Si Tutung

Mendapatkan hasil gosong masakan alias tutung bukanlah hal yang aneh dalam keluarga kami. Terus terang terutama ibuku.
Dulu waktu belum jamannya rice cooker, menanak nasi di panci bukan hal yang aneh jika hasilnya gosong bahkan saat nasi tersebut di kukus, si nasi masih bisa gosong akibat air di dandang habis dan akibatnya nasi diatasnya berbau angit karena panci yang terbakar. Lebih ekstrimnya, ibuku pernah saat ibuku merebus air, bukan hasil air mendidih yang didapat tapi air satu panci tersebut habis menguap dimakan api. Saking lupa diri!

Maka tak heran jika ayahku menjulukinya si Tutung.

Saat aku mulai tinggal terpisah dan harus mulai memasak sendiri, hal itu pulalah yang aku dapati. Berkali kali tutung. Dan Luc mulai mengenal istilah tutung!

Tapi kini aku mulai jarang sekali mendapati masakan tutung, dan kini aku mulai mengerti mengapa ibuku atau aku (bahkan kokon kaka iparku) sering mendapati masakannya gosong.

Pertama, kami tak suka berlama lama di dapur.
Kedua, kami tak suka memasak makanan yang sekedar oseng oseng saja, karena persiapan dari memotong bahan dan lain lain membutuhkan waktu yang lama. Kami menyukai masakan yang bisa di tinggal lama di dapur, misalnya memasak daging. Yang akhirnya saat kami kembali makanan tersebut sudah gosong.
Ketiga kami termasuk type yang suka mengerjakan pekerjaan secara bersamaan, misalnya dari pada menunggui tahu yang sedang di goreng, kami akan beranjak ke pekerjaan lain misalnya memasukan pakaian kotor ke mesin cuci, dan kadang bukannya kembali lagi ke dapur tapi malah ke ruang duduk dan nonton tv disana , hahaha.

Tapi sekarang tak begitu lagi, aku muali bisa berlama lama di dapur, awalnya bukan hoby sama sekali, tapi karena sekedar kebutuhan. dan acara menggoreng tahu tak pernah aku tinggalkan untuk pergi nonton lagi, tapi tetap di dapur dan membuat makanan lainnya, sehingga begitu yang satu selesai aku tetap sibuk di dapur. Dan tra laaaaaaa hasilnya masakanku jarang lagi gosong dan hasil yang aku dapatkan dari dapurpun tak sekedar satu macam, tapi beraneka rupa.

Namun tidak dengan hari kemaren.
Begitu membuka mata di pagi hari, planning ku untuk bekerja segera berhamburan, banyak yang harus aku kerjakan karena hari ini dan tiga hari berturut turut rumahku akan didatangi berbagai macam tamu, dari mulai teman temannya Cinta dan Cahaya, hingga temanku yang lama tak aku jumpai, walaipun harinya akan berbeda, tapi setidaknya aku harus menyiapakan kudapan untuk anak anak dan juga rumah yang bersih.

Dan begitu aku masuk dapur, aku segera membuat menggiling bumbu di blender, memotong tempe, memasukannya di panci, menuangkan bumbu yang telah aku giling, menambahkan air hingga setengah panci, menyalakan api di kompor. Dan segera meninggalkan dapur, masuk ke ruang makan, sibuk menyetrika pakaian yang bertumpuk.

Kemudian memberi makan cinta cahaya yang tak lama bangun pagi, kembali lagi pada setrikaan, kemudian ikut merumpi di whats Aap, sedikit mencium bau gosong, aku segera mengecilkan volume setrikaan, kembali setrika sambil sesekali melirik lirik teleon dan tablet yang terpasang berita di Indonesia yang sedang heboh, apalagi kalo bukan soal korupsi. Kemudian saat Cinta dan Cahay yang sedikit bertengkar aku segera melerai, dan alangkah kagetnya saat aku melihat asap mengepul.

Ya, Tuhan! Apa itu seruku, berlari dan mendapati panci yang berisi tempe, yang awalnya akan dibuat tempe bacem tengah mengepul mengeluarkan asap yang tebal. Hampir tiga jam lamanya aku membiarkan panci berisi tempe itu diatas api!
Image
Image

Bagaimana bisa aku lupa diri seperti itu?

Perkara menghilangkan bau gosong dalam rumah yang mungil tertutup, bukanlah perkara mudah. Aku harus membuka seluruh jendela. Membuka jendela di musim dingin dengan angin besar yang gila bergelora? Ya, aku harus melakukannya. Maka sepanjang hari itu aku harus membungkus tubuhku di dalam rumah dengan winter jas, menyelimuti Cinta dan Cahaya yang tak mau memakai jakte tebal, walau aku sudah memakaikannya sweater tebal.
Image

Saat Luc datang ke rumah, yang dilakukannya bukan menciumku seperti biasanya, tapi langsung bekata denga wajah kocaknya, Aha tutung!!!

Yayayaya, itulah akbatnya kalau lupa diri, dan ingin mengerjakan banyak pekerjaan selama bersamaan. Pesan kawanku saat aku mengirimkan hasil tempe bacemku di WA, dia hanya berkata bijak…. Yayang kerjakan pekerjaan satu satu, nikmati setiap pekerjaan itu, toch pekarjaan tak akan ada habisnya. Setelah mendapat pesan itu, aku membuat se-mug besar teh, menikmatinya bersama kue kering sambil melihat Cinta Cahya yang sedang bermain. Sementara pikiranku melayang pada panci gosong yang belum aku bersihkan….. Hhhhmmmmmmmmmmm, betapa aku merindukan si bibi!

Advertisements

One thought on “Si Tutung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s