Tujuh – Lima

Suatu siang di tempat ngetem angkot Gedebage- Station (lebih jelasnya di pasar gedebage)

Aku dan Luc sudah berada di dalam angkot gedebage menunggu penumpang lainnya, tak berapa lama angkot mulai penuh, deretan kanan sudah terisi 5 orang dan deretan kiri sudah terisi 4 orang. Dan Luc tentu saja mengira angkot sudah penuh, dan bertanya keheranan ke arah sang sopir, yang masih belum juga menjalankan angkotnya.

Naon nu diantosan kang? Tanyanya ramah. (Dalam bahasa Inggris tentunya)

Aku menjawab karena sang supir minta diterjemahkan. Masih nunggu penumpang. (Juga dalam bahasa Inggris)

Dan muncullah seorang ibu gemuk, Ayo geser dikit, kataku. Karena tempat yg masih tersisa ada di deretan kanan dimana kami duduk.

Kemudian angkot segera melaju, kami semua senang, juga sang supir tentunya karena terbebas dari penumpang bule cerewet dengan pertanyaan pertanyaan konyolnya. Tapi belum lima menit melaju, angkot kembali menepi……….

Seorang ibu hamil tua siap siap akan segera naek itu angkot, sontak Luc menjerit.

Please, don’t do that! It’s dangerous! Serunya dilontarkan ke arah sang supir.

Masih ceukap mister, jawab sang supir.  Dan lanjutnya, Eta nu kiri masih opat!

Muhun, nu kanan oge masih geunep, can tujuh…….Tiba tiba seorang pelajar SMA ikut menimpali, membuat kita semua terpingkal pingkal.

Untunglah Luc segera turun dan mempersilahkan si ibu duduk di deretan kanan, dan dia duduk di sebelah kiri dekat pintu, dan tentu saja badan besarnya menutupi pintu masuk, sehingga jiga ongkot tersebut oleng ke kiri, Luc bisa dengan mudahnya terlontar ke luar.

Dan begitu angkot melaju lagi sambil menggeleng gelengkan kepala Luc berujar………..

Jangan jangan sapi di pinggir jalan bakal dimasukin juga ke angkot. (Kali ini Luc berkata dalama bahasa belanda). Sambil menunjuk sapi yang tengah dituntun si empunya di pinggir jalan.

Hahaha, aku tertawa terpingkal pingkal, tapi masih terdengar sang supir bertanya

Naon deui saurna neng?

Masih tertawa aku menjawab……

Bapak hebat, jiga tukang sulap, angkotna alit penumpangna seuer, jawabku asal (maksudnya tak mau menyakiti hati pak supir hehehe)

 

Rotterdam, 18 Januari 2011

Advertisements

2 thoughts on “Tujuh – Lima

  1. Emang teh cuma tukang angkot di bandung yang selalu memaksakan enam-empat di kursi penumpang, kalo di jakarta walaupun isinya cuma 3-5 tapi kalo udah penuh ya nggak akan dipaksakan, penumpang pun nggak akan rela untuk maksakan naik, lha wong bayaran sama duduk cuma 1/4 (rugi juga).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s