Pizza Hut

Duluuuuuuuu, jaman dahulu kala, Luc pernah bertanya pada ibuku, restaurant mana kesukaan ibuku. Ibuku menjawab pizza hut, yang langsung mendapat kerutan heran di kening Luc. Hingga ibuku harus bertanya sambil tertawa tawa ke arahku, jawaban ibu salah ya? Lucu ya? Aneh ya? Tanyanya.

Bukan jawaban benar atau salah, jika menyangkut kesukaan alias favorit, jawabku.
Dan ibuku menjawab alasannya padaku. Habis ibu taunya cuma pizza hut aja, restaurant yang bisa nyambung di lidah dan perut ibu.
Ibu ga suka steak, rasanya tersiksa kalo makan daging seperti itu.
Ibu juga ga begitu suka kalo makan di tempat sebangsa kampung daun, udah jauh tempatnya, nunggu makannanya lama, penuh trus harganya mahal lagi. Eh yang dipesan cuma yang gitu gitu juga keluarnya ga seaneh nama di menunya, sama aja kayak makan di Sindang reret, Panyileukan atau Ampera. Hahaha.

Hingga saat ini, Luc sudah empat kali datang ke Indonesia. Tiga kali dia dijemput dari bandara Soekarno hatta menuju Bandung oleh kakak pertamaku, dan tiga kali pula mereka mampir ke pizza hut di jalan tol antara jakarta dan Bandung, sehingga Luc hapal betul tempatnya, karena menurutnya selalu di pizza hut yang sama. Hingga Luc berujar, sepertinya pizza hut merupakan favorit keluargamu. Hhmmmmmm ‘mu’ disini berarti keluargamu juga Luc.

Waktu aku mulai hidup baru dengan Luc, aku melihat pola hidup Luc dalam soal makanan adalah dia jarang sekali ke dapur, kalo ga makan roti berarti dia akan pesan makanan lewat internet yang kemuadian langsung diantar ke rumah, bestel istilahnya.
Bisa dibilang begitu aku datang ke Belanda aku langsung hamil, dan tak bisa turun ke dapur juga karena rasa mual yang amat sangat. Empat bulan pertama kehamilanku, aku hanya bisa makan kentang rebus, telur rebus dan minum coca cola. Ketiga jenis makanan dan minuman itu yang dulu paling tidak aku sukai. Karena itulah Luc lebih sering bestel diantaranya bestel pizza.
Ternyata pizza disini berbeda sekali dengan pizza hut yang aku kenal. Pizza langganan Luc adalah New York Pizza dan kadang Domino Pizza. Menurutku kedua jenis pizza tersebut tak enak sama sekali.

Karena aku keukeuh berpendapat bahwa Pizza hut lebih enak dari kedua jenis pizza tadi, maka waktu usia kandunganku sudah tua, kami pergi ke pizza hut di centrum. Dan hanya itulah satu satunya pizza hut yang pernah aku lihat di Rotterdam.
http://www.pizzahut.nl/index-3.html
Tak seperti halnya di Bandung yang banyak ditemui hampir di seluruh penjuru Bandung.

Aku masih ingat betul, saat kami kesana di hari sabtu siang menjelang sore, tak banyak orang yang makan disana, kosong dan lenggang. Belumnya jam makan, kata Luc.
Komentarku saat itu, tetap rasanya tak seperti pizza hut di Indonesia, walau lebih menyerupai dibanding pizza pizza yang lainnya.
Tapi penasaranku pupus, cukup sudah satu kali saja, ujarku.

Dulu sewaktu di Bandung, jika makan di pizza hut, satu pizza bisa unttuk dua atau tiga orang itupun ukuran medium. Tapi disini ukuran besar untuk satu orang. Dan betul betul bisa dimakan habis. Persis seperti di film film pikirku saat itu, apalagi jika Richard temannya Luc datang di selasa malam untuk nonton film di rumah kami, kami bisa pesan sampai 5 pizza karena Cinta dan Cahaya pun masuk dalam hitungan. Tetap tak mengerti mengapa bisa makan sebanyak itu, sedangkan aku hanya kuat setengahnya saja, itupun sudah kemampuan makan yang paling maksimal, istilahnya jika seharian tak makan baru bisa menghabiskan pizza setengah lingkaran ukuran diameter 30 cm.

Dan hari ini, kami mengulang sejarah hampir lima tahun yang lalu. Kami kembali ke pizza hut di Rotterdam tapi kini Cinta dan Cahaya sudah keluar dari perutku sehingga bisa makan sendiri.
Ternyata Cinta tak mau pesan pizza, dia memilih kip nugget yang satu porsinya berisi 12 buah. Cahaya memilih pizza margarita (seperti biasanya) ukuran medium dengan bottom klasik alias tipis, Luc memilih pan pizza taco special ukuran medium dan aku memilih pan pizza hot n spicy ukuran kecil.
Image

Ada yang menarik begitu kami melangkahkan kaki ke restaurant, kami dipersilahkan duduk menunggu di bangku tunggu sebelum akhirnya dipersilahkan ke tempat yang disediakan, persis daftar antri di pizza hut di Bandung. Pelayan yang melayani kami, mengingatkan diriku pada Ivan Gunawan, persis abis, hanya ini lebih kemayu dan moleg hehe, dan super ramah.

Kami memulai dengan pembuka makanan berupa roti koflok, yang datang cukup lama stelah kami duduk, sehingga capucino yang aku pesan pun tandas.
Tak lama setelah capucinoku habis, chiken croq alias nuggetnya Cinta datang, hanya itu tak disusul atau dibarengi pesanan kami yang lain. Aku mulai curiga terutama saat pesanan para meja tetangga yang datangnya belakangan dari kami telah berdatangan, hingga meja kami lah yang masih kosong. Cahaya mulai gelisah melihat Cinta yang tengah melahap makanannya. Aku menawarkan makanan Cinta pada Cahaya, tapi dia menolaknya.

Dan kebosanan tak hanya menyerang Cahaya, aku dan Luc pun mulai merasa tak nyaman, saat Cahaya minta ke toilet pada Luc, aku mulai meminta pinsil warna dan kertas mewarnai pada pelayan, karena itulah cara jitu untuk membuat anak anak melupakan rasa bosannya. Cahaya tersenyum gembira ketika melihat kertas mewarnai sudah tersedia di mejanya saat dia kembali bersama Luc dari toilet.

Selera makanku semakin berkurang saat Luc mulai mengeluhkan lamanya pesanan datang, wajah tak senang mulai dia munculkan, sehingga aku berinisiatif menanyakan pesanan kami pada pelayan. Dan aku pun mulai melihat mimik panik di wajah pelayan super ramah tersebut, sibuk membicarakan sesuatu di layar komputer bersama dua rekannya, kemudian satu diantaranya kembali ke belakang. Dan tra laaaaa hingga ke 12 nugget Cinta habis, pesanan kami belum muncul juga.
Untunglah dua bocah kecil ini sedang dalam kondisi senang, tak sedikitpun berkeluh kesah, sibuk mewarnai sambil mengobrol sana sini.

Dan kedongkolan kami semakin menjadi, saat orang yang datang bersama kami beranjak pergi, maksudnya mereka telah selesai makan sedangkan kami belum mendapatkan pesanan kami. Saat Luc akan beranjak membatalkan pesanan  tiba tiba saja pesanan kami muncul, dan selera makanku yang telah hilang beranjak muncul kembali saat melihat Cahaya girang, segera meletakkan pinsil warnanya dan menikmati pizza dengan lahap.  Sementara Cinta tak tertarik untuk mencoba barang segigitpun pizza yang aku tawarkan, dia sudah kekenyangan dengan nuggetnya.

Aku dan Cahaya berhasil menghabiskan sepotong lingkaran pizza, sementara Luc berhasil menghabiskan seluruh pizzanya. Kami menjanjikan setelah selesai makan, Cinta Cahay dibolehkan memesan es krim. Walau aku trauma pesanan akan datang lama tapi janji tetaplah janji, dan untuk menyiasati hal keterlambatan untuk kedua kalinya, aku segera memesan es krim untuk anak anak sebelum Cahaya selesai makan. Walau dengan cara itupun pesanan ternyata masih pake lama juga.

Image

Menyebalkan gerutu Luc, dan dia melakukan hal yang sama sepertiku, saat es krim anak anak belum selesai dia segera beranjak dari meja dan segera membayar makanan kami.

Keluar dari situ, hal yang pertama diucapkan Luc adalah cukup ini yang terakhir makan disini. Aku tergelak. Teringat lima tahun yang lalu hal itu pulalah yang aku ungkapkan kepada Luc, cukuplah ini yang terakhir makan di pizza hut, saat itu karena menurutku pizza yang aku harapkan sama dengan di Bandung tak sesuai dengan harapanku.

Ah mungkin, walau sekecewa apapun, berjanji untuk tak datang ke pizza hut di Rotterdam lagi, mungkin saja kami akan lupa pada janji kami. Hahaha jika sampai lupa, pantaslah disebutkan jika pizza hut adalah restaurant favorit keluarga kami.
Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s