Aku penduduk dunia!

Pagi ini,
Di dalam kelas temanku Amna asal Pakistan bercerita tentang negerinya yang dijatuhi drone oleh Amerika. Konon menurut Amerika daerah tersebut adalah sarang Taliban, jadi perlu diwaspadai tentang kegiatan Taliban yang membahayakan. Kata Temanku Amerika sebetulnya menjatuhi alat spion itu bukan untuk memantau kegiatan Taliban, tapi untuk menyelidiki kandungan emas yang ada di daerah tersebut.
Dan kami sebagai pendengar hanya bisa mendecakan lidah…. aih aih Amerika……

Saat istirahat, Fati masih temanku sekelas bercerita, dia sedang berdebar debar sudah beberapa hari ini menantikan istrinya yang sedang hamil akan melahirkan putri pertama mereka, menarik nafas panjang saat aku bertanya apakah dia akan melanjutkan sekolah seperti rencanaku dan beberapa teman yang lain jika kelas kami berakhir akhir juli ini dan masuk ke kelas lebih tinggi bulan september ini? Jawabnya sebagai kepala keluarga yang sedang menantikan putri pertama mereka sulit sekali untuk saling berbagi waktu antara bekerja dan sekolah. Dia masih bingung…..

Setelah istirahat, aku dan Maria temanku asal Portugal masuk ke ruang meeting di lantai 6, kami berdua terpilih untuk mewakili kelas kami menerima tamu dari negara Finlandia yang datang ke kampus kami (Albeda College). Tamu dari Finland tersebut akan mengadakan studi banding tentang metoda pendidikan yang ada di negara Belanda, mereka akan mengadakan tanya jawab dengan kami. Sedikit terheran heran aku mempunyai tanya dalam hati, mengapa pula negara Finland yang terkenal memiliki metoda paling berhasil dalam pendidikan masih ingin belajar pada negara yang berada di bawah standar negaranya?

Dan tentu saja acara diskusi tersebut sangat aku nikmati, aku bersama tujuh siswa Albeda lainnya saling bercerita tentang pengalaman kami, dan kami berdelapan berasal dari negara yang berbeda (Indonesia, Armenia, Irak, Ghana, Portugal, Spanyol, Polland, Brasil). Sementara tamu kami dari Finland sangat antusias mendengar dan bertanya tentang kami. Ternyata mereka ingin belajar pada Negara Belanda yang konon sebagai negara yang berhasil ‘mentraining’ para imigran sehingga bisa survive berada di negara yang baru. Dan seperti sama sama kita ketahui bahwa Belanda termasuk negara yang banyak dihuni oleh para imigran.

Siang ini, saat aku pulang sekolah dan langsung menjemput anak anak dari sekolah, secara tak sengaja aku mengobrol dengan orang tua murid yang sedang berdiri sepertiku menanti anak anak kami keluar kelas.
Dia berasal dari Afganistan, sudah lima belas tahun berada di Belanda. Mengungsi ke Belanda apalagi kalau bukan karena  negaranya yang kala itu dalam keadaan tidak aman, dia melihat ayahnya dibunuh pasukan Taliban di depan matanya, desanya diserang. Dan tentu saja aku tak mau mendengar ceritanya lebih lanjut.
Aku selalu tak enak hati jika memikirkan masalah seperti itu, disuatu saat aku mendengar kebengisan Taliban, disaat lain aku mendengar media Barat terlalu menyudutkan Taliban. Seolah olah banyak keanehan yang dilakukan Taliban, padahal belum tentu. Dan semua kekacauan itu selalu ditimpakan pada Taliban. Tak tahulah aku….

Pulang ke rumah, aku membuka komputer, melihat ada pesan yang masuk dari komenku di sebuah blog seorang professor di Bandung, komenku di bully oleh orang yang beridentitas tak jelas. Oleh seseorang yang berbeda pendapat denganku.
Pikirku, mengapa perbedaan pendapat dan pikiran menjadi masalah? Kenapa aku tak boleh menyuarakan pendapat yang berbeda? Sedangkan pemilik blog pun fine fine saja walaupun pendapatnya berbeda denganku. Lha ini orang yang tak jelas malah sampai memaki diriku. Walah!

Sore ini,
Sebelum aku mengantarkan Cinta dan Cahaya ke tempat les renang masih sempat kubalas ajakan seorang teman  yang memintaku bertemu denganku, pesannya singkat saja….. aku hanya ingin bercerita, dan kau seperti biasanya adalah orang yang tepat untuk mendengarkan…. Hahaha dan seperti yang aku tahu dia akan menumpahkan segala keluh kesahnya, seperti diriku padanya.

Advertisements

One thought on “Aku penduduk dunia!

  1. Mbak yayang kita punya cerita tentang warga dunia. Saya pembaca fiksi karya khaled hossein, pembaca petualangan Agustinus Wibowo dan antara A Kite Runner yg fiksi dan kisah Agustinus Wibowo slama di Afghanistan seolah membenarkan beberapa kejadian, baru beberapa hari lalu saya selesai membaca buku memoir seorang Afghan, trus nemu tulisan mbak yayang yg ada Afghan-nya, wadduh…what a coincidence…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s