Matahariku

Pukul 18.15 aku duduk di depan TV sambil sibuk mengupas mangga muda kemudian memotongnya dadu dilanjutkan dengan memotong paprika, bawang dan buncis.
Cinta datang menghampiriku membawa buku Ariel, menunjukannya padaku sambil berkata, bunda maukah kau membacakan buku untukku?
Aku memandangnya, menunjukan mangga yang tengah aku potong sambil menjawab, tak kau lihat aku sibuk, Cinta?

Cinta tetap berada disisiku, tak beranjak pergi.
Cahaya datang padaku duduk disebalah sisi yang lain, bertanya perlahan padaku. Bunda, bolehkah aku membantumu?
Tidak! Jawabku tegas, sambil dilanjutkan, sudah berapa kali bunda bilang, tidak jika bunda sedang bekerja dengan pisau.
Tapi bunda, aku bisa membantu pakai pisau kecil. Sela Cinta yang tertarik dengan usul Cahaya.

Kemudian aku beranjak ke dapur. Dua anak itu pun ikut ke dapur. Cinta masih merengek ingin dibacakan buku, saat aku bilang tidak dia kemudian berkata. Aku yang akan membaca untukmu bunda. Ujarnya dengan bersemangat, yang kemudian dilanjutkan…. Kau boleh memilih buku yang akan aku bacakan. Serunya sambil menunjukan dua buku yang tengah dipegangnya.
Tidak! Aku sedang memasak, Cinta.
Kau memasak sambil mendengarkan aku membaca. Ok, bunda! Ujar Cinta dan langsung membaca buku berdasarkan gambar dengan cerita versi dirinya.

Dan hari itu seperti biasanya setelah selesai makan tak banyak waktu untuk Cinta dan Cahaya. Aku sibuk membereskan dapur dan anak anak hanya bersama Luc saja, kemudian ritual cuci tangan, muka gosok gigi, pakai piyama, pipis dan membaca cerita menjelang tidur adalah tugas Luc, aku hanya datang sebentar ke kamarnya untuk berdoa bersama. Dan kemudian kembali ke ruang duduk untuk merebahkan diri sambil menonton TV atau chat bersama teman atau apalagi kalau bukan komputer.

Acara TV yang kebetulan aku lihat di TV adalah percakapan seorang anak dengan orang tuanya. Seorang anak 9 atau 10 tahun yang berkata pada ibunya bahwa dia nanti jika mempunyai anak, maka dia akan menjadi ibu yang lebih baik dari ibunya. Ibunya bertanya bagaimana caranya itu? Dan dengan lancar dan lantang seperti anak anak Belanda yang sering aku lihat si anak menerangkan dengan bersemangat. Aku akan memperlakukan anakku seperti oma memperlakukanku. Aha! Seru si ibu tersenyum dan berkata, karena oma selalu memanjakanmu bukan? Itulah sebabnya kamu merasa oma lebih baik dari mama!
Bukan itu mama! Oma selalu ada waktu untukku, dia selalu ada waktu untuk bermain denganku. Sedangkan kau? Jika aku bertanya bisakah kau menemaniku? kau selalu berkata, tunggu lima menit lagi sayang, aku sedang mengerjakan sesuatu, kemudian sepulah menit berlalu, lima belas menit, setengah jam sampai satu jam kau belum dtang juga. Sampai akhirnya tibalah jam tidurku, maka pupuslah harapanku untuk bermain denganmu hari itu, dan itu berlanjut esaknya esoknya lagi.

Ya Tuhan, itu pulalah yang kini melandaku. Aku kehilangan banyak waktu bersam untuk anak anakku.  Aku sibuk, super sibuk menurutku. Hari ini aku benar benar ingin memasak untuk Luc atau lebih tepatnya ingin memasak pula untuk diriki, ini hari kamis sedangkan sejak hari sabtu yang lalu aku belum menemukan nasi. Aku sakit. Dan jika aku sakit maka Luc lah yang memasak, dan itu berarti bukan nasi dan bukan pula makanan yang cocok untukku.

Hari ini, aku bercerita pada seorang teman bahwa aku benar benar sakit. Entahlah sepertinya banyak kejadian yang terjadi sebulan ini yang menambah perhatian dari rutinitasku yang telah padat, dan akhirnya di akhir weekend kemarin aku benar benar tumbang. Saat aku akan berpisah dengan temanku hari ini, dia berbelok bersama Cinta ke toko bunga aku hanya menunggu sebentar bersama Cahaya di luar. Cinta sudah menggondol seikat bunga mawar dan menyerahkannya padaku. Ini untukmu bunda. Seru Cinta.

Aku memandang temanku. Ya, ucapnya. Beterschap Yayang!
Kapan aku menerima bunga? Jika aku ulang tahun, jika hari valentine, hari ultah perkawinan, jika tamu yang jarang bertemu berkunjung ke rumah atau jika ada acara tertentu. Tapi menerima bunga saat yang tak disangka tentunya mengharukan hatiku. Aku hanya mampu berkata terima kasih.
Malam itu aku mengirimkan pesan singkat untuknya, je ben echt lief.
Image

Kadang kita lupa bahwa seseorang itu istimewa jika mereka sudah jauh dari kita barulah kita menyadarinya. Hari ini aku menyampaikannya langsung. Karena kini aku lebih tau bahwa tak akan ada yang abadi di dunia ini, begitu juga dengan pertemanan atau ikatan perkawinan, yang harus aku lakukan adalah tetap menjaga pertemanan itu untuk selalu baik, saat sedang dekat kita merasa bahwa dia lah yang paling baik diantara yang lainnya tapi kita suka lupa untuk menyampaikannya langsung. Ada pembelajaran yang aku dapatkan hari ini kadang jika aku mendengar keluh kesah dari orang lain tanpa sengaja kita ikut berkeluh kesah juga terhadapnya atau hanya mendengarkan saja tanpa bergerak menolongnya, atau hanya ya ya ya saja tapi lupa memberikan perhatian ekstra padanya, dan kadang dibelakang hari aku berkata pada diri sendiri (masih untuk pada diri sendiri tidak disampaikan pada orang lain) ohhhhhhhhh tidak, pasti dia akan berkeluh kesah lagi padaku. Jika aku sudah punya pikiran seperti itu aku akan mengingatkan diri sendiri untuk tidak berkeluh kesah pada orang lain. Tapi ternyata hari ini aku sedikit bercerita dan kemudian aku tau bahwa orang yang aku ajak bicara adalah orang yang tepat.

Dan hari ini pula aku menemukan kecerianku kembali, berjalan pulang sambil menuntun Cinta dan Cahaya, melewati taman, bertemu dengan dua orang kakek yang tengah duduk di taman, membiarkan Cinta Cahaya mengobrol selama sepuluh menit dengan mereka sementara aku duduk di samping mereka sesekali ikut menimpali atau mengoreksi perkatan Cinta Cahaya pada dua orang tua itu.

Kemudian tak melarang saat Cinta memungut dua buah ranting, aku memperhatikan apa yang dilakukan Cinta, dia menyobek plastik bunga yang tadi dibawanya, kemudian menyerahkan bunga tersebut pada Cahaya sementara dia kembali sibuk dengan plastik kecil yang berhasil dia sobek dari pembungkus bunga mawar tadi, menggulungnya di tengah tengah ranting yang lebih pendek, kemudian dia berjongkok dan berjalan merangkak. Bunda serunya padaku yang sudah berjalan beberapa meter meninggalkannya, aku menoleh kebelakang terbahak melihat apa yang dilakukan Cinta. Dan dia merangkak seperti itu hingga mencapai pintu rumah.
Waf waf serunya!
Image
Cinta Cahaya kalian adalah matahariku.

Advertisements

3 thoughts on “Matahariku

  1. “Kadang kita lupa bahwa seseorang itu istimewa jika mereka sudah jauh dari kita barulah kita menyadarinya. Hari ini aku menyampaikannya langsung. Karena kini aku lebih tau bahwa tak akan ada yang abadi di dunia ini, begitu juga dengan pertemanan atau ikatan perkawinan, yang harus aku lakukan adalah tetap menjaga pertemanan itu untuk selalu baik, saat sedang dekat kita merasa bahwa dia lah yang paling baik diantara yang lainnya tapi kita suka lupa untuk menyampaikannya langsung. Ada pembelajaran yang aku dapatkan hari ini kadang jika aku mendengar keluh kesah dari orang lain tanpa sengaja kita ikut berkeluh kesah juga terhadapnya atau hanya mendengarkan saja tanpa bergerak menolongnya, atau hanya ya ya ya saja tapi lupa memberikan perhatian ekstra padanya, dan kadang dibelakang hari aku berkata pada diri sendiri (masih untuk pada diri sendiri tidak disampaikan pada orang lain) ohhhhhhhhh tidak, pasti dia akan berkeluh kesah lagi padaku. Jika aku sudah punya pikiran seperti itu aku akan mengingatkan diri sendiri untuk tidak berkeluh kesah pada orang lain. Tapi ternyata hari ini aku sedikit bercerita dan kemudian aku tau bahwa orang yang aku ajak bicara adalah orang yang tepat.”

    Ka Yayang, aku paham sekali apa yang kakak rasakan, karena aku juga sering demikian. Ka Yayang terus menulis ya, Zae senang baca tulisan2 kakak, senang sekali. Seolah aku kenal dekat dengan kakak. Tulisan kakak mengalir dan heartwarming 🙂
    Kakak masih di Bandung? haa jadi ingin main2 ke rumah kakak di Cibiru dan kenalan dengan Cinta dan Cahaya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s