta hal baik apa yang telah Cinta lakukan di kelas sehingga juf Jolanda memberikan sticker? Dan jawabnya… aku telah membereskan kelas dengan baik, aha!

Berikut foto foto Cinta dalam membantuku di dapur.

Image
Menyapu lantai dapur.

Image
Mencuci tempat plastik yg tak perlu masuk mesin cuci piring.

Image
Mengupas telur.

Image
Membuka plastik terasi kiriman dari Indonesia.

Image
Memindahkan piring dan gelas bersih dari mesin cuci piring ke lemari.