Little Asia

Kami datang ke restaurant Little Asia karena penasaran dengan rating yang sangat tinggi yang diberikan orang orang yang sudah pernah kesana. Dari mereka yang menuliskan pengalamannya makan di restaurant Little Asia mereka memberikan nilai 10 untuk makanan dan pelayanannya.

Restaurannya kecil saja, hanya dengan lima meja dengan empat kursi di setiap mejanya, dengan dekor yang biasa saja tapi restaurant tersebut mampu mendapat nilai yang sangat tinggi.

Luc secara kebetulan menemukan restaurant tersebut  minggu yang lalu saat sedang menungguku check up  di rumah sakit Sint Fransiscus, Luc yang menunggu di tempat parkir bersama Cahaya yang hari itu tidak masuk sekolah karena sakit berjalan mencari Supermarket untuk membelikan buku bagi cahaya untuk membunuh jemu selama menungguku. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit menyusuri jalan Kleiweg dan melewati restauran Little Asia. Konon Luc teringat pada resensi yang pernah dibacanya mengenai restauran tersebut. Baca Little Asia. Maka saat kami melewati restaurant tersebut saat kembali pulang ke rumah Luc berkata bahwa dia ingin mencoba makan disitu sambil merayakan kelulusanku kursus bahasa Belanda di tingkat pertama dan mendapatkan nilai yang baik dari dosen (dan masih ada tiga tahun ke depan jika aku masih mau melanjutkan sekolah secara keseluruhan, itupun jika lulus secara tepat waktu setiap tahunnya pfffffff).

Maka hari jumat kemarin setelah Cinta dan Cahaya ditinggalkan bersama dua orang oppas yang cantik kami meluncur ke Restaurant Little Asia. Ada dua meja yang sudah terisi saat kami datang, pelayan (yang kemudian kami ketahui bahwa dialah pemiliknya) mempersilahkan kami duduk di meja yang telah Luc reservasi dua hari sebelumnya.

Untuk makanan pembuka Luc memesan dua jenis makanan pembuka sekaligus, Dimsum garnalen met bieslook (dimsum udang) dan gegrillde kwartel. Sedangkan aku memilih  pekingeend met flensjes. Ketiga makanan tersebut tidak aku foto, hhhmmmm saat itu masih tidak berpikir akan menuliskannya.

Pelayan datang padaku mengajarkan bagaimana cara menikmati pekingeend yang benar, katanya pertama oleskan sausnya pada flensjes (semacam panenkeoken kecil) kemudian taburkan sayurannya (ijsberg salade dan bawang daun) tambahkan potongan bebek pekingnya terakhir gulung panekoek nya dan makan. Dan aku menjalankan sarannya dengan teratur.

Kemudian saat kami menunggu makanan utamanya, pelayan tersebut datang lagi pada kami berbasa basi pada awalnya tapi menjadi pembicaraan yang panjang setelah dia bertanya apakah aku orang Thailand? (pertanyaan standar yang selalu mereka lontarkan padaku, mereka tak pernah menyangka aku orang Indonesia, selalu pertanyaan diawali apakah aku orang Thailand atau Filipina atau China malah tak sedikit yang menebakku berasal dari Vietnam). Saat aku menjawab bahwa aku berasal dari Indonesia kemudian senyumnya mengembang dan menjadi begitu bersemangat, dia bercerita bahwa suaminya berasal dari Malaysia dari daerah Peneng katanya, daerah malaysia yang terkenal dengan kulinernya. Sedangkan dia sendiri berasal dari Hongkong yang lahir di Belanda. Sepanjang yang aku pahami saat dia bercerita mengenai restaurannya, dia membeli restauran tersebut 15 tahun yang lalu hanya beberapa beberapa tahun kemudian bisnisnya tak dirasakan seramai dulu lagi karena banyaknya pilihan makanan yang makin beragam juga karena terimbas krisis ekonomi eropa yang berdampak mereka memutuskan untuk melepas restaurant tersebut dan dimiliki pihak lain, menurutnya hampir setiap tahun setelah itu Little asia dikelola oleh tangan yang berbeda hingga sekitar lima tahun lalu mereka mengambil alih kembali dan mulai menerapkan managemen yang berbeda, kapasitas meja dikurangi, dapur dirombak menjadi dapur terbuka sehingga pelanggan bisa melihat saat sang koki yang tak lain suaminya sedang memasak. Dan mereka hanya bekerja berdua saja. Kerja keras katanya, hanya hari senin saja restaurant tersebut tutup. Restaurant mulai buka pada pukul tiga sore dan tutup pada pukul sepuluh malam. Dan tentu saja bukan berarti mereka bekerja hanya pada jam segitu saja, karena di rumah mereka harus menyiapkan dan membuat masakan yang akan disediakan di restaurant seperti dimsum dan dessert. Semua makanan yang tersedia disitu dibuat oleh mereka sendiri. Katanya untuk memotong biaya. Pagi menyiapkan segala sesuatunya, setelah restaurant tutup mereka harus membersihkan semuanya dan membuat tata buku. Aku memandang wanita super ramah yang berdiri bercerita dihadapanku dengan takjub, aku kira umurku tak jauh berbeda dengannya, mungkin satu atau dua tahun lebih muda dariku. Mereka mempunyai tiga orang anak, dan yang paling besar berumur 15 tahun. Lanjutnya setiap tahun mereka selalu berlibur ke Malaysia dan Hongkong selain untuk bertemu keluarga juga untuk berkuliner tanpa harus memasak.

Pada saat Luc akan menyantap makanan utama  yaitu Rog met curry sauce yaitu ikan pari dengan bumbu kare, si pelayan melompat tergesa ke arah Luc dan langsung memngambil alih sendok dan garpu yang tengah dipegang Luc, terus terang aku sungguh terkejut dengan tindakannya. Kemudian sambil mengerok ikan pari ke arah bawah dan atas dia menjelaskan pada Luc bahwa begitulah seharusnya cara memakan ikan pari, jangan sampai tulang cucuk ikan tersebut berantakan. Sambil berkata terima kasih dan mengambil alih kembali sendok dan garpu yang dipegang wanita itu Luc tertawa nyengir. Haha ada ada saja.

Dan inilah ikan rog yang tak lupa aku foto.Image

Dan yang paling sukses hari itu dengan makanan utama adalah yang aku pesan, jika kalian bermaksud makan di Little Asia cobalah crunchy beef yang aku pesan. Sungguh aku belum pernah menemukannya di restauran china manapun, dan menurut sang pemilik makanan ini adalah spesial dari restauran mereka.Image

Sementara dessert yang kami pesan adalah Pandan speckoek met ijs en warm Amendel sauce yaitu irisan kue lapis legit pandan beserta es krim yang dituangkan pada saus panas  Amandel dan untukku adalah Panakota met lychee yaitu poeding rasa lychee beserta es krim lychee. Kedua dessert tersebut berasa biasa saja, tidak istimewa sama sekali.

Image

Image

Kesimpulan kami saat kami keluar dari restaurant tersebut adalah jika kami ingin makan masakan china secara tenang dan nyaman maka kami akan datang ke restauran Little Asia untuk menikmati crunchy beef dan menikmati percakan nyaman dan penuh canda tawa dengan Luc dan menikmati atmosfir yang ramah dari pemilik restauran Little Asia yang bertugas sebagai pelayan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s