Mom and Daughter Shopping Together!

Minggu siang, aku harus shopping bersama Cinta. Kata harus, memang itulah yang pantas disandang saat aku berniat shopping haru itu bersama Cinta. Aku harus membeli sepatu Cinta dan Cahaya untuk sekolah untuk mengganti sepatu mereka yang sudah bolong, tak bisa dinantikan lagi karena setiap hujan tiba, mereka akan datang ke rumah dengan kaos kaki basah, dan rasanya aku malu melihat kondisi sepatu anak anak. Walau mereka punya sepatu lain yang bisa dipakai untuk sekolah, entah kenapa terutama Cahaya, dia selalu memakai sepatu lars bututnya, tak mau digantikan, nah jika hujan tiba dan sepatu larsnya belum kering keesokan harinya, dia terpaksa memakai sepatu lain dengan muka cemberut.

Hari minggu tanggal 16 Feb, aku mendengar kabar dari seorang kawan bahwa toko sepatu van den Assem sedang mengadakan sale hingga 75%, maka dengan hati riang aku mendatangi toko tersebut, setelah melihat di internet bahwa di hari minggu toko tersebut akan buka pukul 12.00. Dan tepat pukul 12 aku keluar rumah dengan diantar Luc yang hanya menurunkan aku dan Cinta di depan toko tersebut, sedangkan dia dan Cahaya kembali pulang ke rumah. Sedikit bingung karena aku melihat orang berkerumun di depan toko tersebut, aku segera menghampiri pintu masuk dan melihat tanda bahwa toko belum dibuka dan jam buka toko adalah 12.30, wah masih 7 menit lagi pikirku. Dan aku tetap bertahan seperti orang orang yang bergerombol di sekitar pintu.
http://www.assem.nl/

Tepat pukul 12.30, dan pintu toko dibuka, bagai semut menemukan gula, kami segera meringsek masuk ke dala toko. Lupa diri melihat sepatu sepatu yang sedang obral besar besaran aku melirik sepatu nomor 35 dan 36 mencoba coba sebentar, sebelum akhirnya sadar diri kembali, bahwa hari ini aku datang untuk membelikan sepatu Cinta dan Cahaya. Aku berhasil melihat sepatu lars untuk Cinta hanya ada satu nomor, tak mungkin aku memaksakan satu nomor lebih besar untuk Cahaya. Cinta ogah ogahan melihat sepatu yang aku pilihkan, niet mooi bunda… rajuknya. Bagus, sayang, lihat ini untuk sekolah dan ini untuk pesta seruku menunjukan sepatu lainnya pada Cinta. Dan sepatu teplek model balet langsung dikagumi Cinta dengan antusias, Mooi bunda, heel erg mooi…. dan rengekan rengekan ingin segera memakai sepatu teplek tersebut dengan bertubi tubi terus dilontarkan. Dengan kesepakan bahwa aku akan membelikan sepatu teplek tersebut dengan perjanjian dia harus memakai sepatu lars yang aku pilihkan untuk sekolah dan pergi ke toko lain untuk mencari sepatu lars lainnya untuk Cahaya. Dengan tanpa ba bi bu lagi Cinta langsung menyanggupinya.

Berjalan dengan riang ke arah kassa, berceloteh pada penjaga toko yang melayani kami, bahwa dia ingin menenteng sepatu tepleknya sendiri, sehingga orang dibalik kassa menempatkan sepatu yang kami beli di kantung yang berbeda, dan aku harus menenteng sepatu lars baru Cinta dan dan dia sendiri menenteng sepatu teplek baletnya.

Dengan rasa penasaran yang masih nyata, aku harus meninggalkan toko tersebut dan dengan terpaksa harus melupakan sepatu yang baru aku lihat tadi di etalase, sepatu lars yang cantik, tanpa hak, datar saja seperti kesukaanku, tak lelah dibawa jalan lama, harga yang tertera disitu sekitar 350 euro dan akan menjadi sekotar 90 euro setelah dikorting 75%. Dan yang lebih fantastis lagi nomor sepatu tersebut adalah nomor 35, nomor yang jarang aku temui disini. Beli jangan beli jangan seperti irama yang menggelora di dadaku. Beli saja toch Luc tak akan marah, dia akan mentertawakan seperti biasanya, tapi tak pernah marah, bisikku. Tapi disaat yang lain aku berkata, anak anakku yang butuh sepatu, bukan aku. Dan berita para pengungsi gunung kelud kembali terbayang dalam pikiranku. Mereka boro boro ingin sepatu kedua atau ketiga, jangankan sepatu yang  mungkin tak penting bagi mereka, untuk makan pun mereka menunggu bantuan dari para relawan. dUh jika sudah ingat kesitu, aku bisa dengan sedikit tenang meninggalkan toko tersebut.

Tapi ya hanya sedikit, ketika aku melewati toko Manfield, yang konon orang bilang salah satu toko sepatu terbaik di Belanda, aku segera membelokan langkahku. Dan derita pengungsi gunung kelud hilang dalam ingatanku.
http://www.manfield.com/

Aku tengah memegang sepatu engkel lars yang hampir serupa yang aku punya, sepatu yang sudah tiga tahun aku pakai itu sekarang kondisinya sudah tak berbentuk dan salah satu sol sepatu kanan sudah tak utuh lagi, tergerus oleh seringnya aku berjalan. Melirik sebentar ke harga yang tertera 132 euro koma sekian cent. Otakku segera bekerja, aku tak tau berapa persen sepatu tersebut di korting, dan aku segera bertanya pada pekerja di toko tersebut, jadi 31,19 euro katanya, yang langsung disambut dengan senyumku, rasanya jika aku beli sepatu ini tak mengapa bathinku, para pengungsi di gunung kelud akan maklum dan merestui pembelianku, bisikku dalam hati. Dan dengan luapan kegembiraan aku berkata pada orang yang melayaniku bahwa aku ingin mencoba pasangannya. Dia segera membawa kotak sepatu dan menunjukannya padaku, alangkah kecewanya aku saat aku melihat pasangan sepatu yang ada di dalam kotak kondisinya sangat bersih, sehingga kontras dengan sepatu yang ada di tanganku yang sedikit lecek. Ada yang lain mevrouw tanyaku, walau aku tau jawabannya tak mungkin ada, disini sepatu kortingan adalah sepatu yang tersisa, yang ada di pajangan itulah yang ada, tak mungkin minta yang lain ataupun nomor yang lain karena tak mungkin ada. Dia menggeleng, dan segera memintaku tunggu sebentar, mungkin dia bisa mengakalinya katanya, dia bergegas meninggalkanku dan datang kembali dengan sepatu yang sudah digosok dan ketika kembali dan kami sama sama membandingkan sepatu tersebut aku masih melihat perbedaan warna yang walau tak begitu kentara, tapi ada sedikit beda. Aku tersenyum bimbang, sebentar katanya, mungkin aku bisa meminta pertimbangan kolegaku, katanya sambil bergegas pergi.

Aha, inilah yang aku tunggu, aku pernah mengalami kejadian serupa, juga dengan kasus sepatu kortingan, saat aku mendapati sepatu yang akan aku beli sedikit tergores, dan jelas jelas tak nyata, tapi secara kebetulan aku memeriksanya dan penjaga toko tersebut segera beranjak pergi dan datang kembali dengan seorang manager, dan managaer tersebut memohon maaf karena sepatu yang aku inginkan tak sempurna, dan kalaupun aku masih keukeuh membelinya dia bersedia menurunkan setengah harga lagi dari sepatu yang telah di korting tersebut. Dan tentu saja akan  aku sambut penawarannya dengan suka cita.

Dan hari itu, hal tersebut kembali lagi menghampiriku, orang yang melayaniku kembali datang dengan koleganya, dan dia menurunkan lagi sepatu tersebut menjadi 20 euro saja, aha sepatu yang awalnya seharga 132 euro kini bisa aku dapatkan dengan harga 20 euro saja. Tralalalaaaaaaaaaaa dengan amat gembira aku segera mendatangi kassa, dan saat itu pula derita pengungsi gunung kelud sudah benar benar hilang dalam ingatanku. Duh Gusti……
Image

Kami segera berjalan dengan riang gembira, tinggal sepatu untuk Cahaya pikirku. Cinta segera mengeluh bahwa dia ingin makan dan minum, aku segera membelokkan langkah kaki kami ke sebuah cafe yang langsung ditolak oleh Cinta, bukan yang ini bunda, katanya. Itu lho tempat yang biasa yang ada banyak anak anaknya. Hahaha aku tahu yang dimaksud Cinta, ke Hema kan? Iya bunda, betul… Hema. Teriaknya gembira. Akupun tentu saja gembira, karena dengan pergi ke Hema uangku tak akan keluar banyak, aku senang Cinta pun senang.
http://www.hema.nl/nieuws/ontbijt.aspx
Image

Keluar dari Hema, kami segera mendatangi toko sepatu langgananku, toko sepatu murah meriah, sepatu Cinta dan Cahaya sering aku temukan disitu. Tak berapa lama seperti biasanya aku bisa menemukan sepatu untuk Cahaya tanpa kesulitan.

Dan perjalanan masih disibukan dengan mendatangi toko kosmetik, recanaku membeli lipstick akhirnya aku niatkan juga. Pesan teman sekelasku untuk tidak malu bertanya pada penjaga toko, akhirnya aku laksanakan. Hari itu aku bertanya pada penjaga toko dan dia memberikan advis untukku, dan sebuah lipstik merah berhasil aku bawa pulang di hari itu. Di toko itu pula Cinta ditawari untuk sedikit di make up. Tentunya setelah penjaga toko tersebut bertanya dulu padaku, dan setelah aku mengiyakan dan penjaga toko itu bertanya pada Cintaa yang langsung disambut dengan suka cita oleh Cinta, dia segera menaiki kursi untuk pelanggan yang tinggi tanpa bantuanku, dan dia berhasil duduk di kursi tersebut dengan bangganya.
Image
Image

Berjalan pulang menuju haltu bus, kami masih sempat berfoto bersama di dekat Beurs. Cisssssss dan kami pun berfoto bersama yang bisa langsung di share saat itu juga oleh FB melaui http://www.koopgoot.nl
Image

Dan hari cerah ceria kami akhiri dengan bernyanyi bersama sambil menunggu bis yang datang selama hampir 15 menit lamanya. Dan perjalanan menuju rumah dengan nyaris hanya tiga penumpang saja hingga sampai rumah kami akhiri dengan gembira.
Image
Image

Ternyata tak perlu menunggu lebih lama untuk bisa menikmati shopping bareng dengan anak anak. Kami sama sama menikmatinya. Terimakasih Cinta! Next month giliranmu Cahaya!

Sampai di rumah, aku menceritakan semua cerita pada Luc. Luc tertawa waktu aku bercerita mengenai sepatu yang tertinggal di toko Assem, sedikit menggodaku bagaimana bisa aku tahan tak membeli sepatu kortingan itu tanyanya? Jawabku walau sebetulnya tak nyambung sama sekali, tapi aku sedikit bercerita mengenai kontradiksi hatiku, tak enak rasanya membeli barang yang sebetulnya tak begitu aku butuhkan sementara banyak ribuan orang di negaraku begitu susah, dan seperti biasanya Luc menentramkan hatiku dengan kata katanya, kalau kemampuanmu menolong hanya bisa dengan menahan keinginanmu untuk tidak membeli barang yang tidak kamu butuhkan, setidaknya kamu sudah membantu mereka dengan tidak hidup secara berlebihan karena inilah yang kita mampu.

Hahaha tidak hidup berlebihan karena inilah kemampuan kita. Ya, mau berlebihan bagaimana, wong mampunya segini! Terima kasih Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s