Antara Pinggiran Roti dan Bebek, Bebek yang Terpanah, dan PVV wil allochtone vogelvoerder keihard aanpakken

Image
Image
Kini aku tahu mengapa di Belanda sulit sekali menemukan roti yang telah dipotong pinggirannya.
Karena kami harus berbagi dengan bebek!
Hahaha tentu saja alasanku yang mengada ada untuk membungkam mulut Luc yang selalu protes saat aku memotong pinggiran roti untuk bekal Cinta dan Cahaya.
Zonder alias sayang, ujarnya. Kenapa harus menyisakan pinggiran roti.
Tak baik membiarkan kelakuan anak yang salah dengan membiarkan tak memakan pinggiran roti dan kini aku malah mensupport-nya untuk membenarkan tindakan mereka tidak memakan pinggiran roti mereka.

Alasan Luc aku setuju sekali.
Tapi, aku seorang ibu yang tak tega membiarkan mereka kelaparan. CInta dan Cahaya terutama Cahaya dia selalu menyisakan pinggiran rotinya di bekal sekolahnya, jadi saat aku memeriksa bekal sekolahnya setelah mereka pulang, selalu saja hanya dua gigitan saja disetiap lembar roti. Aku selalu memberikan tiga lembar roti untuk makan siang mereka. Sementara aku melihat teman teman yang lainnya dibekali 4 lembar roti  atau setara dengan dua tangkup roti.

Kini dengan cara memotong pinggiran roti untuk bekal mereka, mereka secara fantastis selalu berhasil menghabiskan bekal mereka dan aku mendapat pujian indah dari mereka…. Lekker Bunda! Nah fantastis kan?

Kini hampir setiap hari saat aku menjemput anak anak dari sekolah aku selalu memberi makan bebek di taman yang berada di sebelah sekolah mereka.
Inilah potongan roti yang selalu aku bawa, selain pinggiran roti kadang kami harus membuang roti yang terlalu banyak kami beli sehingga roti tersebut sudah tua dan kadang ada sedikit jamur. Pernah suatu hari saat aku memberikan roti berjamur pada bebek, Luc menjegahku katanya lebih baik masuk tempat saja, dia khawatir bebeknya mati. Jawabku dengan singkat, tak usah khawatir jangankan bebek manusiapun masih bisa makan roti yang sedikit berjamur hahaha.
Image

Belanda menurutku sangat identik dengan bebek dan burung, taman selalu dilengkapi dengan kolam dan tentu saja lengkap dengan bebeknya. Kemarin saat aku turun dari bis dan berjalan menuju rumah aku melihat seorang ibu yang sedang dikerubuti bebek, kemudian si ibu berusaha melemparkan beberapa roti yang ada disekitar kakinya ke kolam, tapi aku sedikit terkaget kaget saat melihat kolam dipenuhi roti yang masih utuh, roti jenis surinam brood yang besar, maka iring iringan roti yang mengapung di kolam layaknya kapal kapal dari kertas yang menjadi permainan favoritku sewaktu kecil. Saat aku melewati si ibu yang sedang sibuk dengan roti roti yang berserakan di rumput, tiba tiba saja aku terbelalak sekaget kagetnya, ibu tersebut membawa roti sebanyak kantung plastik sampah hitam yang besar, bisa jadi sebesar ukuran plastik isi 60 lt, tak heran roti roti yang di lemparkan ke kolam seperti arak arakan kapal kertas.
Image
Image

Hidup di Belanda, menjadikanku mengerti akan kehidupan si bebek, misalnya pada musim panas si bebek selalu cuek bebek padaku. Jika aku datang menaburkan remahan roti mereka akan pura pura tak melihatku dan sibuk berenang kesana kemari atau duduk duduk di rumput di bawah naungan pohon yang rindang. Namun jika musim dingin tiba, saat aku berjalan di kejauhan mereka sudah beranjak dari air dan berlari lari menghampiriku. Kadang mereka harus melirik kecewa karena aku tak membawa remahan roti untuk mereka.

Tahun yang lalu, aku pernah melihat berita di TV saat  seorang burgemeester atau walikota melepas bebek ke kolam dengan disaksikan masyarakat sekitar, saat pelepasan bebek tersebut ke air, masyarakat sekitar bertepuk tangan dengan gembira, ternyata upacara pelepasan bebek ke kolam diawali kejadian beberapa bulan sebelumnya, bebek tersebut dipanah dikepalanya oleh orang yang tak bertanggung jawab, dua panah sekaligus. Untunglah ada orang yang melihat bebek malang yang tengah berenang dengan dua panah dikepalanya, satu menembus pinggir kepalanya dan satu menempel diatas kepalanya sehingga dia menelepon pihak tertentu. Siapapun yang melihatnya akan mengutuk orang yang melakukan keisengan atau kejahatan tersebut.
Image
Berikut site, yang memuat kejadian itu.
http://www.ad.nl/ad/nl/1012/Nederland/article/detail/3458030/2013/06/13/Beschoten-eend-eindelijk-van-pijlen-verlost.dhtml

Masih berbicara mengenai memberi makan bebek. Beberapa waktu yang lalu aku dikejutkan dengan berita yang diserukan pihak PVV (partai politik) yang menyerukan larangan memberi makan burung (dan tentunya bebek juga karena temasuk leluarga burung) oleh bangsa pendatang. Usut punya usut PVV tak suka dengan banyaknya bangsa pendatang yang memberikan makan bebek secara berlebihan sehingga mengotori taman sekitar. Seruan ini seperti hanya ditujukan pada orang orang muslim, karena menurut sepengetahuan  PVV, orang muslim tak boleh membuang makan secara sia sia, oleh sebab itu daripada terbuang percuma lebih baik diberikan pada orang lain yang memerlukan atau diberikan pada sesama mahluk hidup, maka berserakanlah makanan sisa di sekitar kolam kolam bebek sehingga mengganggu pemandangan mereka. Peringatan dari PVV itu pernah membuat aku dan Luc berdiskusi panjang, Luc meminta aku menunjukan ayat di AlQurán yang memerintahkan tak boleh membuang makanan. Tentu saja aku harus menyikapinya dengan bijaksana. Aku tak bisa sembarangan bicara apa apa mengenai Islam tanpa dibarengi pengetahuan yang benar, sembarangan bicara akan membuat aku berada di posisi yang lemah, maka ujarku… yang aku tahu ada sebuah hadist yang pernah aku baca berisi kira kira seprti ini…. makanlah sebelum kami lapar dan berhentilah sebelum kamu kenyang, lanjutku, itu dimaksud agar kita tak membeli makanan secara berlebihan sehingga menyisakan makanan yang banyak dan akhirnya harus dibuang, banyak orang yang masih kelaparan sementara kita disini dengan seenaknya membuang makanan, mungkin banyak dari kami yang memberi makanan sisa ke bebek karena tak ada tetangga yang bisa kita bagi makanan jika kita berlebihan memasak. Terus terang pertama kali aku hidup disini, aku selalu mengurut dada berkali kali, aku melihat kelakuan Luc yang membuang makanan seenaknya ke tempat sampah. Orang sini kebanyakan mereka memasak secukupnya saja, tak lebih tak kurang, satu kali makan satu kali masak, mereka berhitung secara akurat berapa banyak yang harus mereka buat, tak heran jika mereka mengundang kami mereka selalu bertanya terlebih dahulu berapa banyak aku makan satu porsi atau setengah porsi atau dua porti? Mereka akan mengukur seberapa banyak aku akan makan, sehingga dulu aku selalu berpikir mereka pelit, menjatah makan yang akan aku makan, hahaha. Padahal aku harus mengambil pelajaran dari kebudayaan mereka, mereka sudah mengikuti sunah Rosul, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Hanya makan secukupnya kebutuhan perut.

Saat berita larangan dari PVV, tentu saja membuat aku dan Luc geram, kenapa  Wilder selalu mengdiskriditkan umat Islam? Ujar Luc jika larangan memberi makan bebek atau burung tak sepantasnya PVV melarang hanya satu golongan saja, jika harus melarang maka laranglah seluruh penduduk Belanda misalanya, atau di daerah ini dilarang memberi makan bebek, atau peringatan peringatan netral seperti itu, bukan seruan pada buitenlander saja alias pendatang. Dan mengapa larangan tersebut hanya seperti mengejar orang bangsa lain (muslim) saja? Sedangkan orang belanda yang memberi makanan burung secara berlebihan tak kena sangsi?
Berikut berita yang berisi langaran menggelikan dari PVV ini,
http://www.elsevier.nl/Nederland/nieuws/2011/3/PVV-wil-allochtone-vogelvoerder-keihard-aanpakken-ELSEVIER291497W/
Tentu saja seruan dari PVV tersebut menimbulkan banyak reaksi seperti biasanya. Dasar Wilder, aya aya wae lah kamu mah!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s