Den Haag and Indonesian Culinair

Memulai hari pertama di bulan januari 2014, aku ngidam makan baso tanpa harus bikin. Betul betul ingin menikmati baso keliling yang datang dari rumah ke rumah atau menikmati baso di tenda tenda pinggir jalan ataupun setidaknya menikmati baso di rumah makan. Kita tinggal datang, makan dan bayar.

Saking ngidamnya, aku sampai googeling dengan cukup serius. Dan tak kutemukan satupun penjual baso di Rotterdam, mulai dari penjual type warung hingga berskala restauran. Selalu pencarian kembali  di kota Den Haag. Heran luar biasa mengapa pembisnis makanan tak membuka warung baso di Rotterdam? Atau akukah yang kuper?

Dan rengekanku mulai berhasil terdengar di telinga Luc, ikut prihatin dan mulai membantu pencarian tukang baso di internet. Hingga katanya…. Nee, helaas pindakaas, ga ada tukang baso di Rotterdam. Tetap kamu harus pergi ke Den Haag. Ujarnya kemudian.

Dan mulailah Luc menandai kalender di tgl 5 jan hari minggu dengan tulisan Den Haag, Baso!

Atas anjuran seorang teman satu hari sebelum hari H, aku mengganti keinginanku makan baso menjadi makan bakwan malang. Advisnya, datang saja ke warung Si Des, depan warung Minkee, parkir di Markthof.

Rencana akan berangkat jam 12 siang, kami baru keluar rumah hampir pukul 2 siang. Biasa hari minggu dan juga di musim dingin, siapa yang ingin cepat beranjak dari tempat tidur? Bahkan Cinta Cahaya yang biasanya paling getol bangun pagi pun bisa bangun pukul sepuluh di hari minggu.

Setelah masuk tempat parkir, kami masih kebingungan karena di depan Minkee hanyalah berupa gedung besar tak ada tanda tanda warung makan disana. Cara cepat menemukan warung tersebut adalah menelepon temanku dan menanyakan dimana letaknya warung Si Des itu. Ternyata dari tempat parkir aku tak harus keluar gedung, tapi masuk ke lorong antara warung Minkee dan grillbar Arena. Lurus masuk sedikit dan berbelok ke kanan disitulah Si Des berada disebelah kanan sementara di depannya adalah toko Amazing Oriental. Warung kecil hanya dilengkapai kurang dari sepuluh meja kecil saja, dengan kapasitas meja untuk dua orang saja.

Tentu saja tak sesuai imajinasiku, terlebih kami baru melewati warung Minkee yang sudah amat sangat terkenal, dengan aroma membangkitkan selera dan ruangan yang luas. Sedikit berpikir akankah aku membalikkan badan dan beralih ke Minkee? Tapi Minkee hanya nasi saja. Tolak pikiranku dan tetap bersikukuh untuk tetap berada di Si Des. Dengan sedikit was was aku bertanya pada pelayan toko yang sedang berdiri di kassa, adakah kiranya tempat yang kosong, karena aku melihat semua meja telah terisi. Untunglah tepat saat aku bertanya, dua orang meninggalkan meja, dan akmi segera duduk disana tentu saja dengan protes dari Cinta, harus dimana dia duduk karena kursi yang tersedia hanya dua buah saja. Problem segera teratasi ketika pelayan tersebut menyodorkan dua buah kursi tambahan. Dan dia segera memberitahukanku bahwa aku harus datang ke kassa untuk memesan makanan.

Aku bertanya bisakah aku melihat menu? Pelayan toko tersebut berkata menu bisa dilihat di tulisan di dinding.

Aku meminta dua porsi bakwan, dan langsung dijawab, bahwa bakwan nya belum datang. Hah??? Belum datang? Dan dengan polosnya aku bertanya, kapan datangnya? Dan dijawab dengan polos juga, hari ini tak datang. Ingat tak datang! Bukan tidak ada bakwan untuk hari ini, tapi tak datang. Hahaha, but anyway okelah, aku tak ingin hariku menjengkelkan dengan tidak adanya bakwan di hari ini, segera menawarkan menu lain pada Luc, laksa? Rawaon? dan dijawa siomai oleh Luc.
Image

Oke, satu porsi mie ayam untuk Cinta, satu porsi sate untuk Cahaya, satu porsi siomai untuk Luc dan untukku satu porsi pempek. Dengan minum, satu coca cola, dua chocola melk dan satu teh botol. Total dari semua nya hanya 28 euro saja. Tentunya harga yang tak mungkin kami dapat jika makan di pasar tongtong dengan makanan yang sama.
Image

Setelah menyantap makanan tersebut (aku tak jadi makan pempek dan membawanya pulang, karena Cinta tak mau mie ayam yang aku sodarkan dia lebeih tertarik berbagi sate dengan Cahaya, sehingga akulah sebagai juru sikat, emnyantap habis mie ayam Cinta yang tidak disentuhnya), Luc minta bubur sumsum sebagai dessert, untuk kedua kalinya pelayan yang melayani kami berkata bubur sumsumnya habis, oke ganti menu yang lain, bubur candil seru Luc dan lagi lagi dijawan habis, hingga aku harus bertanya apa saja yang masih tersisa. Akhirnya pilihan kembali ke menu seperti biasa di pasar tongtong, apalagi kalo bukan es cendol dan es dawet.
Image

Keluar dari Si Des, dan mengevaluasi ulang bersama Luc, ternyata kami punya satu suara yang sama. Kembali ke Si Des suatu hari nanti. Alasan Luc adalah makananya tidak mengecewakan sedangkan alasanku adalah aku masih penasawan dengan bakwan malang yang tak kujumpai di hari ini.

Jika kalian kangen akan food street di  Indonesia, datang ke si Des adalah cara jitu pengobat rindu makan makanan Indonesia yang tak pake bikin. Seperti ulasan dari Belindomag mengenai Si Des.  http://belindomag.nl/id/tokoresto/ulasan-si-des

Selamat menikmati.

Rotterdam, 5-1-2014

Advertisements

4 thoughts on “Den Haag and Indonesian Culinair

  1. Suka bangeet makan disini, gudeg dan kari kambingnya juga enak teh..pernah ketemu jg orang yang sengaja dari Amsterdam, dan emang katanya di si Des ini rasanya ”Indonesia banget” dibanding yang lain..semoga makan bakwannya nanti kesampaian yah,.hihi

    • Bakwan oh bakwan….
      Oh iya kemaren juga ketemu yang dari Amsterdam, sengaja dateng ke Den haag krn om and tantenya yang tinggal di berlin dateng ke belanda, dan diajak ke den Haag buat makan di si Des

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s