Hadiah Gratis dari Supermarket

Biasanya urusan belanja adalah urusan ibu ibu.
Tapi dulu tidak begitu dengan diriku, semuanya Luc yang urus. Aku tinggal bilang saja apa yang tidak ada di dapur.
Tapi seperti kataku tadi, itu dulu.

Sekarang?
Walau masih Luc yang belanja tapi sekarang aku mengerti cara belanja ‘bijaksana’ atau malah mungkin jadi lebih boros.

Disini ada istilah aanbieding alias korting alias discount.
Discount tak hanya pada pakaian tapi hampir pada semua barang yang bisa dijual. Sayur, buah, sabun, sampo. Apa saja.

Selain itu ada juga istilah 3+2 yaitu drie halen twee betalen yang artinya ambil tiga cuma bayar dua. Semacam istilah darmaji (dahar lima ngaku hiji) yang dilegalkan. Ada 2+2 artinya bayar dua biji tapi dapat empat buah produk. Biasanya berlaku pada handbody, sabun, sampo, pasta gigi.

Nah karena kini aku mengetahui sistem tersebut, maka aku selalu meminta Luc untuk berbelanja dengan cara melihat reklame terlebih dahulu. Di awal awal sudah tentu Luc selalu menolak cara belanja yang aku anjurkan. Buat apa katanya, berat bawanya, nanti kadaluarsa atau alasan konsumtif karena barang yang tidak kita butuhkan jadi kita beli katanya. Tapi lama lama dia jadi mau mengikuti anjuranku walau tak sepenuhnya, gara gara pada suatu saat dia membeli popok Cinta Cahaya dua buah dan saat di kassa dia hanya membayar tiga per dua dari jumlah uang yang seharusnya dia bayarkan, saat dia mengoreksi pada kasir, si kasir menjawab setiap membeli produk kedua dari produk yang sama maka akan mendapat korting 50%. O la la, seperti mendapat durian runtuh Luc saat itu. Dan sejak saat itu pula dia mulai mengikuti anjuranku sebelum berbelanja meliat iklan terlebih dulu.

Nah selain sistem discount dan lainnya, ada pula sistem lain, yaitu pengumpulan perangko setiap belanja.
Misalnya, setiap pembelian 10 euro maka kita akan mendapat satu perangko yang ditempel pada sebuah kertas (kartu) yang sudah disediakan. Jika kartu tersebut sudah terisi perangko seluruhnya, maka kita boleh menukarkan kartu yang berisi perangko tersebut dengan hadiah yang sudah disediakan.
Hadiahnya berlainan setiap musim, satu musim biasanya berlangsung tiga bulan, jadi tentu saja kertas tersebut harus sudah terisi penuh dalam kurun waktu tiga bulan jika kita ingin hadiah.

Hadiah yang paling kami sukai adalah dus belanjaan yang menurut si supermarket mencapai taksiran nominal 50 euro jika diuangkan. Walau aku tidak tahu benar atau tidaknya, tapi seperti tahun lalu, tahun ini pun kami puas saat menukarkan perangko yang kami kumpulkan denga dus berisi belanjaan tersebut.
Lihatlah isinya, ada diterjen, sabun cuci tangan, spon, pasta, chips, majalah hingga alat bersih bersih, semua ada.
Walaupun itu gratis, tapi jangan salah untuk mendapatkan dus seharga 50 euro itu, kami harus mengumpulkan 75 buah perangko. Yang artinya untuk mendapatkan dus tersebut kami harus belanja sebanyak 750 euro terlebih dahulu. Hahaha bukan jumlah yang sedikit ternyata.
Image
Image
Sebetulnya ada tiga supermarket di daerah kami, bahkan dua diantaranya berdampingan, tapi Luc hanya tetap mau berbelanja pada satu supermarket favoritnya saja yaitu Plus, alasannya cukup masuk akal selain barangnya komplit, tempatnya nyaman dan juga orang yang berbelanja ke situ bukan orang yang vervelend (menyebalkan),  untuk alasan yang terakhir aku tidak mengerti sama sekali. Alasan yang diada ada menurutku. 

Jika aku yang berbelanja, aku lebih suka ke Bas dan Lidl, dua supermarket yang tak mau didatangi Luc. Alasanku sangat bijaksana karena kedua supermarket tersebut barang barangnya lebih murah dari supermarket Plus. Terutama Bas yang paling sering discount barang barangnya dan juga tempatnya yang berada di belakang sekolah Cinta dan Cahaya, sehingga aku bisa datang kesitu sebelum menjemput anak anak dan menyimpan belanjaan di kereta dorong yang aku bawa saat menjemput anak anak.

Selain itu di daerah kami ada toko obat bernama Trekpleister walaupun namanya drogist alias toko obat tapi disini dijual juga kebutuhan rumah tangga lainnya, sebangsa sabun dan lainnya. Karena Trekpleister yang paling sering ada promo 2+2, maka untuk urusan kamar mandi selalu aku yang melengkapinya. Di trekpleister juga ada hadiah sama seperti yang ditawarkan di supermarket, kali ini hadiahnya adalah handuk. Lebih menyenangkan karena untuk mendapatkan handuk hanya dibutuhkan 8 stiker saja, dan untuk mendapatkan satu stiker kita harus belanja di situ hanya dengan 5 euro saja minimalnya.
Dan dengan waktu yang sebentar aku sudah mendapatkan tiga kartu yang telah terisi penuh stiker, dan tentu saja aku bisa mendapatkan tiga buah hadiah.
Image

Oh ya, walaupun hadiah tersebut bersifat gratis, tidak melulu kita ingat kapan waktunya promo tersebut berakhir.
Terutama laki laki tentunya yang tidak terlalu tertarik untuk urusan gratisan. Buktinya ada pada Luc.
Di bulan mei hingga juni 2014 hadiah di Plus adalah handuk. Saat aku menanyakan pada Luc, apakah dia sudah menukarkan perangko dengan handuk, Luc menjawab belum dan tak mungkin ditukarkan karena kartunya belum terisi penuh sementara waktu penukaran yang telah ditentukan hampir habis, tak mungkin belanja sebanyak itu hanya untuk mendapatkan gratis handuk. Selain itu Luc tidak tertarik pada hadiah handuk yang ditawarkan.

Dan hari ini, saat aku mencari cari perangko yang tersisa untuk diberikan pada temanku yang belum terisi penuh kartunya. Aku melihat kartu perangko handuk yang sudah terisi penuh. Saat aku memeriksa di mana perangko perangko tersebut berada aku menemukan kartu perangko handuk lainnya. Dan tralaaa ada tiga kartu haduk, satu sudah terisi penuh dan dua lagi belum. Dasar Luc, pikirku sambil tersenyum getir, dia sama sekali tak menyadari bahwa dia menempel perangko di kartu yang lainnya, padahal kartu yang lainnya belum terisi penuh. Bahkan kartu yang sudah penuh sekalipun dia tidak ingat sama sekali. Huh, ada ada saja.
Image

Lihatlah di kartu (spaarkart) yang pertama hanya tertempel 12 perangko saja, begitu pun di kartu yang kedua hanya ada 12 perangko saja. Sedangkan di kartu ketiga sudah terisi seluruhnya. Setidaknya kami bisa mendapatkan satu buah handuk berkualitas dari Plus. Tapi yah… sudahlah, tidak usah kecewa kata Luc saat aku menyodorkan kartu yang sudah terisi penuh pada Luc. Tidak kecewa seruku, hanya dongkol! Hahahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s