Corruption

Awalnya diskusi di suatu pagi di kelas kami (hari jumat yang baru lalu) mengenai angkutan umum di Belanda yang kami rasa kelewat mahal, tapi tiba tiba saja diskusi kali ini menjadi diskusi mengenai masalah korupsi.

Negara kami, negara terkorup di dunia. Kata seorang teman asal Lithuania.
Apa contohnya? Tanya Dosen.
Rijbewijs (surat izin mengemudi) bisa kami beli. Kalau tidak lulus dalam ujian mengemudi, ujian berikutnya kita bisa lulus kalau memberi uang pada yang mengujinya.
Oh ya? Sang Dosen terkejut.
Pendidikan bisa kami beli. Kita bisa masuk sekolah unggulan padahal di awal test dia tidak lulus, tak tau ceritanya bagaimana tiba tiba dia bisa bersekolah disitu. Katanya lagi, yang langsung diserbu dengan desisan keterkejutan yang amat sangat dari dosen kami.

Sementara aku hanya mendengar dalam diam, tak ikut terkejut seperti teman teman yang lain terutama dosen yang mendesis terus menerus dan berujar, echt waar, eacht waar, berkali kali dengan mata mendelik saking terkejutnya.

Negara kami, lebih parah lagi korupsinya, aparat polisi, mereka yang paling sering disuap. Kata seorang teman asal Afrika. Dan aku masih diam.

Aku tidak lulus waktu ujian praktik SIM, padahal mengemudiku sangat baik, aku tidak menyogok petugas yang mengetesku, sedangkan temanku yang mengemudinya buruk, lulus waktu ujian praktik, gara gara dia menangis setelah ujian, mengiba ngiba pada petugasnya, sambil bercucuran air mata dia berharap lulus. Ujar seorang teman dari Polandia yang langsung disambut oleh tawa kami sekelas.

Seorang teman asal Portugal bercerita bahwa temannya yang saudara seorang manager di tempat dia bekerja, bisa naik jabatan dengan cepatnya. Yang langsung ditimpali oleh teman kami asal Spayol bahwa hal tersebut terjadi juga di tempat kerjanya dulu.

Sementara aku dan seorang teman asal Pakistan, hanya diam diam saja mendengarkan perdebatan tersebut, hingga bu dosen bertanya ke arahku….

Nuruliaty, apakah korupsi juga terjadi di negaramu?
Ya, jawabku dengan wajah memerah.
Apa contohnya? Tanyanya lagi.

Mataku lurus menatap wajah sang dosen.
Hakim agung di Indonesia, menerima uang yang bukan haknya. Jawabku tersendat. Dan langsung disambut oleh desahan nafas kaget dari seluruh isi kelas, terutama teman dari Spanyol yang sampai menutup mulutnya dengan tangannya.

Dan Dosenpun segera menutup diskusi kali ini dengan kata penutup bahwa hampir diseluruh negara korupsi itu ada, hanya kapasitasnya yang berbeda, kemudian ujurnya itulah sebabnya setiap pejabat tinggi di Belanda gajinya terbuka, sehingga jika mereka mendapat kekayaan yang diluar kewajaran, masyarakat bisa mencium adanya sesuatu yang tidak beres.

Ingin rasanya aku menimpali, bahwa di Indonesiapun gaji pejabat memang terbuka, ada rinciannya tunjangan ini itu, tapi tetap saja mereka begitu menyolok kekayaannya berbeda jauh dengan rakyatnya, tak semuanya memang. Tapi hampir sebagian besar.

Tak kuceritakan tentang polisi yang tertangkap kamera sedang menerima suap dari seorang wartawan Belanda yang sengaja menjebaknya, tak kuceritakan bahwa polisi tersebut menawarkan minuman berakohol saat sedang bertugas. Tak kuceritakan juga bahwa dilaci meja sang hakim ditemukan lintingan ganja, yang masih kabur kepemilikannya. Tak kuceritakan semua itu di depan kelas. Tapi hatiku semakin sesak dan tiba tiba saja mata yang sudah memerah meneteskan air.

Tuhan, aku meneteskan air mata di dalam kelas tanpa terasa! Baru kali ini kurasakan bahwa aku begitu sakit hati atas apa yang dilakukan segelintir orang tak waras terhadap bangsaku, bangsa mereka sendiri.

Rotterdam, 3 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s