Pesta Ulang Tahun cara Belanda

Jika kita diundang ke pesta ulang tahun orang Belanda maka dari rumah kita harus siap siap mengisi perut terlebih dahulu.
Kenapa begitu, ya karena tuan rumah hanya menyediakan kue taart dan minuman saja.
Misalnya yang berulang tahun adalah orang dewasa, maka kita datang seperti bertamu yang langsung ditawari minuman apa yang kita mau sekaligus ditawari taart. Tak ada acara tiup lilin, dan yang datang biasanya sahabat dan keluarga dekat saja. Jangan berharap tersedianya makanan berat, atau lebih dikenal dengan sebutan makanan panas disini, hanya akan disuguhi irisan keju atau daging worst yang disajikan dengan tusukan gigi. Dan istilah ‘nyelap di gigi’ begitulah yang akan terjadi, jangankan sampai di perut, makanan tersebut hanya sampai di gigi saja. Hahaha perumpamaan yang terlalu mengada ada memang.

Lain lagi jika yang berulang tahun anak anak.
Aturan di sekolah Cinta dan Cahaya, jika seorang anak akan mengundang teman sekolahnya ke sebuah pesta, maka anak tersebut atau orang tuanya harus mengundang di luar jam sekolah. Aku sempat bertanya pada Luc, mengapa begitu? Dan Luc bercerita anak yang berulang tahun akan memilih siapa yang akan diundang ke pestanya, dan tak mungkin semua anak dikelasnya diundang jadi anak yang tidak diundang tidak akan merasa kecewa karena mereka tidak tahu ada pesta di salah satu teman sekelasnya.

Duh sejak kecil anak anak sudah harus belajar menahan diri, tak kecewa jika dirinya tak diundang di pesta ulang tahun sementara teman yang lainnya bersuka ria.
Biasanya pesta ulang tahun diadakan hari rabu. Karena di hari tersebut anak anak sekolah setengah hari saja, sehingga pesta tersebut bisa selesai sebelum pukul 6 sore, jam makan malamnya orang Belanda.

Hari senin, dua hari yang lalu. Sepulang sekolah seorang ibu menghampiriku dan bertanya apakan aku ibunya Cahaya, yang langsung aku benarkan. Dia berkata bahwa Deasy mengundang Cahaya ke pesta ulang tahunnya di hari rabu dua hari yang akan datang. Deasy adalah teman sekelas Cahaya. Aku berterima kasih padanya dan memastikan bahwa Cahaya akan datang.
Sepanjang jalan pulang aku berpikir, kenapa aku lupa bertanya padanya untuk meminta Cinta juga untuk boleh datang ke pestanya Deasy. Pikirku besok aku akan bertanya pada ayahnya Deasy untuk memastikan Cinta juga diperbolehkan datang ke pesta Deasy. Aku tak berpikir panjang apakah pantas atau merupakan hal yang normal jika aku bertanya demikian. Aku mengenal ayahnya Deasy, kami bertetangga, kadang kami sama sama berjalan pulang ke rumah setelah menjemput anak anak dari sekolah, kebetulan rumah kami satu arah, tapi tidak berada di jalan yang sama.

Terlukis dalam benakku, akan senang sekali anak anak bermain di luar rumah di udara yang bagus di minggu ini, terbayang sudah rumah Deasy yang berada di daerah rumah rumah besar di Overschie, area villa biasa kami menyebutnya. Rumah besar yang biasanya tergambar di buku lima sekawan yang dulu aku baca, rumah tua dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon pinus. Rumah rumah di area tersebut merupakan gambaran yang kontras dengan area rumah kami. Tak perlu kuceritakan disini, yang jelas rumah kami adalah kebanyakan rumah di Belanda. Rumah kecil kotak dengan jendela yang besar, jika kalian berjalan di depan rumah rumah belanda maka kalian akan melihat seisi perabotan rumah, tak berhalaman depan, begitu membuka pintu maka kaki akan menginjak di trotoar.

Dan kemarin sore, saat aku menjemput anak anak dari sekolah,kulihat Deasy dijemput oleh neneknya, aku mengenal sosoknya karena beberapa kali aku melihatnya saat menjemput Deasy selain ayahnya, tapi tak pernah sekalipun aku melihat Deasy dijemput oleh ibunya.

Kukenalkan diriku padanya, dan aku bertanya dengan sopan, apakah Cinta juga boleh bergabung di rumah Deasy esok hari. Dan tanpa senyum dan kata kata panjang, wanita itu menjawab TIDAK BOLEH! Jelas terkejut aku terpana sesaat mendapat jawaban tegas seperti itu. Untunglah aku segera tersadar saat nenek itu berkata dengan cepat. Jadi hanya Cahaya saja ya, kamu tidak apa apa kan?
Is goed! Jawabku tak kalah tegas. Dan aku pun berpamitan sambil berkata pada mereka, sampai jumpa besok!

Dan hari pesta pun tiba. Beberapa kali aku dan Luc harus memastikan Cinta untuk tidak menangis jika besok Cahaya berjalan ke rumah Deasy bersama anak anak yang diundang. Akan kupastikan bahwa Cinta baik baik saja, dalam benakku aku akan menitipkan Cahaya pada orang yang akan menjemput Deasy dari sekolah. Akan kukatakan padanya, bahwa ini kali pertama Cahaya berpisah dari Cinta dalam menghadiri sebuah pesta, akan kukatakan juga jika Cahaya berbuat nakal atau ingin pulang, tolong teleponlah aku, aku akan segera datang menjemputnya. Dan aku siap menunjukan kalung Cahaya yang dilengkapi nomor teleponku.

Dan rencana yang ada di pikiranku, berantakan begitu saja, saat aku menjemput Cahaya.
Tak kulihat orang yang menjemput Deasy di sekolah, sementara satu persatu anak yang lainnya sudah dijemput orang tuanya. Guru Cahaya menghampiriku, dan berkata padaku bahwa Cahaya akan pulang bersama pihak Deasy dan aku hanya perlu menjemputnya saja. Akhirnya setelah aku menyerahkan kado yang baru aku beli ke arah Cahaya, aku menciumnya sambil berkata baik baiklah nanti di rumah Deasy.

Sambil menuntun Cinta, masih diarea sekolah aku berpapasan dengan guru Cinta, dengan antusias Cinta memeluknya dan meluncurlah kata kata ceria typikal Cinta jika bercerita. Katanya, mijn zus ga naar feestje. Ik mag niet. Serunya. Sambil kembali memeluk Cinta, Juf Yolanda berkata bijak pada Cinta. Zo, vandaag kun je leuke dingen doen met alleen je moeder.
Kami berbicara sesaat, juf Yolanda bercerita bahwa Cinta berkali kali berkata bahwa Cahaya akan ke pesta sedangkan dia tidak boleh ikut. Bu guru berkata padaku, bahwa wajar Cinta akan kecewa, tapi aku tak perlu khawatir.

Melewati hutan kecil ke arah rumah kami, aku membiarkan Cinta memetiki bunga liar yang ada di rumput, berkali kali menjanjikan bahwa kami akan bermain bersama di rumah. Dan hari itu aku lewati dengan gembira. Memasakan daging cincang yang ditumis ala bumbu bacang di Indonesia, memakannya dengan nasi mengepul dan secara fantastis Cinta menambah piringnya hingga dua kali. Terbayang dalam pikiranku Cinta bisa makan dengan nikmatnya di rumah, bagaimana dengan Cahaya? Hanya mendapat taart saja? Memakan cemilan kacang atau chips? Apakah mereka memberi roti juga untuk Cahaya? Apakah Cahaya akan kelaparan?

Hari itu aku menempel dan mewarnai bersama Cinta, menonton film Scooby Doo untuk kesekian kalinya. Sepulah menit sebelum waktunya menjemput Cahaya aku sudah berada di luar rumah sambil membawa perlengkapan berenang mereka, dari menjemput Cahaya, kami harus ke kolam renang. Hari ini adalah jadwal les renang mereka.

Saat aku akan memencet bel rumah Deasy, ku dengar panggilan dari kejauhan. Dan kulihat lambaian tangan nenek Deasy dikejauhan, ada Cahaya juga disana. Aku mendapati cahaya dengan make up. Aha mereka di sminken. Lukis wajah adalah hal yang biasa jika anak anak berada di pesta ulang tahun. Cinta berteriak histeris saat melihat Cahaya yang berwarna pink. Aku juga mau di sminken serunya.

Sambil berjalan ke arah kolam renang tak henti hentinya Cahaya menceritakan apa saja yang baru dilakukannya. Ini penuturannya….
Omanya Deasy dan oma yang lain (artinya ada dua oma) meenjemput kami dari sekolah, kami dibawa naik mobil, aku, Deasy, Naomi, Exper dan kakanya Deasy. (Hanya lima anak). Terus kami turun dan naik boat, boatnya besar disitu kita bisa makan pannenkoeken. Terus kita dilukis wajahnya jadi prinses. Boatnya di dekat supermarket yang ada di atas air itu, yang ada patung singanya. (Aha, mereka makan di dekat toko Oriental. Artinya mereka berlayar selama makan di pannenkoekenboot!)
Pannenkoekenboot

Hahaha, mengertilah aku, mengapa Cinta tak boleh ikut. Mereka berpesta tidak di rumahnya. Makan di panenkoeken boat adalah tempat yang disukai anak anak, perahu tersebut akan berlayar kurang lebih dua jam, kami boleh makan panenkoeken sepuasnya. Tentu saja makan disitu harus reservasi terlebih dahulu. Seperti yang kami lakukan saat Cinta Cahaya berulang tahun yang kedua. Hanya bedanya, kami datang berempat saja, merayakan moment ulang tahun seperti biasnya, sekeluarga inti saja!

 

Cinta yang sibuk memasangkan bunga di telinganya dalam perjalanan pulang dari sekolah

Cinta yang sibuk memasangkan bunga di telinganya dalam perjalanan pulang dari sekolah

panenkoekenboat

di dalam boat

di dalam boat

Bersama Naomi, semaentara Cinta cemberut, ingin dilukis juga wajahnya

Bersama Naomi, semaentara Cinta cemberut, ingin dilukis juga wajahnya

Cahaya dan lukisan diwajahnya

Cahaya dan lukisan diwajahnya

Bertemu dengan kembar lainnya di depan kolam renang, mereka teman sekelas Cinta Cahaya saat duduk di peuterspeelzaal

Bertemu dengan kembar lainnya di depan kolam renang, mereka teman sekelas Cinta Cahaya saat duduk di peuterspeelzaal

Berikut beberapa foto yang dikirimkan oleh ‘nenek lain’ ke nomor teleponku, aku bisa melihat kecerian anak anak yang terekam di foto foto tersebut, terimakasih!

IMG-20140403-WA0000  IMG-20140403-WA0001

IMG-20140403-WA0005   IMG-20140403-WA0010

Exper, Cahaya, Deasy, Naomi

Exper, Cahaya, Deasy, Naomi

IMG-20140403-WA0007

Advertisements

One thought on “Pesta Ulang Tahun cara Belanda

  1. Pingback: Pesta Ulang tahun | The days of Yayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s